Old Division

Old Division
Chapter 3 - 2 : The Army



Di suatu negara yang subur dan makmur terlihat sebuah bendera yang berkibar dengan gagahnya, di bendera tersebut terdapat sebuah perisai besar berwarna hitam, di bagian tengahnya terdapat seekor naga Loong yang berwarna kemerahan pada kepala, punggung, kaki sampai ekornya dan berwarna putih pada bagian bawah perutnya, serta dengan sebuah motif kotak yang terletak pada bagian kanan atas dan kiri bawahnya yang setiap kotaknya diisi oleh huruf X, terdapat tanda plus di belakang perisai tersebut yang berwarna merah dengan warna biru di ujung plus tersebut, serta background bendera yang berwarna kuning menambah kesan keindahan bendera tersebut.


Ya, negara tersebut bernama Urguain, yang dipimpin oleh seorang Ratu yang sangat cantik.


Di sebuah bangunan mewah dan lumayan tinggi, terlihat dari kaca jendelanya ada dua orang yang sedang berada di salah satu kamar di gedung itu.


"Aley... apakah kau ada di dalam?" ketuk seseorang wanita dari luar.


"Ya, masuklah!" ucapnya pelan.


Ketika wanita itu membuka pintu kamar, di dalam Aley sedang berbaring di sebuah kasur Spring Bed yang cukup besar dan Aley terlihat memiliki rambut pendek yang berwarna hitam dengan sedikit garis-garis yang berwarna putih pada bagian rambutnya dan di sampingnya terdapat seorang wanita dengan rambut yang berwarna ungu dengan wajah yang sangat cantik sedang duduk di kursi kecil, dan terlihat ia sedang mengobrol dengan Aley.


"Kak Manami, kau dipanggil oleh kak Ane, biar aku yang menjaga kak Aley!" ucap wanita itu.


"Hmm... kenapa ia memanggilku?" ucap Manami heran.


"Aku tidak tau!"


"Pergilah, daripada nanti kau dimarah olehnya!" ucap Aley mempersilahkan Manami meninggalkannya.


"Hmm... baiklah!"


"Nah Fereta... kuserahkan penjagaan Aley padamu!" ucap Manami sembari menuju keluar dan menepuk pundak Fereta pelan sambil tersenyum.


"Baik Kak!" ucap Fereta membalas senyuman Manami.


Manami pun berjalan menuju ruang bersantai yang biasa digunakan oleh seseorang yang memanggilnya itu.


Ketika berada di depan ruangan itu, Manami mengetuk pintu itu.


"Apakah kau di dalam?" ucap Manami memastikan bahwa ada orang di ruangan itu.


"Ya, masuklah!" ucap wanita dari dalam.


Manami membuka pintu itu, terlihat lah wanita yang sangat cantik dengan rambut panjang yang berwarna biru, serta memakai penutup mata di sebelah kirinya, terlihat juga wanita itu sedang memakai tanktop yang berwarna abu-abu dan memakai celana pendek berwarna biru serta terlihat pula wanita itu sedang melakukan kebiasaannya, yaitu menyeruput secangkir teh hangat kesukaannya.


"Ada apa kau memanggilku?" tanya Manami penasaran.


"Pertemuan Razgar sebentar lagi akan dilakukan," jawab wanita itu dengan nada santai.


"Kapan?"


"Sepuluh hari lagi, kuingin kau bersiap-siap," ucap wanita itu melihat ke arah luar jendela yang terbuka.


"Nah... Ane, apakah kau benar-benar bisa membawanya kembali?" tanya Manami terlihat serius.


"Hah?... tentu saja, kau pikir aku siapa...." jawab Ane santai dan terlihat sedikit tertawa.


"Ya, aku tau kau adalah Ratu di negara ini, tetapi, kakakku begitu kuat, aku tidak yakin kau bisa mengalahkannya," tanya Manami dengan nada ragu.


"Hahaha... percayakan saja semuanya padaku, kita akan membahasnya dipertemuan itu nanti," jawab Ane dengan nada meyakinkan Manami.


"Baiklah kalau begitu, karena aku sudah lama menunggu dia terbangun, maka akan kupercayakan semuanya padamu... Ane Jay...." jawab Manami sembari melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.


"Hmph..." balas Ane dengan tersenyum lebar dan sedikit mengerikan.


Sementara itu, di kantor Kolonel Mervis terlihat di depan tangga pintu utama Casta tengah berpamitan pada mereka berempat, yaitu Linda, Zaki, Yuichi dan Ayla.


"Aku pergi dulu, aku akan kembali jam dua belas siang nanti," ucap Casta pada Ayla.


"Hmm... jangan sampai membuat Kolonel menunggu," angguk Ayla sembari memperingati Casta untuk tidak telat.


"Dah, kalian jangan bertindak asal-asalan, terutama kalian, Zaki, Yuichi," tatap Casta dengan nada kesal.


"Ya terserah kau saja," ucap Zaki dengan nada dingin.


"Hmm... sepertinya kau sudah sedikit kebal terhadap omelan wanita gila ini Zaki," ucap Yuichi sembari mengeluarkan ekspresi konyol dan memegang dagunya.


"HAH?... siapa yang kau bilang gila?" balas Casta dengan nada tinggi dan terlihat sangat kesal.


"Sudah-sudah kalian, Nah Casta nanti kau telat," potong Ayla yang ikut kesal melihat mereka.


"Ah kau benar... kalau begitu Ayla, Linda, aku pergi dulu yah, dadah!" ucap Casta berjalan menuju gerbang sembari melambaikan tangannya.


"Hati-hati Casta...." ucap Linda sembari membalas lambaian tangan Casta.


"Nah Linda, Zaki, Yuichi juga... ayo ikut aku ke belakang," ajak Ayla dengan semangat.


Zaki dan Yuichi yang bingung hanya mengangguk dan mengikuti Ayla dari belakang.


"Apakah tempatnya sangat bagus Ayla?" tanya Linda penasaran.


"Hmm... tempatnya sangat indah, kau pasti akan menyukainya," balas Ayla dengan penuh semangat.


Mereka berempat berjalan melewati teras samping dan menuju halaman belakang, terlihat penjagaan di sekitar mereka sedikit sepi karena para penjaga sedang memperbaiki halaman depan yang rusak karena bekas pertempuran kemarin.


Ketika sampai ke tempat yang mereka tuju, Zaki, Linda dan juga Yuichi terlihat sedikit kaget dengan apa yang mereka lihat.


"I-ini...." ucap Yuichi dengan terbatah-batah.


Linda dan Zaki hanya bisa mendongak keatas melihat benda yang lumayan besar yang berada di depan mereka, Ya, ternyata di belakang gedung yang sedikit besar itu terdapat landasan pacu dan terdapat pula sepuluh pesawat tempur yang lumayan besar dengan berwarna merah dengan motif garis-garis putih yang terletak di bagian sayap serta body pesawat.


Serta terdapat satu pesawat besar lainnya yang digunakan untuk mengangkut para prajurit kemedan pertempuran.


Saat tengah memperhatikan pesawat-pesawat itu datanglah seseorang dari arah samping mereka, Ayla yang sadar ada yang datang langsung mengalihkan pandangannya ke arah orang itu, ketika Ayla melihatnya, orang itupun langsung menyapa Ayla.


"Yoo Ayla, sudah lama kau tidak terlihat," ucap orang itu dengan ramah sembari mengangkat tangannya kedepan menyapa Ayla.


Terlihatlah seorang pria dengan wajah yang sedikit tampan,dengan rambut pendek berwarna biru, mata berwarna hitam dan menggunakan kacamata google yang berwarna kuning keemasan di atas jidatnya, dengan memakai pakaian tentara yang diperuntukkan khusus bagi para mekanik yaitu berwarna hitam dengan loreng putih, dan terdapat pula badge khusus di bagian lengannya, untuk menandakan mereka adalah seorang mekanik yang handal di bidangnya.


"Ah... Cestian, apakah itu kau?" tanya Ayla dengan ekspresi yang terlihat penuh semangat.


"Hmm... siapa mereka?" tanya Cestian bingung melihat pakaian yang di pakai Zaki, Linda dan juga Yuichi.


"Mereka orang baru... hmm... bagaimana menjelaskannya yah!" ucap Ayla bingung.


"Kami baru ditemukan di laboratorium dekat sini!" ucap Linda memberitahu Cestian.


"Ditemukan?" ucap Cestian tambah bingung.


Zaki dengan fokus melihat tampilan orang yang menanyakannya itu.


"Nah... kenapa kau memakai kacamata besar di atas kepalamu itu?" tanya Yuichi menatap kacamata google yang digunakan Cestian.


"Ah ini... karena aku adalah seorang mekanik, mangkanya aku menggunakan benda ini untuk mengecek pesawat yang ada di sini," jelas Cestian.


"Kacamata yang digunakan oleh Cestian merupakan salah satu Artifacts yang diberikan langsung oleh Jendral Celiona," beritahu Ayla pada mereka.


"Hee... Artifacts kah!" ucap Zaki dengan nada bosan.


"Ah... aku juga baru sampai tadi jam enam, karena Kolonel Mervis memintaku untuk memeriksa kendaraan di sini jika ada yang mengalami masalah karena efek dari pertempuran kemarin," beritahu Cestian pada Ayla.


"Hmm... jadi apakah kau akan kembali sehabis mengecek ini?" tanya Ayla dengan ekspresi yang sedikit sedih.


"Ya, karena aku bertugas sebagai kepala mekanik di kantor beliau di kota Ganza, jadi aku datang ke sini hanya karena permintaan Kolonel Mervis saja," jawab Cestian dengan sedikit tersenyum pada Ayla.


"Ah... ngomong-ngomong, dimana dia?" tanya Cestian lagi.


"Dia?"


"Temanmu yang selalu bersamamu... hmm... kalau tidak salah namanya... Mastah?"


"Ah... itu Casta...." jawab Ayla tertawa.


"Iya itu... hahaha," balas Cestian sembari tertawa juga dan berkata dalam hati, "Gawat... Ayla imut sekali!" batinnya sembari menatap wajah Ayla dan menahan rasa kagumnya.


"Ah... Cestian... mereka akan ikut bergabung menjadi tentara juga," beritahu Ayla pada Cestian.


"Hmm... kurasa mereka akan berhasil!" jawab Cestian.


"Heeh... benarkah?" tanya Linda dengan penuh semangat.


"Nah... apa kegunaan kacamata itu?" tanya Yuichi terus menatap benda yang terletak di atas jidat Cestian.


"Ah ini... google ini bisa melihat kelemahan target yang diinginkan, termasuk benda dan Artifacts yang sedang digunakan," jelas Cestian pada Yuichi.


"Jadi kau bisa memperbaiki benda besar ini dengan kacamata itu?" tanya Yuichi lagi sembari menujuk salah satu pesawat tempur di sampingnya.


"Yep, karena google ini pula aku bisa melihat dimana kerusakan yang terjadi sehingga bisa memperbaikinya," jawab Cestian dengan nada yang penuh semangat menjelaskannya.


Namun, ketika sedang asik mengobrol, terdengar suara yang memanggil Cestian dari bengkel yang terletak sedikit jauh dari mereka, lantas mereka mengalihkan pandangan ke arah suara itu berasal.


"Maaf Ayla, kalian juga, aku harus melanjutkan perkerjaanku!" ucap Cestian dengan ekspresi merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, lanjutkan saja perkerjaanmu, aku akan mengantar mereka berkeliling lagi," jawab Ayla tersenyum lembut.


"Nah Ayla...." ucap Cestian dengan nada gugup.


"Hmm?"


"M-maukah kau kapan-kapan makan malam bersamaku?" tanya Cestian pada Ayla sembari menahan rasa gugupnya.


Zaki, Linda dan Yuichi yang mendengar hal itu lantas kaget dan hanya bisa terdiam.


"Ah... boleh...." jawab Ayla dengan nada tersenyum polos.


"Eh?" batin Zaki, Yuichi dan Linda.


"Benarkah?... terimakasih banyak Ayla!... aku akan mentraktirmu makanan yang sangat enak...." ucap Cestian dengan penuh semangat.


"Baiklah... aku akan menunggu untuk itu," balas Ayla tersenyum lembut.


"Kalau begitu, aku akan melanjutkan perkerjaanku, kalian hati-hati ya!" ucap Cestian berpamitan sekaligus berlari kecil ke arah bengkel dan meninggalkan mereka.


"Nah Ayla... kau terlihat dekat dengannya," ucap Linda penasaran.


"Ah... dia adalah teman masa kecilku," balas Ayla pada Linda.


"Eh?... aku hanya menggangapnya sebagai teman masa kecilku saja," balas Ayla dengan senyuman polosnya yang tidak bersalah.


"K-kau... kau sangat jahat sekali Ayla...." batin mereka bertiga lagi dengan ekspresi kasihan terhadap Cestian.


Ayla, Zaki, Linda dan juga Yuichi pun melanjutkan tour mereka kebeberapa tempat.


Sementara itu, di rumah sakit, terlihat Casta yang berjalan menuju ruangan dimana Misca dirawat.


"Mayor... apakah kau di dalam?" tanya Casta sembari mengetuk pintu ruangan Misca dari luar.


"Masuklah."


Casta membuka pintu itu perlahan dari luar, dan terlihat Mayor Misca sedang duduk menyender di kasurnya dengan menggunakan baju rumah sakit yang berwarna biru muda sembari melihat ke arah kirinya dimana sebuah tirai tertutup dan bergoyang-goyang sendiri.


"Eh?... apa itu...." ucap Casta kaget melihat tirai itu bergerak sendiri.


"Hahaha... itu ulah Pempe," ucap Misca sembari tertawa.


"Pempe?"


Tiba-tiba dari balik tirai itu meloncatlah suatu makhluk kecil berbulu ke arah Misca dan duduk di pangkuannya.


Terlihatlah seekor monyet kecil berbulu sedikit tipis berwarna abu-abu dengan wajah yang sedikit bulat dan menggunakan sebuah kalung dogtag polos yang berwarna putih.


"Dia?... dari mana datangnya makhluk itu?" tanya Casta yang kaget dan penasaran sembari menuju kursi di samping kasur Misca dan duduk di sana.


"Ini adalah peliharaanku!... karena kurasa dia kesepian di gedung itu karena aku sedang di sini, jadi aku meminta para penjaga membawanya ke sini... hahaha," ucap Misca tertawa kecil sembari mengelus-elus kepala monyet kecil nan lucu itu.


"Peliharaan?... kenapa kau memelihara makhluk seperti itu?" tanya Casta heran.


"Hahaha... aku ingin melatihnya agar menjadi besar dan kuat!" ucap Misca dengan penuh semangat.


"Heh?... maksudnya kau ingin menyuruhnya bertarung?" tanya Casta lagi.


"Hmm...." angguk Misca dengan sedikit tersenyum dan memejamkan matanya.


"Emmm... apakah makhluk kecil itu bisa bertarung?" ucap Casta bingung dalam hatinya.


"Apakah kau ke sini untuk berpamitan?" tanya Misca dengan sedikit tersenyum.


"Iya, karena nanti siang kami akan kembali ke pusat," balas Casta lembut.


"Hmm... ngomong-ngomong dimana mereka?... biasanya mereka selalu bersamamu," tanya Misca heran.


"Ah... Ayla sedang mengajak mereka berkeliling gedung itu, lagi pula aku cuma sebentar, aku akan menyampaikan salam mu pada mereka," ucap Casta dengan nada sedikit sedih.


"Hahaha... kau tidak usah sedih begitu, jika kau lulus dalam seleksi Division itu...." ucap Misca dengan senyum yang sedikit memberikan tantangan.


"J-jangan bilang kau...." ucap Casta kaget.


"Ya... aku yang menjadi salah satu juri untuk ujian bertarung kalian!!!" ucap Misca tersenyum lebar dan memperlihatkan giginya.


"Eh?... b-bagaimana bisa!" ucap Casta dengan ekspresi yang sangat kaget.


"Hmm... aku meminta Mervis untuk mengajukan diriku menjadi juri di bagian ujian bertarung, dan para petinggi menyetujui hal itu... hahaha," jawab Misca sembari tertawa lebar.


"Huffttt...."


"Jadi... mau tidak mau kau dan mereka harus lulus," ucap Misca lagi.


"Mereka?... bukankah hanya aku dan... jangan-jangan...." ucap Casta lagi-lagi kaget mengetahui hal itu.


"Ya, kau benar... meskipun begitu mereka akan dilatih hal dasar untuk menjadi tentara terlebih dahulu," balas Misca santai.


"Hmph... aku tidak yakin mereka berdua bisa," ucap Casta dengan nada menyindir.


"Hahaha... sepertinya kau sangat menyukai mereka berdua yah!" tawa Misca keras.


"Heh?... A-aku tidak menyukai mereka!... aku juga tidak menyukai semua tindakan yang mereka lakukan...." tepis Casta mencoba menjelaskan.


"Hahaha... justru itulah hal yang memperlihatkan kalau kau menyukai mereka berdua... hahaha," Misca terus tertawa mengejek Casta.


"Mayorrrr...." ucap Casta dengan nada kesal dan sedikit menyeramkan.


"Eh?...." ucap Misca dengan nada sedikit konyolnya.


"Hufftt... jadi bagaimana keadaan pak Jancoct?" tanya Casta mencoba menahan perasaannya.


"Ah... papa baik-baik saja, ia hanya mendapat luka kecil pada kakinya," jelas Misca.


"Syukurlah kalau begitu, sampaikan maaf ku pada beliau karena tidak sempat mengunjunginya," ucap Casta merasa bersalah.


"Hahaha... santai saja, lagi pula kau harus cepat kembali kan," balas Misca santai.


"Kalau begitu... Mayor, aku izin pamit untuk kembali ke ibu kota duluan, semoga kau cepat sembuh," ucap Casta berpamitan pada Misca.


"Hmm... pastikan kau lulus dari seleksi itu, aku akan menunggumu di ujian," angguk Misca sembari tersenyum kecil.


"Aku pamit dulu ya monyet kecil...." ucap Casta mencoba menyentuh monyet kecil yang berada di pangkuan Misca.


"Hahaha... Pempe ucapkan salam pada Casta," ucap Misca tertawa kecil.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi Mayor...." ucap Casta berdiri dari kursinya dan berjalan keluar ruangan itu.


"Baiklah... hati-hati di jalan," ucap Misca sembari mengangkat tangan kanan Pempe dan melambaikannya ke arah Casta.


"Pempe?... kurasa aku pernah mendengar nama itu...." batin Casta mencoba mengingat sesuatu.


Casta pun berjalan keluar dari rumah sakit itu dan berjalan kembali ke kantor Mervis untuk bersiap berangkat kembali ke ibu kota.


Sementara itu di kantor Mervis, Ayla yang sudah berkeliling bersama Zaki, Linda dan juga Yuichi kini tengah mempersiapkan barang-barang yang diminta oleh Mervis dan akan dibawa ke pusat dengan bantuan beberapa para prajurit lainnya.


"Nah Ayla... apakah Casta belum kembali?" tanya Linda dengan ekspresi khawatir.


"Mungkin sebentar lagi, karena hari sudah hampir siang, pasti dia sedang berada di jalan sekarang," ucap Ayla tersenyum kecil sembari mengangkat sebuah kotak yang sedikit besar ke arah mobil pickup yang berwarna hitam.


"Nah Zaki, apakah kau kuat mengangkat kotak besar ini sendiri?" tantang Yuichi sembari menunjuk sebuah kotak besar di hadapannya.


"Hmph... kau kira aku siapa, sangat mudah bagiku mengangkat kotak sekecil ini," balas Zaki dengan nada yang percaya diri.


"Yosh... kalau begitu bagaimana jika kita berlomba mengangkatnya ke sana?" ucap Yuichi sembari menunjuk sebuah truk penghangkut barang militer yang berbentuk seperti Reo M35 besar yang berwarna hijau.


"Hmph... aku tidak akan kalah dari mu...." balas Zaki sembari mulai mengangkat kotak besar yang dilapisi oleh papan seberat 250kg itu.


Ketika mereka lagi berlomba mengangkat benda berat itu, tiba-tiba Mervis datang menghampiri mereka.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Mervis pada Zaki dan Yuichi.


"Kami sedang berlomba mengangkat benda bodoh ini...." jawab Yuichi dengan ekspresi konyolnya.


"Hah?... apa yang kau sebut benda bodoh," balas Mervis dengan nada kesal.


"Kalau boleh tau apa isi dari kotak ini?" tanya Zaki penasaran.


"Itu berisi berbagai senjata," jawab Mervis santai.


"Senjata?" ucap Yuichi bingung.


"Ya, senjata itu akan dibawa ke pusat, dan akan dikirimkan lagi ke perbatasan untuk diberikan pada para prajurit yang sedang berperang di sana," jelas Mervis.


"Heh?... kenapa tidak langsung saja mengirimnya dari sini?... kenapa harus bolak balik seperti itu?" tanya Yuichi dengan berbagai pertanyaannya.


"Hmph... karena senjata-senjata ini akan diperiksa kembali oleh petugas di sana dan akan dikirimkan secara serentak bersama senjata lainnya, lagipula persenjataan ini akan dikirimkan melalui transportasi laut," jelas Mervis lagi.


"Laut?... apakah di sini ada lautnya?" tanya Linda bingung.


"Ya, karena kita merupakan negara kepulauan," jawab Ayla dengan tersenyum semangat.


"Heh?... bukankah itu hebat, apakah kita bisa melihat laut tersebut?" ucap Yuichi dengan penuh semangat.


"Jika kau ingin melihatnya, kau harus mengikuti seleksi tentara terlebih dahulu, jika kau tidak mati, maka kau akan bisa melihatnya," ucap Mervis dengan nada sedikit serius.


"Eh?... semengerikan itukah untuk bisa melihat laut itu?" ucap Zaki dengan ekspresi polosnya.


"Ah... hehe... hehe... Kolonel terlalu berlebihan," batin Ayla dengan senyum yang dibuat-buat.


"Yosh... kalau begitu aku akan menjadi tentara yang kau bilang itu dan akan melihat lautnya," ucap Yuichi dengan penuh semangat.


Disaat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba Casta terlihat dari gerbang dan menyapa mereka dari jauh.


"Ah... Casta sudah kembali," ucap Ayla.


"Kalau begitu, percepat perkerjaan kalian, dan kita akan bersiap berangkat," ucap Mervis sembari kembali meninggalkan mereka.


Ketika Casta sudah mendekat ke mereka, lantas Casta bertanya pada mereka.


"Hmm... apa yang kalian lakukan?" tanya Casta bingung.


"Kolonel meminta kita untuk mengangkut barang yang akan dibawa ke pusat," jelas Ayla.


"Ah... begitukah, kalau begitu aku akan membantu biar cepat selesai," balas Casta.


Lalu merekapun mengangkut satu persatu kotak dan memindahkannya ke mobil yang sudah disediakan dan dibantu oleh beberapa prajurit lainnya.


Ketika semua barang sudah selesai dinaikan ke mobil, Mervis menghampiri mereka menggunakan sebuah mobil keperwiraan tentaranya dengan kapasitas seat enam orang.


"Naiklah, kita akan berangkat kepusat," perintah Mervis.


"Baik Kolonel!!" ucap Casta dan Ayla tegas.


"B-baik Kolonel...." ucap Linda yang ikut melihat Casta dan Ayla.


"Ah... aku tidak sabar ingin melihat kantor pusatnya...." ucap Linda lagi dengan penuh semangat.


"Hmm... kau pasti akan menyukainya Linda...." ucap Ayla tersenyum semangat.