
Di dalam sebuah tempat yang sangat luas dan gelap, terlihat cahaya oranye, ya, cahaya tersebut berasal dari sebuah api unggun.
Terlihat ada seseorang yang sedang duduk di sebuah batang kayu kecil dekat api unggun tersebut sembari melihat ke arah api yang berwarna oranye itu.
Namun, tiba-tiba terdengar suara dari dalam kegelapan yang sepertinya berbicara ke orang yang tengah duduk di dekat api unggun tersebut.
"Apa kau masih memegang teguh prinsip bodoh mu itu?" ucap suara itu dengan nada yang terdengar sangat berat.
"Ya... kurasa aku tidak banyak berubah...." ucap orang tersebut sembari tetap menatap api itu disertai ekspresi yang terlihat sedikit dingin.
"Jika kau tetap seperti itu, kau tidak akan bisa melindungi siapapun!" ucap suara asing itu.
"Tidak... seperti sebelumnya... aku akan tetap melakukannya!" ucap orang tersebut sembari terlihat sedikit senyuman dibibirnya.
"Baiklah... lakukan apa yang ingin kau lakukan!" ucap suara asing itu lagi.
Lalu orang tersebut mengalihkan pandangannya dari api unggun itu dan melihat ke depan serta sedikit mengangkat kepalanya ke atas, terlihatlah bayangan sebuah makhluk yang sangat besar berbentuk seperti seekor serigala dengan mata berwarna putih di sebelah kanan dan berwarna hitam di sebelah kiri terlihat sedikit menyala dengan aura hitam pekat yang berada di sekujur tubuh makhluk tersebut.
"Ya...." balas orang tersebut dengan tetap tersenyum kecil.
Tiba-tiba cahaya putih yang sangat terang muncul di depan matanya dan membawanya masuk ke dalam cahaya tersebut, lalu keadaan menjadi sangat gelap seketika.
"Hey, dia sudah bangun!" terdengar suara sayup-sayup seseorang.
Zaki membuka matanya dengan perlahan, ia melihat Linda yang terlihat mengkhawatirkan dirinya.
"Ternyata kau bisa bangun juga ya, dasar bodoh!" ucap Casta ke arah Zaki dengan nada dinginnya.
Lalu Casta berjalan dari dekat jendela tempat dia berdiri menuju ke arah Zaki yang sedang terbaring dan terlihat masih sedikit bingung.
Casta langsung memegang kening Zaki dengan punggung tangan kanannya.
"Apakah masih panas?" tanya Linda khawatir.
"Sedikit, sepertinya dia akan segera sembuh!" jawab Casta dengan sedikit tersenyum ke arah Linda.
"Ah... syukurlah kalau begitu...." ucap Linda lega.
Zaki yang masih bingung melihat mereka hanya bisa terdiam saja dan memperhatikan ruangan sekitarnya.
Kemudian pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka, dan merekapun mengalihkan pandangan ke arah pintu tersebut.
Ternyata Ayla yang datang membawa beberapa makanan untuk mereka, dan membawakan semangkuk bubur hangat untuk Zaki.
"Zaki... ini untukmu...." ucap Ayla lembut sembari mengulurkan tangan kanannya dan memberikan bubur tersebut ke Zaki.
Zaki yang bingung pun lantas bertanya pada mereka sembari memegang semangkok bubur ditangannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Zaki dengan nada pelan.
"Kau sudah tertidur selama 3 hari," ucap Ayla.
"Kukira kau sudah tidak akan bangun lagi... hmph!" ucap Casta membuang mukanya dan membalik badannya menuju pintu keluar.
"Casta... kau mau kemana?" tanya Linda penasaran.
"Aku akan memberitahu Kolonel Mervis," jawab Casta santai.
Lalu Casta meninggalkan ruangan tersebut untuk pergi menemui Mervis dan memberitahu bahwa Zaki sudah bangun.
"Nah Linda... apa yang terjadi?" tanya Zaki masih penasaran.
"Kau pingsan setelah melindungi ku dan juga Yuichi...." ucap Linda dengan nada khawatir.
"Pingsan?" ucap Zaki bingung.
"Kau mencoba menghadapi Kolonel Richa saat beliau ingin menyerang Yuichi dan Linda," beritahu Ayla sembari mencoba mengambilkan sendok dan diberikan ke Zaki.
"Lalu... mana Yuichi?" tanya Zaki sembari melihat kesekitar ruangan.
"Ah... dia lagi di kamar mandi!" jawab Linda sembari tersenyum.
"Oh iya Zaki... pertemuannya ditunda karena para petinggi menunggumu bangun!" ucap Ayla sambil mengambil kembali mangkok bubur yang berada di tangan Zaki.
"Pertemuan?" tanya Zaki kebingungan karena ia tidak tau apa yang sudah ia lewatkan selama tertidur.
"Ya, para kandidat Division sudah ditentukan... dan kita akan dikumpulkan dalam satu ruangan, tetapi tertunda karena kau sedang tertidur dan tidak kunjung bangun... hahaha!" ucap Ayla sembari duduk disebelah kasur Zaki dan menyuapi Zaki bubur.
Ayla terus memberikan informasi yang ingin diketahui Zaki, tetapi, Linda terlihat sedikit cemberut sembari mengembungkan pipinya karena melihat Ayla yang terus menyuapi Zaki di depan matanya.
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka, lantas mereka mengalihkan pandangannya ke pintu tersebut, ternyata Yuichi sudah kembali ke kamar tempat Zaki, Linda dan Ayla berada sambil telanjang dada serta memegang handuk dengan tangan kanannya dan mengusapkan benda itu ke rambut panjang sepinggangnya yang berwarna merah dan terlihat sedikit bersinar.
"Ah Yuichi... kau sudah kembali!" sapa Ayla lembut.
"Hmm...." angguknya sembari melihat ke arah Zaki.
"Heh?... kau sudah bangun Zaki!!" teriaknya lagi dan berlari ke arah Zaki.
"H-hallo...." ucap Zaki sembari mengangkat tangan kanannya menyapa Yuichi.
"Apa kau sudah baik-baik saja sekarang Zaki?" tanya Yuichi pelan.
"Heh?... ada apa denganmu?" tanya Zaki bingung.
"Hahaha... aku sudah bicara pada Kolonel bodoh itu!" beritahu Yuichi.
"Hee?... untung saja dia tidak berada di sini, kalau dia mendengarnya kurasa dia sudah membunuhmu sekarang," ucap Zaki dengan nada dinginnya.
"Yuichi... kau harus bersikap sopan terhadap Kolonel, karena dia sudah memberikan kita tempat untuk tinggal," ucap Linda sedikit memarahi Yuichi.
"Hahaha... maaf Linda!" ucap Yuichi meminta maaf pada Linda.
"Lalu?... apa yang kau bicarakan?" tanya Zaki.
"Ya... jika kau masih belum terbangun juga... aku berencana akan memulai latihan secara personal dengannya!"
"Hah?... kau ingin mendahuluiku?... dasar rambut kuda!" teriak Zaki dengan nada kesal namun sedikit tersenyum.
"Hahaha... karena kau sudah bangun... mari kita lakukan yang terbaik untuk mengungkap dunia apa ini sebenarnya!" ucap Yuichi sembari tersenyum dan memperlihatkan sedikit giginya.
"Hmph... kau terlalu bersemangat...." ucap Zaki sembari melihat ke arah Linda.
"Bukankah diriku memang seperti ini... kan Kap-ten!!" ucap Yuichi lagi dengan tetap tertawa kecil.
"Heh?... Kapten?" ucap Ayla dan Linda bingung.
"Kenapa kau memanggil Zaki dengan sebutan Kapten Yuichi?" tanya Linda bingung dan sedikit memiringkan kepalanya ke kanan.
"Hmm... kurasa dia yang akan menjadi pemimpin kita nanti di tim apa itu namanya?" ucap Yuichi sembari menenang dagunya dan terlihat sedikit berfikir.
"Division!" beritahu Ayla.
"Ah itu!"
"Kenapa bisa Zaki menjadi pemimpin?... dan kita?" tanya Ayla bingung.
"Hmm... karena dia sudah menyelamatkan kita berulang kali, kau ingat?... tapi... Zaki selalu pingsan disaat situasi genting," ucap Yuichi tetap berfikir dan memegang dagunya.
"Ah... kau benar Yuichi... dan saat Zaki pingsan, entah kenapa tiba-tiba keadaan menjadi lebih baik!" ucap Linda dengan mata yang berbinar-binar.
"Hmm... aku tidak bisa menyangkalnya... mungkinkah Zaki harus pingsan untuk merubah keadaan?" tanya Ayla bingung.
Zaki yang melihat mereka terus berspekulasi tentang dirinya hanya bisa terdiam tanpa kata sedikitpun.
"Hmph... aku tidak mau dipimpin oleh orang yang bodoh."
Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu, dan ternyata itu adalah Casta dan Mervis.
"Hah?... apa maksudmu?" tanya Yuichi sembari melihat ke arah Casta dengan ekspresi dan nada kesal.
"Ah... Casta kau sudah kembali...." ucap Linda tersenyum.
Lalu Yuichi menghampiri Casta yang tengah bersandar di dinding dekat pintu.
"Tidakkah kau melihat jika kita selalu diselamatkan oleh Zaki?" tanya Yuichi yang kesal.
"Hmph... aku bahkan tidak melihat dia melakukan apapun, itu tidak bisa dianggap menyelamatkan siapapun... lagipula, bukankah ada orang yang lebih berperan penting ketika kita selalu dilanda masalah?"
"Seperti di Bergorm, bukankah Mayor Misca dan Kolonel Mervis yang menyelamatkan kita?" tanya Casta lagi pada Yuichi dengan nada dan ekspresi yang juga terlihat kesal.
"Lagi pula... yang bisa dia lakukan hanyalah pingsan disaat-saat situasi genting... bukankah itu menambah masalah?... seperti hari ini... kita hanya menunggunya bangun selama tiga hari agar bisa berkumpul dengan kandidat Division yang lain?"
Yuichi hanya bisa terdiam mendengar ocehan Casta terhadap dirinya. Ruangan mendadak hening dan terlihat Mervis hanya membaca buku yang ia bawa dari ruangannya.
"Karena saat bersama kalian berdua entah kenapa aku selalu terlibat dalam suatu masalah... kekuatan?... jangan bercanda... kalian berdua bahkan mungkin tidak akan bisa menggunakan Artifacts manapun," bentak Casta sembari melihat ke arah Yuichi dengan nada yang sedikit kencang.
Yuichi lantas mengepalkan tangannya dan dengan reflek ingin memukul Casta.
"Yuichi... sudah cukup!" teriak Zaki mencoba menghentikan Yuichi.
"Casta...." ucap Linda dan Ayla dengan ekspresi sedihnya.
"Cih...." ucap Yuichi sembari menahan pukulan dan amarahnya.
"Hmm... bisakah kalian tidak berisik," ucap Mervis dengan nada santainya sembari tetap fokus membaca buku yang ia pegang.
"Terserah kalian saja!" ucap Casta keluar dari ruangan tersebut dan pergi meninggalkan mereka.
Melihat Casta yang pergi, Linda mencoba mengejarnya, namun, ditahan oleh Ayla.
"Tidak Linda... berikan Casta waktu untuk sendiri...." ucap Ayla mencoba menahan Linda yang ingin mengejar Casta.
"Ada apa dengannya hari ini?" tanya Linda bingung.
"Kurasa dia sedang kelelahan karena akhir-akhir ini dia jarang beristirahat... jadi kurasa kita biarkan dia sendirian dulu!' ucap Ayla tersenyum lembut ke Linda.
Zaki menundukkan kepalanya dan melihat telapak tangannya.
"Artifacts kah?" ucapnya pelan.
Mervis yang mendengar kata-kata itu lantas mengalihkan pandangan dari bukunya ke arah Zaki sembari tersenyum kecil.
"Ehem... baiklah kalau begitu...." Mervis berpura-pura batuk sembari menutup buku yang sedang ia baca.
Mereka semua lantas melihat ke arah Mervis.
"Kolonel...." ucap Ayla bingung.
"Zaki... apa kau sudah bisa bergerak?... untuk mempersingkat waktu... hari ini aku akan mengumpulkan para kandidat Division," ucap Mervis dengan nada santainya.
"Hari ini?" tanya Ayla kaget.
"Ya... namun... hari in...." belum selesai Mervis berbicara terdengar ada yang memotong perkataannya.
"Pertemuan hari ini hanya membahas peraturan dan pengenalan kalian!" potong suara yang berasal dari luar.
"J-Jendral!!" hormat Ayla dan Mervis pada Celiona.
"Bagaimana kondisimu anak muda...." tanya Celiona sembari mendekat ke arah Zaki untuk memeriksa keadaannnya.
"Ah... aku sudah tidak apa-apa!" jawab Zaki gugup.
"Maaf terlambat mengenalkan diri pada kalian... aku salah satu petinggi di negara ini... Celiona Yosaku!" beritahu Celiona pada Linda, Zaki dan juga Yuichi.
"Petinggi?" tanya Linda bingung.
"Hmm... lebih tepatnya yang membantu beliau mengatur sistem di negara ini," jawab Celiona dengan raut wajah yang sedikit memerah.
"Beliau?" tanya Zaki bingung.
"Ya... Pemimpin tertinggi di negara ini... beliau dikenal dengan sebutan The Void!" jawab Celiona lagi.
"The Void?" tanya mereka bertiga bingung.
"Beliau adalah pemilik Artifacts dengan Rarity tertinggi yang pernah ada!" ucap Celiona dengan wajah yang memerah dan sedikit tersipu malu.
"Rarity tertinggi?" tanya Zaki lagi.
"Mythical Artifacts...." balas Celiona dengan nada berubah menjadi sedikit serius.
"Mythical...." ucap Linda dan Ayla terkejut.
"Ya... hanya beberapa orang di dunia ini yang bisa menggunakan kekuatan murni dari benda tersebut... menurut rumor yang ada dan juga dongeng dari zaman dahulu... Artifacts dengan Rarity ini hanya terdapat sekitar 15 sampai 20 Artifacts saja!" jelas Celiona pada mereka.
"Wah... bukankah itu sangat keren...." ucap Linda dengan mata yang berbinar-binar.
"Tapi... bagaimana bisa benda-benda seperti itu muncul di dunia ini?" tanya Linda bingung.
"Hmm... kalau itu aku tidak tahu... karena cerita seperti itu tidak pernah terdengar olehku," jawab Celiona.
"Nah Kolonel...." ucap Yuichi yang masih terdiam dengan mengepalkan tangannya dan menghadap ke dinding.
"Hmm?"
"Kapan latihan kami akan dimulai?... aku akan menunjukkan padanya kekuatanku dan membuatnya mengakuinya...." tanya Yuichi sembari melihat ke arah Mervis dengan nada yang terdengar sedikit serius.
"Haaaah... kau masih saja memikirkan hal tersebut...." ucap Zaki sembari menghela nafas panjang.
"Kalian akan menjalani latihan selama tiga bulan terlebih dahulu... untuk melihat potensi dan kelayakan kalian, jika ingin mengikuti ujian menjadi anggota Division... tapi hari ini akan ada pertemuan antar kandidat yang akan mengikuti ujian tersebut bersama kalian nantinya!" ucap Celiona.
"Kau sudah dengar itu kan... jika kau ingin dia mengakui dirimu... kau harus menujukkan terlebih dahulu kelayakanmu untuk bergabung ke dalam pasukan tentara," ucap Mervis sembari tersenyum kecil pada Yuichi.
"Ya... aku akan menunjukkannya dan membuatnya menyesal karena telah menghinaku!" tegas Yuichi.
"Itu baru semangat anak muda...." ucap Celiona sembari tersenyum kecil pada mereka.
"Nah Zaki... jika kau sudah bisa bergerak, pergilah bersihkan tubuhmu terlebih dahulu, Ayla akan mengantar kalian ke tempat pertemuannya nanti... karena aku harus bersiap-siap terlebih dahulu!" ucap Mervis santai.
"Baik Kolonel!" ucap Zaki dan Ayla.
"Yosh... aku juga harus bersiap-siap... kita akan bertemu lagi di aula gedung barat jam 2 nanti!" ucap Celiona sembari berjalan menuju pintu keluar.
"Siap Jendral!" ucap Mervis dan Ayla sembari memberi hormat.
Mervis pun ikut menyusul keluar dan berjalan di belakang Jendral Celiona.
"J-Jendral...." panggil Mervis.
"Hmm?"
"Kenapa anda memberikan waktu tiga bulan untuk mereka latihan?... bukankah itu berarti ujian yang sebelumnya akan dijadwalkan tanggal 25 harus diundur menjadi tiga bulan kedepan?" tanya Mervis bingung.
"Ya... aku akan membicarakan hal tersebut kepada para petinggi lainnya... karena kurasa mereka membutuhkan waktu untuk mereka mengingatnya kembali!" jawab Celiona sedikit serius.
"Menggingat kembali?" tanya Mervis lagi dengan ekspresi bingung.
"Kurasa di zamannya... mereka juga seorang tentara!" ucap Celiona lagi.
"Mereka?... tentara?" tanya Mervis dengan sedikit kaget.
"Kurasa seperti itu... karena mereka menjadi uji coba laboratorium itu bukan?... dan mereka di kirim ke sini karena suatu hal yang tidak kita ketahui...." balas Celiona dengan nada serius.
"Uji coba?... bukankah pembekuan itu menggunakan salah satu Artifacts?" tanya Mervis bingung.
"Saat bertemu langsung dengan mereka pertama kali... aku melihat sesuatu yang tidak biasa... dan juga pembekuan tersebut memang menggunakan Artifacts... mungkin mereka menggunakan salah satu dari Legendary Artifacts yaitu Freezing Hall!" jawab Celiona dengan ekspresi yang sedang terlihat memikirkan sesuatu.
"Legendary Artifacts : Freezing Hall?" ucap Mervis dengan nada kaget.
"Ya... menurut buku catatan kuno yang kutemui sewaktu bertugas... ada sebuah catatan yang sedikit membahas beberapa Artifacts kuat pada zaman dahulu... termasuk Freezing Hall... di sana dikatakan jika menggunakan Artifacts ini, maka target yang diinginkan akan membeku selama ribuan tahun dan mencakup area yang sangat luas serta di jaga oleh sebuah Golem Es yang sangat besar!" jelas Celiona.
"Luar biasa Jendral... anda bisa mengetahui hal-hal tersebut!" puji Mervis.
"Tidak... jika tidak adanya beberapa catatan sejarah tersebut aku juga tidak bisa memastikan Artifacts apa yang mereka gunakan!"
"Lalu?... apakah hilangnya ingatan mereka juga dipengaruhi oleh pembekuan tersebut?"
"Kurasa tidak...." ucap Celiona menghentikan langkahnya.
"Mungkinkah?" ucap Mervis dengan nada kaget.
"Ya... mereka tidak menggunakan satu Artifacts pada saat itu... karena laboratorium itu baru ditemukan dan terlihat sekarang... mengingat sebelumnya para penjaga sering berpatroli di sana dan tidak ada masalah apapun... bisa jadi mereka menggunakan tiga atau empat Artifacts lainnya dengan Rarity yang berbeda!" jelas Celiona dengan ekspresi fokus berfikir.
"Mungkinkah ada orang yang bisa menggunakan tiga sampai empat Artifacts seorang diri?" tanya Mervis kaget.
"Aku tidak tahu soal itu... karena masih banyak hal lain yang ingin ku pecahkan... jadi masalah itu akan ku selesaikan nanti!" balas Celiona melanjutkan langkahnya.
"B-baik Jendral!" ucap Mervis.
Merekapun berjalan hingga sampai ke perempatan jalan di dalam gedung tersebut.
"Nah Mervis... kau kumpulkan mereka di tempat yang sudah disebutkan tadi... aku akan ke ruanganku terlebih dahulu untuk menyiapkan beberapa berkas!" perintah Celiona.
"Baiklah Jendral!" ucap Mervis sembari memberi hormat.
"Ah satu lagi... jangan katakan pada siapapun tentang pembicaraan kita barusan... karena itu seharusnya menjadi rahasia bagi para petinggi!" ucap Celiona santai.
"Eh?... b-baik Jendral... saya tidak akan membicarakan hal itu pada siapapun!" balas Mervis.
Celiona pun pergi menuju ruangannya yang berada di lantai tiga.
"Mereka... tentara kah?"
Mervis terlihat sedikit tersenyum, kemudian ia kembali berjalan ke arah pintu keluar untuk mengumpulkan para kandidat di aula gedung barat.
Sementara itu di ruangan kamar tempat Zaki, Ayla, Linda dan juga Yuichi berada, terlihat Zaki tengah bersiap-siap dengan memakai baju kaos berwarna hitam dengan gambar rusa di bagian depan bajunya.
"Baju-baju di sini sudah disiapkan oleh Kolonel Mervis dan bisa kalian pakai," ucap Ayla yang sedang mencari baju untuk Linda.
"Hmm... seberapa banyak orang yang akan kita temui nanti, Ayla?" tanya Linda yang sedang terlihat mencoba beberapa baju.
"Aku tidak tahu soal itu, karena mereka dipilih oleh beberapa Kolonel dan juga bersifat rahasia!" balas Ayla menggelengkan kepalanya.
"Lalu, apa cuma kalian berdua yang dipilih oleh Kolonel Mervis?" tanya Zaki.
"Tidak... aku meminta Kolonel Louis agar diizinkan untuk mengikuti seleksinya... kalau Kolonel Mervis... kurasa cuma memilih dua... hmm... ah dan juga kalian bertiga... jadi totalnya ada lima," jawab Ayla sembari tertawa kecil.
"Casta kah?... lalu siapa satu lagi?" tanya Linda lagi penasaran.
"Kurasa... Vernica...." jawab Ayla dengan nada ragu dan meletakkan jari telunjukknya di dagunya.
"Vernica?" ucap Linda bingung.
"Ya... Vernica Luya... dia satu grup dengan Casta," balas Ayla.
"Heee... wanita lagi kah?... apakah Kolonel Mervis suka sekali dengan wanita," sindir Zaki dengan ekspresi bodohnya.
"Hahaha... kurasa itu kebetulan saja... karena di grupnya juga ada beberapa pria, tetapi tetap saja Kolonel memilih mereka berdasarkan potensi... mungkin...." ucap Ayla lagi-lagi meletakkan jari telunjukknya di dagunya.
"Sudah hampir jam 2, ayo kita berangkat ke sana... dan berkumpul dengan mereka!" ajak Ayla.
"Hmm...." angguk Linda.
Merekapun pergi menuju aula gedung barat dimana tempat para kandidat yang terpilih akan berkumpul.
Sementara itu di gedung barat, terlihat sebuah aula yang sangat besar dan terdapat banyak orang yang berkumpul di sana.
Sebuah pintu yang cukup besar tiba-tiba terbuka, orang-orang yang berada di dalam aula tersebut lantas mengalihkan pandangannya yang mana sebelumnya mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri dan juga ada yang tengah asik mengobrol.
Ternyata, Kolonel dan juga Jendral memasuki ruangan tersebut, yang mana Jendral Rayfox, Eugine, dan juga Celiona memasuki aula tersebut terlebih dahulu dan diikuti oleh beberapa Kolonel di belakangnya.
Para kandidat yang tengah berkumpul langsung berbaris dengan rapi menghadap ke arah panggung sembari memberikan hormat mereka kepala para Jendral dan Kolonel yang tengah berjalan menuju panggung aula.
Dan yang terakhir masuk ke dalam ruangan tersebut adalah Casta dan juga bersama satu temannya.
Di atas panggung terdapat empat kursi yang terlihat sangat elegan dengan warna merah pada busa dan sandarannya serta berwarna kuning keemasan yang mengkilap pada bagian rangka kursinya.
Para Jendral duduk di kursi itu dan disertai para Kolonel yang berdiri berbaris di belakang kursi tersebut.
"Celin... aku tidak melihat Sekar... dimana dia?" tanya Rayfox sembari memperhatikan sekelilingnya.
"Ah itu... aku memerintahkannya untuk terjun ke pertempuran dan menyapu habis pasukan inti musuh!" jawab Celiona santai.
"Apa kau ingin memancing keluar pengguna Artifacts Legendary milik musuh?" tanya Eugine.
"Hmm... awalnya aku hanya ingin menahan serangan mereka sampai para anggota Division terpilih... jadi aku tidak punya pilihan selain menurunkannya langsung ke medan pertempuran," balas Celiona.
"Tapi... jika musuh terpancing dan mengeluarkan kekuatan Artifacts mereka... bukankah itu seperti sambil menyelam minum air!" lanjutnya.
"Meski begitu... kekuatan Sekar memang tidak bisa dianggap sepele... karena kau memberinya Legendary Artifacts yang digunakan oleh salah satu mantan Twelve Disorder," ucap Eugine dengan ekspresi yang terlihat sedikit serius.
"Hmm... Legendary Artifacts : Gun of Darkness, kah!" ujar Rayfox yang terlihat sedikit memikirkan sesuatu.
Celiona yang dari tadi memperhatikan sekeliling lantas bertanya kepada Mervis.
"Mervis... dimana mereka?"
"Saya rasa mereka dalam perjalanan!" jawab Mervis dengan tegas.
"Ya... semoga mereka tidak terlambat...." ucap Celiona khawatir.
"Tenang saja Jendral... saya yakin mereka akan segera tiba!" balas Mervis mencoba mencairkan suasana.
Dari belakang panggung tiba-tiba datanglah seorang pria bertubuh besar dengan jenggot tipis, mata berwarna hitam, rambut berwarna hitam dan sedikit gondrong, dengan memakai pakaian perwira tentara berwarna merah dengan corak putih, di pundaknya telihat lencana pangkat yang tergambar dengan empat bintang, serta di bagian wajah kirinya terdapat sebuah garis luka yang cukup panjang hingga kebagian leher, pada bagian dadanya kirinya terdapat beberapa ribbon bar dan di atas ribbon tersebut ada sebuah badge dengan bentuk pisau berwarna emas.
Dengan raut wajah yang sedikit memperlihatkan tatapan intimidasi, ia berjalan keatas panggung dan menuju podium.
"Selamat siang... hari ini aku yang akan membacakan hal-hal penting dalam perekrutan dan ujian untuk menjadi anggota Division!" ucapnya dengan suara lantang dan tegas.