Obsessions

Obsessions
CEMBURU



" Sayang, kau mengenalnya ? "


Pertanyaan itu membuat Risa mengendurkan pelukannya dan tersenyum manis kearah Kenan.


" Ya. Dia adalah orang yang kusukai, Kenan." pernyataan itu sukses meruntuhkan segalanya. Termasuk Kenan yang saat ini pandangannya semakin menggelap dengan gemeletuk gigi grahamnya.


.


.


.


Kenan memasuki mansionnya dimalam hari setelah mengantar Risa kembali kerumahnya dengan selamat. Ditutupnya pintu mansion dengan kasar. Hatinya saat ini terasa begitu kesal setelah mendengar pengakuan tidak terduga dari bibir gadis itu tadi. Dan Kenan membutuhkan penjelasan saat ini juga dari kakak satu satunya itu. Meski sebelumnya dirinya sudah meminta penjelasan dari Risa sendiri ketika perjalanan mengantar pulang gadis itu.


.


.


" katakan padaku bagaimana kamu bisa menyukai Sean, Risa. Katakan padaku, sekarang ! " seru Kenan sambil menatap tajam Risa yang duduk disampingnya.


" astaga Kenan ! Kamu menyetir sekarang. Lihat kedepan! Kamu bisa bikin kita celaka, kamu tahu !"


" Katakan padaku sekarang, Risa !" bentak Kenan tidak bisa menunggu lagi.


" i iya iya. Aku cerita sekarang. Tapi berhentikan mobilnya dulu, Kenan. Aku takut."


Mana bisa tenang ceritanya kalau Kenan menghadapkan wajah kearahnya sambil menyetir dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dan Risa baru bisa bernapas lega ketika Kenan akhirnya mau menepikan mobilnya, meski sedikit horor juga karena anak itu memilih tempat yang jauh dari perkampungan dan sepi.


" huufftt, Yakk ! Pletakk !"


" Aarrgkk ! Beraninya kau memukulku!! " Kenan memegangi kepalanya dengan pandangan penuh hasrat memburu gadis didepannya ini. Seumur umur baru kali ini dirinya dipukul berkali kali oleh seorang gadis. Benar benar menguji kesabarannya.


" kau ! Bocah gila ! Aku tidak ingin mati konyol karenamu, bocah."


" JANGAN MEMANGGILKU BOCAH !"


" AARRGHKK !! KAU BENAR BENAR MENGUJI KESABARANKU, RISA. HARUSNYA AKU MEMBU -Hmmpph ! " bola mata Kenan rasanya ingin keluar saat ini juga menyadari tangan Risa yang berani membekap mulutnya.


" Shuuttt !! Tenanglah, Kenan. Jangan berteriak seperti orang gila. Kau membuatku takut sekarang. Lihatlah sekelilingmu. Ini ditengah hutan. Terlalu sepi dan gelap untukku. Aku benar benar takut sekarang. " gadis itu berbisik gemas didepan Kenan bahkan tubuhnya ikut mencondong kearah anak itu untuk mempererat bekapannya agar dapat menahan teriakan Kenan. Sungguh, saat ini Risa benar benar meremang saat menyadari betapa sepi dan gelapnya tempat itu. Padahal waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam. Risa tidak habis pikir bisa bisanya orang tua Kenan mendirikan mansion semegah itu diujung hutan. Membuatnya harus melalui hutan yang lebat dan jauh dari permukiman penduduk seperti ini. Bagaimana jika sesuatu terjadi dan tidak ada tetangga yang mengetahuinya. Bahkan lampu jalanan juga tidak terlalu membantu penerangan karena berjumlah sedikit.


Dan saat ini gadis itu dibuat kesal oleh bocah didepannya. Bisa bisanya bocah itu berteriak di tengah hutan seperti ini. Bagaimana jika ada hewan buas yang mendengarnya dan datang memangsa mereka yang hanya berdua saja. Rasanya pikiran Risa semakin jauh melantur membuatnya kembali merasa cemas. Phobianya mulai menguasai alam pikirnya sedikit demi sedikit. Dan Kenan menyadari itu. Terasa sekali pada telapak tangan gadis itu yang dingin menyentuh bibirnya.


Awalnya Kenan cukup terkejut dengan tindakan spontan yang dilakukan gadis itu. Perasaan itu datang lagi ketika tiap kali berdekatan dengannya. Dan Kenan tidak menyukai debaran kecil dalam hatinya itu.


Tangan Kenan terangkat hendak melepaskan bekapan tangan kecil itu namun langsung dicegah Risa.


" berjanjilah untuk jangan berteriak lagi terlebih dulu." ucapan gadis itu hanya dibalas putaran bola mata dari Kenan. Dikiranya dirinya tidak bisa balik menyerang gadis itu apa. Namun akhirnya Kenan mengangguk juga dan tangan Risa perlahan menjauh.


" katakan padaku. "


" kita pergi dulu dari sini ya, Kenan. Jalan sampai ke kota yang lebih ramai, ya? "


Cukup sudah kesabaran Kenan. Pandangannya terarah begitu dingin menusuk gadis itu. Dan Risa menyadarinya hingga membuatnya terdiam kaku dihadapan Kenan.


Klik ! Suara kunci otomatis yang terbuka berhasil mengagetkan gadis itu.


" Kenan ?"


" kesabaranku telah habis, Risa. Katakan padaku sekarang atau kulempar kau ke tengah hutan." ucapan Kenan tidak main main. Dan Risa menyadari itu. Mereka terjebak dalam pandangan masing masing hingga suara lemparan dari arah luar mengagetkan Risa.


BLUKK ! KYAAA !!


.


.


Proses penerbitan 😊