
Di dalam ruang rapat, terlihat Jendral Rayfox dan Jendral Eugine sedang membicarakan sesuatu.
Namun, disaat yang bersamaan mereka berdua merasakan adanya getaran yang berasal dari luar gedung.
"Apa itu?" tanya Eugine pada Rayfox dengan sedikit tersontak.
"Hahaha... paling dia sedang menyambut mereka," ucap Rayfox sembari tertawa kecil.
"Dia?" tanya Eugine bingung.
"Siapa lagi jika bukan Richa, mungkin saat ini dia sedang mengamuk lagi karena Mervis... hahahaha," tawa Rayfox dengan keras.
"Kau jangan terlalu meremehkan kemarahan si Richa itu, aku tidak ingin dia membunuh seseorang di sini," ucap Eugine dengan nada yang sedikit serius dan memarahi temannya itu.
"Sudahlah, kau tidak usah terlalu memikirkannya, ku yakin dia juga pasti sudah duluan merasakan hal ini... hahaha...." ucap Rayfox dengan nada yang sedikit bercanda untuk menenangkan situasi mereka.
"Dia?... siapa lagi yang kau maksud?" tanya Eugine lagi.
"Hah?... kau lupa bahwa kita memiliki banyak wanita barbar di sini?... hahahaha," ucap Rayfox menjawab pertanyaan Eugine dengan candaan.
"Cih... kau selalu saja seperti itu," ucap Eugine dingin pada Rayfox.
"Haha... lalu... sampai dimana tadi?" ucap Rayfox kembali untuk membicarakan sesuatu yang serius pada Eugine.
Sementara itu di luar gedung dengan suasana yang mencekam terlihat para prajurit berlarian bersembunyi untuk menyelamatkan diri mereka dari amukan Richa.
"Kolonel... anda terlalu berlebihan!!" ucap salah seorang prajurit wanita yang berlari menjauh dari Richa sembari menutupi kepalanya menggunakan kedua tangannya.
"O-oi Richa... apa yang kau lakukan?... hentikan lelucon ini!" ucap Mervis dengan nada serius.
"Hah?... kau pikir ini sebuah lelucon?... kau anggap seperti itukah kemarahanku?" tanya Richa dengan nada yang semakin terdengar marah disertai aura hitam kemerahan di sekitar tubuhnya.
"B-bukan seperti itu maksudku, tenangkan dirimu!" ucap Mervis dengan nada gugup.
"Jika kau ingin seperti itu, suruh pria itu minta maaf padaku!" tegas Richa dengan nada yang terdengar sedikit mengancam mereka.
"Yuichi, sebaiknya kau meminta maaf pada Kolonel, dasar bodoh!" ucap Casta sembari memukul kepala Yuichi pelan.
"Hah?... kenapa aku yang harus meminta maaf?" tanya Yuichi bingung.
"Ini semua terjadi karena kebodohanmu, dasar rambut kuda," ucap Zaki dengan wajah dan nada datar.
"Jika dia tidak ingin minta maaf padaku, aku akan membunuhnya... sebaiknya kau tidak menghalangiku!" ucap Richa pada Mervis.
"Cih...." batin Mervis dengan keadaan yang sangat membingungkan.
"Jadi begitukah?... kau lebih memilih pria itu mati dari pada harus memaksanya untuk meminta maaf padaku!" ucap Richa dengan tatapan yang sangat tajam ke arah Mervis.
Lalu, belum lama Richa menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Richa telah menghilang dari tempatnya berdiri sebelumnya, dan bergerak dengan sangat cepat ke arah Yuichi yang sedang bersembunyi di balik mobil bersama Casta, Linda, Ayla dan juga Zaki.
Dengan kuku tajam dan sedikit panjang yang menyerupai cakar beruang muncul dari kedua jari tangannya.
Richa melewati Mervis yang bingung dengan kecepatan yang luar biasa dan langsung menggunakan cakarnya untuk mencakar bagian body mobil yang sedang digunakan oleh Yuichi, Ayla, Casta, Linda dan juga Zaki untuk bersembunyi.
"A-apa?" ucap Mervis dengan nada yang sangat kaget karena Richa yang sudah berada di belakangnya menyobek bagian badan mobil.
Sobekan itu mengeluarkan gelombang kejut yang terus mengarah lurus ke arah bagian dalam hingga membelah mobil tersebut menjadi dua bagian, tidak hanya sampai di sana, gelombang itu terus bergerak lurus hingga akhirnya merobohkan sebuah patung yang berbentuk pedang besar yang berada di depan gedung tersebut.
Para prajurit yang berlarian di sekitar menyaksikan hal itu lantas semuanya mengeluarkan ekspresi yang sangat kaget dengan mulut mereka semuanya menganga melihat kekuatan dari Kolonel Richa tersebut.
"Tidaaakk, mobilku...." teriak Mervis melihat mobilnya telah terbelah menjadi dua bagian.
Casta, Ayla, Linda, Yuichi dan juga Zaki yang sebelumnya bersembunyi di balik mobil tersebut lantas menghindar beberapa langkah dari mobil yang sudah menjadi dua bagian tersebut.
"K-Kolonel...." ucap Casta yang sedikit ketakutan.
"O-oi... apa yang kau lakukan," ucap Zaki yang sedikit terkejut melihat ke arah Richa.
"D-dia serius ingin membunuhku?" ucap Yuichi yang kaget dengan sedikit keringat di bagian wajahnya.
Linda yang melihat temannya yang sedang berada dalam bahaya lantas langsung berdiri di depan Yuichi dan merentangkan tangannya untuk melindungi Yuichi.
"Hah?" ucap Richa dengan nada yang sedikit marah melihat ke arah Linda yang berdiri didepan Yuichi dan mencoba melindungi Yuichi.
"H-hentikan!" ucap Linda dengan nada yang terbata-bata sembari melihat ke arah Kolonel Richa.
"Linda?" batin Mervis, Casta dan juga Ayla yang langsung memalingkan pandangan mereka ke arah Linda disertai ekspresi kaget melihat aksinya itu yang mencoba melindungi Yuichi dari kemarahan Richa.
"O-oi Linda... a-apa yang kau lakukan?" ucap Casta yang mencoba menghentikan Linda.
"Kalau begitu aku akan membunuhmu bersama temanmu itu...." tegas Richa sembari mengeluarkan amarahnya.
Richa yang sedang berada dalam kendali kemarahan seekor beruang, lantas bergerak dengan sangat cepat ke arah Linda yang sedang berdiam diri melindungi Yuichi, tangan kanan Richa sudah bersiap untuk memotong apapun yang berada di hadapannya, dan sambil mengarahkannya ke arah Linda, kuku yang sangat tajam berwarna hitam gelap siap untuk mengeluarkan kekuatannya.
Mervis yang sadar Richa yang sudah bergerak ke arah Linda dengan kecepatan yang luar biasa lantas langsung dengan sepontan mengeluarkan Artifacts miliknya dan ingin menyelamatkan Linda dari terkaman Richa.
Tetapi, Mervis sadar, jika ia yang bergerak dan melindungi mereka berdua dengan tubuhnya, meski sekeras apapun pertahanan dari Artifacts Mervis, tetap tidak akan bisa menandingi kekuatan cakaran dari seekor beruang yang sedang marah.
"Linda...." teriak Casta dan juga Ayla yang melihat Kolonel Richa menuju ke arah Linda.
Zaki yang melihat itu pun lantas mengepalkan tangannya dengan sekuat tenaga sambil mengeluarkan tatapan kebencian yang sangat dalam terhadap Richa yang ingin menyerang Linda.
Sekali lagi, Zaki berkedip dengan cepat dan pupil matanya kembali menjadi warna biru tua namun yang sekarang tidak terdapat gambar kepala serigala seperti sebelumnya.
Dan dengan cepat bahkan sangat cepat, Zaki langsung berdiri di depan Linda yang saat itu sedang memejamkan matanya dan kepalanya menghadap kebawah.
"K-Kau...."
Richa yang melihat Zaki tiba-tiba sudah berdiri di depan Linda lantas sedikit terkejut, akan tetapi Richa tetap mencoba menyerang siapapun yang menghadangnya, dengan mengarahkan cakar tajamnya ke arah Zaki, Richa mencoba untuk mencakar tubuh Zaki.
"Over Claw...." ucap Richa sembari menatap ke arah mata Zaki serta terlihat senyuman Richa yang sangat lebar dan sedikit mengerikan.
Disaat cakar itu hampir menyentuh Zaki, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedikit keras dari atas gedung.
"Sterculia foetida," ucap suara itu.
Dan dengan sangat cepat bahkan melebihi kecepatan Richa, sebuah pohon kecil tumbuh diantara Zaki dan Richa.
"I-ini...." ucap Richa dengan sedikit heran.
Debu berterbangan di sekitar mereka dan menutupi mereka berdua, saat para prajurit dan yang lainnya bingung dengan apa yang terjadi, Casta, Ayla dan Mervis mengira jika Zaki telah terkena serangan dari Richa.
"Z-Zaki...." ucap Linda dengan nada pelan.
Karena terlihat sedikit darah di lantai yang berceceran, Casta pun berlari mendekat ke Linda dan membawanya sedikit menjauh dari debu itu.
"A-apa yang terjadi?" tanya Yuichi pelan dan bingung menyaksikan situasi tersebut.
Disaat debu tersebut mulai menghilang, terlihatlah suatu makhluk hitam berbulu di sekujur tubuhnya dengan tinggi 200cm, mata yang berwarna merah menyala, telinga panjang dan runcing serta terlihat pula dua buah taring yang keluar dari mulut makhluk tersebut .
Semua orang yang menyaksikan hal tersebut lantas kaget, karena makhluk tersebut menahan serangan Richa dengan tangan kirinya menggunakan kuku panjang yang menyerupai cakar berwarna hitam.
"I-itu kan...." ucap semua orang yang berada di sekitar melihat makhluk tersebut menahan serangan Richa.
"Richa... apa yang kau lakukan?" ucap suara yang tadi terdengar dari atas gedung.
Richa pun merespon suara yang memanggilnya dengan melihat ke arah sumber suara tersebut, tetapi respon yang diberikan oleh Richa terlihat biasa saja dan seperti tidak ada masalah yang ia timbulkan.
"Cih...." ucap Richa dengan nada yang dingin.
"J-Jendral Celiona...." ucap para prajurit memberi hormat mereka.
Jendral Celiona pun melompat turun dari atas gedung tersebut, terlihatlah seorang wanita cantik dengan tubuh yang langsing, berparas cantik, rambut panjang sepinggang dan berwarna hitam, mata berwarna hitam, memakai baju keperwiraan tentara berwarna merah dengan corak berwarna putih dan terdapat lencana pangkat di pundaknya yang tergambar dengan empat bintang, serta di bagian dada kirinya terdapat ribbon bar yang cukup banyak, dan di atas ribbon bar tersebut terdapat sebuah badge pedang yang bersilang serta di dada sebelah kanan terdapat badge bulan sabit emas dan bintang.
Terlihat pula ditangan kiri Jendral Celiona sedang memegang sebuah syal leher dan terbuat dari bulu yang sangat lembut berwarna hitam serta memasangkan syal tersebut ke lehernya.
"O-oi Zaki... kau tidak apa-apa?" tanya Mervis khawatir.
Zaki hanya terlihat diam tak berkata apapun, dengan luka di bagian punggung tangannya yang cukup besar, dari luka tersebutlah darah yang berada di lantai menetes.
"Ta-tanganmu terluka Zaki!" ucap Casta yang melihat hal itu.
Namun, Zaki hanya terdiam dan tetap menatap ke arah Richa dengan tajam.
"Sekali lagi jika kau melakukan hal itu, aku akan mengambil nyawamu sebagai hadiah untuk anjing kesayanganku," ucap Zaki dengan sangat pelan sembari dengan ekspresi wajah yang terlihat serius dan penuh kebencian.
Tetapi, makhluk yang berada di depan Zaki mendengar apa yang Zaki katakan dan langsung melihat ke arah Zaki sembari tetap menahan cakar Richa dengan cakar miliknya.
Ketika makhluk tersebut melihat ke arah mata Zaki, makhluk tersebut sangat ketakutan dengan apa yang ia lihat, karena makhluk tersebut tidak sengaja sekilas melihat pupil mata Zaki yang berwarna biru tua dan memunculkan sebuah gambar kepala serigala dengan warna silver.
"Hah?... apa yang kau katakan?" ucap Richa yang tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Zaki dengan nada kesal.
Tampaknya Richa tidak bisa melihat bahwa pupil mata Zaki telah berubah pada saat itu, dan hanya makhluk itu saja yang dapat melihatnya dengan jelas.
Saat itu syal yang digunakan oleh Jendral Celiona bereaksi memberikan getaran yang sangat kuat seperti sebuah penolakan untuk digunakan, begitu juga dengan Artifacts milik Richa yaitu pin beruang yang terpasang di topinya juga bergerak-gerak seperti tidak ingin digunakan.
"Apa yang terjadi...." batin Jendral Celiona bingung.
Dan tiba-tiba makhluk hitam itu menghilang, begitu juga dengan cakar Richa yang menghilang secara tiba-tiba dan kembali menjadi kukunya yang cantik seperti biasa.
"Heh?... apa yang terjadi...." ucap Richa dengan nada yang sangat bingung.
Semua yang melihat kejadian itu seketika bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Richa... apa yang kau lakukan pada tamu kita?" ucap Jendral Celiona dengan nada membentak Richa dengan tegas.
"M-maaf Jendral... a-a-aku ti-tidak tahu apa yang terjadi...." ucap Richa sembari menutup matanya dan memberi hormat pada Celiona.
"Kau selalu saja tenggelam oleh keinginanmu sendiri, sebelum kau bisa mengendalikan Artifacts milikmu, tidak ada promosi untukmu!" jelas Jendral Celiona dengan sangat tegas.
"B-Baik Jendral!" ucap Richa sembari tetap memberi hormat pada Celiona.
"Eh?... si Kolonel itu sudah tidak marah lagi?" tanya Linda bingung.
"Syukurlah dia sudah kembali normal...." ucap Casta lega sembari memegang dadanya.
"Kolonel Richa memang seperti itu, ketika moodnya sedang tidak bagus, maka kekuatannya itu akan mengendalikan dirinya," jelas Casta pada Linda.
"Ya, hal itulah yang lagi diusahakan oleh Kolonel Richa, yaitu mengendalikan Artifacts miliknya," ucap Ayla dengan nada serius dan melihat ke arah Kolonel Richa yang sedang dimarahi oleh Jendral Celiona.
"Haaahh... syukurlah sekarang aku sudah tidak apa-apa...." ucap Yuichi menghembuskan nafas panjang karena merasa dirinya sudah sedikit aman.
"Itu semua gara-gara kau dasar bodoh," ucap Casta memarahi Yuichi.
"Eh... kenapa aku yang salah di sini," ucap Yuichi membalas omelan Casta.
"Zaki...." ucap Mervis sembari mendekat ke Zaki dan memeriksa keadaannya.
Terlihat Zaki tetap berdiri diam dan tidak merespon apapun.
"Di-dia... p-pingsan...." ucap Mervis kaget.
"Heh?...." ucap para prajurit yang berada di sekitar.
Jendral Celiona yang melihat hal itu lantas menyuruh Mervis langsung membawa Zaki masuk ke dalam dan menuju ke ruang perawatan, dengan sigap Mervis memanggil beberapa prajurit pria yang sedang berada di sekitar lokasi untuk menggotong tubuh Zaki.
"Zaki...." ucap Linda dengan nada khawatir sembari melihat ke arah Zaki.
"Dia pingsan sambil berdiri... anak muda yang aneh...." ucap Jendral Celiona tersenyum kecil.
"Tapi... saat Ruwo melihat ke arah anak muda itu... kenapa tingkahnya menjadi sedikit aneh dan pergi begitu saja?" batin Celiona bertanya-tanya dengan tatapan serius ke arah Zaki yang sedang digotong oleh para prajurit.
"K-kau... pria yang di sana...." panggil Richa dengan sedikit lembut.
"A-aku?" ucap Yuichi dengan ekspresi takut.
"Apa kau terluka?" tanya Richa penasaran.
"A-ah... t-tidak!" ucap Yuichi dengan gugup.
"M-maaf tentang apa yang terjadi, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku," ucap Richa sembari menundukkan kepalanya dan meminta maaf pada Yuichi dan juga Linda.
Lalu Richa mengalihkan pandangannya ke arah mobil yang sudah terbelah menjadi dua bagian.
"Eh?... kenapa mobil Mervis seperti ini?" tanya Richa heran.
Namun, Richa yang melihat Casta, Ayla, Linda dan juga Yuichi menatapnya dengan tatapan bahwa ialah yang sudah merusak kendaraan dan juga beberapa bangunan yang berada di sekitar sana.
"A-a-aku akan minta maaf pada Mervis... aku minta maaf... aku minta maaf," ucapnya polos dengan terus menundukkan kepalanya karena merasa sangat bersalah.
"A-ah... tidak apa Kolonel, kurasa Kolonel Mervis juga tidak terlalu mempermasalahkan itu... mungkin...." ucap Casta sembari menggosokkan tangan kanannya ke kepala belakangnya sembari menenangkan Richa yang penuh dengan rasa bersalah itu.
"Nah Casta... makhluk hitam apa tadi itu?" ucap Linda bingung.
"Itu adalah makhluk yang ku panggil menggunakan Artifacts milikku," potong Jendral Celiona.
"Artifacts?" tanya Linda penasaran.
"Ya... ini...." ucap Jendral Celiona sembari memegang syal yang berada di lehernya itu.
"Lalu makhluk tadi apa?" tanya Linda lagi.
"Makhluk tadi adalah sebuah Spirit, namanya adalah Genderuwo... aku memanggilnya dengan sebutan Ruwo," jelas Jendral Celiona lagi.
"Keren...." ucap Linda dengan mata yang berbinar-binar.
"Lalu Jendral, kenapa dia langsung menghilang tadi?" tanya Casta penasaran.
"Entahlah... mungkin karena kekuatan anak muda itu...." ucap Celiona bingung.
"Zaki?" tanya Casta kaget sekaligus penasaran.
"Hah?... Zaki mempunyai kekuatan?" teriak Yuichi mendengar percakapan mereka.
"Heh... apakah kau iri dengan itu Yuichi?" sindir Casta.
"Hmph... mana mungkin aku iri dengan orang bodoh seperti itu... jika dia mempunyai kekuatan, berarti aku juga seharusnya mempunyainya...." ucap Yuichi penasaran sekaligus membalas sindiran Casta.
"Cih... justru orang sepertimu lah yang sangat tidak memungkinkan untuk memiliki kekuatan, lulus ke pelatihan ini saja nanti aku ragu jika kau bisa berhasil... hmph...." sindir Casta lagi.
"Nah Casta... apakah berarti aku juga mempunyai kekuatan?" tanya Linda lagi dengan mata yang tetap berbinar-binar penuh semangat.
"A-ah... kalau itu aku tidak tahu Linda, mungkin saja, mengingat kalian juga belum mendapatkan ingatan kalian sepenuhnya," balas Casta mencoba menenangkan Linda.
"Linda... semangat," ucap Ayla dengan lembut dan juga ekspresi imutnya.
"Ya... semua masih belum diketahui tentang hal itu, karena itulah sesuai yang sudah para petinggi putuskan, kalian akan dilatih secara khusus untuk mendapatkan ingatan kalian kembali, dan memberitahu kami apa yang sebenarnya terjadi," ucap Jendral Celiona pada Linda dan Yuichi dengan tatapan serius.
"Richa!!" panggil Jendral Celiona.
Richa yang masih sibuk menunduk minta maaf pada para prajurit satu persatu pun menoleh ketika mendengar panggilan itu.
"Si-siap Jendral!" ucap Richa sembari mendekat dan memberi hormat pada Jendral Celiona.
"Heh... aku tidak tahu jika Kolonel Richa sangat lembut," ucap Linda tersenyum lembut pada Richa.
"A-aku minta maaf," ucap Richa lagi sembari menundukkan kepalanya pada Linda.
"A-ah... t-tidak apa-apa," balas Linda tersenyum lembut sembari memberikan gestur menggoyangkan kedua telapak tangannya kedepan pada Richa.
"Nah Richa... kau akan mengikuti pelatihan khusus ini bersama mereka untuk mengendalikan Artifacts milikmu itu," jelas Jendral Celione pada Richa.
"Eh?... pelatihan seperti apa?" tanya Richa penasaran.
"Hmm... itu masih dirahasiakan, sebaiknya kau persiapkan dirimu," balas Jendral Celiona tegas.
"B-baik Jendral!" ucap Richa memberi hormat pada Jendral Celiona.
"Kalau begitu kalian beristirahat dulu di dalam, dan temani teman kalian di sana," ucap Celiona pada mereka.
Karena hari sudah hampir menjelang malam, mereka pun memasuki gedung besar itu, lalu diantar oleh para pelayan yang ada di gedung itu untuk beristirahat diruangan yang sudah disiapkan.
Terlihat Casta, Linda dan juga Ayla yang baru selesai mandi serta dengan memakai pakaian tidur sedang asik mengobrol di sebuah kamar yang sudah disiapkan khusus untuk wanita.
"Waah... tempat ini jauh lebih besar daripada kantor Kolonel Mervis yah," ucap Linda dengan anda kagum sembari melihat ke arah sekitarnya.
"Benarkan apa aku bilang, tempat ini sangat besar," ucap Ayla sambil tersenyum pada Linda.
"Hmm...." angguk Linda.
"Nah Casta, apakah ini adalah ruangan kalian?" tanya Linda lagi.
"Ah bukan, sepertinya ini ruangan yang dikhususkan untuk kita bertiga," jawab Casta.
"Jadi... dimana kalian tinggal selama berada di sini?" tanya Linda heran.
"Di dekat gerbang keempat tadi terdapat asrama yang cukup besar untuk tempat tinggal para prajurit yang menjaga di sini," jawab Casta lagi.
"Lalu?... dimana Jendral Celiona tadi tinggal?" tanya Linda lagi penasaran.
"Hmm... Jendral Celiona mempunyai kota tempat dia bertugas yaitu kota Ganza," jelas Ayla pada Linda.
"Lalu bagimana dengan Kolonel Richa dan yang lainnya?" Linda terus bertanya pada mereka tentang bagimana kehidupan di tempat itu.
"Ada beberapa Kolonel atau petinggi yang diberikan tugas khusus untuk menjaga dan mengatur suatu kota, contohnya Kolonel Mervis yang diberikan tugas untuk mengatur kota Bergorm, dimana tempat kalian ditemukan," jelas Casta.
"Hmm... Kolonel Louis menjaga kota Garhare," potong Ayla.
"Dan Kolonel Richa, beliau yang menjaga kota Anzrax," beritahu Casta pada Linda.
"Jika semua petinggi dikumpulkan seperti sekarang ini, maka mereka untuk sementara tinggal di atas," tunjuk Ayla keatas langit-langit kamar.
"Eh?... atas?" ucap Linda heran.
"Ya, mereka di atas kita... hahaha...." ucap Casta sambil tertawa kecil.
"Mereka berada di lantai dua, dimana kamar khusus untuk para Kolonel, dan lantai tiga untuk para Jendral," ucap Ayla tersenyum.
"Ah... jadi seperti itu kah...." ucap Linda penuh dengan kekaguman.
"Hmm... bagaimana keadaan Zaki yah?" tanya Linda penasaran.
"Lebih baik kita biarkan dia beristirahat, besok kita akan melihatnya," ucap Casta mencoba menenangkan Linda.
"Kalau begitu, ayo kita tidur, karena malam sudah semakin larut, kau juga harus menjaga kesehatanmu," ucap Ayla pada Linda dengan nada lembutnya.
"Hmm...." angguk Linda.
Mereka pun mematikan lampu dan tidur di sebuah kasur Spring Bed dengan ukuran yang cukup besar.
Sementara itu, terlihat Kolonel Mervis yang berada di ruangan Zaki dan Yuichi.
"Oi rambut kuda... sebaiknya kau tidak mengganggunya beristirahat," ucap Mervis pada Yuichi.
"Hah?... apakah aku terlihat seperti orang yang suka mengganggu?" ucap Yuichi dengan nada kesal.
"Lebih baik kau segera tidur, karena Jendral Rayfox ingin bertemu dengan kalian besok, karena tadi terjadi suatu hal yang merepotkan, jadi beliau menunda pertemuannya," beritahu Mervis pada Yuichi.
"Hmm... baiklah," balas Yuichi dengan mengosokkan tangannya ke kepala belakangnya dengan ekspresi yang dingin.
"Aku akan kembali ke ruanganku, beritahu aku jika terjadi sesuatu," ucap Mervis sembari menutup pintu kamar dan kembali ke ruangannya.
Terlihat Yuichi yang melihat ke arah Zaki yang sedang tertidur di kasur sebelahnya.
"Nah Zaki... sebenarnya apa yang terjadi," batinnya sembari melihat ke arah Zaki yang sedang tertidur.
"Aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian, aku akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kembali ingatan kita, hingga aku mengetahui kekuatan apa yang aku miliki," ucapnya lagi dalam hatinya dengan penuh tekad.
Lalu Yuichi mematikan lampu tidur di sebelahnya dan menarik selimut hingga menutupi bagian hidungnya.