
" karena aku tidak suka milikku memikirkan orang lain selain aku. Mulai sekarang, hanya aku yang ada dalam pikiranmu, sayang. Ingatlah aku yang telah membunuh kedua orang tuamu, dan akan membunuh siapapun laki laki yang mendekatimu. Hanya aku, sayang. " dan detik itu juga Kenan ******* bibir risa dengan kasar. Seakan menekankan bahwa gadis yang saat ini kehilangan separuh nyawanya itu adalah mutlak miliknya.
.
.
.
" Tidakk! " pekik risa. Memaksa alam bawah sadarnya kembali dengan membuka kedua matanya dengan paksa. Dan itu berhasil mengeluarkannya dari mimpi buruk yang baru saja dilaluinya. Tubuh Risa menggigil hebat dengan dentuman jantung yang kencang.
Matanya terbuka lebar meyakinkan diri bahwa itu semua hanya sebuah mimpi. Gadis itu sibuk mengatur napasnya sembari mendudukkan dirinya perlahan.
Tidak berapa lama terdengar suara kaki yang melangkah tergesa menuju kamarnya dan cklek pintu kamar Risa terbuka, menampakkan sosok tinggi tegap ayahnya, Brian.
Wajahnya terlihat cemas melihat keadaan Risa yang berantakan. Dihampirinya gadis itu. " sayang, ada apa? Kau baik baik saja? "
Risa hanya terdiam sebentar melihat sosok ayahnya yang kini menghampirinya di ranjang. Brian mendudukkan dirinya di depan Risa sembari meneliti raut gadis itu.
" ayah. . . "
" ya sayang, ayah disini. "
" ayah. . . "
" ya sayang, ada apa, hm? "
" ayah. . . Hiks! "
" oh sayang shuttt jangan menangis. Ayah disini. Tenanglah. Kau baru saja mimpi buruk, hm? Tidurlah kembali. Ayah akan menjagamu, sayang. " Brian memeluk anak gadisnya dengan erat mengetahui anaknya yang kini tengah ketakutan. Tangannya sibuk mengelus rambut halus gadis itu juga dengan kecupan kecupan kecil di puncak kepalanya.
Gadis itu mengeratkan pelukannya pada Brian sambil menghirup dalam dalam wangi tubuh ayahnya yang selalu membuatnya tenang.
Sementara Brian mengambil gelas kaca berisi air yang selalu menemani gadis itu tidur, dan menyuruhnya untuk menghabiskannya.
Brian memeluk tubuh kecil itu. Tangannya menepuk lembut punggung anaknya setelah menghapus keringat yang membanjiri dahi gadis itu. Saat ini pasti istrinya tengah tertidur dengan lelap karena lelah menemaninya mengerjakan tugas kantor yang baru diselesaikannya.
Brian memang baru saja menyelesaikan tugasnya dan baru saja menidurkan istrinya di kamar mereka karena Ratna tertidur di ruang kerjanya. Kemudian dirinya mendengar pekikan Risa dilantai atas. Tanpa berniat membangunkan Ratna, dirinya bergegas naik menuju kamar anaknya.
" dedek mau cerita sama ayah, hm? " gumam Brian. Risa menimang nimang akan menceritakannya atau tidak. Kepalanya langsung teringat wajah Kenan yang berada dimimpinya dan juga ciuman kasarnya. Membuat risa menunduk malu. Akhirnya gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. Tidak ingin membuat ayahnya ikut terbebani. Toh keluarganya juga tidak pernah mengenal pria itu. Selama risa bisa menjaga jarak dengan pria aneh itu, maka gadis itu rasa semuanya akan baik baik saja.
Risa memikirkan perkataan Tari di sekolah kemarin. Benar. Dirinya hanya cukup mengikuti kemauan Kenan. Hanya sebulan kan. Risa hanya menyerahkan bekalnya dan segera meninggalkannya tanpa ada interaksi lainnya. Sedari awal gadis itu memang merasakan feeling aneh terhadap pria itu. Dan itu membuat risa merasa gelisah ketika berdekatan dengannya.
Dihembuskannya nafas perlahan, meyakinkan diri bahwa semua akan baik baik saja. Sebelah tangannya memeluk pinggang Brian.
" ayah . . . " gumamnya lirih.
" hm? "
" berjanjilah pada Risa, jangan pernah meninggalkan Risa sendirian disini. " perkataan gadis itu membuat Brian membuka kedua matanya yang sempat tertutup tadi.
" apa kamu baru saja memimpikan itu? "
Brian tertawa geli ketika mendapatkan anggukan dari anaknya, " ayah tidak akan pernah meninggalkan kalian, sayang. Karena kamu dan bunda adalah harta ayah satu satunya. "
" sudah jangan dipikirkan lagi. Ingatlah mimpi itu hanya bunga tidur. Sekarang dedek tidur sama ayah. Besok kan harus sekolah. "
Brian menaikkan selimut untuk membungkus tubuhnya dan anaknya. Mencium kening gadis itu dan mengantarnya menuju alam mimpi.
.
.
.
Proses penerbitan 😊