
Warga yang berada di sekitar gedung mendengar ledakan keras yang berasal dari kantor Kolonel Mervis, dan perubahan cuaca yang tadinya cerah menjadi mendung dengan hembusan angin hitam yang sangat kencang disertai dedaunan yang berterbangan.
Para tentara yang berjaga di bagian luar segera mengamankan pintu masuk dan mendorong warga sedikit menjauh dari gedung untuk mencegah mereka mendekati dan melihat ke dalam tempat itu.
"Oi... apa yang sedang terjadi?" ucap salah satu warga di depan gerbang.
"Situasi sekarang sangat berbahaya, ada musuh yang menyerang di dalam, saat ini Mayor Misca sedang menghadapi orang itu," ucap salah satu prajurit yang mencoba menjelaskan situasi di dalam gedung.
"Kuharap Mayor Misca bisa membereskan penyusup itu," ucap salah seorang prajurit wanita yang berada di sana sambil melihat ke arah gedung.
"Ya, tidak salah lagi, musuh kali ini adalah salah satu pengguna Artifacts sama seperti beliau, dan orang yang bisa menghadapi pengguna Artifacts saat ini hanya pak Jancoct dan Mayor Misca," ucap prajurit itu lagi dengan penuh harapan.
Ketika para prajurit itu sedang berbicara tiba-tiba salah seorang dari mereka memotong pembicaraan.
"O-oi... I-itu kan!" ucap salah seorang prajurit sambil menunjuk sesuatu ke arah jalan dan terlihat sangat kaget.
Sementara itu di dalam gedung sedang terjadi pertempuran, antara orang asing yang tidak diketahui dari mana ia datang melawan Mayor Misca dan yang lainnya.
Ketika Zaki dengan cepat membuka kedua matanya itu, pupil matanya berubah menjadi warna biru tua dan memperlihatkan gambar kepala serigala dengan warna silver di bagian tengah pupilnya itu.
Lalu dengan cepat Zaki mengeluarkan pistol yang ia sembunyikan di belakang bajunya serta menembakkannya ke arah orang asing yang sedang berada di udara itu.
Saat orang asing itu hampir menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api, dan penutup kepala pada bagian telinga orang asing itu ternyata sudah tersobek dan bolong serta terlihat sedikit darah pada bagian telinganya.
Lantas orang asing itu menghentikan tindakannya dan mengalihkan pandangannya ke arah Zaki yang terlihat sedang berdiri tegap dengan pistol yang ia pegang di tangan kanannya disertai pupil mata yang berwarna biru tua dan bergambar kepala serigala yang terang, serta memperlihatkan ekspresi kebencian dan menyeramkan.
"Ka-kapten...." ucap pria itu pelan dan gugup.
Kemudian Zaki kembali kehilangan kesadarannya, matanya tiba-tiba tertutup secara perlahan lalu tumbang dan terjatuh ke arah depan, Yuichi yang melihat Zaki tumbang pun langsung membantunya.
"O-oi... Zaki, kau kenapa?" tanya Yuichi bingung.
Saat kejadian itu, tidak ada seorangpun diantara mereka yang sadar apa yang barusan dilakukan oleh Zaki, karena aksi itu berlangsung dengan sangat cepat.
Namun, tiba-tiba suatu hal yang tidak terduga terjadi.
Sesuatu seperti cambuk yang cukup besar serta dilapisi dengan sisik-sisik yang tebal dan tajam tiba-tiba melilit kaki orang asing yang berada di udara itu, kemudian melemparkan pria itu ketanah dengan sangat keras.
Casta, Ayla, Linda dan Yuichi yang bingung dengan hal itu lantas melihat ke arah gerbang yang dipenuhi debu-debu yang berterbangan dan terlihat juga bagian cambuk yang tidak tertutup oleh debu.
Ketika debu itu perlahan-lahan mulai menghilang, terlihatlah bayangan seseorang dari balik debu itu dan berkata.
"Apa yang kau lakukan di kantorku!" ucapnya dengan nada yang sangat marah.
"Si-siapa itu?" ucap Ayla dengan nada gugup.
Orang asing yang barusan terkena serangan tadipun langsung bangkit dan kembali melayang di udara.
"Siapa kau!" ucap orang asing itu dengan nada marah.
Lantas orang asing itu melepaskan serangan angin ke arah orang yang menyerangnya.
"Wind Cutter...."
Namun, sosok itu hanya diam berdiri, dan semua serangan yang dilancarkan ternyata tidak mempan sama sekali, justru serangan angin yang dilancarkannya hanya mempercepat debu itu menghilang.
Dan saat semua debu menghilang, terlihatlah sesosok pria gagah dengan baju yang berwarna putih dengan corak hitam di bagian lengan dan pinggangnya, serta dengan dua mendali di bagian dada kanan dan dibagian bahunya terlihat pangkat dengan bentuk tiga bunga matahari yang berwarna emas.
"Ko-Kolonel...." ucap Ayla dan Linda kaget.
Sementara itu pak Jancoct dan Mayor Misca yang sudah mengetahuinya melalui senjatanya itu hanya bisa tersenyum lega, karena nyawa mereka masih bisa terselamatkan.
"Terima kasih Casta...." ucap Misca tersenyum.
"Hmm...." angguk Casta sambil mengusap air matanya.
Ternyata disaat pertarungan Mayor Misca dan orang asing itu sedang berlangsung sebelumnya, Casta sempat memberitahu Kolonel melalui pesan, bahwa kantornya diserang seseorang yang tidak dikenal, dan di sana Casta menjelaskan semua tentang orang asing itu berserta kekuatan anehnya.
"Hmph... tak kusangka kau akan kalah dengan nyamuk ini, Misca...." teriak Mervis dengan nada kesal.
"Heh?... aku tidak mendengarmu...." ucap Misca berpura-pura tidak mendengarkan ucapan Mervis diiringi dengan ekspresi bodohnya.
"Hah?... siapa yang kau panggil nyamuk?" ucap orang asing itu kesal.
Lantas orang asing itu kembali menyerang Mervis dengan bola angin yang sebelumnya ia gunakan untuk menyerang Misca dan yang lainnya, namun, ukurannya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya.
Saat bola angin itu mengenai Mervis, ledakan terjadi di sekitar tempat Mervis berdiri, anehnya bola angin yang sebesar itu bahkan tidak menggores sedikitpun baju perwiranya yang terlihat gagah itu.
"K-kenapa kau tidak terkena serangan itu?" ucap pria itu bingung.
"Kau tidak usah banyak bicara, kau harus mengganti semua kerusakan yang terjadi di sini," ucap Mervis dengan nada dan tatapan mata yang menyeramkan.
Zaki yang pingsan sebelumnya, perlahan membuka matanya, dan melihat ke arah gerbang.
"Si-siapa itu...." ucapnya pelan.
"Itu Kolonel Mervis...." ucap Yuichi memberitahunya.
Setelah mendengar hal itu, Zaki berbicara di dalam hatinya.
"Syukurlah...." lalu matanya kembali tertutup.
Orang asing yang bingung dengan hal itu lantas berkata.
"Siapa kau sebenarnya?" ucapnya.
"Kurasa aku tidak perlu memberitahu namaku pada seseorang yang akan mati...." balas Mervis dengan nada penuh kemarahan.
"Cih...."
"Dia adalah Kolonel Mervis...." ucap Ayla memberitahu orang asing itu.
"Hah?... jadi itukah yang kau maksud Mervis?" balas orang asing itu.
"Ayla...." Mervis menatap tajam ke arah Ayla.
"Ah... maaf," ucap Ayla dengan ekspresi bodohnya dan menggosokan tangan ke kepalanya.
Sesekali orang asing itu mengalihkan pandangannya ke arah Zaki yang sudah kembali tertidur.
"Kurasa aku tidak bisa berbicara padanya sekarang," ucap pria itu dalam hatinya.
"Ayla, Casta, bawa Misca menyingkir dari sini, biar aku yang akan mengurus sisanya," ucap Mervis.
"B-baik Kolonel...." ucap mereka berdua sembari sembari memapah Misca ke atas tangga.
Setelah itu Linda mendekat ke Zaki untuk memeriksa keadaannya.
"Nah... nyamuk, apa kau sudah siap untuk dihukum karena telah mengacaukan tempatku?" ucap Mervis.
Orang asing itu hanya menatap tajam ke arah Mervis, serta mengucapkan kembali nama Artifactsnya.
"Ancient Artifacts : Black Wind," ucap orang asing itu dengan mata yang terlihat sangat kesal menatap tajam ke arah Mervis.
Para prajurit yang masih bisa berdiri di sekitar pertempuran yang mendengar hal itu lantas kaget.
"A-Ancient?" ucap Casta dan Ayla terkejut.
"Ya, dia berbohong," ucap Misca.
"Hah?... apa maksudnya?" tanya Casta.
"Sepertinya orang itu bisa memanipulasi Artifacts miliknya," jawab Misca.
Kemudian tidak lama Mervis membalas ucapan pria itu dengan menyebutkan juga Artifacts miliknya.
"Ancient Artifacts : Ancient Phataginus," ucap Mervis seraya memperlihatkan pupil matanya yang sudah berubah menjadi warna emas dan terlihat pula sebuah bayangan gambar hewan trenggiling ( Ancient Pangolin ).
Casta, Ayla, dan Linda yang melihat Kolonel Mervis lantas berkata.
"Mata Kolonel sama dengan orang itu...." ucap mereka.
"Ya, perbedaan tingkatan Artifacts yang berada diatas Rare, maka akan menampilkan gambaran kekuatan dari Artifacts yang sedang digunakan...." jelas Misca pada mereka.
"Karena itulah, saat dia memperlihatkan kekuatan itu, aku sudah menyadari peluang untuk menang hanya sedikit, tapi bagi Mervis...." jelas Misca lagi sambil tersenyum kecil sembari menghentikan ucapannya dan melihat ke arah Mervis.
Orang asing yang mendengar nama Artifacts milik Mervis pun sedikit terkejut mendengar hal itu.
"Pangolin kah...." ucapnya serius.
"Sepertinya kau sedikit mengetahui tentang Artifacts milikku," ucap Mervis dengan nada santai.
Dan orang asing itu terlihat sudah mengetahui kekuatan dari Artifacts yang dimiliki oleh Mervis.
"Cih... sepertinya dia akan menjadi lawan yang merepotkan," ucap orang asing itu dalam hati.
"T-tapi, kenapa Kolonel tidak terluka setelah terkena serangan dari orang itu?" tanya Casta pada Misca.
Lalu Misca mencoba menjelaskan sedikit yang ia ketahui pada Casta mengenai kekuatan Artifacts yang dimiliki oleh Mervis.
"Artifacts milik Mervis ialah benda yang di berikan langsung oleh Jendral Rayfox, Artifacts itu bernama Ancient Phataginus, itu adalah suatu perwujudan dari hewan trenggiling, jadi Mervis mempunyai pertahanan yang sangat kuat, sehingga setajam apapun angin yang diberikan oleh orang itu, tidak akan mampu melukainya, dan juga senjata yang digunakannya ialah semacam cambuk, itu adalah Artifactsnya, cambuk dengan sisik tajam yang mewakili bentuk dari ekor panjang trenggiling itu sendiri," jelas Misca dan didengar pula oleh Ayla, Linda serta Yuichi.
"Ah... begitukah...." ucap mereka.
"Ternyata Kolonel orang yang hebat ya...." ucap Linda kagum.
"Tapi, kenapa Zaki bisa sampai pingsan seperti ini?" tanya Casta melihat Zaki yang tengah tertidur.
"Entahlah, aku tidak tahu, saat aku melihatnya tiba-tiba saja dia sudah jatuh kelantai," jawab Yuichi.
"Zaki...." ucap Linda pelan sembari melihat ke arah Zaki.
Di sisi lain, Kolonel Mervis dan orang asing itu saling menyerang satu sama lain, Mervis dengan gesit terus melecutkan cambuknya ke arah orang itu meskipun orang itu berada di udara.
"Percuma saja kau terus menghindar, karena cambukku bisa mengejar kemanapun kau pergi," ucap Mervis dengan nada yang tetap santai.
"Cih... aku sudah tidak punya waktu lagi untuk bermain-main di sini, atau dia akan memarahiku," ucap orang asing itu di dalam hatinya sembari melihat ke arah jam tangannya yang berada di sebelah kiri pergelangan tangannya.
Orang asing itu tetap menyerang Mervis dengan angin yang dibuatnya, meskipun semua usaha itu sia-sia.
"Wind Ball... Wind Cutter...." teriak orang asing itu sembari membuat gesture seperti sedang memotong sesuatu di udara dengan tangan kirinya.
Angin itu tetap saja tidak bisa menggores sedikitpun tubuh ataupun pakaian Mervis.
"Kalau begitu...." ucap orang asing itu turun mendekat ke arah Mervis.
"Hmm...."
Orang asing itu mendekati Mervis sembari membuat pedang dari angin dan memegangnya di tangan kirinya, lalu melawan Mervis dengan pukulan fisik dan jarak dekat.
*Wushhh...
Pria asing itu mencoba menebas Mervis menggunakan pedang angin yang sudah dibuatnya, namun Mervis yang sudah lebih berpengalaman bela diri lantas menghindari serangan itu dengan mudah.
"Berhenti memanggilku nyamuk dasar sialan!" balas pria itu sembari terus mencoba mendaratkan sabetan pedang dan pukulannya ke arah Mervis.
Namun tiba-tiba...
*Wushh....
Mereka yang melihat pertarungan itu mendadak terkejut. Ya, Mervis menghilang dari hadapan pria itu dan sudah berada di belakang pria itu.
*Krakk....
"A-apa!!" ucap pria itu sembari memutar kepalanya ke belakang dan melihat Mervis.
Tendangan kuat dilancarkan Mervis ke arah kaki kanan pria itu, dan lantas membuatnya berlutut ke arah depan.
Mervis dengan tatapan matanya yang menyala dan terlihat pula dikedua mata Mervis dan orang itu terdapat sebuah gambar yang masing-masing mewakili kekuatan Artifacts mereka.
"K-kakiku... patah!!" ucap pria itu dalam hatinya dan dengan nada yang terbata-bata.
Dengan cambuk yang sudah di pegang oleh Mervis di tangan kirinya, lantas digunakan olehnya untuk melilit leher pria itu, dan tangan kanan Mervis mencoba untuk membuka hoodie pria itu.
Karena sadar bahwa Mervis akan membuka penutup kepalanya, pria itu lantas melakukan perlawanan.
"Sadari akan tempat kalian, KEPARAT!!!" ucap pria itu dengan nada yang sangat mengerikan dan memegang cambuk yang melilit lehernya dengan sangat kuat dan mencoba melepaskan lilitan itu.
Pupil mata pria itu lantas kembali berubah menjadi sangat cerah dengan gambar burung elang yang bersinar.
Dan tiba-tiba Mervis terkejut, seluruh tubuh pria itu berubah menjadi angin hitam yang akhirnya melepas lilitan cambuk itu darinya.
"K-kau!!" ucap Mervis sembari meloncat mundur dari pria itu.
Lalu pria itu kembali sedikit menjauh dari tempatnya berubah tadi, dan kembali menjadi manusia, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari pria itu.
Lantas Misca dan yang lainnya terkejut melihat hal itu.
"Sudah cukup!... Jeanne, Ryuda, Kapten!... aku akan segera membunuh para manusia lemah ini dan membawa kalian kembali," ucap pria itu pelan dan menunduk seperti kehilangan kesadarannya serta berdiri dengan tidak seimbang karena kaki kanannya patah.
"Siapa kau sebenarnya, dan dari mana asalmu?" ucap Mervis bertanya padanya.
Mervis memperhatikan serius tatapan mata pria itu dan juga penutup wajah yang bergambar tengkorak.
"Aku tidak pernah melihat penutup wajah yang seperti itu!" ucap Mervis lagi dalam hatinya.
Mervis yang penasaran mencoba menyerang pria itu kembali untuk membuka penutup wajahnya dan melihat bagaimana wajah pria itu.
Saat Mervis mendekati pria itu dengan cepat dan ketika tangannya sedikit lagi menyentuh masker pria itu, namun tiba-tiba sesuatu datang dari atas dengan kecepatan yang sangat tinggi dan membentur tanah di tengah-tengah Mervis dan pria itu.
Lantas mengetahui hal itu Mervis pun melompat mundur kembali sedikit ke belakang.
"Hmm...." ucapnya sembari melihat debu-debu yang berterbangan.
"Sudah cukup!" ucap seseorang dari balik debu itu.
Di balik debu itu Mervis dan yang lainnya melihat ada dua bayangan manusia, yang satunya sudah pasti orang asing itu, namun, yang satunya lagi ukuran tubuhnya terlihat lebih kecil dari orang asing itu yang pertama dan bentuk tubuhnya terlihat seperti seorang wanita.
"Muncul satu lagi ya...." ucap Mervis santai.
"Tidak... aku hanya menjemput orang bodoh ini," ucap wanita asing itu.
"Dan... aku ingin melihat keadaan mereka!" ucapnya lagi.
"Mereka?" balas Mervis.
"Kami sudah tidak punya waktu lagi, tapi kami akan kembali, untuk sementara tolong jaga mereka!" ucap wanita asing itu lagi.
"Mereka?" balas Mervis lagi dengan nada bingung.
"Aku akan kembali... Ka--kak...." ucap wanita itu pelan.
Lalu bayangan kedua orang itu menghilang dari balik debu.
"Cih... mereka kabur kah!" ucap Mervis dengan nada kesal.
Para prajurit yang sebelumnya masih bersiaga, lantas maju menuju ke arah debu-debu itu untuk memeriksanya.
"Mereka benar-benar sudah menghilang!" ucap salah satu prajurit yang berada di dekat debu itu.
"Bantu yang lainnya, hubungi rumah sakit dan segera bawa ambulance kemari," teriak Mervis memerintahkan para prajurit yang tersisa.
"B-baik Kolonel!!" ucap mereka sembari memberi hormat.
Lalu Mervis berjalan menuju Misca dan yang lainnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mervis pada Misca.
"Hmph... seperti yang kau lihat!... aku sangat sehat," balas Misca dengan nada mengejek Mervis.
"Cih...."
"A-ah... Kolonel, terima kasih, karena kau datang kami semua bisa terselamatkan," ucap Linda dengan gugup.
"Tidak... berterima kasihlah pada Casta, jika dia tidak memberitahuku, aku tidak mungkin akan datang kemari," balas Mervis.
"Ca-Casta, terima kasih banyak," ucap Linda polos sembari menundukkan kepala dan tubuhnya.
"A-ah... h-hmm...." balas Casta dengan tersenyum padanya.
Lalu Mervis mengalihkan pandangannya ke arah Zaki.
"Kenapa dia enak-enakan tidur disaat yang lain sedang mempertaruhkan nyawa," ucap Mervis yang kesal sembari menendang pantat Zaki.
"Aaaaarrrrgggghhh...." ucap Zaki terbangun.
"Ah Zaki... kau sudah bangun...." ucap Linda sembari mendekat ke Zaki dan memeluknya.
"Eh?... apa yang terjadi?... bagaimana pertarungannya?" ucap Zaki bingung.
"Orang asing itu sudah melarikan diri," balas Yuichi.
"Hufftt... syukurlah kalau begitu," balas Zaki dengan ekspresi lega.
Mervis melihat sekeliling kantornya itu yang bagian depannya sudah porak poranda akibat pertarungan yang barusan terjadi.
"Ah... aku akan banyak perkerjaan setelah ini," ucapnya mengeluh.
"Kantor anda menjadi seperti ini, kami minta maaf Kolonel," ucap Casta dan Ayla sembari menundukkan pandangan mereka.
"Hmm... kenapa kalian minta maaf, lagipula ini bukanlah kesalahan kalian!" balas Mervis tersenyum.
"Maaf Kolonel, saya gagal melindungi tempat ini sehingga banyak bangunan yang hancur," ucap pak Jancoct merasa bersalah.
"Ya, karena dia sebelumnya menyebutkan Artifactsnya dengan Rarity Rare, aku tidak tau jika pria itu mampu memanipulasi Artifacts miliknya," ucap Misca serius.
"Ah Kolonel, kenapa tubuh fisiknya bisa menjadi angin seperti kekuatan yang ia keluarkan dari Artifactsnya?" tanya Ayla.
"Kalau tidak salah, aku pernah mendengar hal ini dari para petinggi, keadaan yang dialami pria itu bernama 'Queregtion'... dimana saat pengguna Artifacts telah mencapai kemahiran tingkat tinggi dalam menggunakan kekuatan dari Artifacts itu sendiri, maka akan terjadi pertukaran terhadap kekuatan yang dimiliki oleh Artifacts itu, dengan kata lain, kita bisa mengendalikan sepenuhnya kekuatan asli dari Artifacts itu," jawab Mervis dengan nada dan ekspresi yang terlihat serius.
"Pertukaran?" tanya Misca bingung.
"Hmm... aku juga tidak tahu persis apa maksud kata pertukaran di sana, karena aku hanya mendengar hal itu ketika rapat para petinggi saat itu," balas Mervis.
"Apakah berarti aku juga bisa melakukan hal itu?" tanya Misca lagi.
"Hmm... sepertinya itu hanya berlaku untuk Rarity Ancient keatas," Mervis yang terlihat sedikit ragu memegang dagunya.
"Aku akan menanyakan hal itu nanti pada Jendral Rayfox," ucap Mervis lagi.
"Baiklah...." balas Misca lagi.
Lalu tidak lama kemudian terdengar suara mobil ambulance yang masuk kedalam perkarangan kantor dan menuju ketangga dimana Kolonel Mervis berada.
"Nah Misca... pergilah ke rumah sakit untuk mengobati luka-luka mu itu, pak Jancoct juga, biar aku yang mengurus sisanya," ucap Mervis.
"A-ah... saya merasa tidak enakan pada Kolonel," jawab pak Jancoct.
"Tidak apa, kesembuhan kalian yang utama, agar bisa kembali berkerja untuk menjaga tempat ini selagi aku tidak ada," balas Mervis tertawa kecil.
"B-baik Kolonel," ucap pak Jancoct.
Kemudian para petugas medis memapah mereka berdua menuju kedalam mobil, dan sekitar lima ambulance disediakan untuk para prajurit lainnya yang terluka dan yang gugur.
"Lalu kami bagaimana Kolonel?" ucap Casta.
"Kalian di sini saja dulu sementara, karena aku sudah di sini, kita bisa kembali ke pusat nanti saja," balas Mervis.
"B-baik Kolonel!" jawab mereka.
Sementara itu di tempat lain, dan di suatu ruangan....
*Wushhh...
Terdengar suara angin yang cukup kencang, dan juga berbentuk seperti pusaran angin yang kecil, ketika pusaran itu menghilang, terlihat dua orang yang memakai pakaian serba hitam dengan hoodie dan juga masker bergambar tengkorak.
Dan di ruangan itu, terlihat seorang wanita yang sedang duduk di sofa panjang dengan menggunakan tanktop berwarna abu-abu dan celana pendek biru menyambut mereka.
"Kalian sudah kembali ya!"
"Ya, kami sudah kembali," jawab seorang wanita dengan hoodie yang baru saja tiba itu.
Lalu tiba-tiba...
*Brakk....
Pria dengan kaki yang patah tadi terjatuh ke lantai, dan pingsan....
"Hee... kenapa dengan dia?" tanya wanita yang sedang duduk itu dengan nada santai.
"Dia terlalu lama bermain-main," jawab wanita dengan hoodie itu.
"Ah... seperti itu kah!" balas wanita itu santai dan menyeruput secangkir teh.
"Pakaian seperti ini membuatku gerah!" ucap wanita dengan hoodie itu sembari melepaskan pakaiannya.
Dan terlihatlah sesosok wanita cantik dengan rambut pendek sebahu berwarna ungu serta mata hitam, dengan ukuran tubuh yang tidak terlalu tinggi dan memakai pakaian tentara dengan warna hitam dengan corak berwarna putih, terlihat pula pada bagian kerah bajunya terdapat bordiran kecil dengan gambar kepala tengkorak.
"Sebaiknya kau istirahat saja dulu... Manami!" jawab wanita yang tengah menyeruput teh itu.
"Ya, aku juga akan membawa Aley ke kamarnya," balas Manami.
"Baiklah, setelah itu kita akan membahas rencana selanjutnya!" balas wanita itu tersenyum dengan sedikit mengerikan.