Obsessions

Obsessions
DARAH



Krik krik krik


Suara jangkrik terdengar bersahutan ikut serta meramaikan suasana berdarah yang akan terjadi malam ini.


Berada dalam wilayah yang jarang terjangkau hiruk pikuknya suasana kota. Tepat di ujung desa di tengah hutan, sebuah pabrik gula bekas yang sudah lama terbengkalai tidak beroperasi lagi tengah berdiri. Pabrik itu dikelilingi semak semak belukar yang sudah tumbuh dengan liar dan panjang. Dan di bentengi dengan pagar beton yang sudah lumutan.


Terlihat begitu suram, tidak terawat, gelap dan kotor. Hanya melihatnya dari luar saja disiang hari mampu membuat bulu kuduk berdiri seakan merasakan adanya sesuatu yang sedang mengawasi dari dalam.


Namun siapa sangka isi didalamnya telah disulap sedemikian rupa sebagai tempat bermain para tikus kecil yang sejak setahunan ini menjadikannya markas mereka.


Penduduk sekitar bahkan tidak mengetahui adanya jalan lain yang bisa mengantarkan mereka kepada sisi lain dari bangunan tua itu.


Dibalik remang remang kegelapan malam itu, tidak ada yang menyangka dengan adanya kehadiran sebuah mobil sport hitam yang terparkir tersembunyi dengan apiknya di balik pohon besar disekitar bangunan itu.


Sudah setengah jam yang lalu mobil itu berada disana. Menyembunyikan dua tubuh berwajah rupawan yang sedang duduk tenang mengawasi keadaan sekitar dengan mata elang masing masing.


Bahkan salah satu dari mereka masih asyik melahap cemilan kripik yang memang sengaja disediakannya sedari pagi tadi. Hanya untuk mengusir kebosanannya karena pria itu yakin, aksinya saat ini cukup memakan waktu hanya untuk menunggu mangsanya berkumpul. Dan Kenan membenci itu.


" KRAUK krauk kress kress nyam nyam KRAUK krauk kress kress. " Ekspresi wajahnya terlampau santai sehingga tidak jarang membuat gemas pria di sampingnya yang ingin ikut menguntal kepalanya.


Sabar Sean. Andai pria yang sedang memakan kripiknya ini bukan satu satunya keluargamu, mungkin sudah habis ditebasnya sedari tadi.


" cepat habiskan kripik sialanmu, kenan. Sudah waktunya kita bergerak. " desis Sean. Matanya yang sudah memicing fokus pada salah satu targetnya yang baru saja memasuki kawasan pabrik itu. Ya, targetnya sudah lengkap saat ini.


Cowok itu menyimpan kembali bungkus kripik kedalam tempat sampah yang sengaja diletakkan dalam mobil. Bukan karena memegang kalimat " jangan membuang sampah sembarang. " namun dirinya hanya tidak ingin meninggalkan jejak sedikitpun ketika melakukan aksinya.


Dengan atribut yang telah dipakai masing masing, tentu saja semua berwarna hitam, Sean dan Kenan keluar mengendap endap menuju bangunan itu. Dengan lincah memanjat pagar dalam kegelapan dan melompat turun tanpa menimbulkan suara yang berarti layaknya seorang profesional.


Kenan dan Sean melangkah beriringan mendekati sisi bangunan hingga langkah mereka berhenti di balik tembok. Sean mengawasi sisi tembok yang merupakan pintu utama menuju markas dibaliknya yang tengah dijaga oleh dua bodyguard di lantai satu dan dua lainnya di lantai dua.


Dengan gerak isyarat, Sean memberikan instruksi kepada Kenan untuk mengurus lantai dua, sementara dirinya di lantai satu. Kenan segera melaksanakannya. Pria itu melangkah kearah sebaliknya berniat mendekati pilar, dan dengan mudah memanjat pilar yang menghubungkannya ke lantai dua. Bagi Kenan mau lantai satu maupun dua tidak masalah untuknya.


Dengan sigap kenan melangkah mendekati salah satu bodyguard terdekat yang berada persis di balik tembok. Menyumpal mulutnya dengan kedua tangan dan menyeretnya ke tempatnya bersembunyi. Sebelum menancapkan pisau lipatnya dalam dalam ke lehernya. Satu nyawa telah menghilang. Kenan melempar tubuh tak bernyawa itu hingga jatuh dibawah kakinya dan menimbulkan debuman kecil setelah mencabut pisau kecilnya.


Suara kecil itu berhasil menyita atensi satu bodyguard yang lain yang kini menuju kearah persembunyian Kenan. Menyadari rekannya yang kini tidak pada tempatnya membuatnya meningkatkan kewaspadaan.


Di siapkannya pistol pendek yang diarahkannya ke depan, siap menembak. Perlahan tubuhnya maju kedepan hingga mencapai ujung sisi tembok.


Dengan gerakan cepat bodyguard itu maju menghadap sisi tembok lain dengan pistol mengarah ke depan, menarik pelatukna ketika melihat keberadaan Kenan.


Namun agaknya kalah cepat dengan gerakan Kenan yang berhasil menggorok lehernya terlebih dulu. Dua nyawa telah tumbang.


Kenan mendengus menatap remeh satu nyawa yang baru dihilangkannya.


Proses penerbitan😊