Obsessions

Obsessions
Teman



Detik demi detik waktu berlalu begitu cepat. Semua mata masih tertuju pada pembahasan yang sedang dijelaskan oleh bu wiwin di depan.


Risa sedikit takjub dengan keseriusan siswa siswi di kelasnya dalam belajar. Ruangan menjadi tenang.


Gadis itu ikut fokus mendengarkan apa yang dijelaskan bu wiwin.  Tangannya sibuk mencatat penjelasan  yang sekiranya penting.  Karena risa tidak ingin tertinggal dalam menyesuaikan diri di bidang study.


Sesekali gadis itu mengalihkan perhatiannya ke luar jendela ketika merasa jenuh.  Yah meskipun tidak ada apapun yang menarik diluar,  itu bisa sedikit membantu menyegarkan matanya.


Selama pelajaran berlangsung,  matanya tidak luput mengedarkan pandangan ke penjuru kelas. Mereka masing masing duduk bersebelahan. Apakah risa tidak memiliki teman sebangku? Atau mungkin jumlah siswa disini memang ganjil.


Sekali lagi risa tidak mempedulikannya. Mau dia memiliki teman sebangku atau bukan,  yang penting itu tidak mengganggu belajarnya. Risa akan tetap baik baik saja.


Matanya kembali mengarah ke arah luar jendela.  Sekolah ini memiliki formasi bentuk U. Yang terdapat lapangan outdoor di tengah bangunan dan terhubung dengan halaman sekolah.  Juga lapangan indoor di dalam yang terletak di sebelah kantin sekolah.


Di lantai teratas terdapat atap sekolah yang jarang sekali di masuki siswa. Dan kali ini fokus risa mengarah ke tempat itu.


Matanya tertuju pada seseorang yang sepertinya siswa disekolah itu juga. Berdiri di pinggir pagar pembatas dan menghadap ke arah kelas risa.


Karena jarak pandang yang tidak terjangkau membuat risa semakin menajamkan penglihatannya.


Benar.  Itu adalah seorang siswa.  Seragamnya tidak dikancing sehingga menampilkan kaos putih yang dikenakannya.


Sedang apa siswa itu? Bukankah ini masih jam pelajaran.  Kenapa dia bisa berkeliaran dengan bebas di situ.  Apa tidak ada yang melaporkannya kepada guru.


Risa masih fokus mengamati siswa itu tanpa menyadari bu wiwin yang sedang memergokinya. Tanpa kata bu wiwin melemparkan sebuah kapur ke arah risa.  Dan hebatnya tepat mengenai kepalanya.


Tukk!


" Agghk! "


" apa kamu bosan berada di kelasku risa?  Kamu mau belajar diluar saja? "


" ah, maaf bu. Saya tadi melihat . . . Maksud saya,  saya akan fokus belajar disini bu. " jawab risa gugup.  Hampir saja dia keceplosan.  Risa hanya tidak ingin mencari masalah di hari pertamanya sekolah dengan melaporkan seorang siswa yang tidak menaati peraturan.


" baiklah,  karena kamu masih siswa baru kali ini ibu melepasmu. Tapi tidak untuk pertemuan selanjutnya.  Kamu mengerti!?  "


" iya bu.  Terima kasih. "


Pasti saat ini kedua pipinya sudah memerah. Apalagi sekarang gadis itu sedang menjadi pusat perhatian kelas lagi.


" baiklah kita lanjutkan belajarnya.  Semua kembali fokus ke depan. " ujar bu wiwin yang langsung di taati penghuni kelas.


Dalam benak risa muncul pertanyaan lagi. Apakah mereka memang siswa siswi yang teladan atau hanya karena tidak ingin mendapat teguran seperti yang didapat risa barusan?  Karena sepertinya guru yang satu ini salah satu guru yang disegani oleh murid.


Risa menjaga fokusnya kembali ke arah depan.  Namun yang namanya otak dan hati memang kadang tidak sinkron.  Gadis itu mengalihkan perhatiannya kembali ke luar jendela.  Dimana siswa yang berada diatap tadi berada.  Sekarang hilang.


Lah,  kemana dia?  Batin risa.


Dengan cepat gadis itu menelusuri pandangan matanya disekitar atap tersebut namun nihil. Akhirnya risa memilih benar benar fokus dalam belajarnya lagi.


.


.


Akhirnya bel istirahat berbunyi.  Mengakhiri jam pelajaran hari ini.


Sepeninggalnya bu wiwin, nampak seluruh siswa menghembuskan nafasnya lega.  Beberapa merentangkan tangannya untuk melemaskan otot,  ada yang segera berlari keluar menuju kantin.  Dan memilih tidur di bangkunya.


Risa menghembuskan nafas leganya.  Sambil merapikan buku bukunya. Hingga gadis itu merasakan seseorang  telah mengambil duduk disebelahnya.


" hai risa. Gue ardy. Ke kantin bareng yuk. Gue traktir dehh. " salah satu siswa memberikan senyuman termanisnya untuk risa.


Risa sedikit terkejut dibuatnya. Gadis itu bingung bagaimana cara menolak tanpa menimbulkan kesalahpahaman.


Pasalnya kedudukan risa sekarang adalah siswa pindahan. Salah sedikit bisa bisa risa jadi bahan bullyan karena kata teman teman risa dikampung halamannya dulu, tinggal dijakarta itu susah juga berbahaya. Termasuk Banyak kasus pembullyan. Dan risa tidak ingin merasakannya.


Ardy kini menyangga kepalanya di meja dengan satu tangan. Menyamankan diri menghadap risa. Memerhatikan gerak gerik gadis itu yang menurutnya lucu.


Sesungguhnya cowok itu tau tipikal cewek seperti apa risa sebenarnya. Yah biasanya tidak jauh jauh dengan cewek yang pemalu, polos, naif, introvert.


Lihat saja sekarang bagaimana gugupnya gadis itu diperhatikan sedemikian rupa olehnya.


Meski luarnya terlihat tenang, tapi risa tidak bisa menyembunyikan kebiasaannya yang suka menggigit bibirnya sendiri. Dan jangan lupakan kedua pipi merahnya.


Ah, gadis ini menggemaskan! Batin ardy senang.


" ck, elo gemesin banget sih, ris. " enggak tahan, ardy segera mencubit pipi tembem risa dengan gemas. Membuat gadis itu terkejut setengah mati dengan kelakuannya.


" jadi pacar gue ya. " lanjut ardy yang dibalas pelototan risa.


" eh, ano . ."


" gak usa takut deh ris. Elo aman kalo bareng gue. Percaya deh. " ardy melancarkan aksinya dengan bumbu kedipan mata sebelahnya.


Jduk! Suara jitakan dikepala ardy.


"aman kepala elo. " seorang cewek melototkan matanya kearah ardy.


" apaan sih elo, tar. Ganggu orang lagi pedekate aja. " ardy memonyongkan bibirnya sebal.


" pedekatenya kapan kapan aja. Mending elo minggir sekarang. Ini tugas gue. Elo kan biasanya main ke lapangan ama yang lain. "


"ck iya iya. Ini juga mau pergi. Eh risa, pedekatenya dilanjut nanti lagi ya. Babaii. " seru ardy sambil melambaikan tangan dengan semangat hingga menghilang di balik koridor sekolah.


" ekhem! "


Risa mendongak melihat seseorang yang sengaja berdehem itu. Seorang gadis.  Cantik.  Tersenyum dan mengulurkan tangannya kearah risa. Dan langsung dibalas risa. J


" hai. "


" hai. "


" kenalin, aku tari. Mau kekantin bareng? Atau mau keliling sekolah? Aku ketua kelas ini dan siap menjadi pemandumu.  Bagaimana? "


Hem,  gadis yang ceria dan ramah.


" ehm,  aku bisa melihatnya sendiri. Dan tadi sempat diberi arahan kepala sekolah tentang denah sekolah disini. "


" oh begitukah. " terlihat raut wajahnya sedikit berubah.


" mungkin kamu bisa merekomendasikan makanan yang enak di kantin? "


Seketika wajahnya kembali cerah mengangguk setuju.


" tentu saja. Kujamin kamu akan ketagihan dengan mie ayam pak somang.  Oh ada soto ayam bik atik juga.  Ayo. Aku jadi makin lapar."


Tari dengan semangat menarik tangan risa untuk mengikutinya. Dan gadis itu hanya menurutinya.


Sebenarnya risa adalah tipe gadis yang tidak terlalu menyukai keramaian.  Namun menambah teman juga tidak masalah.


.


.


.


Sepanjang perjalanan tari tidak berhentinya mengoceh. Menceritakan tentang sekolah kebanggaannya ini. Dari ekskul yang ada, berbagai macam kegiatan rutin, penghargaan yang berhasil diperoleh, sambil sesekali juga memperkenalkan ruangan ruangan yang baru dilewati mereka hingga sampai di area kantin.


" oh ya satu lagi risa. Omongan ardy tadi jangan dimasukin ke hati ya. Emang gitu orangnya. Suka ngomong ngawur. "


" sepertinya kamu kenal dekat sama ardy ya. "


" eh? Aa, ardy itu wakil ketua kelas ris. Rumah kita juga sebelahan. Jadi wajar kan kalo kita deket. "


"begitukah. "


" iya. Nah kamu duduk sini. Biar aku pesankan. Kamu mau pesen apa? "


" aku samain sama punyamu aja. "


" oke. Tunggu ya. "


Risa duduk manis ditempatnya. Sambil menunggu pesanannya datang. Matanya menyelusuri keadaan kantin yang cukup ramai.


Beberapa terlihat memperhatikan dirinya. Membuatnya sedikit risih.


Tidak lama pesanan datang bersama tari.


" nih, aku bawain mie ayam ama es jeruk. Suka kan. "


" suka kok. "


" jadi coba ceritain tentang kamu ris. "


" aku cuma pindahan dari bogor bareng ayah sama bunda. Karena urusan pekerjaan. Tinggal di kompleks x. "


" kamu anak tunggal ris? Enak kali ya. Aku punya adik. Dan kita sering berantem. Akhirnya aku yang sering ngalah. Ngomong ngomong aku boleh main kerumahmu kan ris. "


" tentu saja. Ayah sama bunda pasti seneng aku sudah dapet temen. "


" okey. Kita temen sekarang. " tari menjulurkan telapak tangannya mengajak bersalaman. Membuat risa tertawa geli. Namun tetap dibalasnya.


" ya. Kita teman. "


Mereka tertawa bersama. Tanpa menyadari bahwa sebenarnya risa sedikit merasa gelisah sejak lima menit yang lalu.


Seperti ada yang sedang memerhatikannya. Dan risa tidak menemukan siapa itu.