
Zaki terlihat keluar dari pintu utama dan kembali menuju Linda, Casta, Ayla dan juga Yuichi.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Zaki pada mereka.
"Hmm... seperti yang kau lihat, keadaannya semakin memanas," jawab Yuichi dengan nada kesal dan melihat ke arah Zaki dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal.
"Hah... kenapa kau melihatku dengan ekspresi wajah yang seperti itu?" tanya Zaki sembari memberikan ekspresi wajah yang kesal juga kepada Yuichi.
"Itu karena kau melarikan diri sendiri ke dalam untuk mencari aman kan?" balas Yuichi memfitnah Zaki.
"Hah?... aku ke dalam untuk mencari pak Jancoct agar ia membantu Mayor Misca mengalahkan orang itu," jelas Zaki.
"Hmm... apakah kau sudah bertemu orang tua itu?" jawab Yuichi dengan nada datar.
"Ya, katanya dia sebentar lagi akan datang kesini."
"Hmm... baguslah kalau begitu," balas Yuichi dengan nada datar dan memegang dagunya dan menganggukkan kepalanya.
Zaki hanya melihat ke arah Yuichi dengan ekspresi yang datar seakan-akan ia tidak mengerti jalan pikiran orang yang baru saja berdebat dengannya.
Lalu Zaki kembali melihat ke arah jalan dimana ada dua orang yang sedang bersiap untuk melanjutkan pertarungan mereka.
"Hmm... kenapa Mayor Misca melepaskan bajunya?" tanya Zaki heran.
Ayla dan Yuichi menjawab secara bersamaan dengan maksud yang berbeda, namun Ayla tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena suara Yuichi lebih besar.
"Ah... itu karena Mayor Misca...."
"Hmm... itu karena dia ingin memamerkan melon besarnya," jawab Yuichi sambil mengeluarkan ekspresi seperti tidak bersalah.
Seketika mereka yang mendengar itupun langsung mengarahkan padangannya dari arah pertempuran ke arah Yuichi yang tetap memasang wajah yang telihat bodoh.
"Hah?... apa maksudmu?" tanya Casta dengan nada kesal.
Lantas Yuichi mengalihkan pandangannya dari Mayor Misca ke arah dada Casta.
"Hmm... wanita dengan melon kecil sepertimu tidak akan mengerti," jawab Yuichi dengan ekspresi yang datar dan terlihat bodoh.
"Hah?... dasar mesum," jawab Casta yang malu serta menutupi bagian dadanya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya mencolok hidung Yuichi dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Arrggggkkk...." dengan nada seperti kesakitan Yuichi berteriak minta ampun.
Karena mereka terlalu ribut dengan suara yang besar, Misca dan orang asing itu lantas ikut mendengar ocehan mereka yang berada di belakang tiang beton yang besar.
"Hmph... jadi begitu strategimu," tawa orang asing itu dengan nada mengejek Misca.
"Hah?... strategi apa?" jawab Misca heran karena orang asing itu menertawakannya.
"Kau tidak usah berpura-pura bodoh lagi, karena aku sudah tau strategi apa yang akan kau gunakan aku akan mulai berhati-hati sekarang," balas orang asing itu sambil menunjuk ke arah Misca dengan penuh keyakinan.
Mereka yang berada di belakang mulai kembali hening dan berbisik-bisik.
"Memangnya strategi apa yang akan dilakukan Mayor?" tanya Linda dengan nada heran.
"Nah Casta, Ayla, bukankah kalian yang sudah lama mengenal Mayor Misca, memangnya strategi apa yang akan ia gunakan untuk mengalahkan orang asing itu?" tanya Zaki serius pada Casta dan Ayla.
"Aku tidak tau strategi apa yang akan digunakan oleh Mayor, lagipula kami jarang ketemu, jadi, tidak banyak yang aku ketahui tentang Mayor," jelas Casta pada Zaki.
"Hmm...." Zaki kembali melihat serius ke arah Misca dan orang asing itu.
Lalu orang asing itupun kembali berbicara dengan nada seperti seseorang yang menyeramkan.
"Karena aku sudah tahu apa yang akan kau lakukan, maka sekarang yang harus ku lakukan adalah menjaga jarak darimu," ucap orang asing itu.
Orang asing itu kembali mengenggam Artifacts miliknya serta mengeluarkan cahaya yang berwarna kuning cerah dari matanya.
Namun ada sesuatu yang berbeda, di pupil matanya tidak hanya bercahaya, namun terlihat juga sebuah gambar pada pupil matanya yang berbentuk seperti bayangan hewan burung elang ( Harpy Eagle ).
Para prajurit yang tadinya bersiaga diperintahkan oleh Misca untuk mundur karena situasi sudah terlihat sangat berbahaya, karena Misca tahu jika seorang pengguna Artifacts bisa memunculkan motif Artifacts yang sedang digunakan pada pupil matanya, berarti orang itu sudah berada pada tingkatan yang berbeda.
"Jadi kau sudah benar-benar serius sekarang?" ucap Misca dengan nada dan tatapan yang serius.
"Tentu saja... untuk menghindari strategi licik mu itu, aku akan menghabisimu dengan cepat," ucap orang asing itu sembari melihat ke arah Misca.
"Hah?... aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu," ucap Misca bingung.
"Kau ingin menggunakan melon besarmu itu untuk memancingku bukan?" ucap pria itu meremehkan Misca.
Zaki, Casta, Linda dan yang lainnya menjadi syok mendengar bahwa strategi yang dimaksud orang aneh itu adalah Melon besarnya Mayor Misca.
"Haaah... ada masalah apa kalian dengan melonku ini?" ucap Misca Kesal.
"Hmph... kau memang memiliki melon yang cukup besar, tapi itu tidak cukup untuk mengalahkanku," ucap pria itu bersiap untuk memulai menunjukkan kekuatannya.
Langit menjadi gelap, angin kencang dan dingin bertiup merasuk hingga ke tulang, pria itu melayang di tengah-tengah para prajurit yang masih bersiaga untuk menembakinya dengan peluru-peluru yang tajam.
Pria itu mengangkat tangan kirinya keatas dengan gesture seakan-akan sedang mengenggam sesuatu di tangannya.
"Wind Ball...." ucap pria itu dengan pelan.
Seketika terbentuklah sebuah bola dari angin hitam yang ukurannya lumayan besar.
Misca yang melihat itu lantas menyipitkan matanya dan melihat ke arah mata pria itu.
"Haha... jadi seperti itu kah...." ucap Misca lirih kemudian menggemeretakkan giginya sambil tetap melihat ke atas.
Pria itu lantas bersiap untuk melepar bola angin itu ke arah Misca.
"Nah... sekarang matilah...."
Namun sesaat sebelum tangan pria itu mulai melepar bola itu ke arah Misca tiba-tiba lengan kiri pria itu tertembus oleh suatu tembakan yang mengakibatkan bola yang sudah berada di tangannya tadi menghilang.
"Apakah aku datang diwaktu yang tepat?" ucap pak Jancoct sembari membawa sebuah senjata berbentuk Sniper Rifle berwarna hitam dengan corak merah.
"Papa...." ucap Misca melihat ke arah datangnya tembakan itu.
Misca kemudian mundur ke arah tangga tetapi tetap dalam posisi bersiap.
"Papa... apakah kita bisa meminimalisir kerusakan yang akan terjadi di sini?" ucap Misca.
"Yah... akan ku usahakan," balas pak Jancoct.
Melihat ada seseorang yang membantu Misca lantas orang asing itu menjadi kesal karena sudah mengganggunya untuk membunuh Misca.
"Siapa kau?" ucap pria itu kesal.
"Aku adalah penjaga tempat ini yang diberikan amanah untuk menyingkirkan semua pengganggu seperti dirimu," ucap pak Jancoct marah.
"Kalau begitu aku akan menghabisi kalian berdua."
Pria itu lantas kembali membuat angin untuk menyerang mereka berdua, namun jauh lebih besar dari yang sebelumnya.
Misca dan pak Jancoct yang melihat itupun kembali bersiap dalam mode bertarung.
"Misca kau maju saja, biar aku yang menembakinya dari sini," ucap pak Jancoct sambil membidik orang asing itu.
"Baik papa," ucap Misca sembari maju dan mencoba mendekati pria yang sedang berada diudara tersebut.
Pak Jancoct terus menembaki pria yang sedang berada di atas udara itu dengan senjata yang ia bawa, setiap kali pria itu menghindari peluru yang ditembakan padanya, peluru itu akan mengejar targetnya hingga bisa bersarang di tubuh targetnya.
Namun, meskipun peluru itu bisa mengejar targetnya kemanapun targetnya pergi, kekuatan Artifacts milik orang asing itu jauh melebihi perkiraan mereka, ketika peluru akan mencapai pria itu, angin hitam yang sangat tipis dan tajam berhasil memotong timah yang runcing itu dengan sangat mudah.
Misca yang berlari di bawah pria itu lantas bersiap untuk melompat dengan kekuatan Artifacts yang ia miliki.
"High Jump...." Misca melompat dan tepat berada di depan barrier angin yang baru saja dibuat oleh pria itu, "Iron Fist...." ucap Misca sembari mengepalkan tangan kanannya dengan sekuat tenaga dan mencoba memukul wajah pria itu.
Namun sayang, sebelum sempat Misca mendaratkan pukulannya, bagian pergelangan tangan Misca ternyata sudah robek terlebih dahulu oleh angin-angin yang sangat tajam bagaikan sebilah pedang, lantas Misca yang merasa sudah dalam bahaya menarik kembali pukulannya dan menjatuhkan diri ke bawah sembari memegang tangannya yang terluka.
"Cih...." ucap Misca kesal.
Mereka di belakang yang sedang bersembunyi di balik dinding pun terkejut melihat Misca yang terluka.
"Kau tidak apa-apa Mayor," ucap Casta panik.
"Oi... oi... kenapa perbedaan kekuatannya menjadi sangat jauh seperti ini," ucap Yuichi bingung sembari mengeluarkan ekspresi panik.
"Padahal sebelumnya Mayor berhasil memojokkan orang itu," balas Linda yang terlihat bingung.
"Mayor...." ucap Ayla pelan sembari melihat keadaan Mayor Misca dari jauh.
"Bahkan senjata yang dibawa pak Jancoct masih belum bisa membantu Mayor," ucap Zaki kesal.
Pak Jancoct terus mencoba menembak pria itu dari kejauhan menggunakan senjata yang dibawanya.
"Misca kau tidak apa-apa?" tanya pak Jancoct.
"Ya... hanya luka kecil saja papa," jawab Misca sembari menutupi luka dari tangannya.
"Hmph... ternyata hanya sebatas itu kemampuan orang-orang yang berada di zaman ini?" tanya pria itu sembari melihat ke arah Misca yang sedang terluka.
Dalam keadaan yang sedang berlangsung tegang, tiba-tiba saja Linda kebingungan.
"Hey... kemana perginya Zaki?" tanya Linda pada Yuichi.
"Heh?" balas Casta sembari melihat kanan kiri mencari Zaki.
"Hmm... dia menghilang lagi untuk mengamankan dirinya sendiri," jawab Yuichi dengan nada kesal.
Sementara itu, di dalam ruangan utama, terlihat Zaki sedang mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membantu Mayor Misca dan pak Jancoct yang sedang bertarung melawan orang asing di luar gedung.
"Apakah tidak ada sesuatu yang bisa digunakan di sini," tanya Zaki kesal sembari melihat ke arah sudut-sudut ruangan.
"Ah... kalau tidak salah di sana ada berbagai senjata yang bisa digunakan," ucap Zaki berlari sambil terburu-buru menuju ruangan yang dimaksud.
Sesampainya di depan pintu ruangan yang dimaksud, Zaki mencoba untuk membuka gagang pintu itu, namun ternyata pintu itu dikunci.
"Heh?... sepertinya aku salah ruangan," ucap Zaki dengan ekspresi yang terlihat bodoh.
Karena pintu itu tidak bisa dibuka, maka Zakipun membalik badannya dan bersiap untuk mencari pintu yang bisa dibuka.
"Mana bisa begitu...." ucapnya berbalik badan lagi dan menendang pintu itu hingga akhirnya terbuka dan dengan diiringi ekspresi yang terlihat sangat kesal.
"Ah... terbuka...." ucapnya lagi dengan nada kaget dan mengeluarkan ekspresi bodohnya kembali.
Seketika ia melihat berbagai macam jenis senjata, mulai dari tombak, busur, double stick, tongkat, papan, balok, cangkul, rantai gear, pedang hingga sampai ke senjata api.
Zaki mencari senjata apa yang cocok untuk dirinya membantu Mayor Misca dan pak Jancoct yang sedang bertarung.
"Heh?... kenapa ada banyak piring di sini?... hmm... bukankah ini ruangan senjata?... apa mungkin Kolonel menggunakan ini sebagai senjata juga?" ucap Zaki bingung.
Ketika dalam pencarian senjata diruangan itu, kembali mata Zaki terfokus pada satu senjata yang terpajang di dinding, ya, senjata itu adalah pedang yang dilihat oleh pak Jancoct tadi.
"Hmm... pak Jancoct tadi melihat ke arah pedang ini," ucapnya penasaran.
Namun, ia juga melihat sebuah pistol berada tepat di atas pedang itu terpajang, terlihat warna dan corak pistol itu terlihat sama persis dengan pedang yang berada di bawahnya, yaitu berwarna hitam dengan corak keemasan.
Dan dalam kebimbangan, Zaki memikirkan dengan serius senjata mana yang bisa ia gunakan untuk membantu mereka berdua.
"Apakah benda kecil ini bisa berguna?... karena aku sudah lupa cara menggunakan benda seperti ini," ucapnya dengan nada tidak yakin.
Tiba-tiba saja terdengar dentuman keras yang berasal dari luar gedung.
"Cih... sudah tidak ada waktu lagi, semoga saja benda ini bisa berguna," ucap Zaki mengeluh sembari mengambil dan membawa pistol tersebut untuk digunakan.
Saat Zaki berlari ke arah luar gedung, ia melihat beberapa tiang sudah hancur lebur menjadi abu, dan beruntung tiang yang digunakan Casta dan yang lainnya agak sedikit jauh dari tiang-tiang yang menjadi target untuk dihancurkan.
Casta yang melihat Zaki baru saja keluar dari pintu utama dan berlari ke arah tangga lantas memanggilnya.
"Oi Zaki, dari mana saja kau...." ucap Casta yang terlihat panik dan sedikit mengeluarkan air matanya.
"Apa yang terjadi?" ucap Zaki bingung.
"Mayor Misca...." ucap Linda dengan ekspresi yang sama seperti Casta.
Lantas mendengar hal itu Zaki mengalihkan pandangannya ke arah debu-debu yang menutupi pertarungan Mayor Misca dan orang asing itu.
Ketika debu itu perlahan-lahan mulai menghilang, terlihat tubuh Mayor Misca dengan penuh luka tergeletak di jalan, serta beberapa prajurit yang bersiaga untuk menembaki orang asing itupun ikut tergeletak dengan penuh darah dan ada beberapa yang armornya terlihat sudah hancur dikarenakan serangan angin yang sangat tajam.
"Misca...." ucap pak Jancoct sambil berlutut dengan luka dikakinya.
"Haha... Haha...." pria asing itu tertawa sembari melihat keadaan di sekitarnya dan dipenuhi dengan korban yang sudah berhasil ia jatuhkan.
Melihat hal itu lantas Casta mencoba keluar dari balik tiang dan berlari mendekati Mayor Misca untuk menyelamatkannya.
"Mayor...." ucap Casta sambil merebahkannya kepala Mayor Misca kepahanya.
"Hmph... maaf Casta... aku tidak bisa melindungi kalian," ucap Mayor Misca sambil tertawa kecil sembari menahan luka-luka yang ada di tubuhnya.
"Kau tidak usah memikirkan hal itu... dasar Mayor Bodoh," ucap Casta yang marah sambil meneteskan air matanya.
"Haha... aku akan menghukummu karena sudah memanggilku bodoh," Mayor Misca tertawa kecil.
Orang asing itu hanya bisa terdiam melihat Casta dan Misca yang tepat berada di bawahnya.
"Heeh... apakah kalian sudah selesai dengan dramanya?" ucap pria itu dengan nada yang pelan dan ekspresi yang terlihat bosan.
"Kau tidak usah banyak bicara," teriak Casta marah pada orang asing itu.
Karena teriakan itu, pria itu menjadi marah.
"Kalau begitu, aku akan segera melenyapkan kalian berdua terlebih dahulu," dengan nada serius dan tatapan mata yang tajam melihat ke arah Casta dan Misca.
Lantas pria itu kembali mengangkat tangannya ke atas dan mengumpulkan angin hitam dan mengubahnya menjadi sebuah tombak angin.
Melihat hal itu Ayla pun keluar dari balik tiang menuju Casta dan Mayor Misca, Linda dan Yuichi juga keluar dan berlari ke arah Zaki yang sedang berdiri di dekat pak Jancoct.
"Zaki... apakah tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka?" tanya Linda disertai ekspresi panik.
Zaki hanya terdiam dan memegang sebuah benda yang di letakkan di balik baju belakangnya.
"Cih... apakah benda ini bisa berguna, sedangkan senjata seperti pak Jancoct saja tidak mampu melawannya!" ucap Zaki dalam hati penuh dengan keraguan.
Dengan tatapan mata tajam dan serius Zaki melihat ke arah pria itu yang sedang bersiap melemparkan tombak angin yang sudah dibuatnya ke arah Casta dan Misca.
Saat Zaki sedang bergumam sendiri, tiba-tiba terdengar suara Ayla.
"Hentikan!... atau Kolonel Mervis akan mencarimu karena kau sudah menyerang tempat ini...." teriak Ayla pada orang asing itu sembari berdiri di depan Casta dan Mayor Misca sambil merentangkan tangannya.
"Hah?... Mervis?" tanya pria itu bingung.
"Ya... dia adalah Kolonel yang hebat sekaligus pemilik tempat ini," ucap Ayla dengan nada marah tetapi terdengar imut.
"Haah?... kau kira aku peduli dengan itu?" ucap pria itu lagi dengan nada yang kesal.
Karena sudah tidak tahu akan berbicara apa lagi, Ayla hanya terdiam dengan ekspresi marah dan menggembungkan pipinya serta terlihat sangat imut.
"Hmph... kalau kalian sudah selesai, maka akan ku akhiri ini dengan segera," ucap pria itu bersiap melemparkan tombak angin yang berada di tangannya.
Casta dan Ayla yang melihat gerakan itu hanya bisa menundukkan pandangan mereka sambil menutup mata, sedangkan Misca hanya bisa tersenyum kecil karena ia mengira itulah akhir dari perjalanan hidupnya.
Zaki, pak Jancoct, dan Yuichi yang melihat itupun hanya bisa mengepalkan tangan mereka dengan sangat kuat dan menggemeretakkan gigi mereka.
"Oi Zaki... tidak bisakah kita melakukan sesuatu?" ucap Yuichi dengan nada kesal sambil mengoyang-goyangkan tubuh Zaki.
"Zaki...." ucap Linda pelan sembari melihat Zaki yang hanya diam mematung sambil melihat ke arah orang asing itu.
Lalu terdengar Linda berlari ke bawah menuju ke arah Casta dan yang lainnya.
"Oi Linda, kau mau kemana... Arrrggghhh... aku seperti orang yang tidak berguna di sini," ucap Yuichi dengan nada yang bingung dan kesal serta memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Lalu terdengar pula suara dari orang asing itu...
"Kalau begitu matilah...." teriak orang asing itu mulai mengayunkan tangannya.
Zaki yang tadinya melihat ke arah pria itu lantas mengalihkan pandangannya kepada Linda yang tengah berlari ke arah Casta.
Dalam keadaan waktu yang sangat singkat, tiba-tiba Zaki melihat sesuatu yang berbeda di depannya.
Ya, dia melihat sebuah memory dari ingatannya dimana ada seorang wanita yang berpakaian tentara terluka lumayan parah di bagian dahi kirinya, dan Zaki melihat ada seseorang yang sama persis dengan dirinya serta terdapat empat orang lainnya di sana.
"Apa ini...." ucapnya pelan dalam hati disertai kebingungan yang hebat.
Zaki mengetahui bahwa orang-orang yang berada di depannya sedang berbicara tetapi tidak ada suara dan ia hanya menebak melalui gerakan bibir mereka.
"Aku...." ucapnya pelan sambil melihat ke arah wanita yang sedang terluka itu.
Wanita itu terlihat sedang tersenyum lembut meskipun ia sedang mengalami luka yang cukup serius.
Lalu ketika mereka sedang berbicara, dua orang diantara mereka bergerak menjauh, dan hanya tersisa tiga orang saja yang sedang terlihat mengobati wanita yang terluka itu.
"Kau tidak apa-apa?" Zaki mencoba mengikuti gerakan bibir dari orang yang terlihat mirip dengan dirinya.
Zaki juga melihat seseorang yang mirip dengan dirinya membawa senjata yang tidak biasa, dikarenakan gambaran yang ia lihat hanyalah sebatas ilusi hitam putih, tetapi baginya itu terasa sangat nyata.
Tidak lama kemudian dua orang yang pergi tadi kembali dengan beberapa tumbuhan yang mereka bawa.
Mereka langsung mengobati luka yang dialami oleh teman mereka dengan tumbuhan yang sudah didapatkan tadi.
Namun, terlihat mereka menjadi waspada, Zaki mengetahuinya karena gerakan mereka yang terus melihat ke arah satu titik, ya benar saja, tiba-tiba muncul segerombolan tentara yang membawa senjata api dan menodongkan senjatanya ke arah mereka.
Zaki melihat pria yang mirip dirinya itu hanya bisa menatap para tentara yang sedang membidik mereka dengan tatapan penuh kebencian.
Lalu tiba-tiba ingatan tersebut memudar dan perlahan-lahan menghilang.
"Kenapa...." ucap Zaki berbicara di dalam hatinya.
Ia berada di dalam kegelapan, dimana sebuah tempat yang penuh dengan kekosongan berada.
"Siapakah aku?... apa yang kulakukan di sini?"
"Apakah aku bisa memperbaikinya?"
Zaki terus mengucap pertanyaan-pertanyaan itu di dalam hatinya...
Ketika dia menatap lurus kedepan di dalam kegelapan, muncul lah setitik cahaya berwarna merah terang berbicara padanya.
"Temanmu akan segera mati... maka, lakukan apa yang bisa kau lakukan sekarang!" ucap cahaya merah itu.
Setelah mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Zaki kembali ke dunia nyata, dimana di hadapannya teman-temannya sedang menunggu kematian.
Zaki kembali melihat ke arah Linda yang berlari dan sedikit lagi sampai ketempat dimana Casta, Ayla dan Mayor Misca berada.
Kemudian Zaki mengalihkan pandangannya ke arah orang asing yang berada di udara dengan jarak yang cukup jauh darinya.
Saat sedang berfokus pada pria itu, kemudian Zaki menutup matanya, tiba-tiba Zaki mendengar sebuah kalimat dari pria itu.
"Spear of the Wi...."
Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Zaki dengan cepat membuka matanya yang ternyata pupil matanya yang awalnya berwarna hitam sekarang sudah berubah menjadi warna biru tua, dan di bagian pupil matanya terdapat gambar kepala serigala dengan warna silver.