Obsessions

Obsessions
KEBERUNTUNGAN



" hai. " sapa Risa sedikit kikuk. Terlihat wajah Kenan yang bengong sebentar menatapnya.


" em boleh aku masuk? "


Tanpa kata, Kenan menggeser badannya sedikit. Mempersilahkan gadis itu masuk. Masuk kedalam kandang manusia buas.


.


.


.


Risa berjalan mengikuti Kenan yang membawanya ke ruang keluarga, setelahnya duduk disana. Sepanjang perjalanan mereka, bisa Risa lihat sebesar apa bangunan yang disebut rumah oleh pria yang berjalan didepannya ini. Ini lebih tepat disebut mansion seperti yang dibaca Risa dalam novel fiksinya. Semuanya menjelaskannya dengan nyata disini. Dari ukuran, penataan, perabotan, suasananya, semua seperti dalam novelnya.


Dan tanpa sengaja matanya tertuju pada sebuah figura besar yang terpajang di dinding utama, yang menampilkan sebuah foto mewah dari seorang wanita berambut panjang yang sedang dirangkul mesra oleh si pria. Terlihat berusia paruh baya namun tetap memancarkan aura ketampanan dan kecantikan yang memikat dari keduanya. Mungkinkah ini orang tua yang Kenan bicarakan. Mereka terlihat memiliki kemiripan dengan Kenan.


" kau benar. Mereka adalah orang tuaku. " ujar Kenan yang tidak diaadari Risa tengah berada disampingnya.


" duduklah disana. Aku akan mengambilkan minuman untukmu. " bukannya segera duduk, risa lebih memilih mengamati cara berjalan Kenan yang saat ini terlihat sempoyongan seakan bisa terjatuh kapan saja.


Dan benar saja. Anak itu tiba tiba limbung jatuh ke samping. Untung saja dengan gerak cepatnya risa berhasil menopang tubuh berat Kenan dengan tubuhnya.


" ugh, kamu berat sekali sih. " risa membawa tubuh anak itu ke sofa untuk dibaringkannya. Risa mengganjal punggung Kenan dengan bantal untuk menyamankannya.


Setelahnya gadis itu memerhatikan wajah Kenan yang terlihat sedikit merona merah. Tanpa sengaja mata mereka saling bertemu hingga membuat keduanya membeku sedetik sebelum gadis itu melepas kontak mata mereka.


" kamu baik baik saja? Kudengar dari teman kelasmu bahwa kamu sedang sakit. Karena itu aku kesini. " risa mendudukkan diri di sebelah Kenan.


" kenapa kau peduli padaku. "


" tolong jangan begitu. Aku datang karena kamu bilang selama ini tinggal sendiri. Dan tak ada yang berani menjengukmu, jadi, aku, engh. " risa bingung untuk bagaimana menjelaskannya.


" sudahlah. Kak risa tidak perlu memikirkanku. Selama ini aku bisa mengurus diri sendiri. Aku sudah tidak ingin merepotkanmu lagi. kamu juga tidak perlu menemuiku lagi. "


" aku memang sedang mencarimu sejak kemarin, Kenan. "


" untuk apa? "


" aku, hanya ingin meminta maaf padamu. Kau benar, aku sudah bertingkah jahat padamu. Dan itu sangat menggangguku. Jadi maafkan aku. "


" dimaafkan. "


" aku sudah memaafkanmu, kak. Jadi kau bisa pulang sekarang. " kenan mengucapkannya sembari memijat pangkal hidungnya.


" kau mengusirku? "


" hahh, aku tahu kamu tidak nyaman berada didekatku, bukan. "


" aku tidak bilang seperti itu, kok. "


" ya, kamu bilang seperti itu kemarin, kau lupa? "


" itukan kemarin, Kenan. " Risa mulai merasa sebal dengan anak didepannya ini.


" lalu apa bedanya kemarin dan sekarang. "


" tentu saja berbeda. Buktinya aku mau jauh jauh kesini untuk menjenguk dan merawatmu."


aku tidak bilang seperti itu, kok. "


" ya, kamu bilang seperti itu kemarin, kau lupa? "


" itukan kemarin, Kenan. " Risa mulai merasa sebal dengan anak didepannya ini.


" lalu apa bedanya kemarin dan sekarang. "


" tentu saja berbeda. Buktinya aku mau jauh jauh kesini untuk menjenguk dan merawatmu."


aku tidak bilang seperti itu, kok. "


" ya, kamu bilang seperti itu kemarin, kau lupa? "


" itukan kemarin, Kenan. " Risa mulai merasa sebal dengan anak didepannya ini.


" lalu apa bedanya kemarin dan sekarang. "


" tentu saja berbeda. Buktinya aku mau jauh jauh kesini untuk menjenguk dan merawatmu."


proses penerbitan😊