
Risa sibuk mencuci piring bekas Kenan di wastafel dengan cekatan. Menggosoknya dengan sabun dan membilasnya dilanjut dengan mengeringkannya dan menatanya dengan rapi. Gadis itu membersihkan kekacauan kecil yang sempat dibuatnya tadi ketika menyiapkan makanan Kenan. Setelah dirasanya cukup barulah gadis itu mengistirahatkan diri sebentar dengan bersender di dinding pantry.
Setelah ini dirinya akan menyuruh anak itu untuk membersihkan diri karena sejujurnya gadis itu mencium bau yang cukup menyengat dari tubuh Kenan sedari tadi. Bau keringat yang bercampur dengan sesuatu yang lain. Tentu saja Risa tidak menyadari bau yang dimaksudnya adalah bau alkohol dari Kenan. Seumur umur gadis itu tidak pernah bersentuhan dengan minuman itu, tentu saja Risa cukup awam dengan itu.
Pikirannya mulai berkelana kembali ke tempat beberapa saat yang lalu ketika Kenan yang bercerita tentang kecelakaan keluarganya. Ada rasa menggelitik yang membuatnya sedikit merasa bersalah karena telah bersikap jahat kepada anak itu dengan menghindarinya. Merasa takut tanpa sebab dengan anak itu. Mungkin dirinya telah membuat Kenan terluka karena sikapnya. Padahal anak itu hanya ingin mendekatinya karena rasa suka. Katanya sih. Risa sendiri tidak ingin mengambil pusing karena pernyataan Kenan tentang itu.
Hanya saja, kenapa dirinya bisa dengan mudah menyetujui permintaan bocah itu yang menyuruhnya membawakan bekal untuknya. Dikiranya semua itu tidak mengeluarkan biaya apa. Risa menepuk jidatnya dengan gemas. Tidak memikirkan sejauh itu. Kan kasihan ayahnya yang sudah bersusah payah mencari uang untuknya tapi malah dihamburkan seenaknya oleh anaknya sendiri. Meskipun orangtuanya tidak mempermasalahkan gadis itu yang membawa bekal di sekolah, malah merasa senang melihatnya karena gadis itu tidak jajan sembarangan, namun tetap saja Risa merasa bersalah. Belum lagi Risa juga masih mengeluarkan uang untuk membeli makanannya sendiri dikantin.
Ini tidak bisa dibiarkan. Risa harus membuat kesepakatan dengan bocah itu untuk keadilan. Sebelum gadis itu semakin dirugikan. Dasar Kenan. Sepertinya bocah itu sedikit pintar memperdaya orang. Atau dirinya sendiri yang memang terlalu bodoh. Gampang saja menyepakati sesuatu tanpa berpikir panjang terlebih dulu.
Risa menggelengkan kepalanya. Langkahnya berjalan menuju ke tempat Kenan yang sedang santai rebahan di sofa panjang memejamkan matanya. Dengan sebuah senyuman kecil yang terlihat tersungging disudut bibirnya jika Risa benar benar memperhatikannya.
Risa menggelengkan kepalanya. Langkahnya berjalan menuju ke tempat Kenan yang sedang santai rebahan di sofa panjang memejamkan matanya. Dengan sebuah senyuman kecil yang terlihat tersungging disudut bibirnya jika Risa benar benar memperhatikannya.
Risa menggelengkan kepalanya. Langkahnya berjalan menuju ke tempat Kenan yang sedang santai rebahan di sofa panjang memejamkan matanya. Dengan sebuah senyuman kecil yang terlihat tersungging disudut bibirnya jika Risa benar benar memperhatikannya.
Proses penerbitan 😊