
Di halaman kantor Kolonel Mervis, terlihat beberapa warga dan para tentara membantu untuk memperbaiki tempat tersebut, ada yang sedang membangun kembali tiang beton yang sudah hancur serta membersihkan puing-puing yang berserakan di sekitarnya.
Sementara itu, Zaki, Linda dan yang lainnya sudah berada di ruang tamu.
"Kuharap Mayor Misca dan pak Jancoct baik-baik saja," ucap Linda dengan ekspresi penuh harap.
"Hmph... wanita barbar seperti dia mana mungkin akan mati semudah itu," balas Yuichi tetap dengan jawaban dan ekspresi konyolnya.
"Ya... untung saja dia tidak sedang berada di sini, jika dia mendengarnya, aku tidak yakin wajahmu itu akan tetap mulus," balas Casta dengan nada dan ekspresi sedikit menyindir.
"Hmph... meski dipukul berapa kalipun wajahku akan tetap tampan dan tidak akan berubah," balasnya dengan ekpsresi percaya diri serta mengepalkan tangannya ke depan dengan penuh semangat.
"Hee... kau sangat percaya diri sekali... dasar rambut kuda," balas Zaki dengan ekspresi yang kesal dan berpose seperti bersiap untuk berkelahi.
"Hah?... kau mau ngajak berkelahi?" balas Yuichi juga dengan pose siap untuk bertarungnya.
"Hey... kenapa kalian jadi berisik sekali?" balas Casta yang juga ikut kesal karena melihat tingkah mereka berdua.
Ayla dan Linda yang melihat hal itu hanya bisa terdiam dan pasrah kerena mereka yang selalu seperti itu.
Namun, disaat mereka sedang bertengkar dengan mengadu kepala mereka berdua dan terlihat juga sedikit urat yang berada di bagian jidat mereka, tiba-tiba sebuah buku melayang ke arah mereka berdua dan mengenai kepala mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Kolonel Mervis.
"Seperti biasa... mereka sedang melakukan hal yang tidak berguna," balas Casta dengan ekspresi dinginnya.
"Zaki, Linda, dan... kau siapa?" tanya Mervis dengan ekspresi bodohnya.
"Nah rambut kuda... sepertinya dia melupakan namamu, hahaha...." balas Zaki mengejek Yuichi.
"Ah... jadi kau rambut kuda ya!" balas Mervis dengan nada santai dan melihat suatu buku di tangannya.
"Aku Yuichi... bukankah kau sendiri yang memberitahu nama itu...." jawabnya dengan nada dan ekspresi kesal.
"Jadi?... ada apa Kolonel?" tanya Linda sedikit cemas.
Lalu Zaki mengambil buku yang terlempar tadi dan melihat sampul depannya.
"Apa ini?" tanya Zaki.
"Itu buku teori dasar untuk kalian latihan," balas Mervis santai.
"Latihan?" tanya Yuichi bingung.
"Ya... kalian akan berlatih untuk menjadi tentara," jawab Mervis tetap dengan nada santai dan seperti tidak ada beban.
"Haaah...." ucap Zaki, Linda, Yuichi dan juga Casta kaget.
"K-kenapa bisa?" tanya Casta.
"Hmm... Ayla yang memberitahuku dan menyarankanku untuk memasukkan mereka ke tentara," beritahu Mervis.
"A-Aylaaa...." ucap Casta sembari melihat ke arah Ayla dengan tatapan tajamnya.
"Ahahaha... kupikir itu ide yang bagus, karena mereka sepertinya suka berkelahi," jawab Ayla sembari panik dan menggosokkan tangannya ke kepala belakangnya serta dengan ekspresi imutnya.
Karena melihat keimutan Ayla, Casta menjadi tidak tega dan hanya menghebuskan nafasnya pelan sembari memejamkan matanya.
"Itu memang bukanlah ide yang buruk, karena mereka juga tidak tau harus kemana bukan, dan juga karena identitas mereka masih belum jelas, aku akan membicarakan dulu hal ini kepada Jendral, tapi paling tidak bacalah buku itu untuk informasi jika nanti para petinggi menyetujuinya," ucap Mervis serius.
"Ah Kolonel... mengenai pendaftaran Division, Ayla katanya juga mau ikut," ucap Casta sembari memberikan tatapan dan ekspsresi jahatnya ke arah Ayla dan bermaksud untuk balas dendam.
"Hmm... itu bagus, semakin banyak kandidatnya, maka kita akan bisa menilai kualitas para prajurit nantinya," balas Mervis.
"Jika kau ingin mengikutinya, bicaralah pada Louis, karena saat ini kau berada di grupnya kan, " ucap Mervis pada Ayla.
"B-baik Kolonel!" jawab Ayla gugup.
"Kalau begitu, untuk hari ini kalian menginap dulu di sini, karena aku masih harus membereskan tempat ini, besok kita akan kembali ke pusat," ucap Mervis.
"Baik Kolonel!!" jawab mereka.
Lalu Mervis beranjak dari tempat itu dan menuju ruangannya.
"Hey... lalu kita akan tidur dimana?" tanya Zaki pada mereka.
"Hmm... karena Mayor sedang dirawat di rumah sakit, bukankah kamarnya kosong?" balas Ayla sambil meletakkan jari telujuknya di dagunya sembari matanya melihat ke atas dan tetap dengan ekspresinya yang imut.
"Ya... untuk malam ini kita akan tidur di kamarnya Mayor Misca saja, aku yakin beliau mengizinkannya," ucap Casta.
"K-k-kita...." ucap Yuichi dengan raut wajah yang memerah dan terlihat memikirkan sesuatu hal yang kotor.
Casta yang sadar akan hal itu lantas segera menepis maksud dari perkataannya.
"Eh... kita yang aku maksud hanya para wanita saja dasar bodoh...." balas Casta sembari memukul wajah Yuichi dengan sangat keras dan terlihat juga ekspresi wajah Casta yang memerah dan sangat kesal.
"Lalu aku tidur di mana?" ucap Zaki yang awalnya terlihat ikut senang namun menahan ekspresinya itu karena tidak ingin bernasib sama seperti Yuichi.
"Hmph... kalau kalian berdua, tidur di toilet pun tidak masalah," balas Casta dengan nada dingin sembari membuang muka dari mereka berdua.
"Cih... kenapa kau selalu dingin seperti itu?... jika ada masalah, tidak bisakah kau ceritakan supaya aku tidak seperti orang yang serba salah seperti ini... nah Casta...." ucap Zaki dengan nada yang membujuk Casta untuk memberitahu ada masalah apa terhadap dirinya.
"Hmph... pria bodoh sepertimu meski kujelaskan berapa kalipun kau tidak akan pernah bisa mengerti...." balas Casta dengan nada yang terlihat sedikit menyindirnya.
"Arrggghh... wanita ini...." ucap Zaki sembari menggemeretakkan giginya dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya untuk menahan kekesalannya.
"Bukankah kamar pak Jancoct juga kosong?... kenapa kalian tidak tidur di sana saja?" ucap Ayla.
"Heh?... kau benar... baiklah... hey rambut kuda, malam ini kita akan tidur di ruangannya pak tua itu!" ucap Zaki ke arah Yuichi yang terlihat babak belur.
"Sudahku bilang... berhenti memanggilku dengan sebutan itu...." ucap Yuichi pelan dan terlihat memegang kepalanya.
"Eh... aku dimana?" ucap Yuichi lagi dan sedikit bingung.
"Heh... sepertinya kau mengalami lupa ingatan tahap dua," sindir Casta dengan tatapan tidak bersalahnya.
"Ah... karena hari sudah mulai gelap, bagaimana kalau kita mandi lalu tidur?" ucap Ayla dengan nada yang imutnya.
"Heh?... mandi?... yosh... ayo kita mandi!" ucap Yuichi sembari mengepalkan tangannya ke depan dan kembali bersemangat.
"Ya... karena di sini ada dua tempat pemandian," balas Ayla polos.
"Dua?" ucap Zaki bingung.
"Ya, tempat khusus pria dan wanita."
"Karena yang menjaga di sini bukan hanya tentara pria saja, tetapi juga ada tentara wanita, karena itulah di tempat ini dibangun dua tempat pemandian," potong Casta.
"Heeh... kukira...." ucap Yuichi dengan nada kecewa.
"Baiklah kalau begitu, kebetulan entah kenapa tubuhku menjadi pegal semua, bukankah lebih baik jika berendam di dalam air kedamaian," ucap Zaki sembari memegang pundaknya.
Kemudian Zakipun berdiri dari sofa panjang yang berwarna merah itu dan bersiap untuk pergi ke tempat pemandian yang terletak di tempat itu.
"O-oi Yuichi... kau mau ikut tidak?" ajaknya.
"Hmph... sebenarnya aku ingin bergabung dengan mereka, tetapi karena kau yang mengajakku duluan, maka akan ku terima ajakkanmu itu," jawabnya dengan nada yang sangat percaya diri.
"Hah?... kau ingin kuhajar lagi?" jawab Casta yang kesal mendengar ucapan Yuichi.
"Nah Casta... Linda... ayo kita mandi juga, lalu kita istirahat," ajak Ayla sambil tersenyum lembut.
Casta yang awalnya kesal, lalu karena melihat Ayla yang dengan sabar menghadapi dirinya itu, lantas perlahan-lahan mulai luluh.
"A-ah... hmm...." jawab Casta sembari menganggukkan kepalanya.
Tidak lama itu kembali terdengar suara Zaki yang kembali ke mereka dengan tatapan bodohnya.
"O-oi... kamar mandinya dimana?" ucapnya dengan ekspresi wajah yang terlihat sedang menahan malu.
"Ah... itu di sebelah sana...." beritahu Ayla.
"Terima kasih Ayla... kau memang sangat berbeda dengan wanita yang satu itu," ucap Zaki berterima kasih pada Ayla sembari menyindir Casta.
"Hmm...." balas Ayla menggangguk.
Casta terlihat hanya bisa menahan rasa kesalnya, kemudian Zakipun kembali ke Yuichi yang sudah menunggunya.
"Nah... Zaki, apa kau sudah tanya dimana tempatnya?" ucap Yuichi.
"Ya... ayo kita kesana," balasnya.
"Ayo kita juga berangkat...." ajak Ayla.
"Hmm...." angguk Linda dan Casta.
Sementara itu, para wanita yang juga sudah berada di pemandian mulai memasuki tempat mandi yang terlihat seperti pemandian terbuka, lalu mereka berendam di sebuah kolam air hangat yang berbentuk kotak dan terlihat sedikit luas serta dihiasi pepohonan dan bunga-bunga dari alam yang memperindah tempat itu.
Mereka bertiga lantas saling bercerita dan bertanya satu sama lain.
"Nah Linda... bagaimana perasaanmu bisa masuk ke tentara?" tanya Ayla raut wajah yang ceria.
"A-a-ah... i-itu... aku sangat senang...." balas Linda dengan malu-malu.
"Tapi apakah itu tidak masalah?" tanya Casta dengan sedikit kecewa dengan keputusan itu.
"Hmm... Casta kau kenapa?... dari tadi kau terlihat sangat tidak suka mereka masuk ke tentara!" tanya Ayla penasaran.
Linda hanya terdiam melihat hal itu karena tidak berani membalas perkataan Casta.
"A-ah... aku bukannya tidak suka hal itu... tapi, mereka baru saja berada di sini beberapa hari, dan kau tau sendirikan Ayla, bagaimana kerasnya kehidupan para prajurit yang bahkan harus siap mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk negara," balas Casta mencoba menepis maksud negatif Ayla.
"Dan dari apa yang aku lihat hari ini, disaat musuh yang seperti itu menyerang, aku sendiri bahkan tidak bisa berbuat banyak untuk menolong kalian... aku... aku hanya tidak ingin mereka...." ucap Casta dengan nada yang terdengar pelan.
"Tidak Casta... kau harus percaya pada mereka, ya, aku juga melihat hanya bersama mereka kau lebih menjadi dirimu sendiri, karena selama ini kau selalu serius dalam menjalani tugas dan tidak ada seseorang yang bisa kau ajak bicara...." balas Ayla dengan lembut dan tersenyum.
"Casta...." ucap Linda lirih dan ekspresi merasa bersalah.
Casta dan Ayla yang lupa jika ada Linda di sana lantas melihat ke arahnya.
"A-ah Linda... ma-maksudku...." Casta mencoba menjelaskan maksud perkataannya kepada Linda.
"Ayla benar Casta, kau harus percaya pada kami... bahwa kami akan bisa mengembalikan ingatan kami lagi, jika kami menyerah di sini dan tidak bisa melangkah untuk maju, bukankah sama saja kami seperti seseorang yang kehilangan jati dirinya...." ucap Linda sembari meneteskan air matanya.
"Maaf Linda... aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tidak ingin teman pertama yang kutemui merasakan hal yang menyakitkan... jadi, aku hanya ingin kalian aman...." ucap Casta sembari mengusap air mata Linda.
Lalu Casta mengusap kepala Linda dan Casta kembali melihat luka itu.
"Linda...." ucap Casta pelan.
"Hmm...."
"Jika boleh aku tau, dari mana kau mendapat bekas luka itu?" tanya Casta penasaran.
"Aku tidak tau, karena aku tidak ingat apapun ketika aku mendapat luka itu, aku bahkan tidak tau jika aku mempunyai luka itu," jawab Linda pelan sembari masih terisak-isak.
"Baiklah kalau begitu... jadi berhenti menangis Linda yang cantik...." bujuk Casta dengan lemah lembut mencoba menghentikan tangisannya.
Namun, tangisan Linda malah semakin kencang... akhirnya mereka terus mencoba mendiamkan tangisan Linda.
Sementara itu, di pemandian pria, terlihat Yuichi sedang bertatapan dengan seekor monyet kecil berwarna abu-abu dan menggunakan sebuah kalung dogtag polos yang sedang berendam di air bersama dengan mereka.
"O-oi... k-kenapa kau berubah menjadi seperti ini Zaki...." ucap Yuichi ke monyet itu dan bermaksud menyindir Zaki yang lagi berendam di samping mereka.
"...." monyet itu hanya diam melihat wajah konyol Yuichi.
"Eh?... oi rambut kuda... apa kau mendengar suara seseorang sedang menangis?" tanya Zaki pada Yuichi yang terus mengobrol dengan monyet itu.
"Ah... akhirnya kau bicara juga Zaki...." ucapnya dengan semangat ke arah monyet kecil itu.
"Oh ya Zaki... kenapa tadi kau tiba-tiba pingsan?" tanya Yuichi pada monyet kecil nan lucu itu.
"Aku tidak tau... terakhir yang aku ingat...." Zaki menghentikan ucapannya.
"Eh?... ada apa Zaki?" tanya Yuichi bingung.
Zaki yang terdiam kembali mengingat sedikit keanehan pada saat dia ingin membantu pak Jancoct dan Mayor Misca untuk mengalahkan orang asing yang menyerang mereka.
"Senjata... kalau tidak salah aku melihat... lalu tiba-tiba ada sebuah cahaya berwarna merah...." gumam Zaki berbicara sendiri dengan pelan dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Lalu tiba-tiba ia mengeluarkan suara yang sedikit keras.
"Ah... Pistol itu...."
"Pistol?" tanya Yuichi bingung.
"Nah rambut kuda... apakah kau melihat pistol itu?"
"Pistol apa?... aku tidak melihat apapun disaat kau... dan aku bahkan tidak melihat kau melakukan apapun... karena yang ku tau waktu itu kau hanya berdiam diri saja dan seperti orang yang sudah tidak tau mau berbuat apa," ucap Yuichi dengan raut wajah yang terlihat kesal dan tetap berbicara ke arah monyet kecil yang bingung itu.
"Eh?... benarkah seperti itu?" tanya Zaki bingung.
"Hmm... benar sekali, dan ketika aku memalingkan pandangaku sebentar, lalu tiba-tiba kau sudah terjatuh ke lantai," ucap Yuichi mengangguk sembari memegang dagu nya.
"Dia tidak melihat pistol itu?... tapi, disaat pertarungan sudah selesai... aku juga tidak melihat benda itu lagi...." ucap Zaki dalam hatinya dan terlihat heran.
Lalu Zaki pun berdiri dari tempat nya berendam, dan berjalan keluar dari kamar mandi.
"O-oi kau mau kemana?" tanya Yuichi memalingkan pandangannya dari monyet kecil itu.
"Hah?... sudah jelas aku sudah selesai, lagipula ngapain harus berlama-lama di tempat ini?... kau mau itu mu mengkerut hah?" ucapnya dengan nada dan ekspresi konyolnya.
"Hmm... kau benar, jika terlalu lama di dalam air maka itu akan... o-oi tunggu," ucap Yuichi sambil berdiri dan menyudahi berendamnya juga.
Di dalam kamar Mayor Misca, terlihat Ayla sedang memakai tanktop dan celana pendeknya serta Linda masih dengan pakaian pasiennya, dan terlihat pula mereka sedang membereskan tempat tidur yang akan digunakan.
"Nah Ayla... Casta kemana?" tanya Linda heran.
"Ah... dia sedang menemui Kolonel di ruangannya," jawab Ayla lembut.
"Yah... hari ini terasa cukup melelahkan...." ucap Linda yang terlihat sedikit lelah dari raut wajahnya.
Ayla yang melihat pakaian yang digunakan oleh Linda pun lantas membuka lemari pakaian Mayor Misca dan mencarikan pakaian tidur yang bisa digunakan oleh Linda.
"Ah... ini terlihat cocok Linda," ucapnya semangat.
"T-tapi itu...."
"Tidak apa-apa, hanya untuk malam ini, aku yakin Mayor juga pasti akan meminjamkan mu baju ini saat kau menginap di sini," ucapnya semangat.
"A-ah... baiklah, aku akan memakainya," ucap Linda malu dan terlihat sedikit senang.
Kemudian Linda pun memakai pakaian tidur yang terlihat berwarna biru tua dengan gambar kura-kura hijau kecil di setiap bagian bajunya.
"B-bagaimana?" tanya Linda dengan malu-malu.
"Ah... kau terlihat cantik...." ucap Ayla memujinya dengan semangat.
"A-ah... t-terima kasih...." balas Linda dengan nada pelan dan wajah yang memerah.
Di dalam ruangan Mervis, terlihat ia sedang membaca sebuah buku dan terlihat serius, namun tiba-tiba pintu ruangannya berbunyi.
"Siapa?" tanyanya.
"Eh?... a-aku Kolonel... Casta," jawab Casta dari luar.
"Ah... kau rupanya... masuklah," ucap Mervis.
Casta pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa?"
"Ah... i-ini buku yang anda minta," jawabnya sembari memberikan tiga buku yang di pegangnya.
"Ah... buku ini... aku hampir lupa untuk mengambilnya," ucap Mervis dengan ekspresi konyolnya.
"Heh?... padahal dia yang selalu mengingatkanku untuk tidak lupa membawa buku itu...." ucap Casta dalam hatinya.
"Terima kasih Casta...."
"B-baiklah Kolonel!" ucap Casta salah tingkah dan menggosokkan tangannya ke belakang kepalanya.
"K-kalau boleh saya tau...." ucap Casta dengan malu-malu.
"Hmm... ada apa?" tanya Mervis heran.
"A-apa maksud anda mengirim pesan k-kemarin dengan simb-simbol h-h-hati i-tu?" ucap Casta dengan nada yang terbatah-batah dan wajah yang sedikit memerah karena menahan malunya.
"Ah... itukah... aku salah tekan," jawab Mervis cepat dan dengan ekspresi datarnya.
"Heh??" ucap Casta bingung dengan ekspresi datar juga sembari memiringkan kepalanya ke kanan.
"Kenapa?" tanya Mervis dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"A-ah... t-tidak apa-apa... he...he...hehehe...." ucap Casta yang menahan malu.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Mervis lagi.
"Ah... Untuk saat ini kami tidur di ruangan Mayor Misca," beritahu Casta.
"Kami?" tatap Mervis tajam.
"Eh... maksudnya aku, Ayla dan Linda," ucap Casta.
"Lalu mereka berdua?"
"Aku tidak tahu mereka dimana."
"Hmm... baiklah kalau begitu, jika tidak ada masalah lagi, kau boleh kembali ke kamar Misca dan beristirahat, karena besok banyak yang harus kita lakukan," ucap Mervis.
"B-baik Kolonel!" jawab Casta sembari memberi hormat.
Casta berbalik badan dan keluar dari ruangan Mervis serta menutup pintunya kembali dari luar.
"Aaaaaa... a-apa yang kulakukan...." ucapnya dalam hati dan memegang kepalanya serta terlihat syok.
Setelah bergumam di depan pintu ruangan Mervis lantas Casta kembali berjalan menuju kamar Misca.
"I-itu sungguh memalukan...." ucapnya sambil berjalan sembari menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.
Ketika sampai di depan pintu kamar Misca yang terbuka, terlihat Ayla dan Linda sedang menunggunya.
"Ah Casta kau sudah kembali," ucap Linda dengan semangat.
"Casta... kau kenapa?... kenapa wajahmu merah?" tanya Ayla bingung.
"A-a-ah... t-tidak ada apa-apa," jawabnya terbatah-batah.
"Eh... kau serius tidak ada apa-apa?" tanya Ayla yang semakin penasaran.
"S-sudah lah, ayo kita tidur saja, aku sudah capek...." ajaknya dengan gesture salah tingkah.
Mereka yang heran hanya bisa mengiakan saja perkataan Casta dan bersiap untuk tidur.
Sementara itu, Kolonel Mervis yang masih tetap berada di ruangannya penasaran dengan buku yang baru saja diberikan oleh Casta.
"Secret?" ucap Mervis yang membaca tulisan di sampul bukunya.
"Dua buku dengan tulisan yang sama dan satu buku dengan tulisan... Old Division?" ucapnya lagi penasaran.
Mervis yang semakin penasaran lantas membaca buku diary dengan tulisan 'Secret' itu terlebih dahulu.
"Buku Merah ini hanya berisi tentang hasil dari uji coba laboratorium di sana!"
"Dan buku yang hitam ini berisi tentang senjata Artifacts yang bahkan belum pernah kulihat...." gumamnya penasaran.
Lalu Mervis melirik buku yang ketiga.
"Old Division...." Mervis menatap buku itu dengan serius.
Saat membuka halaman pertama buku itu lantas ia terkejut....
"I-i-ini kan...." ucapnya dengan raut wajah yang terlihat sedikit kaget dan pucat.