Pink

Pink
Part 12



Hari pun beranjak petang, sepanjang sore ini hanya terlihat semak-semak yang tinggi nya mencapai dada kami dan beberapa raungan hewan besar, bahkan hingga petang seperti ini belum ada tanda-tanda  kami tiba pada tujuan kami. Walau beberapa kali kami berhenti sejenak entah untuk beristirahat ataupun adanya beberapa serangan kecil dari hewan-hewan yang datang menghampiri kami. Hutan ini sangat luas, kami nyaris tidak bertemu dengan seorangpun disini. Bagaimana mungkin seseorang akan tinggal ditempat antah berantah seperti ini? pikirku.


Sebenarnya dalam perjalanan ini, Nenek Lex memang berharap agar aku ikut bersama Lex. Sebab, selain menemani Lex dalam perjalanan ini, aku juga bisa sekalian berlatih untuk mengasah kemampuan dan meningkatkan kekuatanku. Memang belakangan ini kemampuanku sudah bisa dibilang cukup layak untuk menyanding gelar petarung level dasar. Tapi walau begitu, nenek Xandra ingin agar aku menjadi lebih kuat lagi, meskipun cara yang diterapkan oleh nenek Xandra terbilang cukup ekstrem. Untungnya aku bersama Lex, dia sudah menjadi petarung tingkat X, banyak bangsawan ataupun kepala kota yang menawarkan pekerjaan dengan imbalan yang cukup besar. Salah satu nya bakal aku ketahui setelah kami tiba di pusat kota.


Samar-samar terlihat gemerlap lampu berwarna-warni di bawah lemah, aku pun melirik ke arah Lex yang berhenti sejenak. Ia turun dari kudanya dan menyuruhku untuk turun juga.


"Apa kita sudah sampai Lex?" tanyaku memastikan


"Belum masih ada 2 desa lagi yang harus kita lewati, sebelum sampai ke pusat kota" Jelas Lex


What's..?? dua desa lagi? dia tidak bilang padaku seperti itu..


"Eh.. ada apa pink?"


"Tak apa" jawabku segera


Lex pun memutuskan agar malam ini kami menginap di desa itu, desa yang kali singgahi ini bisa terbilang desa yang penuh dengan lampu kelap-kelip. Ternyata lampu-lampu berwarna-warni yang aku lihat dari atas bukit tadi berasal dari hewan-hewan malam yang mengeluarkan cahaya. Hewan ini kecil, dan mereka mengeluarkan cahaya dari sayap mereka. Mungkin jika di dimensiku hampir mirip dengan kunang-kunang, tapi hewan-hewan ini mengeluarkan cahaya dari sayap mereka. Cahaya yang mereka keluarkan pun bervariasi sesuai dengan umur hewan-hewan kecil ini.


Belum selesai dengan ketakjuban ku pada hewan-hewan ini, aku pun juga takjub dengan rumah-rumah yang memiliki corak yang terang. Mungkin orang-orang disini menyukai segala sesuatu yang terang. Hal itu juga terbukti dari cara penduduk desa ini berpakaian. Lihatlah,,, mereka menggunakan pakaian yang sangat terang warnanya. Apa mereka tidak pusing ya?? Hah sudahlah, walau begitu ini tetap cantik.


Tak jauh dari gerbang masuk desa ini, seorang pria tua dengan pakaian menyala dengan sedikit membungkuk saat ia berjalan menghampiri kami dan menyambut kami.


"Selamat datang di desa kami Lex, lama tidak berjumpa dengan mu eh.. dan siapa nona cantik ini?" sapa pria tua itu dengan senyuman


"Perkenalkan pak, ini teman saya Pink, ia datang dari dimensi lain"


"Wah... benarkah?! Sudah lama kami tidak kedatangan tamu dari luar, terakhir kali beberapa tahun yang lalu, saat tuan putri meninggalkan dimensi ini, semoga kamu senang berada di desa kami yang sederhana, mari saya tunjukkan tempat kalian beristirahat. Kalian bisa beristirahat sejenak sebelum besuk melanjutkan perjalanan kalian ke pusat kota"


Kami pun dibawa kesebuah rumah sederhana dengan corak berwarna kuning dan merah terang. Bapak tua itu juga menyiapkan makan malam untuk kami saat aku sedang membersihkan diriku. Menurut penjelasan singkat Lex, pria tua itu adalah kepala desa di desa ini, serta salah satu petarung legendaris dari masa kemasa. Sebenarnya bapak itu masih memiliki cukup kekuatan untuk bertarung kembali, tapi ia lebih memilih untuk menikmati masa tuanya di desa ini serta menjaga desa dari bahaya serangan luar.


"Hei... nak, apa yang membawa mu ke dimensi kami? Sudah begitu lama kami tidak menerima tamu dari luar." Tanya bapak itu antusias disela makan malam kami.


"Dia dibawa ke dimensi ini oleh liontin peninggalan ibunya pak" Jelas Lex menyela.


"Oh.. begitu kah?? Jaga dan simpan liontin itu baik-baik nak" Pesan bapak itu.


*Aku pun mengangguk paham dengan nasihat bapak itu, selain itu aku juga masih penasaran dengan asal-usul dari liontin ini. Dari mana asal liontin ini dan kenapa mama bisa memberikan nya padaku??  *


"Kau cepatlah tidur Pink, besok perjalanan masih panjang, aku akan tidur diruang tamu dan mempersiapkan bekal kita besok" Ucap Lex sambil berlalu.


Aku pun segera menuju sebuah kamar di sudut ruangan yang sudah disiapkan oleh bapak pemilik rumah ini. Segera aku naik ke atas tempat tidur yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk tempat beristirahat. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagiku, ini pertama kalinya aku bepergian dengan keadan cemas jika tiba-tiba ada serangan dari hewan-hewan buas diluar sana. Sudah banyak hewan-hewan yang datang menghampiri kami disepanjang perjalanan, Lex selalu memintaku untuk selalu siaga dengan segala kemungkinan yang ada. Entah apa yang akan kami hadapi besok, tapi aku harus beristirahat dan memulihkan energiku kembali.


"Hei Pink... Pink.... bangunlah dasar pemalas.. " Ucap Lex sambil menggoncang tubuhku.


"Au.. duh sakit.. biasa aja kali banguninnya" Ucapku sambil mengelus pundakku karena terjatuh dari tempat tidur. *Bagaimana sih dia membangunkanku sampai aku jatuh dari tempat tidur?? *gerutuku dalam hati


"Hahaha... kau sih yang tidur seperti kerbau, susah sekali bangunnya. Cepatlah bersiap aku tunggu di depan" Ucapnya sambil berlalu


Akupun segera bangkit dari posisiku dudukku, dengan sedikit mengomel aku masuk kedalam kamar mandi dan bersiap untuk perjalanan kami hari ini. Lex benar-benar membangunkanku dini hari. Lihat saja bahkan suasana pagi ini masih benar-benar gelap gulita, sinar mentari pagi pun masih enggan terlihat dan masih menyembunyikan sinarnya. Langitpun masih tertutupi oleh sinar hewan-hewan kecil yang berkelap-kelip sepanjang malam, seakaan mereka terjaga sepanjang waktu dan menggantikan gemerlap bintang-bintang di langit.


Aku pun segera mengambil ransel dan beberapa barangku, segera menyusul Lex yang sudah siap dengan kedua kuda kami. Ia sudah mengemas segala keperluan kami hari ini. Setelah kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada bapak kepala desa, kami pun segera melanjutkan perjalanan ke desa selanjutnya. Sebelum kami pergi, bapak itu pun juga berpesan padaku untuk berhati-hati dengan tanaman berduri. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan tanaman berduri itu, tapi tetap menganggukkan kepala tanda aku mengerti.


Kami pun melanjutkan perjalanan kami, cukup jauh setelah kami meninggalkan desa warna-warni itu, gelap dan sunyinya hutan kembali menyapa kami, seakan teman perjalanan ini. Namun, hutan yang kami lalui kali ini tidak segelap dan sesunyi hutan sebelumnya, kami ditemani oleh aliran sungai yang jernih dan pantulan cahaya matahari sehingga sungai itu tampak bersinar karenanya.


Perjalanan di hutan ini benar-benar tanpa halangan, sebelum hari beranjak siang kami telah tiba di desa kedua. Desa ini berbeda jauh dari kelap-kelip sebelumnya. Desa ini dikelilingi  oleh aliran sungai yang jernih yang bersal dari air terjun di ujung desa. Bahkan, air terjun itu tampak jelas dari jalan masuk desa. Air yang mengalir darinya benar-benar terlihat bersinar dan jernih sehingga tampak seperti tumpukan berlian.


Hari beranjak siang, Lex pun memutuskan untuk singgah disalah satu rumah makan yang ada didesa ini. Sesampainya kami disana aku sempat bingung dengan keadaan rumah makan yang sepi dan nyaris tidak ada pengunjung, bahkan orang. Tiba-tiba muncul lempengan pipih terbang menghampiri kami. Besar lempengan ini tidak lebih berdiameter 1 meter, Lex pun tanpa khawatir langsung naik ke atas lempengan itu yang terbang rendah sejajar dengan mata kaki kami. Aku pun mengikuti nya naik ke atas lempengan itu, tiba-tiba dengan sendirinya lempengan itu menjadi luas sesuai dengan jumlah orang yang menaikinya.


Lempengan pipih ini membawa kami sebuah ruangan yang ternyata banyak orang didalam nya. Kami duduk di sebuah meja bundar dengan kursi melayang set meter dari udara. Aku sama sekali tidak melihat pelayan yang datang mengantarkan pesanan melainkan hanya lempengan pipih dengan nampan di atasnya terbang disekitar kami mengantarkan semua makanan nya. Akupun berdecak kagum memperhatikannya.


"Awas.. air liurmu membasahi meja ini" Sontak Lex mengejek


"Hah.." aku pun tanpa sadar membersihkan sekitar mulutku dengan sapu tangan.


"Hahaha... Pink kau sangat bodoh.." Ucapnya sambil tertawa


*Ugh.. aku benar-benar di kerjain oleh nya.. kenapa bisa, dengan bodohnya aku membersihkan sekitar mulutku?? *gerutuku dalam hati sambil menunduk, Aku malu.


"Silahkan saja tertawa sepuasmu" Ucapku


Lex pun kembali tertawa sampai makanan kami datang. Awal nya aku tidak mau memakan makanan ini, makanan apa ini yang bentuk dan warnanya mirip bubur bayi. Lembek dan kenyal. Ternyata penampilannya jauh berbeda dengan rasanya, rasanya benar-benar lezat. Selesai kami makan, Lex membayar makanan kami dengan meletakkan jari disisi meja, secara otomatis poin yang ia dapatkan dari setiap pertarungan terkurangi sesuai dengan jumlah harga makanan kami.


Kami tidak berlama-lama didesa ini, sebentar lagi kami akan sampai dipusat kota, kata Lex. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami meninggalkan desa ini. Ditengah perjalanan Lex pun memutuskan untuk beristirahat sejenak, ia akan mencari beberapa buah yang bisa kami jadikan bekal menuju pusat kota. Kami memang tidak mempersiapkan nya tadi di desa sebelumnya. Aku pun juga memutuskan untuk ikut membantu Lex. Aku mengambil botol air minum kami yang habis dan mencari sumber air terdekat.


Didekat sebuah pohon ada sumur kecil dengan air yang terlihat jernih, segera aku menghampiri sumur itu untuk mengisi ulang botol minuman kami. Saat asyik mulai mengisi air, tiba-tiba Lex datang sambil berteriak.


"Tunggu... Apa yang kau lakukan PINK?!!" Teriak Lex tiba-tiba.


"Ada apa?!" Aku yang panik tidak melihat sekitar dan berniat untuk menghampiri Lex


"JANGAN BERGERAK PINK dan tetaplah ditempatmu!!" Perintah Lex


Aku yang masih belum bisa mencerna situasi nya hanya bisa mematung di tempat. Kulihat Lex memasang kuda-kuda sambil merentangkan busur panahnya bersiap untuk membidik. Aku pun tersadar dengan kecerobohanku dan hanya bisa mematung ditempat. Tak jauh dariku ternyata.......


#Sampai sini dulu ya kawan, mohon maaf kalau author lama up nya. Akhir-akhir ini banyak tugas sekolah yang tidak bisa ditinggalkan... Jangan lupa dukung author ya biar tetap semangat melanjutkan ceritanya.. Sampai jumpa dua minggu lagi.. :) Salam hangat Nara_chan