
"O-oi Zaki... kau yakin ini tempatnya?" tanya Yuichi bingung.
"Ya... kalau tidak salah di sebelah sini."
"Tempat ini begitu luas, dan sepertinya kita hanya berputar-putar saja dari tadi, apakah kau benar-benar tau tempatnya?" tanya Yuichi yang terlihat kesal.
"Kalau tidak salah, Ayla berkata, di ujung lorong dekat ruang utama maka kau akan menemukan sebuah ruangan, di sanalah kamar pak tua itu," ucap Zaki memegang dagunya sembari mengingat-ingat ucapan Ayla.
Lalu merekapun tetap berjalan sesuai petunjuk yang sudah diberikan oleh Ayla.
"Kenapa tempat ini gelap sekali," ucap Yuichi dengan nada kesal.
"Sepertinya listrik di gedung ini mengalami beberapa gangguan," balas Zaki dengan nada tenang sembari memperhatikan lampu di sekitar mereka yang berkedip.
"Ah... sepertinya ada pintu di sana," ucap Zaki perasaan lega.
Mengetahui hal itu lantas Yuichi berlari ke arah pintu yang ditunjuk oleh Zaki.
"Yosh... ayo kita masuk, aku sudah terlalu lelah berjalan tidak tentu arah seperti ini," jawab Yuichi dengan tatapan kesal sembari memegang gagang pintu itu dan membukanya.
Ketika Yuichi membuka pintu itu, ternyata ruangan tersebut sangat gelap, lantas mereka mencari saklar untuk menghidupkan lampunya.
Ketika lampu sudah dihidupkan, seketika ruangan tersebut menjadi sangat terang.
"Heh?... ternyata ini bukan kamar tidur," ucap Yuichi kaget.
"Ini!" ucap Zaki sembari melihat ke arah tembok ruangan itu.
Ternyata ruangan itu berisi foto-foto para petinggi yang terpampang di dinding dengan wallpaper dinding berwarna merah dengan motif bunga, di ruangan tersebut juga terdapat sofa dan meja seperti tempat untuk bersantai, karena rasa penasaran mereka, Zaki dan Yuichi melihat-lihat foto yang berukuran 20R tersebut lengkap dengan bingkai fotonya.
"Hei Zaki, lihat... bukankah ini wanita yang cantik," ucap Yuichi sembari memperhatikan foto wanita yang berada di depannya dengan ekspresi kagum.
Terlihat difoto tersebut seorang wanita cantik, dengan kacamata yang terlihat elegan, memakai pakaian perwira tentara dengan warna putih seperti Mervis, dengan rambut yang berwarna pink dan sedikit panjang, serta terdapat satu tahi lalat di bawah bibir sebelah kirinya.
"Richa Geavany...." ucap Zaki memperhatikan foto tersebut sembari memegang dagunya.
"Dia seorang Kolonel...." ucap Zaki lagi.
"Hah?... dari mana kau tau?" tanya Yuichi penasaran.
"Itu... di bawah terdapat informasi tentangnya," jawab Zaki menunjuk ke bagian bawah foto yang terdapat tulisan berupa beberapa informasi tentang foto tersebut.
"Dia bertugas di kota Aznrax," ucap Zaki sembari memperhatikan tulisan-tulisan tersebut.
"Hmm... apakah satu kota dihuni oleh satu Kolonel?" tanya Yuichi bingung.
"Entahlah, aku tidak tau bagaimana sistem di negara ini," jawab Zaki dengan tatapan konyolnya.
"Lihat... yang ini berbeda lagi," ucap Yuichi menunjuk salah satu foto pria di dinding.
"Saka Ginuef... nama yang keren," ucap Zaki sembari melihat-lihat tulisan yang berada di bawah foto tersebut.
"Dia berada di kota Scient... hooh... nama kota yang sangat bagus, sepertinya aku harus kesana," ucap Yuichi dengan penuh semangat.
Merekapun tetap berkeliling ruangan tersebut untuk melihat-lihat isi dari ruangan itu karena rasa penasaran mereka.
"Zaki... kesini," panggil Yuichi.
"Hmm... ada apa?"
"Ini... bukankah ini peta dari gedung ini?" tanya Yuichi.
"Ah... kau benar."
Zaki memperhatikan setiap detail ruangan yang berada pada peta tersebut.
"Ternyata kita berjalan di lorong yang salah," ucap Zaki sembari memberikan ekspresi datar.
"Cih... kalau begitu ayo kita kesana, aku sudah mengantuk sekali," ucap Yuichi sambil mengeluh.
"Baiklah."
Merekapun mematikan kembali lampu ruangan tersebut dan keluar dari sana lalu berjalan menuju kamar pak Jancoct.
Ketika berada di depan pintu kamar tersebut, Zaki langsung membuka pintu, mereka masuk dan menyalakan saklar lampunya, terlihatlah sebuah kamar yang lumayan luas dan terlihat bagus dengan Spring Bed berkanopi kayu, serta cat dinding berwarna biru muda serta terdapat dua sofa merah di sebelah kanan kasur tersebut.
"Hmm... tempat ini bahkan lebih bagus daripada tempat aku tidur sebelumnya," ucap Yuichi dengan nada kesal.
"Sudah, aku sudah terlalu lelah meladeni keluhanmu itu...." ucap Zaki sembari menuju kasur di sebelah kanan dan merebahkan dirinya.
"Oi... kau tidur di sofa saja, biar aku yang tidur di tempat yang empuk itu," ucap Yuichi mengusir Zaki yang sudah duluan rebahan di sana.
"Hah?... apa maksudmu," balas Zaki dengan nada sedikit kesal.
"Cih... tidak mungkin pria tidur berdua dalam satu kasur dasar bodoh," ucap Yuichi kesal.
"Hah?... bagiku tidak masalah, jika kau tidak berbuat yang macam-macam, yang jelas aku sudah duluan menjatuhkan diri di tempat benda empuk ini, jika kau tidak mau, kau saja yang tidur di sofa itu," balas Zaki dengan nada yang sedikit kesal.
"Hmm... mau bagaimana lagi, yosh... kurasa kita harus membuat pembatas menggunakan guling itu," ucap Yuichi.
"Ya... ya... terserah kau saja, yang jelas aku mau tidur, jangan lupa matikan lampu itu," ucap Zaki sembari memutar badannya dan tidur menyamping ke arah kanan.
Lalu Yuichipun mematikan lampu ruangan tersebut dan membuat pembatas ditengah menggunakan guling kemudian tidur menyamping ke arah kiri.
Sementara itu Mervis masih terlihat sedikit sibuk di ruangannya.
"Kenapa buku seperti ini bisa berada di laboratorium itu, seharusnya buku ini tersimpan rapat dan menjadi rahasia besar negara," ucapnya dengan nada serius.
Mervis dengan tatapan yang sangat serius mencoba membuka lembar kedua dari buku itu, dan terlihat sebuah daftar-daftar nama.
"I-ini daftar para anggota Division 500 tahun yang lalu...." ucap Mervis dengan nada yang semakin kaget.
Dengan jantung yang berdebar kencang, ia ragu untuk meneruskan membaca buku itu, karena baginya, itu adalah sebuah pengetahuan yang seharusnya tidak ia ketahui.
Namun, dengan sedikit keberanian dan tangan yang gemetar, Mervis mencoba membuka halaman ketiga pada buku itu, dan terlihatlah sebuah list dengan lima orang lengkap berserta informasi, nama dan foto mereka, tetapi, karena sudah dimakan usia, informasi pada buku itu sudah tidak terlihat dengan jelas dan susah untuk dibaca.
"Five Chaos Division!" ucap Mervis lagi dengan nada dan tatapan serius.
"Tetapi, nama setiap anggota dan foto mereka sudah tidak bisa dibaca!"
Mervis akhirnya membuka lembaran demi lembaran dari buku yang tipis tersebut, ia akhirnya mengetahui beberapa nama dari Division di zaman dahulu, meskipun beberapa nama dan foto para anggota sudah tidak bisa dibaca lagi.
"Storm Division, Chaser Division, Vandal Division, Demise Division, Ghost Head Division, Protector Division... dan, nama yang lainnya sudah tidak bisa terbaca," ucap Mervis dengan nada yang sedikit kesal.
Namun, di bagian dua lembar terakhir yang terlindung oleh lembaran-lembaran sebelumnya, masih memperlihatkan nama para anggota meski tidak terlalu jelas.
"Wild Beast Division?"
"Anggotanya... Enigue Edimvo, Ken Toech, Vida Lilicont, Revellian Hermes, Ogxord K...." ucap Mervis dengan detail memperhatikan nama-nama tersebut.
"Enigue Edimvo adalah kapten mereka kah?" tanya Mervis sembari membaca beberapa informasi yang masih bisa terbaca.
"Cih... aku tidak bisa melihat foto mereka."
Lalu Mervis membuka lembaran terakhir, namun, ada beberapa tulisan yang sudah kabur dan tidak terlihat sama sekali, tetapi, masih menyisahkan tiga dan empat huruf pada bagian akhir nama belakang mereka.
"Assassination Division!"
"Aku hanya bisa melihat huruf terakhir nama belakang mereka yang masih bisa terbaca."
"****aki?... ***ziro?... ***hiro?... **nami?... dan Jeanne Catwordz?"
"Kenapa hanya satu orang yang namanya masih bisa terlihat semua?" ucap Mervis bingung sekaligus kesal.
Setelah melihat nama-nama terakhir itu, ternyata di bagian belakang lembaran itu terdapat sebuah tulisan tepatnya tertulis di sampulnya.
"Apa ini?... 'Aku mengirimkan mereka kemasa depan untuk memperbaiki semuanya!'...." ucap Mervis membaca tulisan tersebut dengan ekspresi bingung dan penasaran.
Lalu Mervis mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang berada di atas pintu masuk.
"Sudah jam satu kah?"
"Sebaiknya buku ini aku simpan saja dulu," ucapnya dengan nada serius.
Mervis beranjak dari tempat duduknya serta menyimpan buku yang bertuliskan 'Old Division' itu di sebuah lemari kecil dan tertutup rapat, serta membiarkan dua buku yang lainnya berada di atas meja untuk diberikan kepada Jendral Rayfox.
Ketika sampai di depan kamarnya, Mervis sedikit terkejut dengan apa yang terjadi.
"AAAARRGGGGHHH... apa-apaan ini?" ucapnya dengan nada marah dan terlihat sangat kesal.
"Cih... kalau begitu aku akan tidur di sana saja," ucap Mervis lagi dan pergi dari kamarnya menuju kamar pak Jancoct.
Sementara itu, Zaki dan Yuichi yang sudah tertidur dengan lelap di dalam kamar pak Jancoct tiba-tiba terbangun dengan mendadak dan kaget karena lampu kamar mereka dihidupkan oleh seseorang.
"AAAAAAAAA...." teriak Yuichi.
Karena mendengar teriakan itu seketika Zaki yang tidur di sebelahnya lantas ikut terbangun dan berteriak juga.
Melihat hal itu Mervispun ikutan kaget dan sedikit berteriak karena melihat sudah ada yang menghuni tempat itu.
"Eh?... ada apa oi rambut kuda," ucap Zaki melihat ke arah Yuichi setelah kaget dan berteriak.
"A-aku bermimpi hal yang mengerikan," ucapnya sembari dengan nafas yang terengah-engah.
"O-oi... kenapa kalian berada di sini," potong Mervis kepada dua orang itu.
"Ah... Kolonel," ucap Zaki kaget.
Terlihat Mervis sudah berdiri di depan pintu kamar dekat saklar, dengan menggunakan baju tidur piyama yang berwarna biru polos, Mervis masuk ke dalam kamar tersebut.
"Kenapa anda ke sini?" tanya Yuichi heran.
"Karena kamarku terkena efek dari pertempuran kemarin, jadi ruangan itu tidak bisa digunakan," jawab Mervis dengan ekspresi yang terlihat kesal.
Ternyata ruangan tidur Mervis mengalami kerusakan yang cukup parah akibat serangan-serangan yang dilancarkan oleh orang asing itu menggunakan kekuatan anginnya, sehingga di bagian atap kamar Mervis terdapat lobang yang sangat besar dan puing-puing atap yang berjatuhan di kasurnya.
"Jadi?... apakah anda ingin tidur di sini?" tanya Zaki.
"Sudah jelas bukan," jawab Mervis dengan sikap yang sedikit dingin.
"Yosh... kalau begitu sofa di sana masih kosong," ucap Yuichi sembari menunjuk sofa yang berada di sebelah kanan Zaki dengan ekspresi dan nadanya yang konyol.
"Hmm... hmm...." angguk Zaki dengan santai dan menutup matanya serta melipat tangannya di dadanya.
Mendengar hal itu dari mereka berdua, lantas membuat Mervis semakin kesal.
"Cih... curang sekali mengancam kita menggunakan benda itu," ucap Yuichi yang terlihat kesal sembari membaringkan dirinya di sofa yang sedikit keras itu.
"Ya mau bagaimana lagi... karena dia adalah penguasa tempat ini, terima saja, aku akan tidur lagi!" balas Zaki yang tidak terlalu menghiraukan keluhan Yuichi.
Yuichi yang terus menatap Mervis yang sudah mulai tertidur dengan lelap di kasur yang besar itu dan menguasai kasur itu sendirian.
"Nah Zaki...."
"Hmm...."
"Aku punya ide...."
"Apa lagi?... sudahlah tidur saja, jangan mengangguku, dasar rambut kuda sialan," ucap Zaki dengan nada yang sedikit kesal.
"Hah?... siapa yang kau panggil rambut kuda sialan?" tanya Yuichi dengan nada tinggi.
"Cih... kau mau tidur di kasur itu bukan?" tanya Yuichi lagi namun dengan nada pelan dan melipat tangannya ke dadanya sembari tetap berbaring di sofa keras itu.
"Ya jelaslah, daripada di sofa keras ini membuat tubuhku sakit semua."
"Bagaimana kalau kita...." ucap Yuichi memberitahu rencananya.
"Ah... boleh juga, ayo kita lakukan," ucap Zaki dengan penuh semangat.
Kemudian mereka berdua berdiri dari sofa tersebut dan menuju kasur dimana Mervis yang sedang tertidur dengan lelapnya.
Sinar matahari pagi yang lumayan panas memancar dari balik jendela mengenai tubuh Mervis yang sedang tertidur, karena rasa yang tidak nyaman itu lantas ia pun terbangun dari tidurnya.
"Ah... ternyata sudah pagi," ucapnya sembari mengusap matanya dengan perlahan.
Mervis yang menyadari ada sesuatu yang salah lantas membuka penuh matanya dan melihat ke arah depan, ternyata dia sudah berada di tempat yang berbeda, ya, di atas kasur terlihat Zaki dan Yuichi sedang tertidur dengan sangat lelap, sementara dirinya berada di sofa yang keras itu.
"Cih... kurasa aku harus menghukum mereka nanti," jawabnya sembari terlihat sedikit senyuman kesal di wajahnya.
Ia pun beranjak dari sofa itu dan keluar dari ruangan itu untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, di kamar Misca, terlihat Ayla sudah bangun dan mencoba membangunkan Linda dan Casta.
"Casta... Linda, bangun sudah pagi!" ucap Ayla dengan nada yang lembut.
"Ah... sudah pagi ya?" jawab Casta dengan ekspresi wajah yang terlihat masih mengantuk.
"Ah... selamat pagi...." ucap Linda dengan nada pelan sembari menguap dan menggosok matanya dengan pelan.
"Pagi Linda...." balas Ayla lembut.
"Kalian jangan tidur lagi ya, aku mau mengecek mereka berdua dulu," ucap Ayla sembari keluar kamar dan berjalan menuju kamar pak Jancoct.
Ketika sampai di kamar itu, Ayla mendapati mereka berdua masih tertidur dengan lelap, lantas ia mencoba untuk membangunkan mereka berdua.
"Zaki... Yuichi... bangun sudah pagi!" ucap Ayla sembari membangunkan dan mengoyang-goyangkan tubuh mereka.
"Hee... Ayla kah?... kenapa?" ucap Zaki dengan nada pelan.
"Sudah pagi, ayo kalian bangun!" Ayla mencoba terus membangunkan mereka berdua.
"Iya... iya," ucap Zaki dengan nada yang pelan bangun serta duduk di kasur sembari mengusap matanya.
Ketika ia sadar Mervis sudah tidak ada lagi di sofa itu lantas ia sedikit kaget dan panik.
"Eh?... K-Kolonel kemana?" tanyanya pada Ayla.
"Kolonel?... aku tidak melihatnya di sini," ucap Ayla bingung.
"Kuharap dia tidak marah," ucap Zaki dengan nada yang terdengar sedikit gugup.
"Hmm?... marah?... memangnya kenapa?" tanya Ayla heran.
"Ah... tidak ada apa-apa... hehe...hehe," ucap Zaki sembari mengosokkan tangannya ke belakang kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali kamar Mayor, kalian jangan tidur lagi," ucap Ayla dengan nada marah namun terdengar imut dan pergi meninggalkan mereka.
"Oi rambut kuda, bangun...." teriak Zaki ditelinga Yuichi.
"AAAAAAA...." teriak Yuichi sembari bangun dari tidurnya.
"Hahaha...." tawa Zaki dengan ekspresi puas.
"Cih... kenapa kau membangunkanku seperti itu dasar Kapten sialan," teriak Yuichi dengan ekspresi kesal.
Mendengar hal itu lantas membuat Zaki bingung.
"Kapten?" ucap Zaki dengan ekspresi bingung.
"Heh?...." tatap Yuichi dengan ekspresi yang ikut bingung.
"Apa maksudnya kau memanggilku seperti itu?" tanya Zaki heran.
"Entahlah... kurasa aku hanya sepontan saja," jawab Yuichi dengan ekspresi yang terlihat sangat bingung.
Zakipun terlihat memikirkan sesuatu dengan serius.
"Nah Yuichi... apa kau sudah mendapatkan kembali ingatanmu?"
"Belum... tetapi aku tadi bermimpi, sebelum kau membangunkanku, aku seperti berada disuatu tempat, tetapi aku di sana tidak sendirian," jelas Yuichi pada Zaki.
"...."
"Aku di sana melihat kalian berdua."
"Berdua?"
"Ya... kau dan Linda."
Zaki semakin fokus mendengar cerita yang disampaikan oleh Yuichi.
"Dan... aku melihat ada dua orang lagi di sana."
"Wanita dan pria?" tanya Zaki.
"Dari mana kau tau?" ucap Yuichi kaget.
"Aku juga sering melihat mereka, kau dan Linda di dalam fikiranku," jelas Zaki.
"Aku penasaran tentang ingatan kita," ucap Yuichi dengan nada yang serius.
"Ya... aku juga... tetapi, perlahan-lahan pasti ingatan itu akan kembali," ucap Zaki dengan nada yang terdengar meyakinkan.
Tiba-tiba, ketika mereka lagi berbincang-bincang, terdengar suara Ayla memanggil mereka untuk sarapan.
"Ah... itu Ayla," ucap Yuichi.
"Ya... ayo kita sarapan terlebih dahulu, dari semalam aku belum makan apa-apa, aku tidak ingin mati sebelum mendapatkan ingatanku kembali, dasar rambut kuda," ucap Zaki pada Yuichi dengan nada kesal sembari beranjak dari tempat tidur itu menuju pintu.
'Hah?... siapa yang kau panggil rambut kuda," balasnya dengan ekspresi kesal dan mengepalkan tangannya didepan dadanya.
Terlihat Mervis, Casta, Linda dan Ayla sudah berada di meja makan sembari menunggu Zaki dan Yuichi.
Ketika mereka sedang mengobrol, Zaki dan Yuichi pun akhirnya tiba.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Casta dengan nada kesal.
"Ini... sikampret susah dibanguni," Zaki menunjuk Yuichi agar bisa memberikan alasan.
"Heh?... arrrgghh kenapa aku?" balas Yuichi yang terlihat kesal karena dikambing hitamkan.
"Sudah-sudah, duduklah," ucap Ayla dengan lembut pada mereka.
Namun, Zaki dan Yuichi sadar bahwa Mervis menatap mereka dari tadi, dengan perasaan was-was mereka pun memberanikan diri untuk duduk dikursi yang kosong tepatnya sebelah Linda.
"Hmm...." Mervis berpura-pura batuk.
"...." Zaki dan Yuichi tidak bisa berkata apa-apa.
"Hmm?... kenapa kalian terlihat sedikit pucat... Zaki... Yuichi...." tanya Linda heran.
"A-ah... tidak ada apa-apa," jawab Zaki sembari melirik ke arah Mervis.
"Jadi Kolonel... apakah kita akan kembali ke pusat hari ini?" potong Casta.
"Ya... aku akan menyerahkan perbaikan gedung ini pada penjaga di sini, karena aku juga harus melaporkan hal ini pada Jendral Rayfox," jawab Mervis.
"Ah Kolonel... sebelum kita kembali, bolehkan aku menjenguk Mayor Misca terlebih dahulu?" ucap Casta.
"Baiklah, tetapi jangan terlalu lama, kita harus sudah di pusat sebelum sore hari," balas Mervis.
"Baik Kolonel," ucap Casta tegas.
"Sekarang selesaikan makan kalian, lalu pergi mandi, untuk kalian bertiga, jika tidak ikut ke rumah sakit kalian boleh berkeliling gedung ini sebelum kita kembali ke pusat," ucap Mervis pada Linda, Zaki, dan Yuichi.
"Ah Kolonel... saya yang akan menemani mereka," ucap Ayla.
"Kau tidak ikut ke rumah sakit?" tanya Linda.
"Tidak apa-apa, tidak enak jika meninggalkan kalian sendiri di sini... nah kan Casta," ucap Ayla pada Casta.
"Ah... hmm... tidak apa, aku bisa pergi sendiri," angguk Casta.
"Terserah kalian saja, kalau begitu, aku ingin melanjutkan pekerjaanku di sini," ucap Mervis menyudahi sarapannya dan meninggalkan mereka berlima.
"Mau mandi bersama Ayla, Linda?" ucap Casta pada Ayla dan Linda.
"Ah... hmm, duluan saja, aku masih belum selesai," ucap Ayla.
"Aku juga," ucap Linda.
"Hmm... baiklah, habis mandi aku langsung berangkat ke rumah sakit," pamit Casta pada mereka.
"Oke!" ucap Ayla.
Casta pun menyudahi sarapannya juga dan berdiri meninggalkan mereka menuju kamar mandi.
"Yosh... ayo kalian juga segera selesaikan, aku akan menujukkan tempat sangat yang bagus," ucap Ayla sambil tersenyum pada mereka.