
She looks like a blue parrot
Would you come fly to me?
I want some good day, good day, good day
Good day, good day
Looks like a winter bear
You sleep so happily
I wish you good night, good night, good night
Good night, good night
Imagine your face
Say hello to me
Then all the bad days
They're nothing to me
With you
Winter bear
Ooh, ooh, ooh
Sleep like a winter bear
Ooh, ooh, ooh
Sleep like a winter bear
Lagu winter bear by v bts terdengar mengalun merdu di kedua telinga risa melewati headset putihnya.
Lagu itu adaalh salah satu lagu yang menemani perjalanan panjang risa dari bogor ke jakarta.
Hari itu adalah hari penting risa dan kedua orangtuanya untuk memulai hidup baru lagi dari awal.
Meninggalkan kampung halaman risa yang tenang dan menyenangkan beserta orang orang yang selama ini berada didekatnya. Meninggalkan sekolah risa yang rencananya akan dilanjutkan di salah satu sekolah favorite di jakarta.
Itu semua demi memenuhi keputusan ayahnya yang ingin memperluas perusahaan yang berhasil dirintisnya dari awal.
Beruntungnya risa memiliki otak yang lumayan encer sehingga berhasil mendapatkan beasiswa di sekolah terkenal tersebut. Setidaknya gadis itu bisa mengurangi beban keluarga walau sedikit.
Jadi ayahnya bisa memfokuskan dirinya untuk mengembangkan perusahaan tanpa memikirkan biaya sekolah risa.
Mobil sederhana yang baru ayahnya beli untuk keluarga kecilnya menembus jalanan yang cukup renggang kala itu.
Begitu banyak bangunan pencakar langit di sepanjang jalan. Hari itu cuaca begitu cerah.
Risa menatap pemandangan dari kaca jendela sendiri di belakang. Masih mendengarkan lagu lagu lembut di telinganya.
Begitu tenang. Namun tidak ada yang tahu bagaimana berdebarnya dada risa ketika berada dalam kota lain yang akan ditempatinya. Juga sekolah barunya.
Sejujurnya gadis itu terlalu mudah merasakan kegugupan berada di tempat asing, bertemu orang asing, dan juga, tempat yang gelap.
" dek, kamu lapar enggak. Kok ayah lihat dari tadi diem aja. " Brian, ayah risa melirik gadis itu dari kaca spionnya. Diikuti bundanya yang menghadapkan tubuhnya ke belakang, tempat risa duduk.
Risa melepas headset yang bertengger di telinganya. Mengalihkan fokusnya ke depan dimana ayah dan bundanya berada. Risa melempar senyum manisnya.
" enggak kok yah. "
KRUCUKK !
" ehehehe sebenarnya risa sedikit lapar." Risa tertawa kecil menutupi rasa malunya. Kedua pipinya mulai merona. Dan itu berhasil mengundang tawa kedua orangtuanya.
" hahahaha dek, dek. Kamu itu. Kalau lapar bilang aja lapar. Kenapa harus disembunyikan. Daripada diem gitu. Entar kesambet loh." Tawa renyah brian memecah suasana sepi dimobil itu.
" Ya udah. Sabar dulu ya dek. Bentar lagi kita sampai. Nanti bunda masakin makanan di rumah baru kita. Ini. Sementara, kamu makan roti dulu ya buat ganjal perut."
Bunda memberikan bungkusan roti isi untuk gadis itu. Dan dengan senang hati diterimanya.
Bunda juga membuka bungkusan roti isi untuk dirinya sendiri. Sambil sesekali menyuapi brian yang harus fokus menyetir.
Risa benar benar menyayangi keluarga kecilnya. Kedua orangtuanya terlihat benar benar saling mencintai satu sama lain. Dari ayahnya yang yatim piatu tanpa memiliki harta apapun, namun bunda dengan setia menemaninya, hingga ayah berhasil mendirikan perusahaan dan membeli rumah beserta mobil di jakarta yang terbilang cukup mahal.
Meskipun kehidupannya berawal dari kesederhanaan. Namun begitu hangat dan penuh kasih sayang.
"Nah kita sudah sampai. Ayo turun. Bunda masuk aja dulu nyiapin makan. Kasian dedek udah kelaparan. Ayah mau nurunin barang barang. Risa bisa bantu ayah bawa barang yang kecil kecil kan."
" aye sir ! " seru keduanya kompak mengikuti komandannya. Yang dibalas tawa geli ayahnya. Segera mereka melaksanakan tugas masing masing.
.
Waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Risa baru saja masuk kedalam kamarnya yang sudah disiapkan ayah bundanya jauh jauh hari di lantai dua.
Gadis itu menyalakan lampu kamarnya dan menuju kamar mandi yang juga berada dikamarnya. Membersihkan diri setelah beberes dari kepindahannya tadi.
Lima belas menit kemudian gadis itu keluar dengan handuk melingkar di rambut hitam panjangnya yang basah.
Sesekali risa menggosok rambutnya untuk mempercepat keringnya.
Risa beralih menuju meja belajarnya, menyiapkan buku buku yang harus disiapkan dihari pertamanya masuk sekolah baru besok.
Cklek !
Risa menoleh dan mendapati bundanya yang masuk menghampirinya.
" belum tidur sayang ? "
" sebentar lagi bunda. Risa masih nyiapin perlengkapan buat besok. "
" yaudah. Persiapin dengan teliti. Jangan sampai ada yang tertinggal di hari pertama kamu belajar. Jangan tidur terlalu malam sayang. Biar besok bangunnya enggak kesiangan. Besok juga hari pertama ayahmu kerja di perusahaan barunya. Jadi jangan sampai telat. Mengerti. " jelas bundanya panjang lebar.
" iya bunda. Risa gak akan kesiangan. Risa udah nyiapin alarm pagi. Risa kan juga enggak mau telat di hari pertama bunda."
" bagus. Yaudah. Bunda turun ya. Selamat malam sayang." Bundanya mengecup puncak kepala risa dengan lembut.
" selamat malam juga bunda."
.
.
Risa berjalan menyusuri koridor sekolah barunya yang ternyata begitu luas. Gadis itu mencari ruang kepala sekolah. Beberapa pasang mata menatapnya menyelidik. Tidak jarang juga ada yang berbisik dan beberapa bahkan terang terangan menatapnya dengan pandangan terpesona.
Risa memang memiliki paras yang menawan. Imut dan manis. Kulit putih mulus. Rambut hitam lurus bergelombang dibawah mencapai punggungnya yang diikat kuncir kuda.
Dengan tinggi 160 dan berat tubuh yang ideal. Bahkan lekuk tubuhnya memang berada pada tempatnya dengan tepat terlihat, meski sengaja ditutupi seragam yang sedikit longgar.
Risa sendiri yang meminta ukuran lebih. Padahal jika dilihat sepanjang koridor tadi, seragam yang dikenakan siswi sekolah ini begitu ketat melekat dan memiliki rok pendek di atas lutut.
Risa tidak menghiraukan tatapan mereka dan terus berjalan hingga matanya menangkap tulisan ruang kepala sekolah. Gadis itu mengetuk dan memasukinya.
.
.
Seorang guru berjalan memasuki salah satu ruang kelas diikuti seorang gadis manis di belakangnya. Seketika suasana kelas mendadak hening. Fokus mereka tertuju pada gadis manis yang berdiri di sebelah bu wiwin.
" anak anak, hari ini kalian mendapat teman baru. Silahkan perkenalkan diri kamu."
" halo, nama saya risa. Saya pindahan dari bogor. Mohon bantuannya."
"Cihuyy cakep amat sih ris."
"Stok cewek cakep nambah nih."
" gua bantu ris. Apasi yang nggak buat elo."
" risa gemes banget ih. Bagi id dongg."
Kayak bebek. Batin risa.
Inilah salah satu yang membuatnya sebal. Risa hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian. Karena itu, gadis itu tidak menanggapi ocehan dari mereka. Hingga bu wiwin sendiri yang menghentikannya.
" sudah sudah. Risa, kamu bisa duduk di bangku kosong dekat jendela sana. Kita akan memulai pelajarannya. "
" terima kasih bu. "
Tempat itu dekat jendela yang menampilkan pemandangan lapangan sekolah. Letaknya juga di belakang. Risa menyukainya.
Pelajaran telah dimulai. Semua murid fokus ke depan. Risa berada ditingkat sekolah menengah atas kelas dua. Kurang dua tahun lagi untuknya menyelesaikan pendidikan. Dan gadis itu berharap dapat menyelesaikan sekolahnya dengan lancar.
.
.