
Mobil brian telah berhenti di seberang jalan, didepan sekolah risa. Seperti biasanya brian mengantar anak gadisnya berangkat sekolah sebelum dirinya melaju menuju perusahaannya.
Dilihatnya anak gadisnya yang terlihat kesusahan membuka sealtbetnya. Brian segera membantu melepasnya agar anaknya tidak terlambat masuk sekolah. Padahal jika dilihat dari jam masuknya, mereka sama sekali tidak terlambat. Bahkan keadaan sekolah terlihat masih jarang siswa siswi yang datang.
" ah terima kasih ayah." Ucap risa setelah brian berhasil melepas sealtbetnya. Brian hanya tersenyum menanggapi. Tangannya terarah mengacak pelan rambut risa.
" belajar yang rajin, sayang. "
" siap kapten." Canda risa.
" Dan jangan lupa, jika terjadi sesuatu . . " belum selesai memberi wejangannya, risa ikut melanjutkannya.
" selalu hubungi ayah. Risa mengerti ayah. Sekarang ayah harus siap siap ke kantor jika tidak ingin terlambat. Oke." Risa mengecup sebelah pipi brian, berpamitan.
Akhirnya brian menyudahi wejangannya dan membalas mengecup kening risa gemas.
" baiklah, ayah berangkat sekarang. Pulangnya tunggu ayah. "
" iya. Hati hati ayah. " risa membuka pintu mobil dan keluar. Gadis itu berdiri dipinggir jalan sambil menunggu waktunya untuk menyebrang ke sekolahnya.
Sebelum gadis itu memasuki pagar, risa menoleh sekali lagi ke belakang. Dan mendapati ayahnya yang masih memerhatikan dirinya. Risa tersenyum geli. Padahal dilihat dari manapun risa sudah tumbuh dewasa, namun ayahnya selalu menganggap risa sebagai gadis kecilnya yang masih berumur sepuluh tahun. Dilambaikan tangannya ke arah brian sebelum pergi menghilang dibalik pagar sekolah. Barulah brian melajukan mobilnya.
Dengan langkah ringan risa berjalan menuju kelasnya. Gadis itu sengaja memilih jalan memutar untuk sekedar berkeliling mengamati sisi demi sisi sekolahnya yang ternyata memang lebih luas dari yang dipikirkannya.
Hanya segelintir siswa siswi yang sudah datang ke sekolah. matanya sibuk memerhatikan sekeliling hingga langkahnya berhenti pada sebuah tangga yang diyakininya menuju atap sekolah. Tempat risa melihat siswa yang dengan santai berdiri disana tanpa mempedulikan jam belajar masih berlangsung kemarin.
Risa masih mengamati tangga itu. Menimbang untuk pergi ke atas sana atau tidak. Sepertinya menyenangkan.
Akhirnya dengan langkah pasti risa berjalan menaiki tangga itu sampai menuju sebuah pintu yang diyakininya terhubung ke atap.
Sempat merasa ragu jika pintu itu terkunci. Namun pikiran itu salah. Pintu itu terbuka ketika Risa memutar knopnya. Dan terpampanglah hamparan yang ternyata cukup luas. Membuat gadis itu terperangah.
Angin sepoi sepoi menampar wajahnya. Menerbangkan helaian rambut risa yang saat ini sedang dikuncir menjadi satu. Tempat ini menyenangkan.
Risa menggerakkan kakinya semakin masuk ke dalam. Pandangannya menyebar ke seluruh tempat. Tidak ada siapapun di tempat ini. Ditiap sisi atap sudah terpasang pembatas. Bahkan ada sofa yang terlihat masih bagus di tempat ini.
Dihampirinya sofa itu dan mencoba duduk diatasnya. Nyaman, sejuk, dan tenang. Risa tersenyum sumringah telah menemukan tempat yang menyenangkan. Risa melepas tasnya agar bisa menumpukan punggung kecilnya pada bahu sofa. Matanya bisa melihat dengan jelas awan di atas. Langitnya terlihat lebih indah dari sini.
Pandangannya tidak sengaja berhenti pada sebuah ruangan yang sepertinya gudang.
Gadis itu mendekatinya dan dengan perlahan membuka pintu
Yang ternyata juga tidak dikunci.
Risa membuka lebar pintu itu sehingga cahaya matahari bisa menyebar masuk ke dalamnya. Seperti dugaannya. Ini seperti gudang yang lama tidak di pakai. Namun terlihat cukup bersih. Mungkinkah seseorang juga membersihkan tempat ini, batinnya.
Risa melangkah masuk ke dalam. Matanya menajam melihat sebuah bungkusan plastik yang terletak di meja situ. Langkahnya menuju benda itu untuk melihat isinya.
Krieeettt
BLAMM !!
Proses penerbitan 😊