Old Division

Old Division
Chapter 1 - 3 : New Era



Mereka mendekat ke Yuichi untuk melihat benda yang baru saja terlihat dari dalam apel yang dihancurkan oleh Yuichi.


Casta melihat benda yang berada di tangan Yuichi dengan tatapan serius, lalu berkata padanya.


"Yuichi apa itu?"


"Kurasa ini kalung liontin."


"Dari mana kau tahu jika di dalam sana ada benda itu?"


"Aku hanya menebaknya saja, bukankah aneh, apel yang memiliki bekas gigitan di sisinya tetapi tidak memperlihatkan proses perubahan warna di sana."


"Lalu bagaimana kau bisa mengetahui jika apel itu berada di dalam tasku?"


"Hmm... bukankah aku sudah bilang jika hidungku ini sensitif terhadap sesuatu yang manis-manis... mungkin."


"Mungkin?"


"Eh... Yuichi sepertinya di sana ada foto," ucap Linda sambil mendekat ke arah Yuichi.


"Ya... tetapi gambarnya kurang jelas dan ini hanya gambar hitam putih," Yuichi sambil melihat liontin yang berada di gengamannya itu.


"Dua anak kecil, laki-laki dan perempuan, siapakah mereka?" ucap Linda lagi sambil mengambil liontin itu dari tangan Yuichi.


Lalu Zaki merapat ke Linda dan melihat dengan seksama gambar yang ada di dalam liontin tersebut.


Terlihat dua anak kecil sedang berdiri berdampingan di depan pohon besar, meski gambarnya tidak begitu jelas, tetapi masih bisa terlihat jika anak laki-laki yang berada di sebelah kiri sedang memegang sebuah pedang-pedangan di tangan kirinya dengan senyuman yang lebar, dan yang perempuan berada disebelah kanan terlihat sedang memeluk sebuah boneka dan tangan kirinya memegang sebuah bunga disertai senyuman yang lembut.


"Mereka terlihat bahagia...." ucap Zaki sambil tersenyum lembut melihat gambar itu.


"Ta-tapi kenapa bisa ada benda seperti itu di dalamnya," tanya Ayla heran.


"Sepertinya kita memang harus mengambil keterangan dari pemilik toko buah itu," ucap Casta.


Setelah membahas secara panjang lebar tentang liontin asing yang ditemukan dalam apel yang dibawa oleh Casta, dikarenakan hari yang sudah mulai gelap mereka pun mengakhiri percakapan dengan menanyakan tujuan ketiga orang itu.


"Nah Linda... lalu apa yang kalian rencanakan untuk kedepannya?" tanya Casta sambil melihat mereka.


"Aku tidak tahu, karena aku tidak ingat tentang diriku maupun masa laluku."


"Kalau kau Yuichi?... apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


"Hmm... aku belum memikirkannya."


Lalu tiba-tiba Zaki memotong pembicaraan Yuichi.


"Aku ingin bertemu dengan Kolonel itu lagi, bisakah kalian memberitahunya."


"Hah?... kenapa kau ingin bertemu dengannya?"


"Ada yang ingin aku tanyakan padanya!"


"Baiklah, aku akan memberitahu Kolonel bahwa kau ingin bertemu dengannya."


Casta yang mendengar ucapan Zaki hanya bisa mengiakan dan akan memberitahu Kolonel Mervis, akhirnya Casta dan Ayla berpamitan untuk pulang dari rumah sakit.


Dikarenakan hari sudah gelap mereka tidak langsung pulang kepusat, mereka memilih untuk mencari penginapan di kota Bergorm.


Sesampainya di depan pintu salah satu penginapan yang terlihat sedikit usang dan mengerikan, Ayla berkata pada Casta dengan sedikit lesu.


"Casta, kau yakin memilih tempat ini."


"Hmm... memangnya kenapa?"


"Apa kita tidak bisa mencari yang sedikit lebih layak dari ini?"


"Sepertinya tidak, karena kondisi keuanganku yang semakin sedikit terlebih lagi aku belum menerima gajiku bulan ini, dan disaat tugas begini Kolonel bahkan tidak memberikan kita tempat untuk tinggal ataupun uang," Casta mengeluh pada Ayla.


Ayla yang juga merasakan kondisi keuangan mereka yang kecil lantas tidak bisa berkata apa-apa lagi, lalu mereka masuk ke dalam dan menuju pelayannya.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Kami ingin memesan satu kamar untuk dua orang."


"Permalam biayanya 100 Joulle."


"Baiklah!"


"Kamarnya berada di lantai tiga," pelayan itu memberikan sebuah kunci dengan nomor 308.


"Terima Kasih."


Setelah membayar uang sewanya mereka langsung menuju ketangga yang berada di sebelah kiri dan untuk pergi ke kamar atas.


Ketika berada di depan pintu kamar dengan nomor 308, Casta membuka pintu itu menggunakan kunci yang sudah ia pegang dan masuk ke dalam kamar, terlihat sebuah kasur Spring Bed dengan ukuran yang lumayan besar dan muat untuk dua orang, lalu Ayla menghidupkan lampu yang cahayanya tidak begitu terang.


Casta kemudian duduk di kursi dan mengeluarkan sebuah buku diary serta buku laporan dan meletakkannya di atas meja lalu berkata pada Ayla.


"Ayla, kau mandi saja duluan, aku ingin mengecek kertas laporan hari ini."


"Hmm... Oke!"


Ayla yang sempat duduk di kasurpun berdiri, kemudian berjalan menuju kamar mandi, ia melepaskan pakaiannya serta meletakkannya di gantungan baju, lalu masuk ke kamar mandi yang ukurannya tidak terlalu besar serta terdapat sebuah Bathtub, ia mulai membasuh tubuhnya menggunakan Shower sebelum berendam menggunakan Bathtub tersebut.


Sementara Casta yang sibuk melihat beberapa lembaran kertas yang ia bawa, ia mengingat semua hal yang telah terjadi hari ini dan kembali ia penasaran dengan pria berbaju hitam yang ia temui pada siang hari serta apa hubungannya dengan liontin yang berada di dalam apel itu.


"Zaki kah...." Casta menyandarkan kepalanya kesandaran kursi serta berbicara pelan sambil melihat ke langit-langit dan menutup matanya perlahan.


Tidak lama kemudian Casta mendengar suara yang memanggil namanya, saat ia membuka matanya ternyata Ayla sudah selesai mandi, sambil mengosok-gosokan handuk ke rambutnya, Ayla bertanya pada Casta.


"Casta... kau terlihat lelah."


"Ah iya... karena hari ini terasa begitu menyebalkan."


"Haha... pasti karena mereka yah," Ayla tertawa kecil.


"Hufftt... Aku mau mandi dulu."


"Air hangatnya sudah aku siapkan."


"Terima kasih Ayla," sambil berlari kecil mendekati Ayla dan mencubit pipinya pelan.


Ketika usai membersihkan dirinya dengan Shower, Casta berendam di Bathtub yang sudah diisi air hangat, ketika sedang berendam ia memikirkan kembali tentang bergabung ke dalam anggota Division.


"Division kah...." lagi-lagi, ia berbicara pelan dan melihat ke langit-langit serta menutup matanya dengan perlahan.


Casta pun tertidur sambil berendam sekitar 10 menit, lalu terdengar lagi suara yang memanggilnya dari luar.


"Casta... apa kau baik-baik saja?"


Casta yang terbangun kaget dan membalas panggilan itu.


"A-Ah, hmm... aku tidak apa-apa, hanya ketiduran saja... ha... ha... haha...."


"Casta... Aku ingin pergi membeli makan sebentar, apa kau mau nitip?" tanya Ayla dari luar kamar mandi.


"Aku ingin kentang goreng."


"Hmm... Oke."


Ayla berjalan menuju tangga lobby dan keluar untuk membeli beberapa makanan, Casta pun menyudahi berendamnya dan keluar dari Bathtub serta mengambil handuk dari gantungan lalu mengeringkan tubuhnya.


Ia kembali ke kursi dimana kertas di atas meja sedikit berantakan, sambil tetap mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, ia mengambil dan melihat kembali satu kertas. Ya, kertas laporan, ia memikirkan apa yang akan ia tulis untuk diberikan ke Kolonel Mervis ketika mereka kembali kepusat.


Dan dengan handuk yang ia letakkan di kepalanya ia duduk lalu menulis hal apa saja yang ingin ia laporkan, tidak lama kemudian pintu kamar pun terbuka, ternyata Ayla sudah pulang dari membeli makanan dan ia membawa beberapa makanan untuk mereka makan.


"Aku pulang...."


"Ah... kau sudah pulang Ayla," Casta sambil melihat kantong plastik yang dibawa oleh Ayla.


"Hmm...." angguk Ayla sambil berjalan ke arah Casta dan memberikan kantong plastik yang berisi kentang goreng.


"Terima kasih Ayla."


"Nah... Casta, apakah besok kita sudah kembali ke pusat?"


"Iya... karena kurasa mereka akan baik-baik saja, lagi pula bukankah Zaki ingin aku menyampaikan pesannya pada Kolonel."


"Oh iya... bagaimana dengan bapak itu?"


"Hmm... mungkin besok sebelum kembali kita mampir sebentar ke rumah sakit untuk melihat keadaan bapak itu."


"Oke!... Casta, habis makan aku tidur duluan yah."


"Iya, aku akan menyelesaikan laporan ini dulu habis itu juga tidur."


Casta mengerjakan laporannya sambil mengemil kentang goreng miliknya, lalu tidak lama kemudian akhirnya ia menyelesaikan laporannya.


"Akhirnya selesai juga...."


Sambil meregangkan tubuh dan bahunya ia berdiri lalu menuju ke atas kasur yang mana Ayla sudah lebih dahulu tertidur, ketika berada dikasur, ia menarik selimutnya dan melihat wajah Ayla yang sudah tertidur pulas, ia melihat ke langit-langit, dalam hati berkata....


"Apa dia mau jika aku mengajaknya mendaftar ke Division?"


Lalu ia memejamkan matanya perlahan dan tertidur.


Kemudian saat tengah terlelap tidur, Casta merasakan perasaan panas pada bagian tubuhnya, dan sontak saja ia terbangun, saat membuka matanya ternyata hari sudah terang, dan ia melihat ke arah Ayla yang sedang membuka gorden jendela dan membuka jendelanya, angin yang sejukpun masuk ke dalam ruangan dan juga sinar matahari paginya.


"Eh... apakah aku membangunkanmu?" tanya Ayla pada Casta yang masih terlihat setengah sadar.


"Tidak apa-apa, ternyata sudah pagi," jawab Casta sambil menguap dan mengosok-gosok matanya.


Lalu Casta mengecek handphonenya yang ia letakkan di sebelah bantalnya, ternyata terdapat satu pesan masuk, ia langsung membuka pesan tersebut dan ternyata itu adalah pesan dari dokter Kurdan.


"Dokter Kurdan mengirimku pesan," ucap Casta berbicara sendiri.


"Apa isinya?" tanya Ayla penasaran.


"Dia memberitahu bahwa penjual buah itu sudah sedikit membaik, dan kita bisa bertanya padanya tentang apa yang sudah terjadi."


"Ah... itu kabar baik."


"Setelah sarapan kita akan langsung ke sana."


"Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu kemudian membeli makanan."


"Aku saja yang membeli makan, kau mandi saja."


"Hmm... baiklah, kalau begitu aku pesan roti dan susu."


"Oke... kita sarapan roti dan susu saja pagi ini."


Kemudian Ayla pergi menuju kamar mandi, sementara itu Casta beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri meregangkan tubuhnya lalu ia berjalan ke arah jendela yang sudah terbuka, ia melihat luar jendela pagi hari yang begitu indah, karena mereka berada di lantai tiga maka sudah cukup tinggi untuk melihat keindahan gedung-gedung yang disinari matahari pagi menambah kesan yang tidak bisa terucapkan serta orang-orang di luar tidak begitu ramai, tetapi ada yang berjalan-jalan dengan hewan peliharaannya dan berolahraga.


Lalu Casta yang hanya menggunakan tanktop lantas mengambil dan memakai bajunya lalu turun kebawah untuk membeli makanan, namun ketika ia turun ke lantai satu dan menuju pintu keluar, ada seorang pembantu yang sedang bersih-bersih di penginapan itu yang menyapa nya.


"Ah... Selamat pagi...." Casta membalas nya sambil tersenyum.


"Mau kemana pagi-pagi begini?"


"Saya ingin membeli makanan."


"Di ruangan belakang ada kantin yang menyediakan banyak makanan."


"Haa... benarkah?" ucap Casta tidak percaya.


"Hmm... kau bisa melewati jalan ini lalu lurus saja ke belakang," beritahu wanita itu.


"Terima kasih banyak," ucap Casta tersenyum lembut.


"Sama-sama," wanita itu juga tersenyum lembut.


Casta berpamitan dengan wanita itu dan pergi ke ruangan belakang untuk menuju kantin yang dimaksud, setelah berada di ruangan yang dimaksud ia memang melihat ada kantin yang buka di sana dan ternyata lumayan banyak orang yang berada di sana untuk sarapan.


Lalu Casta berjalan menuju penjual makanan di sana, dan disambut dengan ramah oleh penjualnya.


"Selamat pagi... ada yang bisa saya bantu?" sambut penjual wanita yang tersenyum ramah.


"Saya ingin memesan makanan."


"Makanan apa yang ingin dipesan, silahkan melihat menu terlebih dahulu," wanita itu memberikan buku menu kepada Casta.


Casta pun mengambil buku menu itu dan melihat-lihat makanan apa saja yang tersedia di sana. Setelah beberapa saat melihat menu akhirnya ia memesan sandwich dan susu.


"Saya pesan dua sandwich dan susu saja," Casta memesan sambil memberikan kembali buku menu itu kepenjualnya.


"Oke... tunggu sebentar yah...."


Sembari menunggu, Casta duduk di kursi yang kosong, sambil melihat suasana kantin yang semakin ramai orang yang ingin sarapan, ia tidak menyangka penginapan yang seperti ini akan banyak orang yang menginap di sini, ia berfikir mungkin karena harganya murah, sehingga orang-orang memilih penginapan di sini seperti dirinya.


Tidak lama kemudian penjual itu memanggil Casta untuk memberitahu bahwa pesannya sudah siap, Casta berdiri dari kursinya dan menuju penjual itu untuk membayar dan mengambil pesanannya, setelahnya ia pamit untuk kembali ke kamar.


Sesampainya di depan kamar, ia membuka pintu dan melihat Ayla yang sudah mandi berada di dekat jendela sambil menggosok-gosokkan handuk dirambutnya sembari melihat ke arah luar jendela, Ayla yang sadar Casta sudah kembali lantas berbalik badan dan menyambutnya.


"Ah... Casta kau sudah kembali."


"Hmm...." Casta sambil mengangguk dan menuju meja untuk meletakkan makanan yang ia bawa.


"Casta, di mana kau membeli makanan itu?... aku tidak melihatmu di luar?"


"Oh itu... aku membelinya di kantin belakang."


"Haaa?... di sini ada kantin?" ucap Ayla kaget.


"Iya, sewaktu aku ingin keluar ada wanita yang sedang bersih-bersih memberitahuku di belakang sana ada kantinnya."


"Hmm... tetapi aku tidak menyangka di tempat seperti ini mereka membuka kantin."


"Di sana juga lumayan ramai, mungkin karena harga penginapan yang murah jadi banyak yang menginap di sini."


"Haha... mungkin saja."


"Nah... ayo kita makan dulu, habis itu aku mau mandi dan kita bersiap-siap ke rumah sakit."


"Okehh...."


Ketika mereka sedang asik makan dan mengobrol, tiba-tiba Casta mendengar handphonenya berbunyi, lantas saja ia mengambil handphone nya untuk melihat ada apa, setelah dilihat ternyata sebuah pesan masuk dari Kolonel Mervis yang menanyakan bagaimana tugas mereka di sana.


"Hmm... ada apa Casta."


"Kolonel Mervis mengirimku pesan dan ia menanyakan bagaimana keadaan mereka bertiga."


"Hmm... enak sekali kau diperhatikan terus seperti itu... Kolonel Louis bahkan sangat jarang mengirimkan pesan seperti itu," ungkap Ayla dengan nada dan ekspresi lesunya.


"A-A-Ah bukan seperti itu, ini hanya atasan yang menanyakan kinerja bawahannya... jangan berfikir yang aneh-aneh...." Casta mencoba menepis maksud Ayla.


"Hmmmmm...." sindir Ayla dengan ekspresi konyolnya.


"Lagipula Kolonel Mervis bukanlah orang seperti yang kau pikirkan, dia itu sangat keras kepala, konyol dan juga sangat menyebalkan," Casta menjelaskannya dengan sikap yang dingin.


"Heeeh... apakah benar seperti itu," sindir Ayla lagi dengan tatapan mata yang konyol.


"Be-benar... dia bahkan memaksaku untuk ikut pelatihan Anggota Division," lalu Casta berhenti berbicara sejenak dan ingat bahwa ia ingin mengajak Ayla ikut ke Division.


"Ayla...."


"Hmm...." Ayla menjawab sembari melihat makanan yang berada di dalam plastik.


"Maukah kau ikut juga ke Division?" tanya Casta dengan tatapan serius.


"Hmm... boleh...." Ayla menerima ajakan Casta seolah-olah tidak ada beban pikiran yang berada di otaknya.


"Heh?...." Casta dengan ekspresi heran dan bodoh melihat Ayla yang begitu gampangnya menerima ajakan itu.


"Hmm... Kenapa dengan ekspresi mu itu?"


"A-apakah kau serius mau ikut?" tanya Casta dengan nada merasa bersalah.


"Iya... kurasa itu akan menarik."


"Ta-tapi menurut kabar yang kudengar itu akan menjadi tes yang berat."


"Tidak apa-apa, aku suka menerima tantangan yang seperti itu," Ayla terus menjawabnya dengan nada yang penuh semangat.


"Hufftt...." Casta menghela nafas panjang dan berasa bersalah karena mengajak sahabatnya itu ke dalam hal-hal yang seperti itu.


"Casta... kenapa kau tidak memberitahu lewat pesan saja, bahwa mereka ingin bertemu Kolonel Mervis?" tanya Ayla heran.


"Ah... kau benar, kenapa aku tidak sampai kepikiran kesana."


"Haha... mungkin kau terlalu lelah...."


Setelah percakapan konyol mereka berdua, Casta lalu mengirimkan pesan dan memberitahu Kolonel bahwa Zaki ingin menemuinya, sambil menunggu balasannya dan kebetulan mereka sudah selesai makan, Casta berdiri kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sementara itu Ayla bersiap-siap serta membereskan kamar yang akan mereka tinggalkan itu, setelah melakukan beres-beres ia berdandan, dan memakai Patrol Cap hitam dengan lambang bulan sabit emas disertai gambar pistol di bagian kiri dan kanannya bulan sabit itu.


Disaat Ayla sedang asik berpose di depan kaca, Casta keluar dari kamar mandi.


"Ayla, kau lagi ngapain?"


"Nah... Casta... bagaimana menurutmu?" tanya Ayla sambil berpose di depan Casta.


"Hmm... apanya?"


"Cih... kau memang tidak pandai menilai seseorang yah, kurasa kau akan menjomblo selamanya!" ucap Ayla dengan ekspresi menyindir.


"Haaaaah?" Casta yang berlari kecil ke arah Ayla dan menyubit pipinya dengan sedikit kuat.


Lalu terdengar handphone Casta berbunyi, ia pun langsung menuju meja dan melihat handphone nya.


"Kolonel Mervis menyuruh kita mengajak mereka ke pusat."


"Heeee... kenapa seperti itu."


"Entahlah, berarti kita mengunjungi mereka lagi terlebih dahulu baru mengunjungi penjual buah itu."


"Baiklah."


"Oke... aku ganti baju sebentar."


Casta pun memakai bajunya serta bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit lagi dan memberi tahu Zaki, Linda dan Yuichi untuk ikut ke pusat agar bisa bertemu dengan Kolonel Mervis.


Setelah mereka sudah siap, dan kamarpun sudah dibersihkan, Casta mengunci pintu kamar itu dan mereka turun kebawah untuk mengembalikan kunci kamarnya kepada pelayan penginapan.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit mereka mampir membeli buah-buahan dan sedikit cemilan, dan setelah membeli beberapa makanan mereka langsung bergegas ke rumah sakit karena hari yang semakin siang.


Sesampainya di rumah sakit, Casta menghampiri bagian resepsionis dan menanyakan ruangan pasien yang ingin mereka temui.


"Oh... kalian yang kemarin yah, ada yang bisa saya bantu?" sambut suster yang mereka temui kemarin.


"Kami ingin menanyakan ruangan bapak-bapak penjual buah yang kami bawa ke sini kemarin."


"Dia ya, ruangannya berada di lantai dua nomor 3."


"Terima kasih kasih banyak suster," ungkap Casta tersenyum.


"Sama-sama," balas senyum suster itu.


"Nah Casta, apakah kita akan menemuinya terlebih dahulu?"


"Tidak, aku ingin mengajak mereka untuk menemui bapak ini sekalian, supaya tidak repot lagi bersiap-siap nantinya."


"Ah... begitukah," jawab Ayla mengerti maksud Casta.


Setelah mereka berpamitan kepada suster itu, mereka menuju kamar Linda, namun setelah dibuka Linda tidak berada di kamarnya.


"Lah?... apakah wanita itu tidak pernah berada di kamarnya sendiri," ungkap Casta kesal.


Lalu mereka menuju kamar Zaki yang tepat berada di sebelah ruangannya Linda, Casta langsung membuka pintu Zaki dan melihat Linda yang sedang menyuapi Zaki makan paginya.


Lantas saja Linda dan Zaki terkejut karena Casta dan Ayla yang membuka pintu dan langsung masuk tanpa permisi terlebih dahulu.


"Bisakah kalian mengetuk dulu pintu itu dari luar sebelum masuk," ucap Zaki dengan nada kesal.


"Heee... Casta...." Linda berlari kecil ke arah Casta dan memeluknya.


"Hey... apa yang kau lakukan...." Casta yang malu mencoba melepaskan pelukan manja yang diberikan oleh Linda.


"Apakah kalian di sini sampai sore lagi?" ucap Linda dengan senang.


"Tidak... ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian," ucap Casta serius.


Linda dan Zaki pun mendengarkan apa yang disampaikan oleh Casta.


"Heeeh... kami disuruh ke sana?" tanya Linda kaget.


"Ya, begitulah, karena Zaki yang bilang ingin menemuinya, karena beliau tidak bisa ke sini, maka kalian lah yang disuruh ke sana," jelas Casta.


"Baiklah, aku akan ikut," jawab Zaki.


"Kalau begitu aku akan ke tempat Yuichi dan membawanya ke sini," ucap Linda.


"Nah Linda... agar tidak memakan banyak waktu, aku ingin kau langsung saja ke kamar nomor tiga di lantai dua, karena ada seseorang yang ingin aku temui di sana."


"Hmm... oke," angguk Linda mengerti.


Linda pun keluar dari ruangan untuk menjemput Yuichi, sementara itu Zaki beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk pergi keluar dari rumah sakit itu menuju dunia luar yang baru untuk pertama kalinya di era yang sekarang.