Obsessions

Obsessions
TARGET



Setelah belajar sedikit untuk besok, risa mulai menghentikan kegiatan belajarnya. Ingin beranjak tidur.


Gadis itu merenggangkan otot ototnya sebentar sebelum beranjak mengunci jendela yang ternyata celahnya terbuka. Setelah itu risa melangkah ketempat tidur dan menuju alam mimpinya.


Tanpa menyadari beberapa waktu lalu seseorang telah berhasil masuk kedalam kamar pribadinya. Mengambil salah satu barang pribadinya.


.


.


KEDIAMAN KENAN


Tengah malam,


Pukul 00.30 WIB


Baru saja sebuah mobil sport merah memasuki pagar sebuah mansion yang di jaga seorang satpam. Mobil itu berhenti di garasi menampilkan seorang pemuda bertubuh tinggi baru saja keluar dari dalamnya.


Dengan pakaian serba hitam yang dikenakannya dari atas kepala yang ditutupi topi hitam, beberapa tindik dengan hiasan anting hitam di kedua telinganya, masker wajah hitam, hoodie tebal berwarna hitam, celana panjang hitam dan sepatu sport hitam.


Pemuda itu mengambil ransel hitamnya yang berada dalam jok belakang mobil dan menyampirkannya pada sebelah pundaknya.


Wajah dan tubuhnya benar benar tertutup rapat seakan tidak mengijinkan siapapun melihat ataupun mengenali identitasnya.


Namun begitu, percayalah. Pesona yang dipancarkannya mampu memikat kaum hawa yang melihatnya karena kemisteriusannya.


Pemuda itu melangkah dengan santai menuju pintu mansionnya dan membukanya.


Dilihatnya keadaan sekitar yang terlihat benar benar gelap. Hanya beberapa lampu malam yang memang dibiarkannya menyala.


Suatu kebiasaan yang sudah bertahun tahun dilakukannya. Bukan bermaksud untuk menghemat listrik, percayalah, uang miliknya masih berlimpah jika hanya memikirkan tagihan kecil seperti itu. Pemuda itu hanya menyukai kegelapan sedari kecil dan berkat kebiasaan yang diturunkan oleh kakaknya, Sean, yang keberadaannya diujung tangga sudah disadarinya sejak kakinya melangkah masuk dalam mansion.


Satu satunya saudara laki laki yang dimilikinya ini memiliki hobi yang sama dengannya. Menyukai kegelapan, menyukai warna merah dan berkuasa. Membuatnya cukup dekat dengannya.


" pulang malam, kenan." Suara berat terdengar dari arahnya sebagai bentuk sapaan dari saudaranya yang tentu saja tidak perlu di balasnya. Karena saudaranya sudah pasti mengetahui alasannya pulang malam atau bahkan pagi sekalipun.


Lampu ruang utama langsung menyala menerangi sekitar memperlihatkan keberadaan kakak beradik itu sekarang.


Pemuda yang bernama kenan itu memicingkan mata kearah kakaknya. Mencoba menebak ada apa gerangan kakaknya itu pulang ke mansionnya. Karena sesungguhnya mereka tinggal terpisah. Kakaknya lebih memilih tinggal di apartemen mewahnya yang berada jauh lebih dekat dengan kantornya daripada mansion yang ditempati adiknya sekarang. Mansion yang berada jauh dari kota, yang mengharuskannya melewati hutan dengan waktu yang ditempuhnya tiga puluh menit dari jarak setelah kota.


Kenan meletakkan tasnya di salah satu sofa dan menghempaskan pantatnya di salah satu sofa panjang. Dilepasnya hampir seluruh atribute yang digunakannya saat ini. Dimulai dari topi, masker wajah, dan hoodie favoritnya meninggalkan sebuah kaos hitam yang telah melekat pas ditubuh atletisnya.


Diliriknya kakaknya yang sedang berjalan santai menuruni anak anak tangga rumahnya dengan sudut matanya.


Tampilannya tidak jauh berbeda dengan kenan saat ini. Sebuah celana panjang dengan kaos hitam. Bedanya kaos yang dipakainya berukuran all size dengan rambut coklat pirangnya yang juga mampu melelehkan hati kaum hawa. Sungguh kakak beradik yang memiliki aura mematikan dalam berbagai cara.


Kenan menyelonjorkan kaki jenjangnya di sofa panjang tanpa melepas sepatu yang dikenakannya. Dan kemudian merebahkan setengah tubuhnya pada sisi sofa yang sudah di siapkan bantal besar untuk mengganjal punggungnya.


Kakaknya tidak mempermasalahkan tingkah lakunya itu. Toh ada beberapa pelayan yang sudah dipekerjakannya untuk membersihkan mansion ini meskiĀ  adiknya tidak mengijinkan pelayan itu untuk ikut tinggal di mansion ini. Alhasil pelayan pelayan itu hanya datang di pagi hari untuk melakukan tugasnya dan segera pulang kembali. Itupun hanya beberapa kali dalam seminggu. Selain pelayan yang mengurus kebersihan dan kebutuhan sandang pangan kenan, kakaknya juga mempekerjakan tukang kebun yang datang sekali seminggu dan beberapa bodyguard yang sudah standby di tempatnya masing masing.


Yah, meski kakaknya yakin kenan pasti bisa mengatasi tikus tikus kecil yang memaksa masuk kedalam mansionnya, tapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segala situasi yang kemungkinan terjadi.


Karena berkat kelihaian kakaknya yang mampu mengembangkan perusahaannya, tentu saja banyak musuh yang semakin banyak mengincar mereka juga.


Dan kakaknya hanya terlalu menyayangi satu satunya keluarganya yang tersisa.


Kenan memang memiliki pribadi yang lebih tertutup dibanding kakaknya, Sean. Karena itu awalnya kenan tidak menyetujui adanya bodyguard yang dipekerjakan kakaknya.


Kenan bisa menjaga dirinya sendiri. Namun berkat ancaman yang diberikan kakaknya, akhirnya cowok itu terpaksa menyetujuinya juga.


Sean melangkah menuju pantry untuk mengambil dua kaleng bir yang memang selalu disediakannya jika sewaktu waktu dirinya pulang ke mansion seperti yang dilakukannya saat ini.


Diberikannya salah satu miuman itu untuk adiknya sebelum sean mengambil tempat duduk di salah satu sofa tunggal.


Tanpa diberitahupun kakaknya sudah mengetahui tabiat adiknya yang suka menghabiskan minumannya itu.


Kenan segera membuka tutup kaleng itu dan langsung menenggaknya hingga habis. Lalu diletakkan kaleng kosong itu didepan meja. Sean tersenyum melihatnya.


Pria itu mulai membuka tutup kalengnya dengan gerakan tenangnya dan juga menenggaknya. Hanya satu tegukan, tidak berniat langsung menghabiskannya seperti yang dilakukan adiknya.


Jika dilihat dari perilaku kakak beradik ini, memang ada suatu kebiasaan yang berbeda.


Dan keduanya juga senang mempraktekkan kebiasaan itu dalam bisnis mereka menghadapi musuh musuhnya.


Yah meskipun kenan masih berstatus pelajar, namun kakaknya juga sering mengikut sertakan adiknya itu dalam menjalani bisnis bisnisnya yang lain. Itu bisa melatih otak kenan untuk semakin berkembang.


" jadi bagaimana sekolahmu, kenan? Apa ada hal yang menarik ?" Tanya Sean sambil meminum minumannya sedikit demi sedikit.


" hum cukup baik, kak. Akhirnya ada hal yang menarik di sekolah itu."


" benarkah? Apa itu? " kakaknya terlihat sedikit tertarik untuk mendengar ceritanya. Yah jarang jarang adiknya itu menaruh minat pada sesuatu.


" aku menemukan kelinci baru. Dan akan kujadikan kelinci itu milikku seorang. " kakaknya mengerti arah pembicaraan adiknya itu. Salah satu alisnya terangkat, sedikit terkejut mendengar penjelasan dari adiknya.


" jadi, kau sudah berhasil melupakan gadis masa lalumu ?"


" tidak."


" lalu ?"


" aku hanya mencari mainan yang baru. Dan kelinci ini sedikit mengganggu pikiranku."


Kakaknya mengendikkan bahunya tidak peduli. Baguslah jika memang adiknya bisa berdamai dengan masa lalunya. Itu lebih baik bagi, sean, daripada melihat adiknya menjadi orang gila yang kesetanan di luar, dengan membunuh orang orang yang sialnya telah bertemu iblis sepertinya di jalan malam hari.


Mungkin saja dengan begitu, adiknya bisa lebih fokus pada mainan barunya.


" jadi ada apa kau kemari kak." Kenan to the point membuat kakaknya sedikit mengunggingkan senyuman. Adiknya selalu mengerti apa maksudnya kesini.


" aku hanya merindukanmu. Bukankah terhitung dua minggu sejak kepergianku mengurus perusahaan ke jepang kemarin, kenan. Kemarilah, aku ingin memberimu sebuah pelukan." Sean merenggangkan tangannya meminta sebuah pelukan.


" berhentilah bersikap menjijikkan, kak. Dan katakan tujuanmu kesini kepadaku."


" ahh, kau memang tidak selucu dulu. Aku merindukan kenan kecilku yang menggemaskan, kau tau."


Kenan memutar bola matanya malas. Perkataan kakaknya tidak dipedulikan kenan lagi.


" baiklah baiklah. Aku akan mengatakannya. Minggu depan, aku membutuhkanmu untuk menggantikanku dalam pertemuan dengan perusahaan baru."


" sebagai gantinya ? "


Kini Sean yang ganti memutar bola matanya malas. Adiknya ini selalu senang membantunya dengan pamrih.


" kau bisa mendapatkan pistol yang kau inginkan kemarin."


" wow benarkah."


" ya dengan syarat, ikut bersamaku besok mengurus tikus kecil yang tidak tau diri itu."


" aku setuju." Kenan menunjukkan seringainya.


.


.


Dikamar kenan.


Tepatnya dalam ruang rahasianya yang berada dalam kamarnya, cowok itu sedang memerhatikan sebuah foto gadis berbaju merah dengan senyum merekah. Ingatan masa lalunya kembali membayangi kepalanya.


Berjalan seperti kaset yang sedang diputar. Berbagai macam perasaan berkecamuk dalam dadanya.


Tangannya kembali mengepal. Matanya beralih pada selembar foto lain yang baru saja didapatnya beberapa jam yang lalu dengan mudah.


Foto itu menampilkan seorang gadis yang tersenyum bahagia diapit kedua orangtuanya, dengan background pantai.


Kenan menancapkan foto itu di dinding yang sudah disediakan khusus olehnya untuk info korban korbannya. Dan gadis itu adalah target selanjutnya.


Risa.


.


.