
Di kantor pusat, kota Yordafala, di dalam ruangannya, Kolonel Mervis terlihat sedang membaca satu buku yang berisi tentang sejarah-sejarah laboratorium yang ada pada zaman dahulu, dan terlihat pula di atas mejanya terdapat beberapa tumpukan buku, ia ingin mencari tau apakah ada laboratorium yang masih belum ditemukan di zaman yang sekarang.
Saat dia sedang fokus membaca, tiba-tiba handphone yang ia letakkan di samping tumpukan buku itu berbunyi, ia mengalihkan pandangan nya ke arah handphone itu sambil mengambilnya.
"Siapa lagi yang mengangguku disaat aku sedang sibuk seperti ini," ia bergumam kesal.
Setelah ia mengecek siapa yang menganggunya, ternyata itu adalah pesan dari Casta yang meminta izin untuk menggunakan mobil militer yang berada di kantor Kolonel Mervis untuk kembali kepusat dan membawa ketiga orang yang ingin menemuinya itu.
Mervis menyetujui permintaan Casta dan kembali berpesan untuk tidak lupa membawa buku yang tertinggal di atas meja ruangannya yang berada di kota Bergorm, ketika selesai membalas pesan yang dikirimkan Casta, ia lantas menaruh buku yang di pegangnya dan beranjak dari tempat duduk nya untuk menemui Jendral Rayfox dan memberitahu Jendral bahwa ketiga orang itu akan datang ke kantor pusat.
Sementara itu Casta yang berada di rumah sakit di kota Bergorm dan ditemani oleh Ayla tengah bersiap-siap untuk kembali ke Yordafala, namun sebelum kembali, Casta masih ada beberapa tugas yang harus ia selesaikan di sana.
"Aku sudah memberitahu Kolonel untuk menggunakan mobil yang ada di kantornya."
"Lalu apa katanya?"
"Ya... kita diperbolehkan untuk membawanya."
"Ah... syukurlah, karena aku sudah tidak ada uang untuk membayar tiket kereta," ucap Ayla mengeluh.
"Hmm... sepertinya ketika kembali aku akan menanyakan gajiku pada Kolonel," gumam Casta kesal, "Nah Zaki... apakah kau sudah selesai membereskan barangmu?"
"Hah?" ucap Zaki bingung.
"Kenapa kau melihatku sambil memperlihatkan tatapan menyedihkan begitu?" ucap Casta heran.
"Aku sudah siap dari tadi, lagi pula aku tidak mempunyai barang apapun di sini," ucap Zaki dengan ekspresi bodoh.
"Ah... kau benar... satu-satunya yang kau punya cuma baju rumah sakit yang sedang kau pakai sekarang," ucap Casta dengan sedikit menyindir Zaki secara halus.
"Ya... yaa...." balas Zaki dengan ucapan yang dingin.
"Nah... Casta, ayo kita ke tempat penjual buah itu," ucap Ayla.
"Ah... hmm...." angguk Casta.
Casta dan Ayla berjalan keluar dari ruangan... lalu diikuti oleh Zaki yang sambil menatap kamarnya itu dan menutup pintunya perlahan dari luar.
Ketika berada diperjalanan menuju lantai dua, Zaki pun ingin sedikit bertanya tentang dunia luar yang akan ia temui pada Casta dan Ayla, sambil melihat dengan malu-malu dan segan ia memberanikan diri untuk bertanya pada kedua perempuan yang ia nilai cukup ganas dan menyebalkan itu.
"Ca-Casta...." ucapnya gugup.
Casta yang mendengar itupun langsung melihat ke arah Zaki dan bertanya.
"Hmm... ada apa?"
"Aku ingin mengetahui sedikit tentang tempat ini."
"Tempat ini?... maksudmu rumah sakit ini?... kalau itu aku tidak tahu, sebaiknya kau tanyakan hal itu pada dokter Kurdan," jawab Casta dengan ekspresi bodohnya.
"Bukan seperti itu... maksudku tentang dunia ini," ucap Zaki yang kesal mengganti pertanyaannya.
"Haaah... mana ku tahu, memangnya aku Tuhan," balas Casta dengan nada kesal sembari melihat ke arah Zaki.
"Cih... Kenapa wanita menyebalkan sepertimu bisa masuk ke tentara," balas Zaki dengan mendekat ke arah Casta dan menatapnya.
"Haaah?...."
Lalu mereka saling bertatap-tatapan dan saling kesal dengan sedikit urat-urat yang keluar di sekitar kepala mereka, dan orang-orang yang berada di sekitar sana lantas melihat ke arah mereka, Ayla yang sadar akan hal itupun langsung mencoba melerai keduannya.
"Ka-kalian jangan bertengkar di sini," ucap Ayla dengan lembut dan panik.
"Di-dia duluan yang mulai," jelas Zaki sambil melihat ke Ayla.
"Haa... apa maksudmu, bukankah kau yang jelas-jelas memberikan pertanyaan konyol seperti itu," balas Casta dengan nada yang sedikit keras.
"Sudah-sudah Casta, Zaki juga... bukankah kita sudah harus berada di pusat secepatnya, Kolonel sudah menunggu kita," ucap Ayla mencoba menghentikan pertikaian.
"Ya... kau benar Ayla... kita tidak punya waktu banyak untuk ribut seperti ini," ucap Casta.
Mendengar ucapan itu lantas Zaki pun berkata dalam hatinya, "Sikampret... bukankah dia yang memulainya," dengan ekspresi sinis dan kesal serta menyipitkan matanya melihat ke arah Casta.
"Aku akan memberitahumu nanti ketika Linda dan Yuichi sudah kembali," ucap Casta dengan dingin.
Lalu mereka lanjut berjalan menuju tangga untuk ke lantai dua.
Setelah berada di depan pintu dengan kamar nomor tiga, casta membuka pintu itu dan mereka masuk ke dalam, ternyata di dalam ada dokter Kurdan yang sedang mengecek kondisi bapak itu.
Terlihat seorang pria paruh baya berumur 40an dengan rambut coklat yang sedikit pendek serta dengan sedikit kumis dan jenggot pendek yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.
"Permisi dokter," sapa Casta.
"Ah... kalian sudah datang ya," jawab dokter sambil tersenyum dan melihat ke arah mereka.
Casta sembari melihat penjual buah yang sedang duduk menyandar di kasurnya.
"Apakah anda baik-baik saja?" tanya Casta sambil mendekati bapak itu.
"Apakah kalian yang mengantar saya ke sini kemarin?"
"Hmm...." Casta mengangguk.
"Terima kasih banyak, saya tidak tau apa yang akan terjadi jika saya tidak cepat dibawa ke sini kemarin," jawab pria itu sambil menundukkan kepalanya.
"Kebetulan saja kami sedang lewat di sana saat kejadian," ungkap Casta.
"Pe-permisi... kalau boleh tau apakah kemarin ada yang aneh?" potong Ayla dan bertanya kepada bapak itu.
"Kebetulan kami ke sini juga ingin mengambil informasi dari anda tentang apa yang terjadi kemarin," jelas Casta.
Penjual buah itupun mulai menceritakan kejadiannya sedikit demi sedikit.
"Pada saat saya sedang berteriak untuk menawarkan buah pada pejalan kaki yang lewat, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri saya."
"Pria?"
"Ya, saya kira dia ingin membeli buah yang saya tawarkan, dan awalnya seperti biasa saja, lalu tiba-tiba dia bertanya pada saya."
"Apa yang dia tanyakan?" ucap Casta penasaran.
Zaki, Ayla, dan dokter Kurdan yang berada di sana hanya mendengarkan informasi yang diberikan oleh penjual buah itu, namun sebelum penjual buah itu menjawab pertanyaan Casta, tiba-tiba pintu kamar yang tadinya tertutup dibuka oleh seseorang, sontak mereka kaget dan mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Ya, ternyata Linda dan Yuichi sudah berada di depan pintu ruangan itu, mereka berdua dengan ekspresi bodoh lantas menyapa mereka yang berada di dalam.
"Yohooo...." ucap Linda.
"Hmm... ada apakah ini, kenapa akhir-akhir ini kalian senang sekali berkumpul-kumpul seperti ini," tanya Yuichi sambil memegang dagunya seperti memikirkan sesuatu.
"Ah... kalian sudah di sini," ucap Ayla.
"Linda, Yuichi, masuk dan tutup kembali pintunya, karena ada hal yang sangat penting yang sedang dibicarakan di sini," beritahu Casta.
Linda dan Yuichi masuk ke dalam ruangan dan bergabung untuk mendengarkan cerita dari penjual buah itu sembari menutup pintunya.
"Hmm... Zaki, ada apa dengan tatapan bodohmu itu?" tanya Yuichi.
"Ha?... karena aku di sini tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, dan ketika aku bicara itu hanya akan membuat mereka kesal, karena aku selalu salah dimata kedua wanita itu," jawab Zaki.
"Hmm... jadi intinya kau menganggap dirimu adalah sesuatu yang tidak diinginkan."
"Nah Zaki, Yuichi... bisakah sekarang kalian diam?... aku ingin mendengar lanjutan cerita ini," tanya Casta dengan kesal karena mendengar Zaki dan Yuichi yang berbicara hal yang tidak penting.
"Nah... kau lihat kan...." ucap Zaki sambil memasang raut wajah jengkel.
Dokter Kurdan dan penjual buah yang melihat sikap dari masing-masing mereka hanya bisa tersenyum.
"Ah maaf ada sedikit keributan... apakah anda bisa melanjutkan ceritanya tadi?"
"Haha... tidak masalah," jawab penjual itu sambil tertawa kecil.
"Jadi apa yang dia tanyakan?"
"Dia bertanya... apakah ada orang yang ditemukan di laboratorium yang berada di hutan di sekitar sini."
"Dia bertanya seperti itu?" ucap Ayla.
"Ya, saya mengatakannya, ada tiga orang dan mereka sedang berada di rumah sakit."
Mereka yang mendengar semakin penasaran siapa pria itu.
"Nah Zaki... bukankah mereka sedang membicarakan kita?" ucap Yuichi berbisik pelan ke telinga Zaki.
"Ya... aku juga penasaran siapa pria itu," ucap Zaki.
"Mungkinkah dia kenal dengan kita?" tanya Linda.
"Hmm... aku tidak tahu," ucap Yuichi.
"Sepertinya aku ingin bertemu dengan pria itu juga," balas Zaki.
Mereka bertiga saling berbisik-bisik, namun secara tidak sadar bisikan mereka semakin keras dan terdengar oleh yang lainnya.
"Jika kau sudah bertemu dengannya, lalu apa yang akan kau lakukan?" ucap Casta yang mendengar pembicaraan mereka.
"Hee... kau menguping pembicaraan kami yah," ucap Zaki sambil melirik dengan tatapan jengkel dan mata yang menyipit.
"Hei... menguping itu tidak baik...." ucap Yuichi sambil menujuk ke arah Casta dengan ekspresi kesal.
"Ya... ya... terserah kalian saja, jadi, bisakah kalian diam sekarang?... aku ingin segera mendapatkan inti dari cerita ini, sehingga kita bisa cepat kembali ke pusat," ungkap Casta dengan nada dingin dan mengangkat tangan sambil mengayunkannya seolah-olah tidak perduli dengan kedua pria itu.
"Sebentar lagi siang, Zaki, Yuichi juga, aku mohon diamlah sebentar," ucap Ayla sambil memohon kepada keduanya sambil membungkukkan badannya.
"Ah... maaf, aku akan menjaga mereka, jika mereka berbicara lagi, aku akan memukulnya," ucap Linda sambil tersenyum ke arah Ayla.
Zaki dan Yuichi lantas membatin bersama, "Ah.. dia sudah berada di pihak mereka," sambil melihat ke arah Linda dengan tatapan pasrah.
"Ah... maaf sekali lagi pak... bisakah anda melanjutkan ceritanya," ucap Casta.
Bapak itu memaklumi tingkah laku mereka dan tertawa serta melanjutkan ceritanya.
"Hmm... pria itu juga menanyakan satu nama."
"Nama?" tanya Casta kembali penasaran.
"Ya... kalau tidak salah namanya...." bapak itu mencoba mengingat nama yang dikatakan pria itu sambil memegang dagunya.
Mereka penasaran sambil menunggu nama yang akan disebutkan oleh penjual buah itu.
"Ah... namanya Rin...." ucap bapak itu.
"Rin?" ucap mereka yang mendengarnya bingung.
"Ya... Rin, dia bertanya apakah salah satu dari mereka yang ditemukan itu bernama Kapten Rin."
"Grrr... Zaki...." ucap Linda sambil menatap seram ke arah Zaki.
"Ah... maaf...."
"Lalu apa yang anda katakan," ucap Casta pada bapak itu.
"Saya menjawab tidak tahu, setelah itu tiba-tiba pandangan saya menjadi gelap, dan saya mendengar suara dia berkata 'Cih... kau tidak berguna' dan juga suara gigitan apel, kemudian ketika saya sadar, saya sudah tergeletak di tanah dan melihat kalian."
Casta mencoba memikirkan lagi tentang bagaimana kejadian itu bisa terjadi.
"Ah... kalau boleh tau, pria itu memakai pakaian seperti apa?... mungkin saja saya melihatnya di lokasi dan bisa mencari tau identitasnya," ucap Casta penasaran.
"Kalau tidak salah dia memakai pakaian serba hitam dengan hoodie yang menutupi matanya, jadi saya hanya bisa melihat mulutnya saja."
Setelah mendengar hal itu, lantas saja Casta teringat tentang pria misterius yang ia temui dan tiba-tiba menghilang itu.
"Ayla... apa benar kau tidak melihat siapapun yang melintas di depan kita kemarin?" ucap Casta penasaran.
"Ya... aku tidak melihat pria yang berpenampilan seperti itu."
"Memangnya apakah pria yang kau lihat sama seperti yang diceritakan ini?" tanya Ayla.
"Ya... bahkan aku sempat mendengar dia berbicara."
"Ha?... apa katanya?" tanya Ayla penasaran.
"Kalau tidak salah... 'Sampaikan salamku padanya' ... seperti itu," jawab Casta bingung.
"Padanya?... siapa itu?" tanya Ayla lagi.
"Entahlah... mungkin juga cuma halusinasiku saja."
Lalu Casta teringat dengan benda yang berada di dalam apel yang ia temui dan menanyakannya.
"Ah... apakah anda pemilik liontin ini?" ucap Casta sambil mengambil liontin dari dalam tasnya.
"Bukan... aku tidak mempunyai benda semacam itu."
"Hmm... kenapa akhir-akhir ini sering terjadi hal yang misterius," tanya Ayla sambil memegang dagunya.
"Sudahlah... kurasa informasi yang seperti ini tidak bisa di pakai untuk mengetahui siapa pelakunya, tapi yang pasti di sekitar sini ada seseorang yang berbahaya," jelas Casta.
"Hmm... kita sepertinya harus melaporkan masalah ini juga ke Kolonel."
"Ya... siapa tau dia mempunyai teori tentang masalah ini."
Setelah panjang lebar mengobrol, mereka pun berpamitan untuk kembali ke markas pusat.
"Dokter, apakah kami boleh memakai pakaian ini sementara?" tanya Linda.
"Tidak masalah, nanti pastikan kalian mengembalikannya," jelas dokter Kurdan.
"Terima kasih banyak," jawab Linda tersenyum.
"Nah dokter, kami pamit dulu."
"Ya... hati-hati dijalan, sampaikan salamku pada Kolonel."
"Hmm...." angguk Casta.
Merekapun keluar dari rumah sakit, ketika berada di luar Zaki, Linda dan Yuichi menghirup udara segar dan Linda berlari-lari kecil di sekitaran sana, setelah beberapa hari berada di rumah sakit dan melangkah di luar untuk pertama kalinya di zaman yang tidak mereka ketahui itu.
Casta dan Ayla yang melihat mereka bertingkah sedikit aneh hanya bisa tersenyum.
"Oh iya Casta, kau bilang ingin memberitahuku tentang tempat ini... ah bukan, maksudku era ini saat kami sudah berkumpul kan?" ucap Zaki.
"Hmm... baiklah, aku akan menjelaskannya sambil kita berjalan ke kantor Kolonel Mervis yang tidak jauh dari sini," jawab Casta.
Mereka pun berjalan menuju kantor Kolonel Mervis yang berada di kota Bergorm untuk mengambil mobil dan juga buku yang diminta oleh Kolonel, sembari Casta menjelaskan sedikit yang ia ketahui tentang era yang kini mereka tempati.
"Pertama, kita sekarang sedang berada di negara yang bernama Xenozia, dan tempat ini bernama kota Bergorm, kau lihat bendera yang berkibar di sana?... itu adalah bendera negara ini," Casta menjelaskan sembari menunjuk salah satu bendera yang berkibar di atas salah satu gedung pemerintahan.
"Kenapa berwarna hitam di bagian atas dan bawah serta warna merah di tengah dan memiliki gambar... hmm... kurasa itu bentuk seperti bulan sabit dan bintang," ucap Yuichi sambil memperhatikan bentuk bendera yang ia lihat.
"Ah kalau tidak salah itu bermakna... hitam yang artinya kegelapan, merah adalah keberanian, gambar bulan dan bintang artinya yang mana ia memberikan cahaya dan menerangi dari kegelapan," Ayla mencoba menjelaskannya.
"Jika ini sebuah negara apakah artinya kita sedang berada dalam peperangan?" tanya Zaki penasaran.
"Ya... kita sedang berperang dengan negara Kuvernt yang terletak di sebelah utara," jelas Casta.
"Hee... kita sedang berperang?" tanya Linda kaget.
"Lalu kenapa kalian dengan santainya berada di sini?" tanya Zaki.
"Karena tidak semua prajurit turun ke medan pertempuran, dan hanya yang terpilih saja yang bisa berada di pertempuran garis depan," jelas Casta lagi.
"Jadi kita hanya menjaga perbatasan atau kota untuk mengamankan para penduduk jika ada musuh yang kemari," ucap Ayla sambil tersenyum.
Ketika mereka sedang bercerita tentang era yang sekarang, tiba-tiba terdengar keributan dari salah satu cafe, lantas mereka mendekati cafe itu untuk memeriksanya, setelah dilihat ternyata sedang ada seorang pria yang mabuk tengah menodongkan senjata tajam ke arah kasir cafe itu.
Seketika Casta mendekati pria itu untuk bernegosiasi, namun pria itu malah berbalik dan menyerang Casta, sontak saja Casta langsung menghindari serangan pria itu dan membanting serta menguncinya dengan teknik bela diri yang telah ia pelajari di pelatihan.
Para prajurit lain yang sedang berpatroli pun mendapat laporan dari warga lantas datang kecafe dan menangkap pria yang sedang mabuk itu.
"Terima kasih... eh.... " ucap salah satu prajurit.
Casta yang sadar bahwa prajurit itu sedang bingung lantas memberitahu namanya.
"Casta... aku Casta...."
"Terima kasih Casta sudah membantu melumpuhkan penjahat ini," ucap prajurit itu lagi.
Lalu tiba-tiba salah satu prajurit lainnya yang mendengar nama itu mendekati mereka.
"Casta?... apakah anda Casta Hountfers?" tanya prajurit lainnya.
"Ya, kau benar," jawab Casta.
Lalu tiba-tiba prajurit itupun langsung memberi hormat, dan dikuti oleh prajurit yang pertama bertanya.
"Maaf tidak mengenali anda dengan pakaian yang seperti ini," ucap prajurit itu.
"Ah... tidak apa-apa."
Lalu para prajurit itupun pamit dan membawa penjahat itu ke pos terdekat.
"Nah... sudah beres, ayo kita lanjutkan perjalanan kita," jelas Casta.
Merekapun kembali ketujuan utama, dan mereka lanjut berjalan menuju kantor Kolonel.
Dalam perjalanan seperti sebelumnya mereka mengobrol dan bertanya.
"Kau tidak apa-apa Casta?" ucap Linda yang menghawatirkan dirinya.
"Ah... hmm... aku baik-baik saja kok."
"Tadi kau hebat sekali, kuharap aku bisa sepertimu," ucap Linda memuji Casta.
"Ah... ahaha... terima kasih pujiannya Linda, tapi aku yakin kau bisa juga melakukannya," jawabnya tersenyum sambil mencubit pelan pipi Linda.
"Nah Casta...." potong Zaki.
"Hmm?" Casta melihat ke arah Zaki.
"Apa pangkatmu sekarang?"
"Letnan satu."
"Kalau Ayla?"
"Aku juga sama," jelasnya sambil tersenyum serta mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya di pipi.
"Hmm...."
"Kenapa?" tanya Casta heran.
"Ah... tidak, gaya bertarungmu tadi sudah seperti Gorilla."
"Haaah?... apa maksudmu...." sambil mendekat ke arah Zaki dan memegang kerah bajunya sambil dengan tatapan tajam dan nada yang kesal.
"Nah Zaki, Linda, Yuichi juga, kenapa kalian tidak jadi tentara saja?" ucap Ayla menyemangati mereka.
"Haah?"
"Ah... aku mau," ucap Linda semangat dan matanya seperti mengeluarkan sinar cahaya yang terang.
"Kalau Linda aku yakin bisa, tapi jika kalian berdua aku tidak yakin," ucap Casta dengan nada mengejek.
"Hey... kenapa aku juga ikut dibenci?" jawab Yuichi menujuk ke arah Casta dengan nada kesal.
"Karena kalian berdua itu bodoh," balas Casta sambil menujuk Yuichi.
"Sudah-sudah, kalian, kita sedang berada di tempat umum, jangan buat aku malu...." ucap Ayla sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Cih... kalian berdua memang menyebalkan," sambil melipat tangannya di depan dadanya Casta membuang muka dari Zaki dan Yuichi.
"Ngaca dong!" teriak Zaki dan Yuichi bersamaan dengan nada kesal.
"Haaah?" balas Casta dengan pose bersiap untuk bertarung.
Ayla dan Linda hanya bisa tertawa kesal melihat tingkah mereka.
"Casta... ayo kita lanjutkan perjalanan," ajak Ayla yang sudah ikutan kesal.
"Hmph... baiklah, melayani mereka tidak akan ada habisnya."
Mereka terus berjalan, Zaki, Linda dan Yuichi sambil melihat-lihat sekeliling sambil memperhatikan setiap sudut dan warga yang ada di kota.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di depan gerbang yang sedikit besar dan dijaga beberapa prajurit.
Casta berbicara kepada penjaga memberitahukan kedatangannya dan meminta izin untuk masuk kedalam, mereka pun diizinkan masuk.
Perlahan gerbang mulai terbuka... dan terlihat bangunan yang sedikit besar dengan tiang-tiang beton yang berwarna putih menopang atap yang berbentuk persegi panjang itu, terlihat juga taman yang lumayan luas dengan tiang bendera berada di pinggir tamannya.
"Wah... besar sekali...." ungkap Linda dengan kagum.
"Haha... ini masih belum seberapa, markas pusat bahkan jauh lebih besar dan bagus dari ini," jelas Casta sambil tersenyum.
"Haah... benarkah?" dengan mata yang bersinar Linda tidak berhentinya kagum dengan besarnya gedung itu.
Merekapun berjalan dengan taman berada di sebelah kiri mereka, dan menuju pintu utama untuk masuk ke dalam ruangan, dan mengambil apa yang mereka cari.