
Suara baling-baling dari sebuah helikopter mulai terdengar jelas, terlihat lampu-lampu yang cukup terang menyinari badan dari helikopter dengan jenis AW101 yang berwarna merah dan hitam tersebut dari kejauhan.
"Kita sudah sampai Jendral!" beritahu sopir itu.
Mobil berhenti di dekat landasan helikopter, beberapa prajurit yang berada di sekitar mendekat ke arah mobil dan membukakan pintu tengah mobil tersebut.
Celiona turun dari mobil melalui pintu sebelah kanan, dan Ayla menyusul turun dari pintu sebelah kiri.
Yuichi yang masih terlihat bingung hanya bisa melihat-lihat dari dalam mobil.
"Oi... apa yang kau tunggu?" ucap sopir pada pria yang berada di sebelah kirinya itu.
"Eh?... aku juga ikut turun?" tanya Yuichi bingung.
"Ya, Jendral mungkin saja butuh bantuanmu," balas sopir itu.
Yuichi yang terlihat semakin bingung lantas ikut turun dari pintu sebelah kiri.
Setelah Yuichi turun, mobil bergerak meninggalkan mereka bertiga.
"Pilot sudah siap untuk berangkat Jendral!" ucap seorang prajurit sembari memberi hormat.
"Baiklah!" balas Celiona.
"Anu... apakah mereka juga akan ikut?" tanya prajurit itu lagi.
"Ya, karena aku sudah terlanjur membawa mereka ke sini," ucap Celiona dingin.
"B-baiklah!" balas prajurit itu.
Celiona berjalan menuju pintu tengah helikopter yang sudah terbuka.
"Ayla kah?" tanya prajurit yang berada di dekat pintu helikopter.
"Iya?" jawab Ayla bingung.
"Kenapa kau hanya menggunakan itu?" tanya prajurit itu.
"Ah... aku tidak sempat mengambil bajuku," balas Ayla panik.
"Tidak usah khawatir, di dalam ada beberapa baju yang bisa kau gunakan," beritahu prajurit itu lagi.
"Hmm...." angguk Ayla.
"Temanmu itu juga bisa menggunakannya... tapi nanti jangan lupa dikembalikan ya... haha...haha," ucap prajurit itu sambil tertawa kecil.
"Baiklah...." balas Ayla tersenyum kecil.
Ayla dan Yuichi menyusul masuk ke dalam helikopter yang mana Celiona sudah berada di dalam sana.
Para prajurit mulai menutup pintu helikopter dari luar sembari memberi hormat pada Jendral Celiona.
"Hati-hati Jendral, kami akan segera mengirimkan bantuan jika di butuhkan," ucap salah satu prajurit.
"Ya...." balas Celiona.
Helikopter mulai terbang meninggalkan landasan dan bergerak menuju area Artgena untuk membantu Sekar dan yang lainnya.
30 menit sebelumnya, disaat Sekar sedang melawan Leno, kawasan tersebut dipenuhi dengan mayat para tentara dari pihak Kuvernt, terlihat beberapa prajurit tergeletak dengan tubuh yang terbelah menjadi beberapa bagian, dan sebagian lainnya hangus terbakar oleh laser yang sangat panas.
Angin yang sedikit kencang membuat mereka bisa mencium bau darah dan bau gosong di sekitar mereka berdua berdiri.
Leno yang terlihat sangat marah terus menatap tajam ke arah Sekar.
"Aku tidak tahu wajah jelek seperti apa yang berada di balik topengmu itu. Aku akan menghancurkanmu untuk membalas kematian mereka semua," ucap Leno dengan nada yang sangat marah.
"Thunder Spear...." teriak Leno sembari mengarahkan tangan kanannya ke langit.
Dengan sangat cepat petir-petir hitam muncul dan membentuk sebuah tombak.
Leno kemudian mengarahkan enam tombak petir ke arah Sekar.
Sekar dengan kecepatannya berhasil menghindari tombak-tombak petir itu, namun, ternyata Leno memancingnya untuk berdiri di dalam tombak petir yang telah tersusun seperti lingkaran. Sekar yang sekarang berada tepat di tengah-tengah lingkaran itupun merasakan sesuatu yang besar akan terjadi.
"Dia memancingku kah?" batin Sekar sembari melihat ujung tombak petir yang mulai saling bersinar itu.
"Electric Circle...." teriak Leno.
Terlihat dua orang yang berada di atas bukit terus memantau pertarungan Sekar dan Leno.
"Hooh... apa yang akan dia lakukan?" ucap wanita dengan topeng ayam penasaran.
"Hah?... aku tidak bisa melihat apapun, kekuatanku tidak bisa menjangkau mereka," keluh pria dengan topeng kuda di sebelahnya.
"Kurasa ini akan menjadi semakin menarik," ucap wanita itu dengan nada yang terdengar bersemangat.
"Gantian, aku juga ingin melihat mereka," balas pria itu terlihat kesal.
"Untuk apa kau membawa benda itu?" tanya wanita itu lagi.
"Hah?... apa maksudmu?" jawab pria itu bingung.
Wanita itu menujuk ke arah Sniper Rifle dengan jenis Barrett M107A1 yang dipegang pria itu.
"Ah... kau benar, aku bisa melihat mereka menggunakan Scope ini," ucap pria itu dengan nada bersemangat melihat pertarungan Sekar dan Leno.
"Apa ku bilang, itulah aku tidak ingin berpartner dengan orang bodoh yang hanya mengandalkan otot sepertimu," balas wanita itu dengan nada dingin.
"Hah?... apa kau bilang?" teriak pria itu dengan nada kesal.
"Kau itu bodoh..." ucap wanita itu lagi.
"Aku pun tidak tahu kenapa dipasangkan dengan wanita gila sepertimu," balas pria itu dengan nada kesal.
"Hah?... apa kau bilang?" ucap wanita itu dengan nada sedikit marah sembari memukulkan tangannya ke kepala pria tersebut.
Namun, disaat mereka sedang bertengkar, wanita itu mendengar sesuatu dari dalam hutan di dekat mereka.
"Diam...." ucap wanita itu pada pria yang berada di sebelahnya.
"Heh... kenapa?... tadi ribut sekarang meminta untuk diam," balasnya dengan nada pelan dan masih terdengar kesal.
"Aku mendengar sesuatu dari dalam sana," beritahu wanita itu sembari melihat ke arah pepohonan yang berada di samping mereka.
"Musuhkah?... apa kita ketahuan?" tanya pria itu dengan nada yang tenang dan serius.
"Apa kau sudah menggunakan itu bukan?" jawab wanita itu.
"Ya, itulah kenapa aku tidak bisa menjangkau mereka, karena saat ini aku memfokuskan Hidden Defense di sini," beritahu pria itu.
"Mungkin karena keributan tadi," ucap wanita itu.
"Itulah kenapa aku menyebutmu wanita gila, kau bahkan tidak bisa tenang bahkan disaat misi yang penting seperti ini," keluh pria itu.
"Hah... apa kau bilang?... bukankah kau yang memulainya?" balas wanita itu lagi dengan nada kesal.
"Heh?... benarkah?" jawab pria itu polos.
Disaat sedang berdebat, empat orang dengan pakaian tentara berwarna hitam tiba-tiba turun dari pohon dan berdiri tepat di samping mereka.
"Tadi aku mendengar suara di sekitar sini," ucap salah satu prajurit itu.
Dua orang yang menggunakan topeng ayam dan kuda tersebut sedang berada dalam posisi tiarap, dikarenakan mereka tadi mengintai dan mengamati pertarungan dari Sekar dan Leno yang berada di area Artgena.
Mereka berdua langsung melihat ke arah empat prajurit yang berada di sebelah mereka.
"Apa ku bilang kan... karena suara yang kau buat, mereka ke sini," ucap pria yang menggunakan topeng kuda dengan suara berbisik-bisik.
"Cih... kenapa jadi aku yang salah," balas wanita itu dengan nada kesal dan beralih melihat ke arah area Artgena dengan menggunakan teropong.
"Apa kita harus membereskan mereka semua, aku tidak ingin ada yang menganggu misi ini," tanya pria itu.
"Tssstt... tssst... ruang kendali, kami mendengar suara yang berada di sekitar lokasi pertempuran Kolonel Sekar!" ucap seseorang dari atas pohon.
"Musuhkah?" jawab seseorang dari radio yang dipegang seorang prajurit tersebut.
"Entahlah... kami tidak melihat ada orang yang berada di lokasi sekitar sini!" balas prajurit itu lagi.
"Perintah dari Kolonel Zigo, cek setiap lokasi dan amankan seluruh area Artgena!" ucap suara dari radio itu.
"Tsstt... Perintah diterima!" balas prajurit itu.
Empat prajurit yang berada di bawah berkeliling di sekitar lokasi suara yang mereka dengar.
Namun, satu prajurit seperti menabrak sesuatu ketika berjalan menuju jurang bukit untuk mengecek bagian bawah.
"A-apa itu," ucapnya sembari meraba-raba sesuatu yang ia tabrak barusan.
"Baiklah... baiklah," ucap wanita dengan topeng ayam dengan nada yang terdengar sangat kesal.
"Eh?... suara apa itu?" tanya prajurit yang sedang meraba-raba benda yang tak terlihat tersebut.
Saat wanita itu ingin bangkit dari posisi tiarapnya, Hidden Defense yang digunakan oleh pria dengan topeng kuda pun mulai terlihat.
"I-inikan...." ucap prajurit yang sedang meraba-raba sebuah gundukan tanah yang mulai terlihat oleh matanya.
Tak lama kemudian terdengar suara yang sangat keras dari prajurit itu.
"Arrghkk...."
Darah mengalir dari tubuh sang prajurit. Dengan cepat ketiga prajurit lainnya bergegas menuju ke tempat sumber suara tersebut.
Namun, prajurit yang tadi berada di atas pohon sudah terlebih dahulu menyaksikan kejadian itu, dimana temannya yang tertusuk oleh sebuah benda hingga menembus bagian perut, benda tersebut terlihat seperti taduk dan muncul dari gundukan tanah yang dipegang prajurit yang terbunuh itu.
"Earth Horn...." ucap pria dengan topeng kuda dengan suara pelan sembari tetap melihat ke arah area Artgena menggunakan Scope yang terpasang pada Sniper Riflenya.
"Nah Kirana, ku harap kau membereskan mereka semua," ucap pria itu dengan santai pada wanita yang menggunakan topeng ayam dan sedang berdiri di sebelahnya.
"Cih... asal kau tidak berkata yang macam-macam pada kak Manami, Beiz," balas Kirana terdengar sangat kesal.
Melihat ada dua musuh yang berada di depan mereka, prajurit yang berada di atas pohon mencoba bersembunyi dan menghubungi kembali Kolonel Zigo.
Dengan tubuh yang gemetar dan perasaan takut, prajurit yang bersembunyi di balik pohon itupun memberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi, ketika ia melihat ke bawah secara perlahan, semua anak buahnya telah tewas terbunuh, kepala mereka hancur seperti meledak dan darah mengalir kemana-mana.
Radio yang ia tekan untuk menghubungi Kolonel Zigo tiba-tiba tersambung.
"Apa musuh sudah ditemukan kah?" tanya Kolonel Zigo yang berada di ruang kendali.
"SD?... masuk...." ucap Zigo memastikan koneksi jaringan bagus.
Zigo yang merasa heran karena tidak ada balasan terus mencoba berbicara pada orang yang menghubunginya itu.
Tetapi tiba-tiba, terdengar suara dari radio tersebut.
"Yo... sepertinya hanya kau yang tersisa...." ucap suara wanita yang terdengar sangat dekat.
"S-selamatkan... a-aku.... tssssttt...." ucap prajurit itu dan terdengar seperti orang yang sangat ketakutan.
Lalu sambungan radio itu terputus dengan cepat.
"Apa yang terjadi pada pasukan pengintai?" ucap Zigo khawatir.
Sontak seisi ruang kendali menjadi terlihat khawatir atas apa yang terjadi.
"Kau, segera susul Rena dan beritahu Jendral!" perintah Zigo pada seorang prajurit pria di dekatnya.
"Siap... Kolonel!" balas prajurit itu dan segera berlari menyusul Rena.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Zigo terlihat serius sembari menatap layar besar yang berada di depan matanya, serta menampilkan data kelima anggota pasukan pengintai dengan nama Furo sebagai Kapten.
"Kirana... apa kau sudah selesai?" tanya Beiz.
"Ya," jawab Kirana dingin.
Terlihat Kirana sedang mengumpulkan mayat-mayat prajurit tersebut disatu tempat dengan cara memegang kaki mereka dan melemparkannya ke tempat yang ia inginkan.
Setelah selesai mengumpulkan mayat tersebut, Kirana kembali tiarap di sebelah Beiz yang dari tadi masih sibuk memantau pertarungan yang tengah berlangsung.
"Sekarang giliranmu... sembunyikan mayat-mayat itu," ucap Kirana dingin.
"Iya... iya...." balas Beiz datar.
"Hidden Defense...." ucap Beiz sembari mengarahkan tangan kanannya ke arah tumpukan mayat yang berada tidak jauh dari tempat mereka nongkrong tersebut.
Setelah selesai melakukan tugasnya masing-masing, Beiz kembali tiarap di sebelah Kirana dan mulai memantau kembali pertempuran.
"Baiklah... sekarang kita lihat apa yang akan terjadi," ucap Beiz santai.
"Kuharap kau tidak lupa menyembunyikan tempat ini lagi," sindir Kirana.
"Tenang saja, aku sudah melakukannya saat aku kembali tadi," balas Beiz.
"Hmm... baiklah kalau begitu, mari kita lanjutkan tontonannya," ucap Kirana dingin sambil menempelkan kembali teropong ke matanya.
Di area Artgena, saat pertempuran Sekar dan Leno, cuaca di sana sedikit berubah menjadi sedikit ekstrem.
Sekar sedang terjebak di dalam lingkaran tombak petir yang dibuat oleh Leno, dan mencoba untuk keluar, meski banyak celah kosong, tapi Sekar tidak percaya begitu saja dengan jebakan tersebut.
Namun, pada saat Sekar sedang berfikir bagaimana strateginya untuk mengalahkan Leno, tiba-tiba saja setiap ujung dari tombak petir tersebut mengeluarkan listrik dan mulai menyatu satu sama lain, hingga membuat lingkaran listrik.
"Aku terkesan kau memilih untuk tidak langsung keluar, meskipun banyak celah sebelum petir-petir itu menyatu," ucap Leno dengan tatapan serius ke arah Sekar.
Sekar yang mendengar hal itu lantas berdiri tegap dan meletakkan tangan kanannya di pinggangnya.
"Ya, aku bisa melihatnya dengan jelas," balas Sekar dengan nada yang terdengar sangat santai.
"Cih... kalau begitu matilah...." teriak Leno sambil mengarahkan tangannya ke arah Sekar.
"Electric Circle : Zeus' Eyes...." ucap Leno lagi.
Dengan sangat cepat lingkaran listrik tadi membentuk sebuah mata petir berwarna biru tua.
Sekar yang berada tepat di tengah-tengah mata tersebut merasakan bahaya yang besar, jika sampai terkena petir-petir itu.
Tombak petir yang tadinya hanya setinggi dua meter lantas bertambah menjadi setinggi empat meter.
Melihat hal itu membuat Sekar berfikir keras, karena di sekeliling tanah tempat ia berpijak sudah dikelilingi oleh listrik-listrik setinggi empat meter, dan tidak ada cara lain selain melarikan diri ke atas.
Terdengar Leno tertawa keras melihat keadaan Sekar pada saat itu. Karena ia sangat yakin bahwa Sekar tidak akan selamat dari salah satu skill miliknya tersebut.
"Matilah... dan rasakan amarah dari para prajurit-prajurit ku yang telah kau bunuh," ucap Leno dengan sangat marah.
Setelah selesai berbicara seperti itu, Leno membalik badannya dan ingin pergi dari tempat itu.
Mata petir yang telah dibuatnya dengan cepat berkedip, sehingga akan terlihat seperti sebuah tembok dari petir, dan akan menjepit apapun yang berada di dalamnya berkali-kali.
Namun, dengan sangat cepat Sekar melompat setinggi yang ia mampu untuk menghindari kedipan mata itu, Sekar hanya mampu melompat setinggi 3,9 meter, dan terlihat mata tersebut hampir menutup sepenuhnya.
Tetapi, Recon dengan cepat menyambar tubuh Sekar keluar dari lingkaran mata tersebut. Recon terbang setinggi-tingginya, lalu melepaskan Sekar di atas langit.
Sekar berada di atas udara sambil meregangkan semua bagian tubuhnya, ia terjatuh ke bawah dengan sedikit cepat, terlihat topeng yang digunakannya sedikit hancur di bagian kiri dikarenakan serangan petir dari mata tersebut.
Tidak lama kemudian, Recon kembali berada di bawah Sekar, dan Sekar mendarat tepat di punggung sang burung hantu.
"Hey... bukankah itu cara melarikan diri yang keren?" tanya Kirana sambil menepuk-nepuk pundak Beiz.
"...." Beiz tidak bisa berkata apa-apa saat melihat hal itu.
Sekar melihat ke bawah ke arah mata itu yang terus berkedip tanpa henti.
"Apa yang akan terjadi jika Recon telat menangkapku...." ucap Sekar dengan nada dan tatapan mata yang serius.
Terlihat Sekar mempunyai sorotan mata yang tajam, ia melihat Leno masih berjalan menuju bangunan kendali roket yang telah hancur.
"Recon...." ucap Sekar tegas.
Seakan-akan telah mengerti apa yang harus dilakukan, burung itu terbang dengan kecepatan penuh ke arah Leno.
Sekar mengerakkan tangannya membentuk sebuah pistol dan mengarahkannya ke arah Leno.
"Lasser Shoot...." ucap Sekar.
Dengan cepat sebuah laser muncul dari ujung jari telunjuk sekar, dan menembakkan laser tersebut ke arah paha kiri Leno.
Seketika Leno yang merasakan tembakan itu berteriak dan langsung berlutut sambil memegang paha kirinya.
"I-ini...." ucap Leno sambil membalikkan badannya dan melihat ke arah Sekar yang sedang berada di atas langit.
Beiz yang melihat kesempatan itupun langsung melakukan serangan dengan menekan pelatuk dari senjata yang dipegangnya.
Sebuah peluru dengan kaliber 50 BMG terlihat keluar dengan kecepatan yang sangat cepat dari ujung Suppressor Sniper Rifle tersebut.
Dan pada saat yang bersamaan, Sekar dan Recon dengan kecepatan tinggi terbang menuju Leno yang sedang berlutut di darat.
Dengan kecepatan Sekar, Leno tidak sempat untuk berbuat apa-apa, dikarenakan rasa sakit dan rasa terbakar yang menembus paha kirinya.
Peluru itu hampir sampai dan menarget bagian pipi sebelah kiri Leno, dan Sekar yang tiba bersamaan dengan peluru itupun sudah sadar dengan keberadaan benda tersebut karena telah masuk ke dalam jangkauan penglihatan Recon.
Sekar yang ingin membunuh Leno dengan tangannya sendiri mencoba menghentikan laju peluru itu dengan laser yang ia panggil dari bola yang telah dibuat sebelumnya.
Ternyata, peluru itu dilapisi oleh bongkahan tanah, karenanya, laser yang dipanggil oleh Sekar menghilangkan tanah-tanah yang melapisi peluru terlebih dahulu.
Dan sangat disayangkan, disaat tanah yang melapisi peluru hampir tak bersisa, kekuatan dan kecepatan peluru yang ditembakkan masih sangat cepat.
Tetapi, disaat menjelang kematiannya, Sekar melihat pupil mata Leno berubah menjadi berwarna merah darah dan memperlihatkan sebuah gambar berbentuk orang yang terbuat dari petir biru lalu disertai dengan ekspresi yang terlihat sangat marah.
Akhirnya peluru itu menembus wajah Leno dan membuatnya mati seketika.
Sekar langsung melompat mundur dari tubuh Leno yang mulai jatuh ke arah kanan.
"Siapa itu?" ucap Sekar sembari melihat ke arah datangnya peluru yang membunuh Leno.
Dengan sigap Sekar memanggil kucing berwarna hitam dengan mata ungu yang keluar dari balik jubahnya.
"Lala... ambil Artifacts dari pria itu," ucap Sekar pada kucing itu.
"Meow...." balas Lala seakan mengerti apa yang diperintah oleh majikannya.
Lala turun dari pundak Sekar, lalu berlari menuju mayat Leno dan mengambil Artifacts yang berbentuk tongkat berwarna keemasan dengan ukiran berbentuk petir yang berada di bagian atas tongkat tersebut.
Lala kembali sambil berlari dan membawa Artifacts tersebut pada majikannya dengan cara digigit.
Sekar mengambil benda tersebut dari mulut Lala, dan menyimpannya ke dalam jubahnya.
"Baiklah... sekarang, siapa lagi yang akan menjadi lawanku?" ucap Sekar sembari melihat ke arah peluru itu datang.
"Meow?" ucap Lala sambil naik ke pundak Sekar.
"Ah... tenang saja, nanti aku akan memberi kalian donat!" ucap Sekar dengan nada lembut dan mengelus kucing yang berada di pundaknya itu.
Recon masih terus berputar dan memantau dari atas langit.
"30 menit...." ucap Sekar sambil melihat jam tangannya.
Tidak lama kemudian, Gero beserta para prajurit yang menyaksikan dari kejauhan dan melihat kemenangan Sekar, lantas mereka menghampiri wanita yang tengah berdiri sendiri di tengah-tengah area Artgena itu.
"K-Kolonel!" ucap Gero sambil memberi hormat pada Sekar.
"S-selamat atas kemenangan anda," ucap salah seorang prajurit.
Tetapi, disaat semua tampak terlihat senang, Sekar kembali merasakan kehadiran tamu yang tak diundang.
"Tidak... ini masih belum selesai," ucap Sekar dengan nada serius.
Dan benar saja, terlihat dari kejauhan kendaraan roda dua bergerak ke arah mereka dengan cepat.
"S-siapa mereka?" tanya Gero terlihat khawatir.
Dengan cepat, kendaraan tersebut berhenti tepat di depan mereka yang sedang berkumpul.
Dan terlihat orang yang mengendarai motor tersebut adalah seorang pria dengan topeng berbentuk seperti kuda, serta wanita yang bonceng di belakangnya menggunakan topeng berbentuk ayam.