Obsessions

Obsessions
PENYESALAN



Risa menghentikan langkahnya dengan lega ketika dirasanya sudah berada dalam jarak yang aman dari tempat Kenan. Kini dirinya sedang berada di depan toilet dekat kantin sekolah.


Sejujurnya ini sedikit terasa lucu baginya. Padahal risa sendiri tidak mengenal siapa Kenan yang sebenarnya. Bahkan pria itu tidak pernah menyakitinya secara langsung. Sebaliknya,  Kenan pernah menolongnya yang terkunci di gudang atap. Bukankah ini juga sedikit tidak adil bagi Kenan. Namun hatinya selalu merasa gelisah dengan keberadaan pria itu disekitarnya. Ditambah cerita yang simpang siur tentang pria itu membuatnya meyakinkan diri untuk tidak berurusan dengan adik kelasnya itu.


Masih dalam pikirannya sendiri sehingga risa tidak menyadari keberadaan Ardy yang mendekatinya.


" Risa. "


" oh hai, dy. "


" kamu udah nyerahin ke dia? Gak papa?. "


" gak papa kok. Mungkin akunya aja yang terlalu paranoid sama dia. " ardy cuma manggut manggutin kepala.


" mau ke kantin bareng? Kamu belum makan kan. "


" boleh. Yuk. " mereka berjalan beriringan dengan ditemani percakapan ringan.


Dan waktu berjalan seperti biasanya hingga jam pelajaran telah usai. Tari dan Ardy baru saja pulang. Meninggalkan Tari yang sendiri di kelasnya.


Gadis itu memang sengaja mengambil waktu pulang agak lambat karena harus mengambil tempat bekalnya. Dan sedikit menunggu sekolah sepi agar tidak ada kemungkinan dirinya akan berselisihan jalan dengan Kenan. Yah mengurangi persentasi bertemu dengan cowok itu tidak buruk juga.


Sudah lewat lima belas menit dari jadwal pulang sekolah. Risa bergegas pergi ke arah atap.


Dibukanya pintu atap itu perlahan. Kepalanya melongok mengintai keadaan.  Pandangan yang sedari awal tertuju ke arah sofa,  tempat Kenan biasa berada menjadi lega karena ketidak beradaannya pria itu. Dengan langkah pasti Risa memasukkan tubuhnya ke atap itu dengan mantap. Dan pintu otomatis tertutup.


" hahh, rasanya ini semakin menjadi konyol. Kenapa aku setakut itu padanya. "


" benar. Kenapa kau setakut itu padaku. "


" Astaga! Sejak kapan kamu disitu!"


" sejak tadi. " Kenan berjalan santai melewati Risa dan menuju sofa singgasananya. Risa sendiri berusaha menormalkan detak jantungnya yang baru saja hampir copot karena ulah pria yang sekarang duduk bak raja di sofa. Matanya terarah pada gadis itu.


" ekhem. Kufikir kamu sudah pulang. " risa perlahan mulai berjalan ke arah Kenan. Lebih tepatnya ke tempat bekalnya yang berada di sofa, di sebelah Kenan.


" belum. Aku sedang menunggu seseorang. " deg! Seketika langkah Risa terhenti. Matanya lurus tertuju pada Kenan yang juga sedang menatapnya tajam.


Sudah cukup dengan basa basinya bagi Risa. Rasanya gadis itu sudah muak dengan tingkah laku abstraknya jika berhadapan dengan pria itu. " kamu menungguku? "


" benar. "


" untuk apa? "


" aku ingin mengajakmu pulang bersama. "


" kenapa? " Kenan melangkah santai mendekati Risa.


" karena aku menyukaimu. "


" sudah kubilang berhentilah membual. Kenapa kamu selalu berbelit belit. " kenan telah berdiri didepan gadis itu. Alisnya bertaut tidak mengerti dengan ocehan risa.


" aku tidak berbelit belit, sayang. Aku to the point mengatakan aku suka kamu. Apa itu masih kurang? "


" dan aku menyukai orang lain. Jadi berhentilah mendekatiku." risa melanjutkan langkahnya untuk mengambil tempat bekalnya. Dimasukkan tempat itu ke dalam tasnya.


" kenapa kamu selalu menghindariku. "


" aku tidak menghindarimu. " jawab risa berusaha tenang.


" kau bahkan takut padaku, bukan. Berhentilah membual dan jelaskan padaku. Apa aku sudah melakukan kesalahan padamu. "


" itu . . . "


" kalau kamu takut hanya karena aku meminta bekal darimu bukankah itu sedikit lucu. Aku sudah menolongmu. Sudah sepantasnya aku mendapat imbalan darimu bukan. Aku hanya ingin merasakan bekal rumahan, karena sudah lama aku tidak mendapatkannya. Dan saat ini aku benar benar menginginkannya. Apa aku salah? ".


" apa maksudmu? " tidak ayal perasaan halus Risa sekarang sedikit tergelitik karena ucapan Kenan. Terlebih melihat raut wajah Kenan yang seakan menahan kesedihan yang mendalam. Membuat Risa sedikit merasa tidak enak karena telah menghindarinya.


" aku tinggal sendirian di rumah. Sudah lama sejak kedua orang tuaku meninggal. Apa kamu tidak mengetahui itu? " risa menggelengkan kepalanya.


" bukan. Bukan seperti itu maksudku. " risa jadi semakin gugup dibuatnya.


" lalu kenapa kamu takut padaku? "


" itu, karena aku mendengar cerita cerita tentangmu. Dan aku merasa risih karena kamu tiba tiba memaksaku tentang bekal itu. "


Jawaban risa membuat tawa parau dari Kenan. Pria itu mendekati Risa dengan wajah terluka.


" jadi kamu juga sama seperti mereka yang dengan seenaknya menyebar dan mempercayai isu murahan tentangku. "


" eh . ."


" aku menyukaimu. Kamu orang pertama yang berani menyentuhku bahkan memelukku sejak adanya isu murahan itu tersebar. Meskipun mungkin kamu melakukannya tanpa sadar, tapi aku tetap senang. Pelukanmu mengingatkanku pada almarhum mamaku. Aku hanya ingin merasakan bekal yang dibuat oleh orang yang kusuka. Hanya itu, kak. "


Hati Risa tersentuh. Baru kali ini Kenan memanggilnya, kak. Dan pria itu terdengar bersungguh sungguh mengatakannya. Itu membuatnya semakin bersalah pada pria yang lebih muda setahun darinya itu.


" maafkan aku, Kenan. Aku sudah bersikap kekanakan padamu. "


" tak apa. Akulah yang seharusnya meminta maaf karena sudah merepotkanmu. Aku tak akan memaksamu lagi untuk membuatkanku bekal. Terima kasih kak Risa. Bekal hari ini sungguh enak. " Kenan mengatakannya dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Pria itu membalikkan tubuh kekarnya yang bersembunyi dibalik seragam sekolahnya. Dan melangkah keluar dari atap meninggalkan Risa seorang diri.


.


.


.


Sudah lewat sejam sejak risa membaringkan dirinya di atas ranjang bermaksud untuk menidurkan dirinya malam ini. Namun mata dan pikirannya tetap tidak bisa diajak kompromi. Tubuhnya bergerak gelisah, bolak balik menghadap ke sisi demi sisi yang lain untuk menyamankan diri, namun tetap saja gagal.


Pikirannya tertuju pada pertemuannya dengan Kenan selama ini. Pria itu benar. Selama ini dirinya terlalu paranoid dengan adik kelasnya itu tanpa alasan. Dan lihatlah sekarang. Pasti anak itu sedang terluka karena tindakan anehnya.


Seharusnya Risa tidak seperti itu. Sejak kapan dirinya memilih milih teman hanya karena termakan gosip seperti itu. Jika ayah dan bundanya tahu, mungkin mereka akan langsung memberikan wejangan panjang lebar karena tingkahnya yang tidak baik. Terlebih dengan adik kelas yang sudah pernah menolongnya.


Haruskah dirinya meminta maaf pada anak itu? Besok?


.


.


.


Rencananya hari ini Risa ingin menemui Kenan untuk sekedar meminta maaf padanya. Namun diluar dugaan gadis itu tidak menemukan batang hidungnya secuil pun. Dikantin dan di atap. Alhasil risa bergabung dengan yang lain untuk memenuhi perutnya. Mungkin besok mereka bisa bertemu.


Dan diluar dugaan lagi. Sudah tiga hari sejak risa mencari Kenan, sampai sekarang anak itu tidak nampak batang hidungnya.


Bahkan gadis itu sengaja mencari Kenan di kelasnya hanya untuk mendapatkan alasan bahwa Kenan tengah sakit sekarang. Teman sekelasnya ternyata mengetahui bahwa anak itu memang tinggal seorang diri namun tidak ada yang berani menjenguknya. Tentu saja karena takut dengan kebenaran tentang isu itu. Lalu bagaimana anak itu merawat tubuhnya sendiri ketika sakit.


Rasa bersalah Risa semakin membesar. Gadis itu bertekad untuk menjenguknya. Sejak hari itu Risa mencoba untuk tidak langsung mempercayai segala isu yang tersebar disekolah ini. Ini semua dilakukannya karena hanya dirinya tidak ingin menjadi merasa buruk. Untunglah besok akhir pekan jadi tidak mengganggu aktifitas sekolah juga.


.


.


.


Dan disinilah Risa berada. Di depan sebuah pintu mansion besar yang berada di tepi hutan. Risa tidak menyangka akan berada di tempat ini. Teman teman Kenan memang mengatakan tempatnya lumayan jauh dari kota. Tapi mereka tidak mengatakan bahwa mansionnya terletak di tepi hutan seperti ini.


Di depan gerbang tadi risa sempat dihadang dua penjaga bertubuh besar dan menginterogasinya sebelum akhirnya salah satu dari mereka mempersilahkannya untuk masuk.


Tidak menunggu lama, pintu di depan Risa terbuka. Menampakkan seorang pemuda yang risa kenali dengan wajah kusutnya. Rambut dan bajunya terlihat berantakan. Terlihat sekali pria itu baru saja bangun tidur. Memang risa sengaja datang pagi hari agar tidak kemalaman mencari alamat rumah Kenan.


" hai. " sapa Risa sedikit kikuk. Terlihat wajah Kenan yang bengong sebentar menatapnya.


" em boleh aku masuk? "


Tanpa kata, Kenan menggeser badannya sedikit. Mempersilahkan gadis itu masuk. Masuk kedalam kandang manusia buas.