Old Division

Old Division
Chapter 4 - 2 : Training and Dream!



Sebelumnya, pukul 10 malam, Di sebuah gedung yang terbuat dari kayu dengan 10 tingkat dan terlihat sangat besar dan mewah.


Di lantai empat, terlihat Zaki sedang berdiri seorang diri dan menaruh tangannya di pagar balkon yang terletak di luar kamar, tepatnya berada di antara tangga untuk naik ke lantai atas dan turun ke lantai bawah, tempat itu biasa digunakan oleh para prajurit sebagai tempat berkumpul dan bersantai bersama.


Keheningan malam yang terasa sangat nyaman, tatapan matanya tertuju pada lampu-lampu yang berada di bawahnya, angin sepoi-sepoi terasa sejuk sehingga membuatnya menutup matanya dan merasakan semua hal yang berada di sekelilingnya menyatu dengan dirinya.


Para prajurit mondar-mandir membawa senjata laras panjang, menjaga gerbang agar tetap aman dari penyusup maupun musuh yang datang.


Namun, ketika sedang menikmati semua pemandangan itu, Zaki dikejutkan oleh seseorang yang memangil namanya dari belakang.


"Zaki... ngapain di sini?" tanya seseorang itu.


Zaki yang mendengar suara itu pun membalikkan tubuhnya dan melihat orang tersebut.


"Ayla kah?... aku sedang melihat-lihat pemandangan dari sini," ucap Zaki lembut dan sedikit tersenyum.


"Kau belum tidur?" tanya Ayla sembari mendekat ke arah Zaki sambil memegang sebuah cangkir.


"Kurasa aku tidak bisa tidur, tapi bagus juga pemandangan dari atas sini ya," ucap Zaki merasa sangat senang.


"Hmm... karena tempat ini dibuat dengan sangat bagus, itulah kenapa para prajurit banyak yang betah berada di sini," balas Ayla dengan sedikit tertawa kecil.


"Apa kau juga tidak bisa tidur?" tanya Zaki heran.


"Ya, aku pergi ke dapur untuk membuat kopi," jawab Ayla sembari menyeruput gelas berisi kopi hangat yang dipegangnya.


"Heh... bukankah kau tambah tidak bisa tidur jika meminum itu?" tanya Zaki sedikit bingung.


"Hmm... benarkah begitu?" jawab Ayla dengan nada yang sedikit dingin.


"Dasar wanita yang aneh," ucap Zaki pelan dan tersenyum kecil sembari sedikit melirik ke arah Ayla.


Ayla yang mendengar ucapan itu lantas membalasnya.


"Tidak lebih aneh dari dirimu," ucapnya dengan sedikit tertawa kecil.


"Hari ini sangat melelahkan!" kata Zaki dengan ekspresi lesunya.


"Hmm... untung tadi Jendral Ozkor tidak memarahi kita karena telat menghadiri pertemuannya," keluh Ayla.


"Ya, karena si rambut kuda itu yang terlalu lama berada di kamar mandi," ucap Zaki dengan nada yang sedikit kesal.


"Tapi... yang lainnya...." Ayla menghentikan perkataannya.


"Ah... mereka kah, tidak apa, meskipun tatapan mereka seperti membenci kami, kurasa itu hal yang wajar, karena kami hanyalah orang asing," ucap Zaki sembari tersenyum kecil sambil tetap memandangi lampu-lampu yang terang di sepanjang matanya memandang.


Ayla yang mendengar hal itu lantas melihat ke arah mata Zaki yang penuh dengan rasa kedamaian.


"Benarkan... kau bahkan lebih aneh dari mereka semua," batin Ayla tersenyum kecil sembari menyeruput kopi yang ia pegang.


"Nah Ayla... ngomong-ngomong, sekarang tahun berapa?" tanya Zaki heran karena melihat benda-benda di sekitarnya yang sudah sangat maju dan keren.


"2540," beritahu Ayla.


"2540 kah?" ucap Zaki terlihat biasa saja.


"Ya, sekarang 30 September 2540, apakah kau ingat tahun berapa kau lahir?" tanya Ayla penasaran.


"Tidak, tak perduli kapan kau lahir, hidup hingga sekarang saja aku masih sangat bersyukur," ucap Zaki lagi sembari tetap memandangi keindahan yang berada di depan matanya.


"Hmm... sudah seharusnya kita bersyukur atas kehidupan yang diberikan," balas Ayla yang sedikit terkejut atas perkataan Zaki, lalu Ayla tersenyum kecil.


Disaat Zaki dan Ayla sedang mengobrol tentang kehidupan, Yuichi turun dari lantas atas dan melihat mereka berdua sedang berbincang-bincang.


"Eh?... Zaki dan Ayla?" ucap Yuichi yang setengah sadar.


Ketika mendengar suara itu lantas mereka berdua berbalik badan dan melihat ke arah sumber suara tersebut.


"Ah... Yuichi kah?" tanya Ayla santai.


"Hmm... kenapa kalian berdua di sini?" tanya Yuichi bingung.


"Aku tidak bisa tidur, begitu juga dengan Ayla...." jawab Zaki dengan ekspresi datar.


"Kenapa kalian tidak mengajakku juga untuk melihat pemandangan ini?" tanya Yuichi yang mendekat ke mereka berdua dan ikut melihat pemandangan yang sangat indah itu.


"Haha... haha... bukankah kau sudah tertidur pulas Yuichi?" tanya Ayla.


"Tidak, di kamarku terlalu banyak nyamuk yang menyebalkan, aku ingin ke bawah dan meminum sedikit air, kurasa aku terkena dehidrasi karena mereka meminum semua darahku," keluh Yuichi.


"Heeh... Malaikat Kematian sepertimu ternyata bisa juga digigit oleh nyamuk-nyamuk itu kah?" sindir Zaki dengan ekspresi yang terlihat konyol.


"Malaikat Kematian?" batin Ayla bingung.


"Hah?... semengerikan itukah wajahku?" balas Yuichi dengan nada yang terlihat sangat kesal.


"Apa kau tidak menyadarinya?... orang bodoh sepertimu seharusnya mempunyai wajah yang sangat mengerikan... tapi kenapa kau sangat tampan sekali, dasar rambut kuda...." ucap Zaki dengan nada dan gestur yang terlihat sangat marah sekaligus kesal.


"Heh?" balas Ayla dan Yuichi yang terlihat sedikit bingung.


"Kenapa para wanita-wanita itu selalu saja memujimu... mendengar mereka membicarakan ketampananmu dari belakang membuatku sangat iri, dasar rambut kuda," keluh Zaki dengan nada yang kesal.


"Ah... benarkah?" tanya Yuichi yang tersipu malu.


"Tidak... aku hanya bercanda...." jawab Zaki dengan ekspresi datar dan terlihat polos.


Mendengar jawaban itu, ekspresi Yuichi langsung berubah terlihat sedikit depresi.


Ayla yang menyaksikan hal itu pun hanya bisa tertawa kecil.


"Kalian memang aneh yah...." ucap Ayla.


Karena mereka yang terlalu berisik disaat prajurit lainnya tengah beristirahat, terdengar dari kamar yang berada di lantai bawah berteriak pada mereka.


"Oi... kalian terlalu berisik!" teriak suara itu.


"Ah... m-maafkan kami...." balas Ayla gugup dan meminta maaf pada mereka.


"Semua gara-gara kau rambut kuda," ucap Zaki sembari memalingkan pandangannya ke arah lampu-lampu yang indah itu lagi dengan ekspresi yang terlihat datar.


"Hah?... apa kau bilang...." balas Yuichi yang sangat kesal.


"Sudah-sudah kalian berdua...." ucap Ayla menenangkan mereka berdua.


Sementara itu pada pukul 03.30, terlihat Jendral Celiona berada di dalam kamarnya yang terlihat sedikit besar dan mewah, Celiona mendengar ketukan dari pintu lantas segera berdiri dari tempat duduknya untuk membuka pintu tersebut.


"Ada apa?" tanya Celiona pada prajurit wanita yang mengetuk pintu tersebut.


Prajurit itu pun terdiam sejenak melihat Celiona yang hanya menggunakan baju tidur dengan motif penguin imut.


"Waaahh...." ucap wanita itu dengan tatapan mata yang terpesona melihat baju yang dipakai Celiona.


"Hmm... ada apa denganmu?" tanya Celiona bingung.


"Ah... ti-tidak," ucap wanita itu menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk fokus dengan tujuannya, "Apakah anda sedang sibuk Jendral?" tanya wanita itu berbicara dengan tegas sembari memberi hormat.


"Tidak begitu sibuk," Jawab Celiona sembari memperlihatkan tumpukan beberapa berkas yang berada di meja pada wanita itu.


"Ah-ahah -haha...." ucap wanita itu pelan merasa bersalah.


"Jadi?... ada apa malam-malam begini kau ke ruanganku?" tanya Celiona dengan ekspresi yang terlihat sangat bingung.


"Saya Rena Ayunda, ingin menyampaikan pesan dari Kolonel Zigo," balas wanita itu.


"Anu... saya ingin menyampaikan laporan dari Mayor Gero... kawasan Artgena yang terletak di perbatasan utara sudah berhasil dikuasai, tetapi...." ucap Rena menghentikan perkataannya.


"Tetapi?"


"Kolonel Sekar sedang menghadapi salah seorang Kolonel dari pihak Kuvernt," beritahu Rena pada Celiona.


"Apakah dia kuat?" tanya Celiona.


"Menurut laporan, Kolonel tersebut juga pengguna Artifacts dengan Rarity Legendary, kalau tidak salah namanya... Death Thunder!" ucap Rena.


"Death Thunder kah... jadi mereka telah mengantisipasi hal itu akan terjadi!" batin Celiona dengan ekspresi yang terlihat sedikit serius.


Celiona dengan cepat masuk ke dalam dan menuju sebuah meja yang di atasnya terdapat lima kotak kecil, Celiona membuka kota pertama dari arah kiri dan mengambil sebuah buku berwarna hitam.


Sementara prajurit wanita itu menunggu di depan pintu dengan ekspresi heran.


Celiona terlihat membuka beberapa halaman pada buku itu.


"Death Thunder... sepertinya tidak terlalu berbahaya untuk Sekar!" batin Celiona membaca setiap detail pada buku tersebut.


Setelah selesai melihat informasi yang dibutuhkan, Celiona kembali pada wanita yang sedang menunggunya itu.


"Lalu... apa lagi yang ingin dilaporkan?" tanya Celiona yang terlihat sedikit lega.


"Be-begini Jendral... menurut laporan dari tim pengintai, ada dua orang yang terlihat mencurigakan, mereka terlihat sedang memantau pertarungan Kolonel Sekar dari atas bukit."


"Apakah Recon tidak bisa melihat mereka?... kenapa Sekar sampai tidak mengetahui kehadiran mereka?" tanya Celiona.


"Sepertinya mereka mengetahui jarak pandang dari Recon, Jendral!" balas Rena.


"Hmm... sepertinya begitu!" ucap Celiona dengan tatapan serius.


Ketika tengah mendiskusikan hal tersebut, tiba-tiba seorang prajurit pria berlari dengan nafas yang terengah-engah ke arah mereka berdua.


"J-Jendral Celiona...." ucap prajurit itu sembari memberi hormat dengan nada terbata-bata.


"Ada apa?" tanya Celiona khawatir.


"Pasukan pengintai...."


"Ada apa dengan pasukan pengintai?" tanya Celiona bingung.


"Komunikasi dengan mereka telah terputus...." jawab prajurit itu.


"Apa kata terakhirnya?" tanya Rena yang berada di sebelah pria itu.


"S-selamatkan aku...." jawab pria itu dengan nafas yang terengah-engah.


Mendengar hal itu sontak Celiona segera memerintahkan mereka untuk mempersiapkan helikopter dan menyuruh mereka berdua segera kembali ke ruang kendali.


Mendengar kebisingan di depan kamarnya, Jendral Rayfox yang tengah tertidur pulas lantas terbangun dan keluar dari kamarnya dengan menggunakan celana pendek dan kaos singlet putih.


"Celin... apa yang terjadi...." ucap Rayfox dengan keadaan setengah sadar.


"Ah... Jendral Rayfox!" ucap dua prajurit itu mengalihkan pandangannya ke Rayfox dan memberi hormat.


"Heh?... apa?" ucap Rayfox kebingungan.


"Kalian berdua, kembalilah ke ruang kendali dan cari tau siapa mereka!" perintah Celiona pada mereka berdua.


"Baik Jendral!" ucap mereka berdua dan berlari menuju ruang kendali.


"Aku akan membantumu!" ucap Rayfox.


"Tidak... kau di sini saja, dan cari tau mereka dari pasukan mana," ucap Celiona dengan tatapan menyeramkan.


"Eh... b-baiklah...." balas Rayfox yang tidak bisa berbuat apa-apa di depan wanita ganas tersebut.


"Karena kita sedang tidak menyerang suatu negara, di medan pertempuran tidak dibutuhkan terlalu banyak Jendral," tegas Celiona lagi dan menutup pintu kamarnya.


"Ah... O-oke...." ucap Rayfox yang terlihat sedikit bingung.


Sementara itu di ruang kendali, terlihat seseorang sudah menunggu kedatangan dua orang yang sedang melapor kepada Jendral Celiona.


Dengan baju berwarna putih serta pangkat tiga bunga matahari di pundaknya, sorotan mata yang berwarna hitam dan tajam, tubuh yang kekar, rambut berwarna hitam pendek, dengan kacamata hitam yang berada di atas kepalanya, dan juga terdapat luka gores sedikit panjang di bagian pelipis kanan hingga ke wajahnya. Dia adalah Kolonel Zigo Reon, yang menjadi komandan di ruang kendali, serta terlihat pula Zigo menggunakan sebuah sabuk hitam dengan gambar kepala burung elang yang menghadap ke kanan dan berwarna putih.


Saat sedang mengamati layar besar yang menampilkan beberapa data statistik, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Kolonel Zigo...." ucap Rena dengan nafas yang terengah-engah.


"Apa respon Jendral?" dengan cepat Zigo merespon mereka berdua.


"Jendral akan pergi mengecek mereka ke sana, dan beliau meminta untuk disiapkan helikopter yang bisa digunakan dengan cepat," beritahu prajurit Rena.


"Baiklah... aku akan segera mempersiapkannya!" tegas Zigo.


"Siap... Kolonel!" ucap mereka berdua sembari memberi hormat.


"Oh ya... ngomong-ngomong kalian memberi tahukan info tersebut ke Jendral siapa?" tanya Zigo bingung.


"Eh?... karena Kolonel tidak memberitahu kepada siapa aku akan menyampaikan info ini, maka tadi aku melihat melalui cahaya lampu kamar yang masih hidup dari ventilasi kamar para Jendral!" tegas Rena.


"Jadi?... siapa yang menerima info itu?" tanya Zigo lagi.


"Jendral Celiona!" jawab Rena tegas.


"Heh?... k-kau tidak salahkan memberi info itu kepada beliau?" tanya Zigo dengan nada sedikit ketakutan.


"Ya, karena hanya lampu kamar beliau yang masih hidup, jadi aku memberikan info tersebut kepada beliau!" tegas Rena lagi.


Zigo yang sedikit syok mendengar hal itu lantas memegang wajahnya dengan telapak tangannya.


"Hufftt... wajar saja beliau akan ke sana, karena sudah pasti setelah pasukan pengintai, maka yang akan diincar selanjutnya pasti Sekar dan para prajurit kita yang tersisa di sana!" ucap Zigo dengan nada khawatir.


"Apakah musuh sekuat itu?" tanya Rena itu.


"Sudah pasti, karena pasukan pengintai adalah salah satu dari para Division!" ucap Zigo dengan ekspresi yang sangat serius.


"D-Division...." ucap wanita itu kaget.


"Ya... 'Silent Division'... itulah mereka," beritahu Zigo.


"Aku baru ini mengetahui jika mereka adalah salah satu dari para Division," ucap prajurit pria yang berada di sebelah prajurit wanita tersebut.


"Wajar saja, mereka sangat dirahasiakan, itulah mengapa kalian tidak mengetahuinya," balas Zigo dengan nada khawatir terhadap Silent Division.


"Mereka terlihat seperti prajurit biasa jika bertemu, ternyata Furo... dia salah satu dari...." ucap Rena dengan sedikit meneteskan air mata.


"Furo?... kau kenal dengannya?" tanya Zigo pada wanita itu.


"Furo adalah tunanganku... kuharap dia baik-baik saja," ucap Rena dengan penuh harap.


"Ya... kuharap begitu," balas Kolonel Zigo dengan mengalihkan pandangannya ke arah layar besar dan menampilkan lima anggota pasukan pengintai.


Disaat mereka tengah sibuk berbincang, pintu tiba-tiba terbuka, Jendral Celiona dan Jendral Rayfox dengan pakaian perwira mereka telah tiba dan memasuki ruang kendali.


Zigo dan beberapa prajurit memberi hormat kepada pada dua Jendral itu.


"Apakah Heli yang ku minta sudah disiapkan?" tanya Celiona dengan tegas.


"Semua persiapan yang anda minta telah siap Jendral!" jawab Zigo tegas.


"Aku akan segera ke sana, Rayfox kau cari tau siapa mereka berdua," ucap Celiona pada Rayfox.


"B-baiklah... kau yakin kau tidak membutuhkan bantuan?" ucap Rayfox dengan nada seperti tertekan.


"Tidak perlu... kau hanya akan menghambatku...." balas Celiona pergi keluar meninggalkan mereka.


"Heeeh...." batin Rayfox, Zigo dan beberapa prajurit yang menyaksikan hal tersebut.


"P-pasti berat ya J-jendral!" ucap Zigo dengan senyum yang sedikit dibuat-buat.


"Haaaah... mau bagaimana lagi, karena para wanita memang selalu seperti itu," ucap Rayfox terlihat sedikit depresi sembari menghembuskan nafasnya.


"Hehe... hehe!" ucap Zigo sembari mengusap tangannya di belakang kepalanya.


"Baiklah... kalian semua, cari identitas kedua orang itu!" teriak Rayfox pada seisi ruang kendali tersebut dengan penuh semangat.


"Baik Jendral!" balas mereka semua.


Sementara itu, Celiona terlihat tengah bersiap menaiki sebuah mobil untuk pergi menuju ke landasan yang telah disiapkan.


"Kalian semua... semoga kalian baik-baik saja...." batin Celiona dengan nada penuh harap dan ekspresi yang terlihat sedikit marah.


"Kita berangkat Jendral!" ucap sopir mobil tersebut.


Mobil pun bergerak menuju gerbang ketiga, karena di sana tempat landasan helikopter maupun pesawat tempur lainnya beroperasi.


Saat mobil sedang melewati gerbang keempat, dimana asrama para prajurit berada, Zaki, Ayla dan juga Yuichi yang berada di balkon lantai empat melihat ke arah jalanan.


"O-oi... itu kan wanita barbar yang sebelumnya?" tanya Zaki penasaran.


"J-jendral Celiona...." ucap Ayla sembari melihat juga ke arah kaca mobil yang sedikit transparan itu.


"Apa yang dia lakukan tengah malam begini?" tanya Zaki heran.


"Syal itu?" tanya Ayla penasaran.


"...." Zaki dan Yuichi yang melihat Ayla dengan tatapan bingung.


"Beliau tidak pernah memakainya kecuali sedang ada masalah yang serius," ucap Ayla pelan sembari tetap melihat ke arah jalanan.


"Apa ada suatu masalah yang sedang terjadi kah?" tanya Yuichi penasaran.


"Entahlah...." ucap Ayla sembari berlari turun ke bawah menuju para penjaga gerbang.


Mobil yang dikendarai Celiona berhenti tepat di depan gerbang keempat menuju area gerbang ketiga.


Celiona yang sedang turun dari mobilnya dan tengah berbicara pada para penjaga gerbang, lalu dari arah taman yang berada di sebelah kanannya terdengar seseorang memanggil dirinya.


Disaat Celiona melihat ke arah sumber suara tersebut, dari arah taman yang berada di depan asrama, Ayla tengah berlari menuju ke arahnya melawati jalan batu-batu kecil dan sedikit bercahaya karena terkena pantulan dari lampu taman.


"Ayla?" tanya Celiona heran.


Ayla yang berada di depan Celiona langsung memberi hormat dengan nafas yang sedikit terengah-engah.


Tidak lama kemudian, Yuichi menyusul Ayla dari belakang.


"Kalian ngapain tengah malam begini?" tanya Celiona penasaran.


"Ah... kami tidak bisa tidur!" jawab Ayla polos.


"Kalian berdua?" tanya Celiona dengan sedikit menyipitkan matanya dan melihat tajam ke arah mereka berdua.


"Heh?... apakah ada yang salah Jendral?" tanya Ayla bingung.


Ayla yang mendengar kata-kata dari Celiona lantas mulai sedikit menyadarinya.


"Berdua?" batin Ayla bingung.


"Eh... kemana Zaki?" tanya Ayla pada Yuichi yang terlihat juga sedang kebingungan.


"Dia bilang ingin pergi ke toilet sebentar dan dia akan menyusul... begitu katanya," jawab Yuichi bingung.


"Ah... b-begitulah Jendral, kami tadi bertiga sedang mengobrol karena sama-sama tidak bisa tidur," jelas Ayla pada Celiona.


Celiona hanya terdiam mendengar mereka berdua, terlihat ada sesuatu yang sedang menganjal pikiran Celiona.


"Apakah sedang ada masalah Jendral?" tanya Ayla penasaran.


"Pasukan pengintai diserang!" ucap Celiona terlihat serius.


"Heh?... diserang?" balas Ayla kaget.


"Ya, aku sedang bersiap untuk berangkat ke sana untuk mengeceknya sendiri," ucap Celiona.


"Apakah ada yang bisa saya bantu Jendral?" tanya Ayla dengan harapan bisa berguna.


Namun, belum sempat Celiona menjawab, para penjaga gerbang memotong pembicaraan mereka.


"Jendral, gerbang sudah siap dibuka, helikopter sudah siap untuk berangkat, dan tinggal menunggu anda," ucap prajurit itu.


"Baiklah!" balas Celiona.


"Kalian berdua, naiklah ke mobil!" perintah Celiona.


"Eh?" batin Ayla dan Yuichi bingung.


Namun mereka mendengarkan perintah itu dan ikut naik ke mobil bersama Celiona menuju ke helikopter untuk pergi ke area Artgena.


Ayla yang menggunakan tanktop berwarna hitam, dengan celana tentara lorengnya, Ayla duduk di bagian tengah tepat di samping Celiona dan Ayla hanya bisa terdiam di mobil tanpa berkata sedikit pun dan melihat ke arah mata Celiona yang tampak penuh kekhawatiran.


Sementara Yuichi yang duduk di depan terus bertanya-tanya dalam hatinya.


"A-aku akan dibawa kemana ini?" batin Yuichi yang terlihat sedikit berkeringat dan panik.


Mobil mulai berjalan kembali dan melewati gerbang keempat dan mulai memasuki area gerbang ketiga.


Gerbang keempat mulai menutup kembali dengan perlahan diiringi hormat dari para penjaga kepada mobil yang sedang dinaiki oleh Jendral Celiona.


Zaki yang terlihat sudah kembali dari toilet dan berada di tempat mereka berkumpul tadi lantas bertanya-tanya.


"Kemana mereka semua?" ucapnya dengan nada dan ekspresi yang terlihat bingung.