
Duarrr....
Ledakan granat dan suara tembakan terdengar di keheningan malam.
Terlihat sebuah tank yang sudah terbakar dan menjadi berwarna hitam dengan sebuah lobang yang berada pada sisi kanan badan benda bersebut.
Cahaya bulan kalah terang dengan ledakan-ledakan dan cahaya yang keluar dari ujung Muzzle senapan para tentara yang sedang berperang.
Tidak jauh dari tempat itu, terlihat sebuah camp tentara yang mana banyak para prajurit yang sibuk berlarian ke sana kemari sembari membawa beberapa alat dan juga senjata mereka.
"Bagaimana situasinya?" tanya seorang yang baru saja keluar dari sebuah tenda tentara kepada seorang prajurit.
"Ah... Mayor Gero!" ucap salah seorang prajurit yang berlari ke arah Gero sembari memberi hormat.
"Apakah musuh tetap menyerang menggunakan senjata sialan itu?" tanya Gero pada prajurit itu.
"Ya, mereka tetap menembakkan gas tersebut ke arah pasukan kita!" jawab prajurit itu dengan nafas yang terengah-engah.
"Cih... kalau begitu perintahkan pasukan kita untuk tidak mendekati tempat itu sebelum gas tersebut menghilang!" perintah Gero pada prajurit itu.
"B-baik Mayor!" ucap prajurit itu memberi hormat sembari pergi meninggalkan Gero.
Gero kemudian pergi menuju tenda komunikasi.
Para prajurit yang berada di tenda itu menyambut Mayor Gero yang terlihat gagah dengan tubuh sedikit kekar menggunakan pakaian perwiranya yang berwarna coklat serta pangkat yang tergambar satu bunga matahari di pundaknya.
"Mayor!" panggil salah seorang prajurit yang sedang duduk dengan mic di depannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Gero bingung.
"Pusat telah mengirimkan bantuan!" jawab prajurit itu.
"Bantuan?" tanya Gero heran.
"Ya, bantuan yang anda minta kemarin, dan sedang dalam perjalanan kemari!" jawab prajurit itu lagi.
"Hmm... berapa banyak?" tanya Gero dengan ekspresi yang terlihat sedikit lega.
"I-itu... pusat bilang mereka hanya mengirim satu orang...." ucap prajurit itu terbata-bata.
"Ha?... satu orang... cih... apakah mereka bercanda!" bentak Gero sembari mengebrak meja yang berada di samping kanannya.
"Apakah mereka tidak tau apa yang sedang kita lawan?... ya... kita sedang melawan musuh yang menggunakan gas XV... dan mereka hanya mengirim satu orang?" ucap Gero lagi yang terlihat sedikit kesal.
Ketika sedang mengungkapkan kekesalannya, tiba-tiba radio yang berada di atas meja tempat Gero memukulkan tangannya berbunyi dan suara tersebut seperti sedang berada di dalam sebuah helikopter.
"Tsssstt... kita hamp... sampai... Kolon... tsssttt...." terdengar perkataan pilot dengan suara yang terputus-putus.
"Prajurit yang berada di kawasan Artgena diminta untuk mengosongkan area!" ucap suara itu lagi.
"I-itu... apa maksudnya?" tanya Gero bingung.
"Mungkin bantuan yang mereka kirim sudah dekat Mayor!" ucap salah satu prajurit.
"Hmph... pembersihan akan segera dimulai...." terdengar suara seorang wanita dari radio tersebut.
Seketika para prajurit yang sedang berada di kawasan area yang disebutkan mendengar hal itu melalui radio yang mereka bawa.
"Oi... apa kau mendengar itu barusan?" tanya seorang prajurit yang sedang berlindung di balik parit.
"Apa maksudnya itu?... siapa yang menyuruh kita untuk mundur?" jawab prajurit yang lainnya.
"Entahlah... kurasa itu dari Mayor Gero!" ucap salah satu prajurit yang berada di sana.
"Tapi... apa maksudnya dengan pembersihan?" tanya prajurit lainnya yang berada di parit dan sedang melihat ke arah musuh yang berada lumayan jauh di depannya.
"Perintah tetaplah perintah... segera mundur!" ucap salah seorang Komandan dengan tubuh yang sedikit kekar.
"Baik Pak!" ucap para prajurit tersebut.
Para prajurit yang berada di area tersebut segera mundur secara perlahan dan senyap sehingga musuh tidak menghetahui jika lawan mereka telah pergi dari tempat itu.
Sementara itu... para pasukan Kuvernt yang tengah berjaga disebuah benteng kecil yang mereka bangun tidak jauh dari Artgena terlihat sedang bersiap-siap mengirimkan pasukannya untuk membantu para prajurit yang berada di area pertempuran.
Di benteng itu berkibar tiga bendera, dengan background yang berwarna biru tua serta huruf X yang besar dan berwarna putih sehingga setiap ujung huruf tersebut menyentuh sudut pada bendera dan tidak lupa di dalam huruf tersebut juga terdapat empat garis hitam yang berada pada masing-masing bagian garis.
Terlihat pula di bagian tengah huruf X tersebut terdapat sebuah lingkaran dengan gambar seekor badak bercula satu yang menghadap ke arah depan serta memperlihatkan raut wajah yang sedang marah dan terletak di dalam lingkaran tersebut.
Di depan benteng tersebut berdiri 150 prajurit yang menggunakan K3 Gas Mask serta menenteng Assault Rifle dan memakai pakaian tentara berwarna biru muda sedang berbaris rapi menunggu perintah untuk meluncur ke area pertempuran.
"Apakah seluruh pasukan sudah siap?" tanya seorang Komandan prajurit yang baru saja keluar dari benteng tersebut.
"Ya pak!... apakah kita akan menyerang sekarang?" tanya prajurit yang sedang memimpin 150 pasukan tersebut.
"Ya... Kolonel Leno ingin segera merebut parit anti-tank mereka!... sehingga kendaraan tempur kita bisa maju dan menyerang kota terdekat mereka!" ucap Komandan tersebut.
"Baik Pak!" balas prajurit itu sembari memerintahkan pasukan tersebut untuk pergi ke area Artgena.
Pasukan tersebut bergerak ke area Artgena dengan menggunakan 21 unit mobil truck pengangkut pasukan militer, satu truck tersebut berisikan 22 prajurit dengan 2 prajurit yang berada di depan dan 20 prajurit berada di belakang.
Di tengah malam yang sangat gelap, truck-truck itu melewati hutan yang sedikit rindang, lampu-lampu mobil menyinari jalan dan terlihat pula batu yang dilapisi sedikit lumpur terlindas oleh ban truck yang cukup besar tersebut.
"Tssst... musuh tidak lag... mundur!" terdengar suara dari sebuah HT yang terpasang di bagian dada kiri prajurit yang berada di mobil barisan depan.
"Team Venom di sini... laporkan apa yang sedang terjadi!" balas prajurit itu.
"Musuh menghilang dari medan pertempuran... cuaca di sini sedikit berubah!" ucap prajurit yang berada di Artgena.
"Berubah?... apa maksudmu?" tanya Team Venom.
"Mundur... mundur!" jawab prajurit itu lagi dengan nada yang terengah-engah.
"Apa yang kalian lihat?... apa yang terjadi di sana?" tanya Team Venom.
"Bagaimana?" tanya prajurit yang sedang duduk di sebelahnya.
"Terputus!"
"Kita harus cepat!"
Mereka pun mempercepat laju kendaraan tersebut.
Sementara itu di atas langit area Artgena, muncul burung hantu berwarna hitam yang lumayan besar dan terbang mengitari area tengah di kawasan tersebut, burung tersebut terlihat seperti sedang memantau targetnya dari atas langit yang cukup tinggi.
Para tentara Kuvernt yang menyaksikan hal tersebut lantas panik karena mereka tau itu bukanlah makhluk sembarangan.
Karena burung tersebut terbang dengan ketinggian yang cukup tinggi, maka makhluk itu pun terlihat pula oleh tentara Xenozia yang sedang berada di camp tidak jauh dari area tersebut.
"Mayor Gero!" ucap prajurit masuk ke tenda komunikasi.
"Apa yang terjadi?" tanya Gero bingung.
"Di luar... di luar ada makhluk besar yang terbang di area Artgena!" jawab prajurit itu dengan nada yang sedikit panik.
"Makhluk?" tanya Gero tidak mengerti.
"Burung... burung hantu berwarna hitam besar sedang berputar di atas langit Artgena!" jawab prajurit itu lagi.
"Apa katamu...." Gero pun langsung keluar untuk melihat makhluk itu.
Setelah melihat makhluk itu dengan mata kepalanya sendiri, Gero terlihat bingung.
"I-itu... adalah makhluk panggilan dari sebuah Artifacts!" ucap Gero dengan nada yang sedikit kaget.
"Artifacts?" tanya prajurit yang berada di sampingnya.
"Tapi... siapa yang menggunakannya?... apakah pihak musuh?" gumam Gero.
Namun, disaat Gero sedang berfikir tentang siapa yang menggunakan benda tersebut, lalu tiba-tiba sebuah helikopter yang terbang rendah lewat di atas mereka dengan cepat dan menuju ke area Artgena.
Terdengar suara radio HT yang terpasang di pinggang salah satu prajurit yang berdiri di sebelah Gero.
"Tssstt... Yeah!... kita sudah sampai Kolonel...." ucap suara dari radio tersebut.
"Mendekat ke Recon...." ucap Kolonel itu.
"Baik Kolonel... Tssstt...."
Gero yang melihat helikopter yang menuju ke arah Artgena lantas tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari radio tersebut.
"K-Kolonel?" ucapnya dengan nada gugup.
"Ah... jangan-jangan bantuan yang dikirim oleh pusat adalah mereka... Mayor!" ucap prajurit yang berada di sebelah Gero.
"...." Gero hanya bisa terdiam sembari melihat ke arah helikopter itu.
Helikopter dengan jenis UH-60 Black Hawk terbang dengan lumayan cepat ke arah burung hantu yang sedang berputar-putar di atas para prajurit Kuvernt.
Para prajurit Kuvernt melihat ada sebuah helikopter yang mendekat ke arah mereka lantas bersiap untuk menembak jatuh pesawat itu menggunakan Air Missile dengan jenis MIM-23 Hawk.
"Tunggu... bagaimana dengan mahkluk itu?" tanya seorang prajurit.
"Kita tidak tahu makluk itu siapa yang memanggilnya... yang penting kita jatuhkan dulu heli itu!" ucap prajurit yang mencoba mengaktifkan sistem Misilnya.
"O-oi... lihat!" ucap salah seorang prajurit menunjuk ke arah helikopter tersebut.
Terlihat seseorang sedang berdiri di pintu helikopter yang sedang terbuka, sembari menggunakan jubah hitam dengan garis-garis berwarna kuning emas di bagian lengan dan di bagian bawah serta memakai topeng kucing berwarna putih dengan motif tiga garis merah di bagian pipi, bintang di bagian dahi serta satu garis di bagian dagu.
Orang tersebut melihat dan memperhatikan para prajurit Kuvernt yang sedang berada di bawahnya.
"Masih belum terlihat... kah...."
"Kolonel?" ucap pilot kepada orang itu.
"Ya... aku akan segera memulainya!" ucap Kolonel itu.
Kolonel yang menggunakan jubah hitam tersebut lantas mengeluarkan tangannya sembari mengenggam sesuatu.
Ya, ia memegang sebuah pistol dengan jenis Revolving Flintlock dengan 3 Barrel yang berwarna perunggu serta terlihat di atas Barrelnya sebuah patung burung hantu kecil.
Senjata tersebut diarahkan ke burung hantu yang sedang terbang berputar, Kolonel tersebut menembakkan tiga bola kecil dari masing-masing Muzzle pada senjata tersebut.
"Apa itu?" tanya para prajurit Kuvernt.
"Aku tidak tahu, cepat ledakkan helikopter itu dan bunuh pengguna Artifacts itu!" ucap salah seorang prajurit.
"Sistemnya sudah diaktifkan, persiapan untuk menembak!" ucap prajurit yang dari tadi sibuk mengotak-atik sistem komputer di depannya.
Prajurit itu membidik ke arah helikopter dan menekan tombol peluncuran misilnya, dengan seketika misil tersebut meluncur dengan kecepatan yang tinggi.
Kolonel yang melihat ada misil mendekat ke arahnya lantas langsung mengangkat tangan kanannya ke depan dan mengarahkannya ke arah misil tersebut.
Dengan kecepatan yang melebihi misil tersebut meluncur, burung hantu yang tadinya hanya berputar-putar saja dengan sigap langsung mengarah ke arah misil tersebut dan menangkapnya menggunakan dua kakinya.
Misil yang tadinya sedikit lagi menghancurkan helikopter itu sekarang berada di dalam cengkraman kuat burung hantu tersebut.
"Recon... lakukan!" ucap Kolonel tersebut memerintah burung hantu itu untuk melakukan sesuatu.
Burung hantu itu dengan gesit nya terbang bermanuver dan mendekat ke arah Missile Launcher tersebut.
Dengan sangat cepat burung itu memutar badannya dan mengarahkan misil yang berada di kakinya tersebut ke arah para prajurit Kuvernt serta melemparkan kembali misil itu ke mereka.
Duarr....
Ledakan besar terjadi dan membunuh beberapa tentara Kuvernt serta menghancurkan Missile Launcer tersebut hingga tak tersisa.
Para prajurit bantuan Kuvernt yang sedang dalam perjalanan dan tidak jauh dari area Artgena melihat ledakan tersebut.
"A-apa itu!"
"Apakah pasukan Xenozia melakukan serangan balik terhadap pasukan kita?" ucap prajurit yang memimpin 150 pasukan tersebut.
"Pak... kita harus cepat!"
"Ya... persiapkan diri kalian!" ucap pemimpin itu.
Burung hantu tersebut kembali lagi ke atas bola-bola itu dan berputar-putar seperti sebelumnya.
"Baiklah... sepertinya hanya tersisa kalian saja... kah...." ucap Kolonel itu melihat ke bawah dan mengamati para prajurit Kuvernt yang masih hidup.
Para prajurit yang masih hidup berlarian untuk menyelamatkan diri setelah percobaan mereka untuk menembaki helikopter tersebut dengan Rifle yang mereka pegang gagal.
"Hmph... aku tidak akan membiarkan kalian melarikan diri...." ucap Kolonel itu sembari mengangkat jari telunjuknya dan memutar-mutarkannya ke arah bola-bola itu secara perlahan.
Masing-masing bola tersebut mengeluarkan cahaya yang sedikit tipis namun sangat panas.
"The Dance of Darkness...." ucap Kolonel itu pelan.
Dengan sangat cepat tiga laser keluar dari bola-bola tersebut dan langsung menghantam daratan, tidak hanya sampai disitu, laser-laser tersebut lantas bergerak layaknya sebuah lampu dansa dan langsung membantai habis tentara Kuvernt yang berada di area Artgena.
Ketika proses pembantaian sedang berlangsung, para pasukan bantuan Kuvernt tiba dan melihat kejadian itu, dengan sigap mereka semua turun dari truck-truk itu dan berlarian menyelamatkan diri.
"Apa-apaan itu... kenapa ada pengguna Artifacts di sini!" ucap salah satu prajurit yang bersembunyi di balik pohon.
"Segera beritahu Kolonel Leno...." ucap prajurit yang lainnya.
Melihat ada pasukan bantuan yang datang, Kolonel itupun langsung mengerakkan bola-bola itu ke arah mereka agar masuk ke dalam jangkauan serangan.
Dan bola-bola itu bergerak dengan secara perlahan diikuti oleh burung hantu yang berada di atasnya.
"Laser Barricade...." ucap Kolonel itu sembari mengangkat tangannya ke arah pasukan bantuan tersebut.
Sebuah barikade laser muncul dari arah utara dimana tempat mereka datang dan barikade tersebut membentuk sebuah kotak dengan area yang cukup besar sehingga musuh tidak akan bisa melarikan diri.
Prajurit yang terjebak dengan seketika tumbang dikarenakan laser yang bergerak secara acak tersebut mengenai tubuh mereka dan melelehkan bagian tubuh yang terkena sinar tipis itu.
Tidak hanya manusia, benda-benda yang terkena sinar itupun juga ikut meleleh dan hancur.
"Kita pergi ke camp," ucap Kolonel memerintahkan pilot yang membawa helikopter tersebut.
"Baik Kolonel!" balas pilot itu.
Setelah membantai para pasukan Kuvernt yang ditotal menjadi 200 pasukan tersebut, Kolonel pergi ke camp tempat para tentara Xenozia berada.
Saat helikopter tiba dan berada di atas camp, Gero yang melihat helikopter itupun langsung memerintahkan tentara lainnya untuk berkumpul.
Kolonel itu meloncat dari atas helikopter yang terbang dengan ketinggian sekitar 80 kaki kemudian mendarat di atas badan burung hantu dan membawanya turun ke daratan.
"Apakah anda seorang Kolonel?" tanya Gero pada orang yang menggunakan jubah hitam dan topeng kucing tersebut.
"Ya!" balas Kolonel tersebut dingin.
Mendengar jawaban tersebut Gero lantas memberikan hormat padanya dan mengajukan beberapa pertanyaan.
"Maaf Kolonel... jika saya boleh tau... siapa nama anda?" tanya Gero penasaran.
"Sekar... Sekar Langit!" ucap Kolonel Sekar.
"S-Sekar?" ucap para prajurit yang mendengarnya kaget.
"K-kalau tidak salah anda berada langsung di bawah perintah Jendral Celiona?" ucap Gero gugup.
"Ya...." balas Sekar dengan nada dingin.
"A-ah... t-terima kasih telah datang membantu Kolonel!" ucap Gero sembari semberi hormat dengan ekspresi yang terlihat gugup.
"Aku melakukannya karena diperintah oleh Jendral... berterima kasihlah pada beliau!" ucap Sekar sembari menghembuskan nafas pelan karena melihat mereka terlalu gugup.
"T-tapi kenapa anda?... bukankah anda orang yang selalu berada di sisi Jendral Celiona?" tanya Gero bingung.
"K-Kolonel Sekar... s-saya baru melihat anda langsung hari ini... dikarenakan identitas anda dirahasiakan... j-jadi bolehkan saya meminta tanda tangan anda?" tanya seorang prajurit dengan nada yang terbata-bata.
"Tidak... aku tidak akan memberikannya... karena masih ada hal yang penting untuk dilaku...."
Belum sempat Sekar menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba helikopter yang berada di atas mereka terkena serangan dan menghancurkan baling-balingnya.
Helikopter tersebut dengan cepat jatuh dan menghantam daratan sehingga membunuh pilot yang berada di dalamnya.
"A-apa yang terjadi?" ucap para prajurit Xenozia bingung.
"Serangan balasankah?" tanya Gero ketakutan.
Dikarenakan di dalam medan pertempuran jika musuh membuka pertempuran dengan kekuatan Artifacts, maka pengguna Artifacts yang lainnya akan datang dan membalas penyerangan tersebut dengan Artifacts juga, karena sangat tidak mungkin para prajurit dan senjata modern menghadapi sebuah kekuatan yang di luar nalar mereka.
Dengan sigap Sekar memangil Recon dan mengantarnya kembali ke area Artgena untuk mengecek siapa yang menyerang.
Saat berada di udara, Sekar di serang bertubi-tubi oleh petir hitam yang sangat kuat.
"Recon... menghindar!" ucap Sekar pada burung itu.
Ketika berada di Artgena, Sekar melihat seseorang berdiri tepat di bawah bola-bola yang ia buat sebelumnya.
"Cuma sendirikah?" gumam Sekar sembari memperhatikan sekelilingnya.
Terlihat pria itu menggunakan baju tentara berwarna biru tua, dengan mendali berbentuk perisai berada di dada kirinya, serta di pundaknya terlihat sebuah pangkat dengan lambang 3 lambang matahari, di bagian belakang bajunya terdapat gambar sebuah lingkaran dengan sebilah pedang di dalam lingkaran tersebut.
Sekar mendekat ke arah orang itu dan turun dari Recon, dengan tampilan yang terlihat seperti bukan seorang tentara lantas orang itu bertanya pada Sekar.
"Siapa kau?" ucap orang itu terlihat marah.
"Tak penting siapa aku... apa kau ingin membalas kematian para prajuritmu?" tanya Sekar dengan nada dingin dan melipat kedua tangannya di dada.
"Hmm... kurasa aku tidak punya banyak waktu untuk bermain denganmu... atau aku akan kena marah oleh beliau!" ucap Sekar lagi sembari mengecek jam tangan yang ada di tangan kanannya.
"Cih...." ucap orang itu sembari mengangkat sebuah tongkat yang sedikit panjang dengan bentuk petir berwarna hitam di bagian atas tongkat tersebut.
Dari atas langit petir hitam menyambar ke arah Sekar berdiri, dan dengan cepat Sekar menghindari serangan tersebut dengan melompat ke belakang.
"Ho-ho... pengguna petir kah!" ucap Sekar dengan nada santai dan meletakkan tangan kanannya di pinggangnya.
"Huffftt... aku bahkan tidak tahu kenapa benda-benda seperti ini bisa ada di dunia kita!" ucap Sekar dengan nada yang sedikit mengeluh.
Sekitar 500 meter dari area Artgena terlihat dua orang yang menggunakan topeng berbentuk ayam dan kuda serta menggunakan jubah hoodie berwarna hitam, di belakang baju mereka terdapat gambar hewan sesuai topeng yang mereka gunakan, mereka berdua terlihat sedang mengawasi pertarungan yang terjadi di area itu menggunakan sebuah teropong.
"Bagaimana?" ucap seorang pria yang menggunakan topeng kuda dan memegang sebuah sniper.
"Sepertinya mereka masih berbincang-bincang!" balas seorang wanita dengan topeng ayam dan menggunakan teropong.
"Lalu bagaimana dengan pertemuannya?" tanya pria itu.
"Kurasa tersisa empat hari lagi untuk kita kembali ke Trafors!" balas wanita itu.
"Hmm...." ucap pria itu dingin.
"Ah... sepertinya mereka akan memulai pertarungannya!" ucap wanita itu sembari tetap memperhatikan mereka berdua.
"Hmm... kira-kira siapa yang akan menang?" tanya pria itu terlihat bosan.
"Entahlah... siapapun yang menang tugas kita adalah membunuh mereka berdua," balas wanita itu.
Sekar yang mulai terlihat bosan lantas ingin cepat mengakhiri pertempuran itu.
"Jangan kira dengan menghindari serangan tadi kau sudah merasa hebat!" ucap pria itu dengan ekspresi yang terlihat sangat marah.
"Hmm... aku bahkan tidak pernah merasakan hal itu!" balas Sekar dengan santai.
"Aku adalah seorang Kolonel dari negara Kuvernt... Leno Haun...." ucap Leno memperkenalkan dirinya.
"Aku... Sekar... Sekar Langit!" ucap Sekar memperkenalkan dirinya dengan nada dingin.
"Kalau begitu tidak usah berlama-lama... aku akan membalaskan kematian para prajurit ku," balas Leno.
"Hmm... baiklah!" ucap Sekar dengan nada yang terdengar bosan.
"Legendary Artifacts : Death Thunder," ucap Leno dengan nada yang sangat kesal.
"Legendary Artifacts : Gun of Darkness," balas Sekar dengan lembut.
Pertempuran tersebut terjadi pada tengah malam pukul 03.00.