Obsessions

Obsessions
KELUARGA



Terdengar suara percakapan yang di ikuti suara canda tawa dari keluarga kecil risa.


Setelah membersihkan diri, risa segera turun kebawah membantu bundanya menyiapkan makan malam. Dilihatnya ayah yang sedang asyik menonton televisi di ruang tamu. Sedangkan bunda sudah mulai sibuk menyiapkan bahan bahan yang akan diolahnya.


Risa mendekati bundanya. Tangannya mengambil alih sayuran yang akan dipotong bundanya.


" biar risa bantu potong bunda." Risa dengan telaten memotongnya kecil kecil sesuai ukuran yang dibutuhkan tanpa menyadari tatapan bangga yang ditunjukkan oleh bundanya, Ratna. Putri satu satunya sudah tumbuh dewasa sekarang.


Bunda membelai lembut rambut risa penuh sayang. Lalu beralih mengerjakan yang lain. Memberi tambahan bumbu pada kaldu sup ayamnya. Makanan kesukaan anak dan suaminya. Untuk masalah makanan kedua pasangan ayah dan anak itu memang terlihat sangat kompak dengan makanan yang disuka maupun tidak disuka.


Tidak butuh waktu lama, semua masakan itu telah siap dihidangkan di meja makan. Mereka bertiga sudah duduk dimeja makan masing masing.


Brian memimpin doa sebelum makan diikuti bunda dan risa yang mengamini. Brian memang selalu mengajarkan keluarga untuk mensyukuri segala yang diberikan pada mereka. Dan keluarganya selalu menerima dan mempercayai kepala keluarga itu.


Setelah selesai barulah mereka menyantap hidangannya. Bunda membantu mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk suami dan anaknya.


Disela sela makan malam mereka, tidak jarang diselingi percakapan diantara keluarga kecil itu yang membuat suasananya lebih hangat. Brian juga menceritakan bagaimana hari pertamanya kerja di perusahaan baru yang dipimpinnya saat ini. Yang direspon hangat oleh bunda Dan tidak jarang juga risa ikut menimpalinya.


" dedek sendiri gimana tadi disekolah barunya ?" Tanya bunda kepada risa yang sedang meminum air putihnya.


" baik kok bunda. Risa punya teman, namanya tari. Dia ketua kelas di kelas risa. Tari temen cewek pertama risa disekolah, bun. Anaknya cantik dan suka ngobrol. Kapan kapan risa ajak tari main kesini deh. Biar bisa ikut ngerasain sup ayam terenak buatan bunda." Jelas risa dengan bangga diikuti gelak tawa dari ayah dan bundanya.


" iya sayang. Ajak temenmu main kesini. Nanti bunda buatin sup ayam spesial untuk kalian."


" ayah juga dibuatin kan. Ayah juga mau sup ayam spesialnya dong bunda." Goda ayah tidak mau kalah. Yang sukses membuat pipi bunda bersemu meski terlihat samar.


" tentu dengan senang hati bunda buatkan."


Risa selalu bangga dan bahagia melihat kedua orangtuanya yang terlihat benar benar saling mencintai. Risa seakan merasa keberadaannya di dunia seperti benar benar diinginkan dan menjadi hadiah terindah untuk kedua orangtuanya.


" dan ayah juga mau ingetin dedek jangan sampai kejadian tadi terulang lagi. Kalau mau pulang telat, jangan lupa kasih kabar orang rumah, biar ayah sama bunda enggak bingung nyariin risa. Dan risa juga harus berhati hati memilih teman terutama cowok. Jangan terlalu gampang percaya sama orang yang enggak dikenal ya, dek.


Selalu kabarin ayah atau bunda kalau mau jalan keluar. Jakarta kota besar sayang. Ayah enggak mau anak kesayangan ayah kenapa napa. Risa mau janji ?! " jelas ayah panjang lebar dengan raut wajah seriusnya. Diikuti bunda yang juga ikut menatapnya. Risa tahu jika ayah sedang dalam mode yang tidak bisa dibantah. Namun risa tidak mempermasalahkannya. Karena gadis itu tahu, ini semua demi kebaikannya. Ayah dan bundanya sungguh menyayanginya. Risa tahu itu.


" risa janji ayah. Risa enggak akan mengulanginya lagi. Risa akan selalu ngasi kabar sama ayah dan bunda kemanapun risa pergi. Bahkan risa akan mengenalkan dan mengajak teman teman risa ke sini agar ayah dan bunda tidak khawatir lagi. " jawab risa sungguh sungguh. Di pegangnya sebelah tangan masing masing dari ayah bundanya dengan lembut. Meyakinkannya.


Brian tersenyum menatap gadis kecilnya yang telah tumbuh dewasa. Sebenarnya sejak awal brian berulang kali memikirkan keputusannya mengajak anak gadisnya ikut pindah ke jakarta bersamanya. Namun pria itu juga tidak tega meninggalkan risa sendiri di kampung halamannya.


Sekarang yang bisa dilakukannya adalah benar benar menjaga dengan baik keluarga kecilnya. Tidak akan ia ijinkan seseorang merusak ataupun mengusik kebahagiaan mereka. Ratna mengerti kegelisahan Brian, suaminya, karena sebelum Ini mereka telah memutuskan bersama untuk ikut membawa risa.


" ayah dan bunda percaya padamu sayang. Jika terjadi sesuatu langsung kabari ayah kapanpun itu. Mengerti! "


" risa janji ayah, bunda." Gadis itu sekali lagi mengangguk mantap. Diikuti helaan napas lega ayah dan bundanya.


.


.


Risa kembali membantu bundanya membereskan alat alat makan dan mencuci piring kotor. Setelah selesai gadis itu ijin naik ke kamarnya untuk menyelesaikan tugas sekolah yang belum selesai dikerjakannya.


" nah selesai. Bunda, ayah risa langsung kekamar ya. Masih ada tugas yang harus dikerjakan. Selamat malam." Risa mengecup sebelah pipi bundanya dan melambaikan tangan kepada brian yang kembali menonton televisi diruang tengah. Brian ikut melambaikan tangan membalas risa.


Risa membuka kamarnya dan masuk kedalamnya. Tangannya reflek menyentuh saklar lampu untuk menyalakan lampu kamarnya dan seketika terhenti ditempat.


Baru disadarinya lampu kamar risa telah menyala dari awal gadis itu masuk. Seingatnya gadis itu mematikan lampunya ketika turun ke bawah tadi. Mungkinkah risa salah mengingatnya.


Gadis itu menutup pintu kamarnya. Bergerak menuju meja belajarnya untuk mengambil tasnya. Gadis itu mengeluarkan beberapa buku dan mulai mengerjakan tugasnya kembali. Syukurlah buku yang risa pinjam dari perpustakaan bisa membantunya mengerjakan soal terakhir yang sulit dikerjakan gadis itu di sekolah tadi.


Setelah belajar sedikit untuk besok, risa mulai menghentikan kegiatan belajarnya. Ingin beranjak tidur.


Gadis itu merenggangkan otot ototnya sebentar sebelum beranjak mengunci jendela yang ternyata celahnya terbuka. Setelah itu risa melangkah ketempat tidur dan menuju alam mimpinya.


Tanpa menyadari beberapa waktu lalu seseorang telah berhasil masuk kedalam kamar pribadinya. Mengambil salah satu barang pribadinya.


.


.