
Suasana di sekitar tempat itu tidak terlalu ramai, karena masih di pagi hari yang terlihat hanyalah pengurus taman dan sedang menyirami bunga-bunga di sekitar sana.
Zaki, Linda dan Yuichi terus memperhatikan setiap sisi, karena penasaran dengan tempat itu.
Ketika mereka menaiki tangga untuk ke pintu utama, mereka disambut oleh seorang pria yang berumur sekitar 50 tahunan dengan memakai pakaian Steward berwarna hitam putih dengan rambut yang sudah sedikit memutih.
"Selamat datang," sapa pria itu.
"Ah... kami ke sini untuk mengambil sesuatu," ucap Casta.
"Yah... beliau sudah memberitahu saya bahwa kalian akan datang kesini," balas pria itu lagi sambil tersenyum.
"Hey Casta... siapa pak tua ini?" bisik Zaki ke telinga Casta.
Karena bisikan Zaki terdengar juga oleh pria itu, lantas ia memperkenalkan dirinya ke Zaki, Linda, dan Yuichi.
"Perkenalkan, saya Jancoct Hearvers penjaga dan pengurus tempat ini," jelasnya sambil tersenyum.
"Kalian pasti orang-orang yang ditemukan oleh para prajurit di laboratorium itu ya?" tanya pria itu.
"Ya... mereka juga disuruh untuk ikut ke pusat untuk bertemu dengan Kolonel," ucap Casta.
"Oh... begitu ya... kalau begitu bagaimana kalau kalian masuk terlebih dahulu," jawab pria itu.
Lalu mereka masuk ke dalam ruangan, terlihat barang-barang antik yang berkilau tersusun dengan rapi di tembok dan lemari kaca disertai vas bunga di setiap sudut ruangan memperindah tempat itu.
"Aahhh... tempat ini sangat indah...." ucap Linda dengan mata yang bersinar.
Ketika mereka akan berjalan menuju ruang tengah Casta sontak terhenti, ia merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan akan terjadi padanya, ya benar saja, saat ia terhenti ia merasakan ada orang lain yang berada di belakangnya mengikuti mereka.
Casta yang merasakan hal itu lantas membalik badannya, dan ternyata sudah ada seorang wanita dengan wajah yang terlihat sangar, rambut berwarna hitam serta berpakaian tentara dengan sorotan mata yang tajam melihat ke arah Casta.
"Yoo gadis muda... sudah lama kau tidak datang kemari...." ucapnya dengan nada yang menyeramkan.
Casta yang kaget sontak berteriak dengan kencang, mereka yang sudah berjalan di depanpun mendengar teriakan Casta lantas ikut berbalik badan dan melihat apa yang terjadi.
"Ah... Misca ternyata kau," ucap pria tua itu.
"Nah papa... kenapa kau tidak memberitahuku jika mereka akan datang," balas Misca.
"Haha... aku lupa memberitahumu,"jawab pria itu sambil tertawa.
Zaki, Linda dan Yuichi yang melihat Casta sedang dicubit-cubit pipinya oleh Misca lantas bertanya pada Ayla.
"Nah Ayla... siapa wanita itu?" tanya Linda.
"Beliau adalah Mayor Misca Hearvers, anaknya pak Jancoct," jelas Ayla sambil tersenyum.
"Dia kelihatan masih muda, berapa umurnya," tanya Zaki.
"Hmm... mungkin sekitar 30 tahun," jelas Ayla lagi.
"Bagiku ia terlihat seperti 40 tahun...." jawab Yuichi sambil memegang dagunya dan memikirkan sesuatu.
Misca yang mendengar dirinya sedang dighibah pun lantas berkata.
"Hah?... siapa yang kau sebut 40?" dengan tatapa tajam ia melihat ke arah mereka.
"A-ahh... haha... bukan seperti itu mungkin maksud Yuichi," Ayla mencoba menolong Yuichi.
"Kau... apakah kau Ayla?... kau Ayla Adonia kan?" tanya Misca sambil melihat gadis di depannya yang menggunakan celana Jeans panjang berwarna biru dengan kaos loreng itu.
"Hmm...." Ayla mengangguk.
"Heeh... kau sudah tumbuh besar yah... haha...." jawab Misca sambil tertawa.
"Nah papa... biar aku saja yang mengantar mereka berkeliling...."
"Baiklah kalau begitu... kebetulan aku masih ada sedikit urusan," jawab Jancoct sembari pamit dan meninggalkan mereka.
Lalu mereka lanjut berjalan menuju ruang tengah, di ruang tengah terlihat terdapat beberapa ruangan, dan salah satunya adalah ruangan Kolonel Mervis, karena tertulis di pintunya dengan jelas nama Mervis di sana.
"Anu... Mayor Misca...." panggil Casta gugup.
"Hmm... ada apa?"
"Aku keruangan Kolonel Mervis dulu, ada yang ingin aku ambil, kalian duluan saja berkeliling, nanti aku menyusul."
"Hmm... Oke... oh ya Casta... bukankah sudah kubilang jika di sini jangan panggil aku Mayor... tapi panggil kak Misca yang cantik," ucapnya sambil berpose dengan kedua jarinya berada didepan matanya dan membentuk huruf V.
Mereka yang melihat tingkah Mayor Misca hanya bisa terdiam dan berkata dalam hati, "Heeeeh...." berbarengan dengan ekspresi konyol mereka.
Lalu mereka melanjutkan tour di dalam gedung, sementara itu Casta masuk kedalam ruangan Kolonel Mervis, dan mulai mencari buku yang dimaksud.
Casta melihat-lihat isi ruangan Kolonel Mervis yang sedikit berantakan, ia berjalan ke meja kerja Kolonel dan melihat ada dua buku diary berwarna merah dan hitam dengan tulisan 'Secret' di sampul depan bukunya.
"Apakah buku ini yang dimaksud Kolonel?"
Sebenarnya Casta penasaran isi dari buku itu, tetapi ia sadar akan tugasnya dan bersikap profesional terhadap misi yang telah diberikan padanya.
Casta mengambil dan memasukkan buku itu ke dalam tas yang disandangnya, dan sebelum ia keluar dari ruangan, dia membereskan terlebih dahulu ruangan yang berantakan itu.
Ketika sedang bersih-bersih dan menyusun buku kembali di rak buku, ia menemukan sebuah buku yang menarik dengan tulisan 'Old Division' di sampul depannya, dan buku itu tidak terlalu tebal, namun, ia teringat tentang tugasnya untuk kembali ke pusat sebelum siang, ia pun dengan cepat membereskan ruangan itu.
Setelah selesai, ia keluar dari ruangan itu dan pergi mencari yang lainnya, karena Casta yang sudah hafal dengan sifat Misca, ia lantas langsung pergi menuju ke ruangan belakang, yang mana disana terdapat taman yang cukup luas disertai pemandangan yang indah untuk bersantai.
"Hmm... sudah kuduga kalian ada di sini," ucap Casta.
"Ah... apakah kau sudah mengambil buku itu?" balas Ayla.
"Ya...."
"Buku?...." tanya Misca heran.
"Kami kemari karena disuruh Kolonel untuk mengambil beberapa buku di ruangannya untuk dibawa ke pusat,"jelas Casta.
"Heeh... kukira kalian ke sini karena rindu padaku," rayu Misca.
"Hmph... mana mungkin...." sindir Casta.
"Casta... kau jahat sekali...." dengan nada manja Misca berkelakuan seperti anak kecil dan memajukan bibir bawahnya kedepan.
"Lalu... apa yang kalian bahas di sini selama tidak ada aku?" tanya Casta penasaran.
"Hmm... aku hanya menanyakan tentang mereka bertiga... yah... sepertinya aku ketinggalan informasi tentang mereka... ahaha... haha...." Misca dengan ekspresi bodohnya dan mengosokkan tangannya di kepala belakangnya.
"Neh... Casta... bukankah tempat ini luas dan indah sekali?" ucap Linda dengan gembira.
"Tempat yang terlalu luas tidak cocok denganku... hmm...." ucap Yuichi.
"Ya... terlalu melelahkan jika kau berjalan seharian di rumahmu dengan luas yang seperti ini." keluh Zaki.
"Nah Casta... kudengar kau mendaftar ke Division?" tanya Misca.
"Eh?... dari mana kau tau?...." jawab Casta heran.
Misca lalu melihat ke arah Ayla yang sepertinya menderita dengan bekas merah di pipinya.
"Ahh... begitu ya, kukira kau mengalami alergi," ucap Casta yang mengetahui keadaan Ayla.
"Hahaha...." Misca tertawa melihat Casta yang berhasil menebaknya.
"Ya, Kolonel Mervis mendaftarkan ku untuk mengikuti pelatihan itu," jawab Casta mengeluh.
"Hmm... kudengar itu akan menjadi tes yang sangat berat untuk tahun ini... apa kau yakin dengan itu?" tanya Misca.
"Huftt... aku sudah mencoba menolaknya, tetapi aku tidak tahan dengan tatapan menyeramkan Kolonel, mau tidak mau aku harus menerimanya meskipun itu akan membunuhku."
"Hahaha... ternyata sikampret itu sama sekali belum berubah yah...." dengan nada tertawa Misca menyindir Mervis.
"Nah wanita barbar... Division itu apa?" tanya Zaki polos.
"Hmm... kau tidak tahu?... itu adalah pasukan elit yang ada di negara ini," jelas Misca.
"Eh?...." Casta yang heran berkata dalam hatinya," kenapa dia tidak marah dipanggil barbar oleh makhluk bodoh itu?"
"Heh... elitkah... terus apa yang menjadi dasar kemampuan mereka?" tanya Zaki lagi.
"Setiap anggota Division memiliki kemampuan yang luar biasa dan sangat berbeda dari prajurit biasa, dengan intelektual yang sangat tinggi dan kemampuan bertahan hidup yang hebat mereka bahkan bisa menjadi hantu yang menakutkan di medan peperangan," jelas Misca.
"Menurut rumor, satu Division bisa menghancurkan satu Batalyon musuh," ucap Ayla.
"Hmm... Batalyon itu memangnya apa?" tanya Yuichi.
"Batalyon itu adalah satuan pasukan militer yang biasanya berjumlah lebih dari 300 orang," jelas Misca.
"Wah... bukankah mereka hebat... bisa menghancurkan musuh sebanyak itu," ucap Linda dengan nada kagum.
"Lalu... berapa jumlah orang di dalam Division?" tanya Yuichi kembali karena ia pesanaran.
"Lima...." ucap Misca.
"Hah?... apa kau serius? " jawab Zaki dan Yuichi dengan nada tak percaya.
"Terus kenapa kalian masih berperang jika prajurit Division bisa menghancurkan musuh sebanyak itu?" tanya Zaki.
"Begini... yang dihancurkan adalah para prajurit biasa yang tidak memiliki Artifacts," jelas Misca.
"Artifacts?... apa lagi itu... kenapa aku semakin tidak mengerti...." jawab Zaki yang terlihat pusing sambil memegang kepalanya.
"Haha... yang jelas ya seperti itu," ucap Misca.
"Jadi Casta... apakah kita akan pergi sekarang?" tanya Ayla.
"Ya... karena hari semakin siang... takutnya Kolonel akan marah padaku karena terlambat."
"Kalian sudah mau pergi yah... padahal aku masih ingin mengobrol...." ucap Misca dengan ekspresi sedih.
"Anu... aku sudah minta izin pada Kolonel agar bisa membawa salah satu mobil di sini untuk kembali ke pusat...." ucap Casta.
"Ah... kalau begitu ayo kita ke garasi... aku akan memilihkan mobil yang bagus untuk kalian... haha," ajak Misca.
Merekapun meninggalkan taman belakang itu dan kembali ke ruangan tengah untuk pergi menuju garasi dimana tempat berbagai macam kendaaraan disimpan.
Ketika berada di ruangan tengah ada seorang prajurit pria menghampiri mereka.
"Mayor Misca...." ucap prajurit itu sembari memberi hormat.
"Hmm... ada apa?"
"Hah?... orang asing?... siapa?" balas Misca.
"Tidak tahu... dia tidak mau menyebutkan namanya... dan katanya dia ingin bertemu dengan seseorang di dalam gedung ini...." jawab prajurit itu dengan nada heran.
"Hmm... kau urus saja orang asing itu... jika dia tidak memberitahukan maksud dan tujuannya, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam gedung ini... atau aku akan dimarahi oleh pria bodoh itu...." Misca bermaksud menyindir Kolonel Mervis.
"Ba-baik Mayor!" ucap prajurit itu tegas sembari meninggalkan tempat itu.
"Nah Mayor... apakah kita tidak mengecek dulu siapa orang itu?" tanya Casta.
"Hmm... tidak usah, lagian itu tidak penting, biar para penjaga yang mengurusnya," jawab Misca santai.
"Baiklah...."
Mereka melanjutkan perjalanan menuju garasi yang terletak di luar sebelah kanan gedung dan menghiraukan masalah yang baru saja terjadi.
Ketika sampai di depan garasi yang tertutup rapat oleh pintu besi yang lumayan besar, Misca membuka pintu itu dengan men-scan sebuah kartu dengan Card Scan Door yang terletak di pinggir pintunya.
Tidak lama kemudian pintu besar itu terbuka dengan perlahan dan mulai terlihat sedikit bermacam-macam kendaraan besar dan terlihat gagah.
Saat pintu terbuka sepenuh ternyata di dalam garasi tersebut sangat luas dan diisi oleh kendaraan tempur berat seperti dua unit Main Battle Tanks yang bercorak hijau dan hitam, tiga unit BTR-80 yang digunakan untuk mengangkut para prajurit dengan warna hitam, satu unit VAB lengkap dengan senapan mesin M2 Browning yang terletak di tengah atap kendaraan serta bercorak hijau dan hitam.
"Wah... Kendaraan yang mengagumkan dan sangat besar...." ucap Linda dengan mata yang bersinar-sinar.
"Hey... biarkan aku menaiki yang itu...." ucap Yuichi sambil menujuk ke arah salah satu Main Battle Tanks.
"A-anu... apakah ini semua punya Kolonel itu?" tanya Zaki yang kagum dengan kendaraan-kendaraan yang dilihatnya.
"Haha... tentu saja tidak... ini semua adalah milik negara, yah karena berhubung dia yang mengelolah gedung ini jadi bisa dibilang ya... dia yang mengatur semua kendaraan di sini," jelas Misca.
"Heeh... ternyata dia orang yang lumayan hebat yah...." ucap Zaki kagum untuk pertama kalinya.
Casta dan Ayla yang melihat respon mereka hanya bisa tertawa kecil dan sedikit malu karena para prajurit yang berjaga di sekitar sana melihat ke arah mereka.
"Lalu Mayor... mana yang bisa kami bawa?" tanya Casta.
"Ah... kalo itu tempatnya dibelakang," ucap Misca.
Mereka menuju ke belakang kendaraan besar itu dan terlihat lah sebuah mobil yang cukup keren yaitu dua unit mobil sejenis M998 Humvee dengan warna hitam mengkilap.
"Apakah kita akan menaiki ini?" ucap Linda dengan kagum.
"Ya... kalian boleh membawanya... haha...." jawab Misca.
"Hmm... baiklah setidaknya kita bisa kembali kepusat," ucap Casta.
"T-tapi... tempat duduknya hanya untuk empat orang...." ucap Ayla gugup.
"Karena ini tipe seperti pickup yang mempunyai tempat kosong di belakangnya, maka salah satu dari kalian akan duduk di sana," jelas Misca.
"Heeh... siapa yang mau duduk di sana?" tanya Zaki.
Seketika mereka semua melihat ke arah Zaki dengan tatapan kasihan.
"Eh...." ucap Zaki setelah melihat mereka menatapnya.
"Sayang sekali Zaki... kupikir mereka semua setuju jika kau yang berada di belakang...." sindir Yuichi sambil memegang pundak Zaki.
"Haaah... kenapa selalu aku...." jawab Zaki tidak terima.
Saat mereka sedang asiknya berdebat tentang siapa yang akan duduk di luar, tiba-tiba mereka mendengar suara ledakan yang sangat keras dari arah pintu gerbang.
Duarrr....
"Apa itu?" ucap Casta.
"Sepertinya suara itu dari arah luar gerbang," jawab Ayla.
Para prajurit yang berjaga berada di sekitar garasi lantas mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi di luar.
Misca, Casta dan yang lainnya langsung menuju ke arah pintu masuk depan gedung, lalu ada prajurit yang datang berlari dan melapor ke Mayor Misca.
"Mayor!" ucap prajurit itu sambil memberi hormat dengan nafas yang terengah-engah.
"Ada apa... apa yang terjadi?" tanya Misca.
"Orang asing yang tadi memaksa untuk masuk menyerang kita."
Ketika mereka melihat ke arah gerbang yang lumayan jauh, ada seseorang yang berpakaian serba hitam dengan hoodie yang menutupi kepalanya dan menggunakan masker hitam bergambar tengkorak berjalan dengan santainya dari arah gerbang menuju ke tangga utama tempat mereka berada.
Casta yang melihat pria itupun mulai ingat kembali saat pertama dia melihatnya.
"Di-dia... itu orang yang kumaksud," ucap Casta.
"Eh...." jawab Ayla.
Namun dari kejauhan pria itu berbicara dengan nada kesal.
"Ternyata tidak mudah untuk masuk kesini... sampai-sampai aku harus menggunakan Artifacts ku," ucap pria itu lirih.
Misca yang melihat pria itu seperti memegang sesuatu di tangan kanannya yang berbentuk seperti kincir angin kecil serta terbuat dari logam dan diujung tangkainya sangat tajam, lantas ia bersiap-siap untuk bertarung.
"Pengguna Artifacts yah?" ucap Misca.
"Hah... Artifacts?... dari mana kau bisa mengetahuinya?" tanya Casta dengan nada panik.
"Saat pengguna Artifacts mengaktifkan Artifactsnya, maka pupil mata mereka akan mengeluarkan cahaya...." jelas Misca.
Casta, Ayla, Linda dan yang lainnya lantas langsung mengecek mata pria itu, dan ternyata mata pria itu memang mengeluarkan cahaya berwarna kuning yang sedikit pudar.
"Casta, Ayla... jaga mereka bertiga, sepertinya aku harus melawannya," ucap Misca bersiap menuruni tangga.
"Ba-baik Mayor...." ucap keduanya.
"Ayo kita berlindung di balik tiang itu," ucap Casta.
Misca menuruni anak tangga dan berjalan santai ke arah pria itu sembari bertanya maksud dan tujuan pria itu.
"Kenapa kau datang kemarin dan menyerang tempat ini?" tanya Misca santai.
Dengan tatapan tajam pria itu menjawab, "Aku ingin bertemu dengan seseorang yang penting, enyahlah sebelum kau kuhancurkan."
"Coba saja jika kau bisa!" balas Misca berlari ke arah pria itu sembari memegang sesuatu dari dalam kantong celana yang berada di paha kirinya.
Karena melihat Misca yang akan melakukan sesuatu lantas pria itu pun menyerangnya, dengan mengenggam benda yang berada di tangan kanannya, mata pria itu mengeluarkan cahaya kuning yang terang.
"Wind Cutter...." ucap pria itu sembari mengangkat tangan kirinya dan mengayunkannya seperti mengayunkan sebilah pisau.
Seketika angin tebal yang berwarna hitam dan berbentuk seperti sebuah tebasan pedang melaju ke arah Misca.
Sebelum tebasan yang cepat itu mengenainya, Misca tiba-tiba menghilang dari jarak itu dan sudah berada didepan pria itu serta mengepalkan tangan kanannya dengan kuat dan memukul pria itu hingga terlempar cukup jauh.
Saat pria itu terlempar, seketika para prajurit yang berada di sekitar sudah bersiap siaga mengarahkan senjata api mereka ke arah pria itu dan menembaknya secara beruntun.
Namun, pria itu berhasil memotong semua peluru yang ditembakkan padanya menggunakan angin yang tajam.
"Kalian mengganggu saja...." ucapnya sembari mengarahkan serangannya pada para prajurit yang menembakinya.
Misca yang melihat para prajuritnya diserang lantas marah dan kembali menyerang pria itu dengan serangan yang cepat, namun, sebelum Misca dapat melontarkan serangannya, pria itu dengan cepat membuat pelindung angin yang mengitari dirinya.
"Oi... oi... pertarungan macam apa ini," ucap Yuichi panik.
"Inilah yang dinamakan pertarungan antar pemilik Artifacts," jawab Casta.
"Ta-tapi para prajurit yang di sekitar menjadi kena imbas serangan mereka," ucap Linda dengan nada sedih.
Zaki yang melihat pertarungan itu dengan tatapan mata yang tajam lantas berkata.
"Aku akan mencari pak tua itu," ucap Zaki sambil berlari kedalam ruangan.
"Oi... Zaki kau mau kemana...." cegah Casta.
Sementara itu pertarungan keduanya masih berlanjut.
"Berhentilah menghalangiku dasar wanita keras kepala," ucap pria itu kesal.
"Haah... jelas saja aku akan menghalangimu, karena ini bukanlah tempatmu," jawab Misca.
"Jadi kau ingin aku serius?" balas pria itu dengan sorotan mata yang menyeramkan dan memiringkan kepalanya ke arah kanan.
"Ya... aku ingin mengetahui sebatas mana kekuatan dari Artifacts milikmu," ucap Misca menantangnya.
Mereka berdua bertatapan dari jauh dengan sorot mata yang saling bercahaya, Misca yang dari tadi hanya memegang sesuatu dari kantong yang berada di pahanya lantas mengeluarkan benda itu.
Terlihat sebuah benda berbentuk telur yang lumayan kecil dengan motif macan di sekeliling cangkang telur itu, dengan tersenyum yang seperti meremehkan lawannya, Misca melepaskan baju tentaranya dan hanya menggunakan Tanktop yang berwarna hitam terlihat Misca memakai kalung dogtag.
"Ah... aku akan lebih leluasa jika seperti ini," ucap Misca dengan senyuman yang mengerikan.
Zaki yang berada di ruang tengah gedung mendengar suara tepat di sebelah ruangan Kolonel Mervis, lantas ia membuka pintu itu karena penasaran, dan ternyata pak Jancoct berada di sana sedang melihat sebilah pedang lengkap dengan sarungnya serta bergambar kepala serigala di sarung pedangnya dan di atas pedang itu terdapat sebuah pistol yang cukup antik dan bergambar sama di bagian gagangnya dan terpajang di dinding.
"Pak Jancoct...." panggil Zaki.
"Ya... aku sudah mendengarnya...." jawabnya santai.
"Lalu apa yang anda tunggu?... anda harus membantu wanita itu!" ucap Zaki.
"Misca tidak akan kalah semudah itu," jawabnya santai.
"Tapi orang asing itu...."
"Jadi kau melihatnya ya...." potong Jancoct.
"Ya... ada yang aneh dengan pria itu... seakan dia belum menunjukkan semua kemampuannya," ucap Zaki dengan serius.
"Baiklah kalau begitu... kembalilah ke mereka, aku akan ke sana sebentar lagi," balas Jancoct.
Zakipun kembali ke tempat Casta dan yang lainnya, sedangkan Jancoct tengah bersiap untuk membantu anaknya melawan orang asing itu.
"Apa kau sudah siap untuk mati?" tanya pria itu dengan tatapan tajam.
"Ya... lakukan jika kau bisa!" tegas Misca.
Dengan berdiri sejajar dan sedikit jauh merekapun bersiap untuk memulai pertarungan serius mereka dan memperkenalkan masing-masing Artifacts mereka.
"Rare Artifacts : Black Wind," dengan sorotan mata yang bersinar pria itu menyebutkan Artifaknya.
"Rare Artifacts : Limit Breaker," balas Misca dengan berdiri tegap dan senyum yang meremehkan.