Old Division

Old Division
Chapter 3 - 3 : The Army



Di sebuah hutan yang terletak tidak jauh dari kota Bergorm, terdapat dua orang yang sedang berjalan menyusuri hutan, terlihat seorang laki-laki dan seorang wanita, dengan menggunakan pakaian yang terlihat sedikit asing dan berbeda dari para tentara biasanya dan terlihat pula mereka berdua menggunakan sebuah topeng dengan bentuk hewan, yang pria dengan bentuk monyet dan yang wanita dengan bentuk kelinci.


Dengan sebuah pedang yang berukuran tidak terlalu besar terletak di bagian punggung salah satu orang tersebut, mereka berjalan tepat ke arah bekas laboratorium tempat ditemukannya Zaki, Linda dan Yuichi.


"Apa yang akan kita lakukan pada para penjaga itu?" ucap wanita asing itu.


"Tugas kita hanya melihat tempat mereka ditemukan, jadi kita tidak diperintahkan untuk bertarung ataupun menunjukkan diri," ucap salah satunya lagi.


"Baiklah jika seperti itu!"


Mereka berdua terlihat sangat waspada dengan mengintai dari balik batang pohon yang besar dan terletak sedikit jauh, karena penjagaan yang sangat ketat di depan laboratorium itu, serta di bagian samping kiri kanan laboratorium itupun dijaga oleh beberapa tentara yang menggunakan senjata lengkap dan juga terdapat beberapa mobil tempur yang berisikan persenjataan yang cukup untuk membunuh siapapun yang mencoba masuk ke dalam laboratorium itu tanpa izin.


"Kenapa penjagaan di sekitar laboratorium ini terlihat sangat ketat?" ucap wanita asing itu dengan nada yang terlihat kesal.


"Aku tidak tahu, mangkanya kita disuruh untuk mencari informasi tentang tempat ini!"


"Cih... aku ingin sekali menghabisi mereka semua dan memeriksa kedalam laboratorium itu," ucap wanita itu lagi.


"Hufftt... kuharap kau mengendalikan rasa haus darahmu itu!" ucap pria itu yang terlihat menghela nafas dan memegang kepala wanita yang terlihat sedikit pendek itu dengan tangan kanannya.


Sesaat sedang memperhatikan sekitar laboratorium itu, tiba-tiba handphone yang dibawa pria itupun berbunyi.


"Hmm... ada apa?" tanya wanita itu penasaran.


"Ah... kak Mamani mengirimkan pesan!" ucap pria itu sembari memeriksa isi pesan itu.


"Apa katanya?"


"Kita disuruh kembali!"


"Hah?... kenapa seperti itu, kita di sini baru dua hari!" ucap wanita itu terlihat sedikit kesal.


"Entahlah... mau tidak mau kita harus kembali ke Trafors!"


"Tidak... aku belum mau kembali!" ucap wanita itu dengan nada kesal.


"Baiklah, aku akan kembali sendiri... kuharap dia tidak mendengar keluhanmu ini dan membunuhmu di sini!" ucap pria itu dengan nada dingin dan beranjak meninggalkan wanita itu.


"Eh?... a-ah t-tunggu dasar bodoh...." ucap wanita itu mengejar pria itu.


Sementara itu, terlihat Mervis, Zaki dan yang lainnya tengah bersiap untuk berangkat menuju Yordafala.


"Apakah kita akan menunggu truck-truck itu?" tanya Casta.


"Tidak, mereka akan menyusul... karena hari sudah semakin siang!" jawab Mervis santai.


"Baiklah Kolonel!" ucap Casta.


"Ayo naiklah kalian semua... kita akan segera berangkat!" ucap Mervis tegas.


Merekapun menaiki mobil itu, dengan posisi Mervis dan Ayla berada di kursi depan, Linda dan Casta di tengah, serta Zaki dan Yuichi berada di kursi belakang.


"Nah Zaki... kenapa kita selalu didiskriminasi seperti ini?" ucap Yuichi kesal.


"Sudahlah, yang penting kita masih diberikan tempat untuk duduk," ucap Zaki yang terlihat pasrah.


"Nah... Linda, maukah kau bertukar tempat duduk denganku?" bisik Yuichi pelan ke telinga Linda.


"Hmm... boleh!" ucap Linda polos.


Casta yang mendengar bisikan itupun lantas menatap tajam ke arah mereka berdua, dan melihat Linda yang ingin turun menggantikan Yuichi di belakang namun dicegah oleh Casta.


"Hmm... Linda!" panggil Casta.


"Ya?" ucap Linda polos.


"Kurasa mereka sudah nyaman berada di belakang... HMM... YA KAN!?" ucap Casta dengan nada yang sedikit berat dan menatap tajam ke arah mereka berdua di belakang.


"A-ah k-kau benar Casta... a-aku sudah sangat nyaman berada di belakang sini, nah Linda kurasa tidak jadi, t-tak akan kuberikan kursi yang nyaman ini padamu...." ucap Yuichi dengan nada yang gugup.


"Hmm?" ucap Linda bingung.


"Dan terjadi lagi...." batin Zaki sembari menunjukkan ekspresi pasrah.


"Baiklah kalau begitu!" ucap Linda dengan sedikit tersenyum.


Mervis dan Ayla yang berada di depan hanya bisa terdiam mendengar kerusuhan mereka dibelakang.


"Kencangkan sabuk kalian, kita akan berangkat!" ucap Mervis tegas.


"Baik Kolonel!" ucap Casta dan Ayla.


Mobil pun berjalan dengan perlahan menuju gerbang utama dan terlihat ada beberapa penjaga di depan gerbang yang tengah memberi hormat pada Mervis.


Dan akhirnya mobil pun meninggalkan gedung yang lumayan besar itu, serta mulai melewati jalan raya yang cukup besar dan dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan militer maupun kendaraan pribadi warga di sana.


Linda, Zaki dan Yuichi yang melihat pemandangan itu pun hanya bisa terlihat kagum tanpa henti, Casta dan Ayla yang melihat tingkah mereka hanya bisa tersenyum.


Casta memberitahu beberapa cerita serta sejarah bangunan-bangunan yang mereka lewati, dan mereka pun terlihat sangat antusias mendengar penjelasan itu.


"Nah... benarkah itu Casta?" ucap Linda dengan nada penasaran.


"Hmm... makanan di sana sangat enak, nanti aku akan mengajakmu ke sana!" balas Casta tertawa kecil.


"Ah... aku sudah tidak sabar!" ucap Linda lagi dengan nada yang penuh semangat.


"Casta... bagaimana keadaan Misca tadi?" potong Mervis bertanya pada Casta.


"Ah... Mayor baik-baik saja, kata dokter Kurdan mungkin besok ia sudah bisa kembali ke kantor," balas Casta santai.


"Kalau begitu aku tidak usah mengirimkan dia ke sana" balas Mervis tersenyum.


"Dia?" tanya Casta heran.


"Apakah kau sudah lupa?" balas Mervis tersenyum kecil.


"Ah... mungkinkah?" jawab Casta dan Ayla bersamaan.


Linda, Zaki dan Yuichi yang melihat ekspresi mereka hanya bisa memperhatikan tanpa mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh mereka.


"Apakah ini masih lama?" tanya Zaki dengan ekspresi bosan.


"Hmm... tidak lama lagi kita akan sampai," balas Ayla tersenyum kecil.


"Ya, setelah melewati tol besar ini paling sekitar dua jam lagi kita akan sampai," ucap Casta memperjelasnya.


"Ketika kita sampai nanti, Casta... kau bawa mereka keruangan pertemuan, aku akan langsung menemui Jendral Rayfox," perintah Mervis.


"Baik Kolonel!"


"Lalu aku bagaimana?" ucap Ayla bingung.


"Ah... jika kau ingin mengikuti seleksi itu, temui Louis dan bicaralah padanya," jawab Mervis santai.


"B-baik Kolonel!" ucap Ayla tegas.


Mobil terus berjalan di jalan layang yang cukup besar tanpa henti dengan kecepatan 70km/jam, Ayla melihat ke arah belakang dan melihat mereka sudah tertidur dengan pulas kecuali Zaki yang masih memperhatikan jalanan yang cukup besar dan gedung-gedung yang menjulang tinggi di penglihatannya.


 "Zaki, kenapa kau tidak tidur juga?" tanya Ayla polos.


"Hmm... bagaimana aku bisa tidur dengan dengkuran keras sibodoh ini di sebelahku," ucap Zaki dingin sembari tetap melihat ke arah luar.


"Kau seperti sedang memikirkan sesuatu, ada apa?" tanya Mervis yang memantau Zaki dari spion tengah mobil.


"Beberapa hari ini, aku seperti melihat kembali masa lalu melalui ingatan asing yang sering muncul di kepalaku," jawab Zaki sembari tetap melihat ke arah luar mobil.


"Apakah itu ingatan lamamu?" tanya Mervis santai.


"Entahlah... kuharap aku segera mengingat semuanya," jawab Zaki lagi tetap dengan nada yang dingin.


"Kuharap kau segera mendapatkan ingatanmu dan mereka juga, Zaki...." ucap Ayla dengan penuh harap.


"Hahaha... terima kasih Ayla!" balas Zaki tersenyum kecil dan mengarahkan pandanganya ke Ayla.


"Lalu?... apa yang kau lihat diingatanmu?" tanya Mervis lagi penasaran.


"Mereka berdua!"


"Mereka?" tanya Mervis bingung.


"Linda dan Yuichi!" jawab Zaki dengan tatapan serius.


"Wajar saja, karena kalian bertiga berada di dalam satu laboratorium itu, sudah pasti mereka berdua ada hubungannya denganmu!" jawab Mervis santai.


"Tapi...." ucap Zaki menghentikan perkataannya.


"Tapi?" jawab Mervis penasaran.


"Di dalam ingatanku, aku melihat ada dua orang lagi selain kami!" ucap Zaki seperti memikirkan sesuatu.


"Apakah kau kenal dengan mereka?" tanya Mervis penasaran.


"Tidak, tetapi aku tidak tau kenapa mereka ada di dalam ingatanku!" ucap Zaki bingung.


"Kalau tidak salah...." ucap Mervis mencoba membahas sesuatu dengan nada yang serius sembari menyetir mobil itu.


"...." Zaki dan Ayla hanya menatap bingung memperhatikan Mervis yang menghentikan perkataannya.


"Ada apa Kolonel?" tanya Ayla penasaran.


"Di dalam laboratorium itu terdapat lima kapsul," ucap Mervis lagi.


"Lima?" tanya Ayla terkejut.


"Ya, tetapi dua kapsul itu sudah kosong, aku tidak tau isi dari dua kapsul yang kosong itu, karena ku pikir itu memanglah kapsul yang kosong dari awal," ucap Mervis menjelaskan.


"Ah... mungkin saja dua orang yang di ingatan Zaki adalah mereka," ucap Ayla mencoba menebaknya.


"Tetapi jika memang mereka dibekukan bersama dengan Zaki, Linda, dan juga Yuichi... kemana mereka pergi?... dan kenapa mereka bisa keluar dari kapsul itu?" ucap Ayla lagi penasaran dan mengarahkan jari telunjuk ke dagunya sembari pandangannya melihat keatas atap mobil seperti sedang memikirkan sesuatu.


Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari mereka bertiga, hingga dalam perjalanan itupun selalu dipenuhi oleh tanda tanya dari kehadiran Zaki dan teman-temannya ke dunia yang saat ini mereka tempati.


"Nah... Kolonel!" panggil Zaki.


"Ada apa?"


"Kurasa Linda tidak usah diikutkan seleksi Division itu," ucap Zaki terlihat menatap Linda yang tengah tertidur di depannya.


"Kenapa?" tanya Ayla heran.


"Entahlah, aku hanya tidak ingin dia kenapa-kenapa, sampai aku mengetahui siapa kami sebenarnya," jawab Zaki serius.


"Jika masalah itu kau tidak usah khawatir, aku yang akan melindunginya," ucap Mervis dengan nada yang meyakinkan Zaki.


"Tapi...."


"Jika kau ingin menjadi kuat, kau hanya perlu fokus dengan latihan yang akan diberikan padamu nanti, bersama teman bodohmu itu," ucap Mervis terlihat sedikit santai.


"Ya, aku juga akan menjaga Linda, kau tidak usah khawatir Zaki, dan juga kurasa Casta akan melindunginya apapun yang terjadi," ucap Ayla mencoba meyakinkan Zaki.


"Aku tidak akan membiarkan kalian terluka kembali, apapun itu, aku akan berjanji akan melindungi kalian," batin Zaki menatap Linda dan juga Yuichi.


"Ah... kita sudah hampir sampai," ucap Ayla sembari mencoba membangunkan Casta dan Linda.


"Hmm... apakah aku ketiduran?" ucap Casta sembari mengosok matanya dan melihat keluar jendela.


"Apakah kita sudah sampai?" ucap Linda juga mengosok matanya dan melihat ke arah jalan yang berada di depan.


"Sebentar lagi, kita sudah di Yordafala, dan sedang menuju kantor pusat," ucap Ayla tersenyum.


"Heh?... benarkah?" balas Linda dengan nada yang semangat.


Zaki melihat Yuichi yang masih tidur dan mendengkur di sebelahnya lantas mencoba membangunkannya.


"Oi bodoh... kita sudah sampai," ucap Zaki sembari menepuk-nepuk pundak Yuichi.


"AAAAA... berhentilah menciumku dasar ikan sialan...." teriak Yuichi dengan sedikit keras di dalam mobil tersebut.


Semua orang yang berada di dalam mobil tersebut lantas kaget mendengar teriakan itu dan membuat bingung maksud dari perkataan Yuichi.


"Eh?... kau kenapa Yuichi?" tanya Ayla bingung.


"Paling dia mimpi yang aneh-aneh lagi," ucap Zaki dengan nada dinginnya.


"Hahaha... ternyata memang ikan jauh lebih cocok denganmu dari pada wanita, ya rambut kuda," ejek Casta sembari tertawa terbahak-bahak.


"Hah?... apa katamu?" ucap Yuichi dengan nada kesal.


"Hah?... kau berani menantangku?" ucap Casta kembali dengan tatapan seolah ingin membunuh seseorang.


"Kau pikir aku takut?... jangan samakan aku dengan orang bodoh di sebelahku ini," ucap Yuichi dengan nada yang sedikit keras.


"Apa kau bilang?... siapa yang kau panggil bodoh dasar rambut kuda sialan," balas Zaki dengan ekspresi yang sudah sangat kesal.


"Ah... kita sudah sampai...." potong Ayla memberitahu mereka yang sedang berkelahi di belakang.


Sontak mereka bertiga yang sedang jambak-jambakan di belakang melihat ke arah depan.


"Wah... besarnya...." ucap Linda dengan mata yang bersinar terang.


"I-ini... g-gerbang istana raja iblis," ucap Yuichi dengan ekspresi yang kaget.


"Istana raja iblis matamu... ini adalah gerbang pertama sebelum kita memasuki kantor pusat," beritahu Casta dengan nada dingin.


Merekapun mulai memasuki sebuah gerbang yang sangat besar dan berwarna putih, dengan gambar bendera Xenozia yang terukir di bagian gerbangnya menambah keindahan gerbang besar itu serta terdapat juga bendera-bendera Xenozia yang berkibar di samping kiri dan kanan gerbang itu.


Kantor yang terletak di tengah-tengah pusat kota itu, dijaga oleh puluhan personel tentara yang berpakaian lengkap beserta senjata api dan juga terlihat mobil-mobil militer yang berbaris rapi.


Mervis membuka kaca mobilnya dan memberikan sebuah kartu kepada penjaga pos yang terletak di tengah-tengah gerbang besar itu.


"Selamat datang kembali Kolonel!" ucap penjaga gerbang itu dengan ramah sembari memberi hormatnya.


"Hmm...." angguk Mervis santai.


Setelah mengecek kartu itu, merekapun dipersilahkan masuk kedalam menuju gedung yang sangat besar itu.


Mobil pun kembali berjalan pelan lurus menuju gerbang kedua dan seterusnya.


"Ini kita harus melewati berapa gerbang?" tanya Yuichi yang sudah mulai mual karena terlalu lama berada di dalam mobil.


"50 gerbang," ucap Casta dengan nada mengejek Yuichi yang terlihat mual itu.


"Kurasa aku akan mati sebelum kita sampai," ucap Yuichi sembari memegang mulutnya seperti menahan sesuatu keluar.


"Kubunuh kau jika kau muntah dihadapanku," ucap Casta dengan tatapan yang sangat menyeramkan.


"Tahan sebentar lagi Yuichi, kita akan melewati gerbang terakhir," ucap Ayla mencoba menenangkan Yuichi.


"Apakah benar ada 50 gerbang Ayla?" tanya Zaki penasaran.


"Hahaha... tidak, hanya lima gerbang, kita baru saja melewati gerbang keempat," beritahu Ayla.


"Kenapa bisa sebanyak itu?" tanya Zaki lagi.


"Karena ini adalah kantor sekaligus benteng terakhir jika musuh berhasil menguasai kota-kota yang lain, jadi tempat ini dibuat dengan sangat ketat," jelas Mervis memberitahu mereka.


"Hmm... begitulah," ucap Ayla sambil tersenyum.


"Woaahh... hebat... terlalu banyak tentara di sini, dan juga banyak air mancur dan juga tempat-tempat yang sangat bagus," ucap Linda yang menempelkan wajahnya ke kaca mobil dan melihat ke arah luar dengan mata yang bersinar.


"Ah... itu gerbang terakhir," beritahu Ayla.


"Syukurlah kita sudah sampai, Uegggkkkk...." ucap Yuichi sembari menahan mualnya dengan menutup mulutnya dengan tangannya.


"Oi... oi, tahanlah sebentar lagi rambut kuda, aku tidak ingin pakaianku kotor terkena muntahanmu itu," ucap Zaki mencoba mengangkat kedua kakinya ke atas kursi.


Mobil pun berhenti tepat di depan tangga menuju pintu masuk utama, para tentara yang berjaga di depan tangga dengan pakaian dan senjata lengkap itupun langsung menuju mobil mereka dan membukakan pintu mobil itu sembari memberi hormat pada Kolonel Mervis.


"Ah... akhirnya kita sampai...." ucap Casta sembari meregangkan tubuh dan jari-jarinya.


"Selamat datang kembali Kolonel!" ucap prajurit pria yang membukakan pintu mobil Mervis sembari memberi hormat pada Mervis.


"Hmm...." angguk Mervis santai.


"Selamat datang kembali Casta... Ayla...." ucap prajurit wanita yang membukakan pintu Ayla dan Casta.


"Hmm... kami kembali," ucap Ayla tersenyum lembut pada prajurit wanita itu.


"Dan mereka?" tanya prajurit wanita itu bingung.


"Ah... mereka adalah orang yang ditemukan di laboratorium itu," beritahu Ayla.


"Hoo... mereka kah?... selamat datang di kantor pusat," ucap prajurit wanita itu sambil tersenyum ramah.


Saat mereka keluar dari mobil, terlihat ada seseorang yang sudah menunggu Mervis di pintu utama.


Yuichi yang mual terus mencoba menahan rasa mualnya.


"O-oi dimana toilet?... a-aku sudah tidak kuat lagi," ucapnya dengan ekspresi yang terlihat menyedihkan.


Namun, pandangan Yuichi tiba-tiba teralihkan oleh seseorang yang berdiri di pintu utama itu, dan terdengar suaranya memanggil Mervis dari jauh.


"Kau telat Mervis!" ucapnya melihat ke arah Mervis.


"Hah?... apa yang kau maksud Richa?" balas Mervis.


"Darimana saja kau?... kami sudah menunggu dari tadi," balas Richa lagi sembari melipat tangannya di bawah dadanya.


"R-R-Richa?... apakah dia Richa Geavany itu?" ucap Yuichi terpanah melihat wanita itu.


"Eh?" ucap Zaki kaget melihat Yuichi yang tiba-tiba sembuh dari mualnya.


"Ah... kau mengenalnya kah Yuichi?" tanya Linda kagum.


"Kami melihat fotonya di salah satu ruangan di kantor Kolonel Mervis," beritahu Zaki pada Linda.


"Heh?... kenapa kalian tidak mengajakku?" tanya Linda dengan ekspresi yang terlihat sedikit marah dan mengembungkan pipinya.


"A-ah... waktu itu kami tersesat dan tak sengaja masuk ke sana," jelas Zaki sembari menggosokkan tangannya dikepala belakangnya.


"Kalian pasti melihat foto Kolonel Richa di ruangan santai yah?" tanya Ayla sembari tersenyum imut.


"T-tapi... dia cantik sekali...." ucap Linda dengan mata yang bersinar kagum.


"Benar... Kolonel Richa sangat cantik sekali," balas Ayla dengan senyuman yang imut.


Terlihat Kolonel Richa menggunakan baju perwira tentara yang berwarna putih, di bajunya terdapat mendali dan pangkat yang sama dengan Mervis, wajahnya terlihat sangat cantik dengan mata berwarna hijau cerah dan menggunakan kaca mata yang sangat elegan, serta terdapat tahi lalat kecil di bagian bawah bibir sebelah kirinya, Kolonel Richa mempunyai rambut yang lumayan panjang dan berwarna pink, ia juga menggunakan topi patrol cap putih dengan gambar beruang kecil di bagian tengah topinya.


"M-m-malaikat...." ucap Yuichi saat pertama kali melihat langsung wajah dari Kolonel Richa.


"Hah?" ucap Mervis bingung.


"M-maukah kau m-menikah denganku?" ucap Yuichi yang langsung melamar Richa.


"Hah?... siapa kau?" tanya Richa dengan ekspresi yang terlihat jijik.


"Ah... ternyata tidak sia-sia aku berada di sini," ucap Yuichi dengan gaya serta ekspresi yang penuh harapan dan memang terlihat sedikit menjijikan.


"Oi Mervis, kenapa kau membawa orang aneh lagi ke tempat ini?" tanya Richa yang menyalahkan Mervis.


"Hah?... kenapa kau selalu saja menyalahkan ku?" ucap Mervis yang terlihat kesal.


"Jadi bagaimana?... apakah kau menerima lamaranku?" tanya Yuichi dengan penuh harap.


"Tentu saja tidak... mengapa juga aku harus menerima tawaran menjijikan seperti itu dari orang yang terlihat lemah sepertimu," ucap Richa dengan kata-kata yang menusuk sangat dalam.


Mendengar kata-kata itu lantas membuat Yuichi menjadi depresi dan kehilangan semangatnya.


"O-oi Yuichi... kau baik-baik saja?" tanya Zaki khawatir.


"Nah Zaki... sebaiknya kau membunuhku saja!" ucapnya dengan nada depresi.


"Hah?... jika kau memang ingin mati, suruh saja Kolonel Mervis atau Casta yang membunuhmu, kurasa mereka akan dengan senang hati melakukannya," ucap Zaki dingin.


"Yuichi... semangat!" ucap Linda polos sembari menyemangatinya.


"Cih... kurasa tidak ada lagi yang akan menyukai wanita tua sepertimu," ucap Yuichi membalas perkataan Richa.


"HAH?... siapa yang kau sebut wanita tua?" balas Richa dengan tatapan dan aura membunuh.


"Gawat!!... Kolonel Mervis!" ucap Casta memperingati Mervis.


Suasana di sekitar gedung tiba-tiba menjadi gelap dengan aura tekanan yang sangat kuat, para prajurit yang berjaga di sekitar sana sontak menjadi sangat ketakutan dengan apa yang akan terjadi.


"O-oi... apa-apaan ini?" ucap Zaki gugup.


"Cih... apa yang kau lakukan Yuichi," ucap Mervis memarahi Yuichi.


"Eh?" balas Yuichi bingung.


Lantas Mervis menyuruh mereka untuk bersembunyi di balik mobil.


"K-kenapa?" tanya Linda polos sembari merasa ketakutan.


"Kolonel Richa jika sudah marah akan sangat berbahaya," beritahu Ayla.


"Bahkan Kolonel Mervis saja tidak sanggup menghentikannya," beritahu Casta gemetaran.


"Kenapa bisa?... bukankah mereka sama?" tanya Zaki heran.


"Menurut rumor, Kolonel Richa adalah pemilik Artifacts dengan tingkatan di atas Kolonel Mervis," beritahu Casta.


Tiba-tiba saat mereka sedang panik dan bersembunyi di balik mobil tiba-tiba terdengar suara Mervis yang sedikit keras.


"Bersiaplah...." ucap Mervis memasang kuda-kuda dan memperingati mereka bahaya yang akan datang.


"Legendary Artifacts : Wild Bear...." ucap Kolonel Richa dengan nada dan tatapan mata berwarna merah darah yang sangat mengerikan.