
"Nah... Casta... bukankah akhir-akhir ini kau terlihat lebih sibuk dari biasanya?"
"Ya... begitulah... karna aku sekarang berada di grup Kolonel Mervis... jadi aku harus mendapatkan tugas-tugas yang lumayan merepotkan dari beliau."
"Hmm... kau sendiri bagaimana?... apakah kau mendapatkan tugas dari Kolonel Louis?"
"Haha... belum ada tugas berat yang beliau berikan... hmm... paling aku cuma disuruh berjaga di markas pusat atau di kantor beliau di kota Garhare... sebenarnya aku juga ingin mendapatkan tugas yang cukup menantang."
Setelah saling mendengarkan keluh kesah masing-masing mereka pun saling bertatap-tatapan.
"Haaah...."
Mereka berdua menghebuskan nafas dengan wajah yang terlihat lesu.
Ayla sambil tertawa kecil berkata.
"Sepertinya kita memang mempunyai kepribadian yang terbalik yah... haha...."
Lalu terdengar suara handphone Casta berbunyi, Casta pun mengambil handphonenya dari tas sandang berwarna merah yang ia letakan di kursi sebelah kiri tempat duduknya dan melihat isi dari pesan yang masuk tersebut.
Terlihat sebuah pesan masuk dari Kolonel Mervis yang tertulis 'Casta... bisakah kau mampir ke kantor ku untuk mengambil tiga buku di atas meja ku di sana sebelum kembali ke pusat ♥'.
Casta yang melihat isi pesan itu dan berfokus pada simbol diakhir tulisan seketika saja langsung merinding di sekujur tubuhnya dengan ekspresi yang kaget dan wajah yang memerah.
"Casta... ada apa?"
"Ah ti-tidak ada apa-apa... Kolonel Mervis mengirimku sebuah pesan... dia ingin aku mengambil buku di kantornya dan membawanya ke markas pusat, karena dia ada urusan mendadak jadi tidak bisa mengambilnya sendiri... he... he... hehe...."
Casta yang malu menjawab perkataan Ayla sembari mengosokkan tangan nya dikepala belakang dan dengan senyum yang dibuat-buat.
Lalu setelah mereka selesai makan dan membayar makanan yang dipesan, keduanya pun keluar dari restoran dan pergi menuju rumah sakit dimana ketiga orang itu sedang dirawat.
Namun ketika dalam perjalanan, keduanya berpapasan dengan seseorang yang menggunakan pakaian yang serba hitam dengan mantel hoodie yang menutupi setengah wajahnya dan hanya memperlihatkan mulutnya saja.
Lalu sambil berpapasan terdengar suara.
"Sampaikan salamku padanya."
Casta yang dengan raut wajah yang keheranan pun langsung berbalik melihat ke belakang, namun orang itu sudah menghilang.
Ayla yang melihat Casta berhenti lantas menanyakannya.
"Ada apa Casta?"
"Ayla... apa kau melihat pria dengan pakaian serba hitam itu tadi?"
"Pria?... hmm... aku tidak melihat apapun?"
Melihat tingkah aneh Casta seperti orang yang bingung lantas Ayla mengajak Casta untuk melanjutkan perjalanannya.
Casta yang terus memikirkan hal yang baru saja terjadi itupun terus bergumam dalam hatinya.
"Siapa pria itu."
Namun langsung disambut Ayla dengan memanggil Casta dan menunjukan di depan mereka ada keramaian, merekapun menghampiri keramaian itu.
Sementara itu....
Di atas gedung dengan tinggi 132 meter ada seseorang yang berdiri dengan mantel hoodie serba hitam dan hoodie itu menutupi kepalanya, angin yang berhembus lumayan kencang sehingga membuat pakaian yang ia pakai sedikit terbuka dan memperlihatkan tiga bilah pisau kecil berada di pahanya tersusun dengan rapi sedang melihat Casta dan Ayla dari atas.
"Itu merupakan hadiah kecil darinya... semoga dirimu dan mereka cepat sembuh sehingga kita bisa berkumpul kembali."
Ia berhenti berbicara sejenak, lalu terdengar lagi suara dengan lirih dan pelan disertai senyuman yang membuat mulutnya sedikit terbuka hingga terlihat sedikit menggerikan.
"Nah, Kap... ten...."
Tiba-tiba orang itu menghilang bersamaan dengan hembusan angin yang lumayan kuat, disertai dengan daun-daun yang melayang.
Ayla dan Casta berlari ketempat keramaian itu, mereka menerobos ke kerumunan orang dan ternyata mereka melihat ada seorang pria paruh baya penjual buah yang tergeletak berlumuran darah dengan luka di bagian perut.
Ayla bertanya kesalah satu orang di sana.
"Apa yang terjadi...."
"Ti-tidak tahu, tiba-tiba saja dia sudah tergeletak seperti itu...."
Dengan sigap Casta mendekatinya dan memeriksa leher serta denyut nadinya untuk mengetahui apakah ia masih hidup atau tidak, Casta juga memeriksa bekas tusukan pisau di bagian perutnya dan tiba-tiba pandangan Casta teralihkan, ia melihat ada apel yang terjatuh di dekat pria itu dengan sedikit gigitan diapel itu.
Tiba-tiba pria itu dengan setengah sadar ia bersuara.
"I-Iblis...."
Casta yang heran menanyakan apa maksud pria itu, tetapi ia sudah pingsan terlebih dahulu, melihat keadaannya yang sudah diambang kematian lalu Casta dan Ayla dengan sigap membawanya ke rumah sakit menggunakan mobil penduduk setempat yang kebetulan tujuan mereka sama.
Sesampainya dirumah sakit, pria itu langsung dilarikan keruangan lain oleh para perawat, sementara itu Casta dan Ayla menanyakan ruangan ketiga orang yang ingin mereka temui di bagian resepsionis.
"Selamat sore... ada yang bisa saya bantu?"
"Permisi suster... kami ingin menemui tiga orang asing yang ditemukan dari laboratorium dua hari yang lalu."
Suster itu melihat mereka berdua dengan heran, Casta sepertinya tahu tidak sembarangan orang yang bisa menemui mereka.
"Kolonel Mervis yang menyuruh saya untuk menemui mereka."
Casta meyakinkan suster itu bahwa ia ditugaskan untuk mengecek mereka lalu Casta mengeluarkan kartu keanggotaan tentara nya sebagai tanda bukti.
"Ohh... Kolonel Mervis ya... baiklah tunggu sebentar."
Mereka berduapun menunggu beberapa saat dengan melihat susasana lobby rumah sakit yang lumayan dipenuhi orang berlalu lalang.
Tidak lama kemudian resepsionis itu kembali lagi dan memanggi Casta yang sedang menunggu di kursi tunggu.
"Maaf membuat kalian menunggu sedikit lama."
"Ah... ti-tidak apa-apa."
"Untuk ruangan mereka berada lantai tiga dan empat, untuk nama : Zaki berada di ruangan Rose nomor 8C, dan disebelahnya 9C ruangan atas nama : Linda. Sedangkan ruangan atas nama : Yuichi berada di lantai empat dengan ruangan Lotus nomor 10A."
"Terima kasih banyak suster."
Ayla yang melihat daftar ruangan itupun mulai bertanya pada Casta.
"Lalu pertama kita menemui yang mana?"
"Yang 8C dan 9C, karena mereka yang paling dekat."
Setelah berpamitan pada suster itu, mereka berdua menuju tangga untuk ke lantai atas, ketika sampai di depan pintu dengan nomor 8C, mereka berdua mendengar ada orang yang sedang mengobrol dari dalam, lantas mereka membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Terlihat seorang pria berusia sekitar 23 tahun dengan rambut yang berwarna ungu dan mata hitam sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya menggunakan bantal di atas tempat tidur dan terlihat satu orang lagi pria paruh baya dengan rambut berwarna hitam menggunakan pakaian dokter tengah berdiri. Ya, mereka adalah Zaki dan dokter Kurdan.
Mereka berdua kaget karena pintu langsung saja terbuka dan langsung mengalihkan pandangan ke arah para wanita itu.
"Kalian siapa?" ucap Zaki dengan ekspresi kaget.
"P-permisi... apakah benar di sini ruangannya Zaki?"
Ayla yang mempunyai sifat pemalu jika bertemu orang baru lantas ia berada dalam keadaan gugup.
Casta yang melihat temannya gugup lantas mencoba mengambil ahli pembicaraan, Casta memberitahu maksud kedatangan mereka berdua.
"Kami berdua ditugaskan...."
Belum selesai Casta berkata dokter Kurdan memotong perkataannya.
"Ah... kalian pasti yang dibicarakan oleh Kolonel Mervis."
"Benar... kami tugaskan untuk melihat keadaan ketiga orang yang...."
Lagi-lagi, belum sempat Casta menyelesaikan perkataannya, terdengar suara dari luar ruangan dan berteriak.
"Zakiii...."
Tiba-tiba dari pintu muncul sesosok wanita yang tengah berlari masuk ke dalam ruangan dan menabrak Casta hingga keduanya terjatuh ke lantai.
Zaki dan dokter hanya bisa terdiam melihat mereka berdua di lantai, Ayla yang melihat mereka terjatuh langsung mencoba untuk menolong.
"Ka-kalian tidak apa-apa?"
Casta yang saat itu berada diposisi berdiri dengan tegap sekarang berada di lantai bersama dengan wanita yang menabraknya, karena kesal dengan hal itu sontak saja ia melihat wanita itu dan memarahinya...
"Tunggu dulu, apa yang kau lakukan...."
"Ma-maaf aku tidak sengaja...."
Linda yang merasa bersalah mencoba meminta maaf sambil memegang dahinya dan menaikan poni rambutnya dengan tangan kiri.
Terlihat sedikit bekas luka goresan di dahinya yang berbentuk seperti sabetan senjata tajam, Casta yang melihat goresan itupun berhenti memarahinya.
"Huft... Kau tidak apa-apa?"
Linda yang bingung karena Casta yang berhenti memarahinya hanya mengangguk.
Casta yang bingung karena ada pasien yang asal masuk ke tempat yang penting lantas bertanya padanya.
"Kau siapa?... kenapa kau berlari seperti itu?"
"Aku dari ruangan sebelah... aku Linda...."
"Haaah... ja-jadi kau yang bernama Linda?"
"Eh... apa kalian mencari ku?"
"Kami disuruh Kolonel Mervis untuk melihat keadaan kalian."
"Ah... tentara itukah, apakah dia baik-baik saja."
"Hmph... Kalau dia sebaiknya tidak usah kau khawatirkan... sudah dipastikan dia akan baik-baik saja meskipun bahaya di depan matanya sekalipun."
"Hah?"
Dikarenakan ruangan yang tadinya sepi dan hening berubah menjadi seperti pasar lantas Zaki akhirnya kesal.
"Hey... kenapa jadi ramai seperti ini ruanganku... bisakah kalian tenang sedikit."
Melihat keributan yang terjadi dokter Kurdan pun pamit keluar ruangan untuk memeriksa pasien yang lain, karena dia tau bahwa mereka akan baik-baik saja.
Namun, Casta ingat akan sesuatu hal yang ingin ia bicarakan lantas segera mengejar dokter Kurdan.
"Permisi... dokter...."
"Hmm... ada apa?"
Casta menjelaskan semua tentang kejadian yang menimpa penjual buah itu.
"Terima kasih dokter."
Lalu Casta kembali kedalam ruangan, terlihat Ayla sudah menunggunya.
"Kau dari mana?"
"Ah... itu... aku memberitahu dokter masalah pria penjual buah yang tertusuk tadi, aku ingin ia segera memeriksanya."
"Semoga bapak itu baik-baik saja."
"Ya, karena kita membutuhkan informasi darinya soal apa yang sudah terjadi."
Casta kembali memikirkan dengan serius semua hal yang sudah ia alami sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tadi.
Disaat Casta masih memikirkan hal yang sudah ia alami hari ini, tiba-tiba ia mendengar suara, ia melihat Linda berbicara pada Zaki dan duduk di kasur Zaki tepat di sebelah kanan dekat jendela.
"Nah Zaki... apa kau masih tidak ingat apa yang sudah terjadi?"
"Belum... aku masih belum ingat apa-apa."
Ia memegang dahi Linda dengan tangan kanannya dan mengangkat poninya ke atas, terlihat mata yang indah berwarna biru cerah, ia melihat kembali bekas luka yang ada di dahi Linda.
"Apa kau tidak apa-apa?"
Linda yang kaget dengan hal itu sontak saja wajah nya langsung menjadi merah.
"A-A-Aku tidak apa-apa...." >.<
Ayla yang melihat hal itu langsung saja salah tingkah.
"A-apa yang kalian lakukan."
Mendengar hal itu Zaki langsung menarik tangannya dan membuang mukanya ke arah jendela.
Casta yang melihat keadaan yang makin rumit mencoba merubah suasana dan menanyakan keberadaan orang ketiga dari mereka.
"Nah Zaki... ngomong-ngomong mana yang satunya?... kenapa dia juga tidak ke sini?"
"Dia?"
"Temanmu yang satunya... bukankah kalian bertiga...."
"Oh... dia ya... aku belum bertemu dengannya... karena aku terlalu malas untuk keluar dan aku selama ini hanya diam di ruanganku tidak kemana-mana."
Mendengar jawaban bodoh dari Zaki sontak tambah membuat Casta menjadi semakin kesal.
"Cih... cobalah untuk perduli dengan temanmu sendiri."
Linda yang melihat sikap dingin Zaki lantas mencoba menjawab pertanyaan Casta dengan benar, ia ingin menjadi orang baik sekaligus sebagai ungkapan permintaan maafnya tadi karena telah menabrak Casta.
"Aku juga belum bertemu dengannya, rencanaku tadi habis menjenguk Zaki, aku ingin menjenguk Yuichi dan mengajaknya kesini...."
"Arrggh... jangan macam-macam Linda... sudah cukup ruanganku dipenuhi orang-orang aneh seperti kalian... tolong jangan ditambah lagi...."
Casta yang mendengar Linda ingin mengunjungi ruangan Yuichi lantas mengajaknya untuk pergi bersama ke sana.
"Nah Linda... bagaimana jika kita ke sana bersama... bukankah kalian juga belum bertemu dengan dia."
"Ah... itu ide yang bagus...."
"Tidak... aku tidak ingin meninggalkan kasur yang nyaman ini...."
Rasa kesal Casta semakin menjadi-jadi, karena ia tidak tahan akan kelakuan pria yang terlihat kekanan-kanakan itu, lantas Casta berubah menjadi seseorang yang terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya serta meregangkan tangan dan mengepalkan tangannya.
"Nah... kalau begitu... aku akan membunuhmu agar kau meninggalkan kasurmu itu untuk selamanya...."
Zaki yang melihat keadaan yang sangat mengancam itupun mau tidak mau harus mengikuti Casta dan memanggilnya dengan sebutan wanita setengah pria dan akhir nya mereka berempat pergi ke lantai empat dimana ruangan Yuichi berada.
Di lantai empat rumah sakit itu terlihat sedikit sepi, karena jarang yang ada ditempatkan di sana, dengan suasana yang sedikit gelap sehingga lantai tersebut terlihat sedikit menyeramkan, ketika berada di depan pintu ruangan dengan nomor 10A, mereka terdiam sejenak... dan merasakan sedikit hawa-hawa yang tidak mengenakkan.
Dalam suasana yang tegang itu tiba-tiba Zaki berteriak dan membuat mereka bertiga kaget.
"Aaaaaa... aku ingin kembali saja keruanganku... tempat ini sangat mengerikan."
Lalu dengan sigap dan kesal Casta menarik kerah baju belakang Zaki karena ia ingin melarikan diri dan kembali ke kamarnya, pada saat terjadi keributan di depan kamar Yuichi, tiba-tiba terdengar suara dari dalam dan membuat mereka semakin kaget.
"Masuklah... Aku sudah menunggu kalian."
Mereka berempat yang mendengar suara itu sempat merasa sedikit takut, lalu Casta memberanikan diri membuka pintu itu dengan perlahan dan mengintip sedikit demi sedikit.
Casta melihat di dalam ada kasur yang sedikit merapat ke dinding dekat jendela dan sedang ada seorang pria yang sedang duduk di kasur itu sambil melihat ke arah luar jendela dengan ruangan yang sedikit gelap.
Dengan memberanikan diri dan sedikit gugup Casta menyapanya meski dari luar pintu yang ia buka sedikit demi sedikit.
"Ha-hallo... pe-permisi!"
Melihat Casta yang tiba-tiba menjadi penakut, Zaki pun langsung membuka penuh pintu itu secara tiba-tiba, dan seketika ruangan itu sedikit menjadi terang karena cahaya yang masuk dari dua arah.
Lalu orang itu pun memindahkan pandangannya ke arah empat orang tamu yang berkunjung itu dengan sedikit tersenyum.
Zaki dan ketiga lainnya pun memasuki ruangan itu sepenuhnya, dan terlihat Yuichi mempunyai wajah yang tampan berkulit putih, tinggi sekitar 170 cm serta mata berwarna hitam dengan rambut sedikit panjang yang berkibar karena terpaan angin dari luar jendelanya dan rambut yang berwarna merah memperindah senyumannya kepada empat orang yang berkunjung itu.
Casta, Ayla dan Linda memindahkan pandangannya ke Zaki, mereka melihat Zaki yang memperhatikan Yuichi dengan tatapan yang sedikit serius.
"Hmm... jadi kau yang bernama Yuichi," Zaki melihat Yuichi dengan tatapan tajam.
Linda yang melihat tatapan Zaki pun sedikit merasa takut jika akan ada perseteruan dia antara mereka, padahal mereka baru saja bertemu, dengan pelan Linda manggil pria itu.
"Za-Zaki...."
Dengan tiba-tiba Zaki berjalan mendekat ke arah Yuichi, Casta yang melihat Zaki mendekat ke arah Yuichi lalu sedikit mengeluarkan suara.
"O-oi... kau mau ngapain?"
"Aku hanya ingin memastikannya."
"Memastikan apa?"
Setelah Zaki mendekat ke arah Yuichi, ia pun langsung memegang jidat Yuichi dan mengangkat poninya keatas., Casta yang melihat itu langsung berkomentar.
"Oi... Zaki apa yang kau lakukan...."
"Hmm... ternyata ia tidak mempunyai bekas luka seperti Linda kah."
Dengan tampang bodoh dan bloon ia mengatakan hal itu lantas saja membuat Casta menjadi kesal atas ulah nya, Casta langsung mendekat ke arah Zaki dan memukul kepalanya.
Yuichi dan yang lainnya hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan pria bodoh tersebut, lalu Casta bertanya padanya.
"Nah Yuichi... kenapa kau tidak keluar mengunjungi mereka?"
"Hmm... jika kau tanya kenapa... yah sudah pasti aku tidak ingin keluar."
"Hah?"
Casta bingung dengan ucapannya, namun Yuichi melanjutkan kata-katanya.
"Karena berjalan itu melelahkan... lebih baik aku berbaring di sini dan melihat pemandangan yang indah dari sini."
Mendengar kata-kata itu lantas saja Zaki langsung menyahut sambil tertawa dengan semangatnya.
"Benarkan... berjalan itu melelahkan... mending tiduran saja... haha...."
"Hmm...." angguk Yuichi setuju dengan Zaki.
Dengan tatapan pasrah para wanita ini membatin.
"Ahh... ternyata mereka sama saja...."
Lalu tidak lama kemudian Yuichi melihat serius ke arah tas yang di sandang Casta dan berkata bahwa ia membawa sesuatu.
"Kau... membawa sesuatu di dalam tasmu itu kan?"
Casta dan yang lainnya mendengar ucapan Yuichi lantas bingung dengan apa yang ia maksud, namun Yuichi memperjelas perkataannya.
"Apel... kau membawa sebuah apel di dalam sana."
Casta yang heran bagaimana Yuichi bisa tau bahwa ia membawa sebuah apel di dalam tas nya dan Casta pun mengeluarkan apel itu.
Terlihat apel itu ada bekas satu gigitan yang cukup besar, Ayla pun mengingat apel itu ada di dekat pria paruh baya yang tergeletak dengan penuh darah sewaktu mereka berjalan menuju kerumah sakit...
"Ah... kau membawa apel itu Casta."
"Aku membawanya karena aku merasa ada yang aneh dengan apel ini."
Lalu Zaki dan Linda hanya terdiam dan memperhatikan apel itu, tiba-tiba Yuichi meminta apel itu untuk dilihat.
"Bolehkah aku memegang apel itu?"
"I-Iya...."
Casta mendekat ke arah Yuichi dan memberikan apel aneh itu, Yuichi pun menerimanya dengan tangan kanannya dan berkata lagi.
"Dari mana kau mendapatkan apel ini?"
Lalu Ayla memberitahukan kronologi ceritanya, Zaki, Linda dan Yuichi pun mendengarkan cerita tersebut.
Setelah selesai mendengarkan cerita tersebut, Zaki yang heran pun bertanya kepada Yuichi.
"Nah Yuichi... dari mana kau bisa tau kalau ada apel di dalam sana?"
"Hmm... kau tau... hidungku akan jadi lebih sensitif jika mencium bau yang manis-manis."
"Haha... sudah kuduga... pasti kau juga bisa menciumnya kan... Haha...."
Casta dan Ayla yang sudah serius melihat mereka masih sempat bercanda pun menjadi kesal, lalu Casta berjalan ke arah Zaki dan ingin memukulnya.
Tiba-Tiba....
*Krakkk....
Casta, Ayla, Zaki, dan Linda mengalihkan pandangan mereka ke arah apel yang berada di tangan Yuichi. Ya, Yuichi dengan tatapan mata yang serius mengenggam dan meremas apel itu hingga hancur menggunakan tangan kanannya.
Casta yang melihat hal itu langsung berkata.
"A-Apa yang kau lakukan...."
Namun Tangan Yuichi masih terlihat menggengam sesuatu, meskipun apel itu sudah hancur dan serpihannya jatuh di kasur Yuichi.
Pandangan mereka masih tetap pada gengaman Yuichi, ketika Yuichi membuka gengamannya perlahan-lahan, terlihat sebuah benda dengan bentuk yang bulat seperti sebuah kalung.
Dan ketika genggaman tersebut terbuka secara penuh, terlihat lah benda itu adalah sebuah liontin dengan warna perak dan di dalamnya terdapat foto dua anak kecil berjenis kelamin wanita dan pria yang sudah terlihat usang dan buram.