
"Kenapa...."
"Kenapa...."
Itulah yang selalu ia katakan dalam hati, dengan mata terpejam dan nafas yang sesak seakan membuatnya ingin melupakan semua hal yang telah terjadi.
Lalu saat membuka kedua matanya dari kegelapan ia melihat setitik cahaya di dalam kegelapan, ia mengangkat tangan kanannya ke depan dan ingin meraih cahaya tersebut.
Ia terus bergerak melayang ke arah cahaya yang semakin lama semakin membesar dan menerangi kegelapan.
Samar-samar terdengar ada yang sedang berbicara, ia mendengar ada seseorang yang berbicara namun ada beberapa kata yang tidak terlalu terdengar jelas.
"Saya tidak menyangka jika di sini masih ada laboratorium yang tersisa dan sepertinya mereka hanya tinggal bertiga saja!" terdengar dengan sayup dan pelan.
Ketika matanya setengah terbuka, ia melihat di depannya sudah ada empat orang berpakaian Hazmat dan tiga tentara memegang senjata api.
Entah kenapa ia merasa tubuhnya berat dan terasa sangat sempit serta membuat tidak nyaman, dengan terus melihat ke kanan dan ke kiri ia tetap berbicara dalam hati.
"Siapakah orang-orang ini?"
Dan dengan keadaan lemah serta ingatan yang sedikit pudar, ia pun kembali memejamkan mata perlahan dan kembali tertidur.
Beberapa hari setelahnya, ia kembali membuka matanya dengan perlahan, namun, ia sudah berada di tempat yang berbeda, nyaman, lembut dan hangat. Ya, ia sedang berada di tempat tidur dengan ruangan yang terlihat asing baginya.
Lalu pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam, ia kaget dan langsung mengalihkan pandangan ke orang tersebut.
"Si-siapa kau?"
"Tidak usah takut... aku dokter yang merawatmu selama kau berada di sini."
Dokter melihatnya sedang bingung dan menanyakan beberapa pertanyaan untuk mengetahui identitasnya.
"Apa kau ingat apa yang terjadi denganmu?"
Dengan jawaban bingung dan suara yang pelan ia berbicara.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi."
Dokter melihat ekspresi kebingungannya lantas bertanya lagi.
"Apakah kau ingat namamu?"
"Tidak...."
"Hmm... mungkin kau sedang mengalami Amnesia(Lupa Ingatan) karena terlalu lama berada di dalam sana."
Dan dengan ekspresi yang tetap bingung, lalu tiba-tiba masuk seseorang yang gagah dengan tinggi 177cm serta memakai baju keperwiraan tentara lengkap dengan dua mendali di dada sebelah kanannya yang bersinar dan rambut yang berwarna putih, ia berbicara dari pintu yang baru saja ia buka.
" ' Zaki '... itulah nama yang ditempel di kapsulmu, laboratorium tempat kalian bertiga dibekukan."
"Ha?... Zaki?"
Ekspresi heran 'Zaki' melihat orang yang asal masuk ke ruangan tempat dia rawat tersebut.
Lalu orang tersebut memperkenalkan diri nya dan mengatakan bahwa ia adalah Perwira tentara di kota Bergorm [ Kota tempat mereka saat ini ] dan memberitahu bahwa namanya adalah 'Kolonel Mervis Kordgen'.
"Apa kau tak ingat nama itu?" Mervis melihat Zaki yang mencoba mengingat-ingat nama itu.
"Hmm... jika kau tidak mengingatnya tidak usah dipaksakan, istirahat saja dulu sampai kau benar-benar pulih, dokter Kurdan kutitipkan dia padamu!"
Sambil membalikan badan dan melangkah keluar dari ruangan.
"Serahkan saja pada saya Kolonel!" jawab dokter Kurdan.
Lalu dokter itupun juga keluar sambil tersenyum dan menyuruh Zaki untuk beristirahat agar ia bisa cepat pulih.
"Nah... sekarang kau beristirahat saja dulu, aku mau ke ruangan sebelah, dimana orang yang sama sepertimu juga dirawat."
Kemudian terdengar suara orang yang sedang mengobrol dari luar, dokter sepertinya sedang berbicara dengan seseorang di luar.
Tidak lama kemudian seorang wanita cantik dengan pakaian yang sama sepertinya serta rambut pendek berwarna kuning masuk ke dalam dan mulai menyapanya.
"Permisi... seseorang berpakaian tentara berkata bahwa kau sama seperti ku, apakah kau ingat apa yang terjadi?... dan tempat ini sangat terlihat asing bagiku."
Zaki sepertinya tetap terdiam sembari melihat wajah seseorang itu, sebelum ia menjawab pertanyaan wanita itu, Zaki pun juga bertanya padanya.
"Namamu?... siapa?"
Dengan heran wanita itu melihat Zaki karna ia belum menjawab pertanyaan yang disampaikan padanya terlebih dahulu, namun wanita ini tetap menjawab pertanyaan Zaki dengan lembut.
"Hmm...." ucap wanita itu sambil melihat keatas dan mengarahkan jari telunjuknya ke dagu dan mencoba mengingat namanya.
"Linda... tentara itu memanggilku Linda!"
"Aku Zaki."
"Kau tau namamu?"
"Tidak, Kolonel itu juga yang memberitahukannya padaku."
"Hmm... jadi mereka memanggilmu Zaki ya, kalau begitu salam kenal...." Linda tersenyum lembut.
"Nah... bukankah mereka bilang kita ada bertiga di dalam laboratorium itu?"
"Ya...." Linda menganggukan kepalanya.
"Lalu... siapa satu lagi?... apa kau sudah bertemu dengannya?"
Linda yang juga merasa penasaran menggelengkan kepalanya.
"Tidak... aku belum bertemu dengannya... mungkin dia ada di ruangan lain."
Lalu Linda berdiri serta berlari ke arah jendela dan membuka jendelanya, angin yang sejuk masuk dengan lembut ke dalam ruangan.
Ketika Zaki melihat ke arah keluar jendela dari tempat tidurnya, tiba-tiba pandangannya gelap dan dia melihat ke arah Linda, tetapi yang ia lihat bukanlah Linda, melaikan seorang dokter wanita dan tersenyum kepadanya.
Linda yang melihat Zaki yang terdiam seketika mendekat ke arah nya dan menanyakan dia kenapa.
Zaki yang tetap berada di dalam ingatannya melihat wanita itu berbicara.
"Hoo... kau berhasil bangkit ya...." wanita itu berbicara nada dengan lembut.
"Kau siapa?"
"Kau tidak ingat denganku?... hmm... jadi seperti itu, sepertinya kau sedikit kehilangan ingatanmu."
"Ingatan?... apa yang kau ketahui tentang ingatanku, dan kenapa kau bisa ada di dalam ingatanku?" Zaki terus melontarkan pertanyaan demi pertanyaan kepada wanita asing itu.
"Jika keadaanmu seperti itu, maka yang harus kau lakukan adalah mencari sendiri ingatanmu... karena tugas kami sudah selesai dengan membawamu ke era yang baru ini."
Dengan semakin bingung ia mendengarkan ucapan wanita itu....
"Tugas?... era?... apa yang kau maksudkan?" Zaki tambah tidak mengerti dengan ucapan wanita itu.
"Nah... karena aku sudah tidak bisa berlama-lama di sini, dikarenakan efek Artifacts nya sebentar lagi akan habis... maka yang bisa aku katakan untuk yang terakhir kalinya adalah...."
Wanita itu berhenti sejenak dan terdiam sambil menundukkan pandangannya, serta terlihat sedikit air mata yang mengalir, ia melanjutkan kata-kata nya.
"Hentikan mereka... selamatkan era ini... aku berharap padamu...."
Dan dengan suara yang sangat pelan dan terdengar samar-samar.
"Anakku...."
"Tu-tunggu dulu, apa maksudmu?"
Wanita itu menghilang disertai cahaya merah yang sangat menyilaukan, kesadarannya kembali lagi dan ia melihat Linda berada di sampingnya menghawatirkan dirinya.
"Kau tidak apa-apa Zaki?"
"Ya... aku tidak apa-apa," ucap Zaki dengan menundukkan pandangannya ke bawah.
"Siapa wanita itu... aku harus mencari tahu tentang ingatanku...."
Linda yang melihat tingkah aneh dari Zaki mengatakan kepadanya dengan cemas.
"Aku akan memanggilkan dokter!"
"Tidak usah... kurasa aku butuh sedikit istirahat...." ucapnya lembut ke arah Linda.
"Baiklah... aku juga akan kembali ke ruanganku untuk beristirahat... oh ya, mungkin besok aku akan menanyakan dimana ruangan ' Yuichi '...." sambil berjalan keluar ruangan.
"Yuichi?... Apakah itu namanya?" tanya Zaki.
Linda berhenti di depan pintu dan menjawab pertanyaan Zaki.
"Ya... tentara itu juga yang memberitahu namanya... tapi aku lupa menanyakan ruangannya... haha...." dengan ekspresi konyol.
"Kalau begitu selamat beristirahat...." Linda menutup pintu dari luar.
Zaki yang masih mengingat hal yang barusan terjadi dan dengan raut wajah yang mulai serius dia bertekad.
"Aku harus menemukan apa maksud wanita itu dan juga cara mengambalikan ingatanku!"
"Ya... untuk sekarang aku istirahat saja... mumpung dikasih waktu untuk bersantai meskipun aku tidak tau kedepan apa yang akan terjadi... haha...." dengan ekspresi bodoh dia berkata seperti itu dan menarik selimutnya dan menutupi wajahnya.
Sementara itu di ibukota yang bernama Yordafala, terlihat bangunan yang super megah dengan tiang-tiang bendera berwarna merah dengan garis berwarna hitam serta lambang bulan sabit dan bintang berwarna emas berada ditengah bendera itu dan dijaga beberapa prajurit berseragam tentara di depannya.
Kolonel Mervis turun dari mobilnya dan seorang prajurit wanita cantik menyambutnya.
"Selamat datang kembali Kolonel."
Sambil berjalan menuju pintu masuk ke dalam Mervis bertanya kepada prajurit wanita itu.
"Apakah Jendral ada di dalam?"
"Hmm... kalau begitu Casta, tolong salin laporan ini, karna aku ingin melaporkan masalah ini secepatnya...." Kolonel Mervis memberikan beberapa kertas kepada Casta.
"Siap Kolonel."
Mervis lanjut berjalan menuju ruangan rapat, ketika sampai di depan pintu, ia membuka pintu itu dan masuk ke dalam.
Terlihat ada tiga orang yang berada disana satu orang sedang duduk dikursi rapat dengan memegang secarik kertas dan postur tubuh yang besar dan gagah dan memakai pakaian Perwira lengkap dengan mendali didada sebelah kanannya dan dipundak terlihat pangkat bintang empat, ia adalah Jendral Eugine Ovmide.
Satu orang lagi sedang berdiri di dekat jendela dengan postur tubuh normal rambut berwarna putih dan memakai pakaian yang sama dengan Jendral Eugine, ia adalah Jendral Rayfox Elwis Friander, serta satunya lagi berdiri di dekat meja dengan postur tubuh yang tegap dengan pakaian Perwiranya dan mendali di dada kanan serta rambut berwarna hitam, ia adalah Kolonel Louis Heroxes.
"Ah... kau sudah kembali Mervis!" ucap Jendral Rayfox.
"Ya... Jendral!" sambil memberi hormat.
"Kudengar prajuritmu menemukan laboratorium saat sedang berpatroli di hutan?" tanya Jendral Rayfox dengan santai.
"Ya... ketika mendengar laporan tentang laboratorium itu saya segera mengirimkan petugas untuk mengecek nya," jawab Mervis serius.
"Tidak usah terlalu kaku... santai saja...." balas Jendral Rayfox sambil tertawa karena melihat Mervis yang terlalu serius.
"T-tapi Jendral...." ucap Mervis dengan malu-malu.
"Lalu... apa yang mereka temukan di dalam sana?"
"Laboratorium itu terlihat sangat misterius... mungkin telah ditinggalkan sekitar 500-600 tahun yang lalu, kebanyakan data-data tentang laboratorium sudah hilang dan hanya ada beberapa buku saja tentang penelitian yang dilakukan disana."
"Hmm... apa kau sudah membaca buku itu?" tanya Jendral Rayfox penasaran.
"Ah... kalau itu saya belum membacanya."
"Kalau begitu aku ingin melihat buku itu...."
"Mohon maaf Jendral, saya lupa membawanya dan masih tertinggal di Bergorm, namun saya akan segera mengambilnya dan membawanya ke sini," Jawab Mervis merasa bersalah.
"Hmm... baiklah, kalau bisa secepatnya karena aku penasaran tentang penelitian apa yang mereka lakukan...." jawab Jendral Rayfox mengharapkan bisa segera membaca buku itu.
"Ah... mengenai penelitian, disana petugas yang saya kirimkan menemukan tiga orang yang masih hidup."
"Masih hidup?" Jendral Eugine dan Kolonel Louis menjawab perkataan Mervis dengan terkejut.
"Bagaimana mungkin ada manusia yang bisa hidup sampai 500 tahun," ucap Kolonel Louis terkejut.
"Mereka tidak benar-benar hidup di luar... maksudku mereka berada di dalam sebuah kapsul yang membeku...." Mervis mencoba mengklarifikasi keadaan tiga orang itu.
"Hmm... proses pembekuan kah...." jawab Jendral Rayfox.
"Apakah memungkinkan membekukan manusia selama itu?" tanya Kolonel Louis penasaran.
"Hmm... aku tidak begitu yakin... mungkin mereka menggunakan 'itu'...." jawab Jendral Eugine sambil memegang dagunya.
" 'Itu'?... jangan-jangan...." Loius dan Mervis terlihat terkejut.
"Ya... tidak salah lagi... mereka pasti menggunakan salah satu dari Legendary Artifacts...." Jawab Jendral Rayfox dengan ekspresi sangat serius.
"L-Legendary Artifacts... bukankah itu benda yang langka," respon kedua kolonel itu terkejut.
"Tapi, kita masih tidak tau spesifikasi dari Legendary Artifacts yang digunakan itu," Jendral Rayfox berbicara sambil memegang dagunya seperti sedang memikirkan hal itu secara serius.
"Yang jelas pasti mereka melakukan itu tidak sembarangan...." jelas Jendral Eugine.
"Kau bilang tadi mereka ada tiga orang kan?... lalu bagaimana keadaan ketiga orang itu?" tanya Jendral Rayfox.
"Ketika dikeluarkan dari kapsul itu, keadaan mereka sedikit lemah dan mengalami kehilangan ingatan, bahkan saat berada di rumah sakit dan dirawat, saya menanyakan nama mereka, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang ingat apa yang terjadi... namun, menurut laporan dari tim pertama yang menemukan mereka, dikapsul masing-masing tertulis sebuah tulisan."
Sesaat ruangan menjadi hening.
"Apa yang tertulis disana?" tanya Jendral Eugine penasaran.
"Zaki... Linda... dan Yuichi, saya berasumsi mungkin saja itu adalah nama mereka yang ditinggalkan."
"Hilangnya ingatan mereka mungkin juga efek dari Artifacts itu, mengingat mereka berada di dalam sana sampai ratusan tahun menunggu untuk dikeluarkan," gumam Jendral Rayfox.
"Oh iya... tadi sebelum ke sini saya sudah menyuruh prajurit saya kembali ke laboratorium itu untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk," ungkap Kolonel Mervis.
"Baiklah... jika kau mempunyai informasi baru terkait laboratorium itu cepat melapor padaku."
"Siap Jendral!" Kolonel Marvis sambil mengangkat tangan dan memberi hormat serta berjalan keluar dari ruangan bersama Kolonel Louis.
Ketika berada di luar ruangan, sambil berjalan keruangan masing-masing, Louis membicarakan tentang pelatihan para anggota-anggota baru yang akan dipilih untuk persyaratan bergabung ke Division.
"Mervis... apakah kau sudah mempersiapkan para prajurit yang akan mengikuti seleksi."
"Division kah... sayangnya belum... tapi aku akan segera mempersiapkannya...." ucap Mervis.
"Seleksinya akan dimulai tiga minggu lagi... kuharap kau mempertimbangkan para prajurit yang akan mengikuti tes ini... karena ini akan menjadi tes terberat dari sebelumya."
"Tes terberat?... kenapa seperti itu?"
"Kudengar karena mereka akan menjadi benteng utama di pertempuran garis depan... jika mereka tidak siap untuk menghadapi kematian... maka itu akan percuma saja."
"Penempatan mereka sudah diubah kah...."
"Ya... karna para petinggi menginginkan para prajurit yang bisa dengan cepat membereskan pertempuran dengan kerusakan yang sedikit dan dari yang ku dengar... setiap kapten dari setiap Divisi itu akan di berikan Artifacts."
"Hah... enak sekali mereka... kita saja untuk bisa mendapatkan Artifacts dengan susah payah," ucap Mervis dengan nada kesal.
"Haha... yah mau bagaimana lagi... lagipula itu sudah menjadi peraturan baru... karna mereka akan mempertaruhkan nyawa berada di baris depan," Louis membalas ocehan Mervis.
Ketika sampai di depan pintu ruangan Mervis, terlihat ada seorang prajurit wanita sedang menunggunya disana.
"Kolonel Mervis... aku sudah menyalin laporan yang anda butuhkan...." Casta memberi hormat kepada kedua Kolonel itu.
Karena sudah berada di depan ruangannya Mervis, Louis berpamitan untuk mengumpulkan prajurit yang akan ia rekomendasikan mengikuti tes.
Lalu Mervis memasuki ruangannya diikuti oleh Casta.
Setelah Casta meletakkan kertas laporan yang sudah di salin, dia pamit keluar ruangan, namun dicegah oleh Kolonel Mervis.
"Casta tunggu dulu...."
"Hmm... ada apa Kolonel?" Casta menjawab heran.
"Apa kau ingin mengikuti tes?"
"Ah... tes pemilihan anggota Division kah?"
"Ya... aku merekomendasikanmu untuk mengikuti tes itu... bagaimana?"
"Sebenarnya saya begitu tidak yakin bisa lulus tes itu...." jawab Casta dengan ragu-ragu.
"Hmm...." Kolonel bergumam dan melihat Casta dengan tatapan tajam.
Casta yang melihat ekspresi Kolonel yang menyeramkan langsung saja ia setuju mengikuti tes yang diberikan padanya.
"Ah... tapi jika itu yang Kolonel inginkan, saya akan berusaha, saya tidak akan mengecewakan anda," jawab Casta tegas.
Mendengar ucapan Casta lantas ekspresi Kolonel Mervis langsung berubah, ia langsung tersenyum dan mengacungkan jari jempolnya.
"Hmm... seperti itulah seharusnya prajurit yang aku inginkan."
"Huft... kenapa harus saya...." Casta yang kesal berbicara dalam hati.
Setelah percakapan panjang lebar Casta memberi hormat lalu keluar dari ruangan, dan Kolonel memerintahkannya pergi ke kota Bergorm untuk melihat keadaan ketiga orang itu di rumah sakit.
Ketika berada dipintu luar gedung, terlihat ada wanita cantik berpakaian tentara rapi dengan rambut panjang warna putih sambil menggunakan topi berwarna hitam dengan lambang bulan sabit dan bintang di atas topinya sambil memegang senjata laras panjang, melihat ke arah Casta.
Casta melihat temannya yang sedang menunggunya untuk berjaga, lalu Casta pun menghampiri wanita itu.
"Nah... Ayla...." Casta memanggilnya dengan ramah.
"Hmm... ada apa Casta?" jawab wanita cantik itu.
"Maukah kau menemaniku ke rumah sakit!" ucapnya sambil sedikit mengeluh.
"Hah?... apakah kau sakit?" dengan nada khawatir Ayla bertanya.
"Tidak... Aku disuruh Kolonel Mervis untuk mengecek ketiga orang yang kemarin ditemukan di laboratorium asing itu."
"Ah... orang asing itu kah, hmm... baiklah aku akan menemani mu... aku juga penasaran mereka orang seperti apa," dengan tersenyum menerima ajakan Casta.
Lalu mereka ganti baju dan bersiap-siap untuk berangkat ke kota Bergorm.
Pada siang harinya ketika sampai di kota mereka berdua tidak langsung pergi ke rumah sakit, namun mereka berkeliling terlebih dahulu di alun-alun kota dan makan siang disalah satu restoran disana.
Namun disana mereka mendengar para prajurit dan warga di dalam restoran berbicara mengenai mereka bertiga yang berada di rumah sakit.
"Hey... apa kau mendengarnya...." ucap salah satu prajurit.
"Ya... mereka sedang dirawat oleh dokter Kurdan kan...." balas salah satu prajurit.
"Kudengar mereka bertiga ditemukan di dalam kapsul yang membeku... bukankah itu terlihat aneh."
"Aku juga heran kenapa sebelumnya tidak ditemukan bahwa terdapat laboratorium disana jika para penjaga sering berpatroli...." ungkap salah satu prajurit heran.
"Kudengar wanita yang ditemukan itu cantik sekali... seperti malaikat...."
"Cih... otakmu itu hanya dipenuhi oleh perempuan saja kah...." ungkap temannya dengan kesal.
Mendengar ocehan para prajurit itu Casta dan Ayla pun hanya terdiam saja.
"Hmm... sepertinya kita akan bertemu orang yang menarik...." ungkap Ayla dengan nada merayu Casta.
"Haha... ya... mungkin saja...." jawab Casta dengan nada penasaran.