Obsessions

Obsessions
FIRASAT



" ya.  Kita teman. "


Mereka tertawa bersama. Tanpa menyadari bahwa sebenarnya risa sedikit merasa gelisah sejak lima menit yang lalu. 


Seperti ada yang sedang memerhatikannya.  Dan risa tidak menemukan siapa itu.


.


.


Dentingan suara sendok garpu dan mangkuk saling bersautan di depan risa.


Sedang gadis itu masih melahap makanannya dengan tenang. Sesekali matanya ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang tampaknya semakin lama semakin ramai pengunjung.


Gadis itu masih merasakan ketidaknyamanan di tempat duduknya saat ini.


Seperti ada makhluk tak kasat mata yang sedang memerhatikannya. Risa sendiri bukan anak indigo yang bisa melihat makhluk astral semacam itu. Hanya saja, terkadang dia bisa merasakan energi yang tidak menyenangkan di suatu tempat, yang ternyata menurut keyakinan teman indigonya, tempat itu memang ada penghuninya.


Mungkinkah tempat yang sedang didudukinya saat ini, memang ada makhluk astralnya? Batin risa.


Tapi rasanya sedikit berbeda. Biasanya risa akan merasakan ketidaknyamanan diikuti suhu tubuhnya yang menggigil dan bulu kudunya berdiri.


Dan sekarang gadis itu tidak merasakan semua itu. Hanya saja, sesuatu seperti sedang memperhatikannya.


Dilihatnya sekitar, kali saja ada yang sedang menatapnya dan bertingkah mencurigakan. Namun nihil.


Penghuni kantin seakan fokus dengan makanannya masing masing. Ada beberapa yang memang melihat kearahnya. Namun risa tidak merasakan kecurigaannya pada pandangan mata siswa siswi itu.


Aneh.


" ris. Risa? Kenapa?"


Panggilan tari langsung mengambil alih kesadaran risa. Dilihatnya gadis itu sedang menatapnya dengan pandangan bertanya.


" aku gak apa apa kok tar. Kenapa?"


" kok aku liat kamu kayak gelisah gitu. Ada masalah? Atau makanannya kurang cocok sama selera kamu ya?"


" enggak tar. Makanannya enak kok. Cuma kayaknya aku Mau ke toilet deh. Aku tinggal dulu boleh?" Risa mencoba mencari alasan.


" yaelah ris. Kirain kenapa. Yaudah pergi gih. Daripada kamu tahan entar malah jadi penyakit loh."


" ehe, makasih tar. Aku pergi dulu."


" iyaa. Jangan lama lama ke toiletnya. Abis ini jam istirahat hampir habis."


" aye sir."


Risa segera meninggalkan tempat itu menuju toilet. Mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mencuci mukanya. Menyegarkan diri.


Untungnya toilet saat ini cukup lengang. Segera risa menuju wastafel dan mencuci mukanya.


Perasaannya menjadi lebih baik setelah melakukan itu. Setelahnya risa kembali menuju kantin. Tari sudah menunggunya.


" udah ris? Balik ke kelas yuk." Yang dijawab anggukan risa.


.


.


.


Suasana kelas saat ini tidak seperti jam pertama yang lalu dikarenakan adanya pengumuman jam kosong sampai pulang sekolah dikelas risa. Dua jadwal guru yang harusnya mengajar saat ini berhalangan hadir dan menggantinya dengan bertumpuk tugas yang harus dikerjakan muridnya.


Alhasil penghuni setengah kelas hilang entah kemana mencari kesenangan tersendiri.


Risa masih duduk manis ditempatnya sendirian sembari mengerjakan tugas yang di dapatnya.


Sedangkan tari ada panggilan sebagai ketua kelas yang mengharuskannya untuk meninggalkan kelas.


Risa menopang dagu sambil memikirkan jawaban dari soal yang sudah dicarinya sejak beberapa menit yang lalu. Namun tetap tidak menemukan jawaban yang benar.


Gadis itu menghembuskan nafas lelah. Soal yang belum terjawab tinggal satu dan begitu susahnya bagi risa untuk menjawabnya.


Diketuk ketukkan pensil yang sedang digunakannya diatas meja. Pandangannya beralih kearah luar jendela. Bermaksud untuk menyegarkan diri.


Namun hal yang tak disangkanya terjadi. Diatap sekolah, siswa yang berdiri disana saat pagi tadi, sekarang kembali berdiri disana.


Seperti terakhir kali risa melihatnya. Dari postur tubuhnya seakan siswa itu sedang memperhatikannya.


Risa mengerjapkan matanya. Dan lalu memastikan lagi bahwa yang berdiri disana memang benar seorang siswa. Bukan makhluk astral.


Apakah siswa itu memang sering keatap sendirian? Batin risa.


Sudahlah. Itu bukan urusanku. Batinnya lagi.


Derrtt drttt


Handphone risa tiba tiba bergetar. Diraihnya benda itu dari dalam tasnya. Sebuah pesan masuk dari ayahnya.


From : ayah <3


To : risa


Sayang, maafkan ayah nanti tidak bisa menjemputmu. Ada pertemuan bersama rekan kerja. kamu bisa pulang sendiri kan nak.


Risa segera mengetik balasannya.


To : ayah <3


From : risa


Risa bisa kok yah. Ayah jaga diri ya. Jangan lupa makan. Dan jangan lupa memberi kabar pada bunda.


Send.


From : ayah <3


To : risa


Iya sayang. Kamu jaga diri baik baik disana. Telpon ayah jika terjadi sesuatu. Mengerti?


To : ayah <3


From : risa


Aye sir <3


Risa memasukkan kembali handphonenya kedalam tas. Pandangannya beralih kearah buku bukunya yang berserakan diatas meja.


Sepertinya pergi ke perpustakaan sekolah tidak buruk. Mungkin Ada beberapa buku yang bisa dipinjamnya, batin risa.


Segera gadis itu membereskan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah selesai, ia lalu beranjak akan meninggalkan kelas.


Yah meskipun itu hanya formalitas semata, karena sejujurnya ardy tidak mau membuat dirinya sendiri kerepotan. Namun sepertinya berbeda dengan teman sekelasnya yang terlihat begitu menghargai keberadaannya.


Seperti beberapa teman yang dengan terang terangan meminta ijin belajar dikantin sekolah, Dan tentu saja ardy mengijinkannya.


" oh ardy, aku mau pergi ke perpustakaan. Ada buku yang ingin kupinjam disana."


" begitukah. Mau kutemani?"


" enggak usah dy. Aku bisa pergi sendiri. Terima kasih."


" oke. Panggil aku jika butuh bantuan."


Risa tersenyum kearahnya sembari mengangguk. Gadis itu melangkah keluar menuju perpustakaan yang letaknya berada di gedung sisi seberang.


Gedung yang kebetulan berada dibawah atap sekolah tempat seorang siswa itu berada.


Dengan pasti kaki gadis itu melangkah melewati lorong yang sepi karena aktivitas siswa yang sedang belajar hingga risa menemukan tempat perpustakaan berada.


Risa menulis daftar namanya terlebih dahulu.


Perpustakaan sekolah ini cukup berbeda dengan sekolahnya dulu. Dan yang pasti disini lebih besar, lebih lengkap dan bagusnya lagi mereka menyediakan lemari pendingin berisi minuman.


Risa mengambil salah satu minuman dan membayarnya. Setelahnya gadis itu mulai mengelilingi isi perpustakaan itu.


Seperti dugaannya. Bukunya lebih lengkap. Bahkan novel dan komik tersedia juga dalam banyak pilihan. Tempat ini juga cukup banyak peminatnya.


Risa mengambil salah satu buku yang diperlukan dan mengambil salah satu novel yang menarik minatnya. Bermaksud untuk membacanya di perpustakaan.


Gadis itu memilih tempat duduk diujung perpustakaan sedikit tersembunyi dari pandangan agar lebih fokus membacanya.


Pertama dibukanya botol minuman yang baru saja dibelinya lalu diminumnya.


Setelah itu risa mulai tenggelam dalam bacaannya.


.


.


Risa mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk dari retinanya. Samar samar gadis itu melihat bayangan seseorang yang sedang memerhatikannya.


Gadis itu segera mengumpulkan nyawanya setelah menyadari bahwa dirinya memang tidak sendiri ditempat itu.


Tubuhnya menegak, bola matanya membulat menatap seorang cowok yang sedang duduk disampingnya yang juga menatapnya dengan pandangan mata yang, err sulit diartikan.


" kamu, ekhem. Kamu siapa. Maksudku sejak kapan ada disini ? " risa berdehem membenarkan suaranya yang serak sehabis tidur. Ya gadis itu tidak sengaja tertidur di perpustakaan saking asiknya tenggelam dalam buku bacaannya.


Risa merutuki kebodohannya yang suka tertidur disembarang tempat. Menyadari suasana semakin awkward karena cowok disebelahnya tidak kunjung menjawab pertanyaan risa namun matanya tidak lepas memerhatikan gerak gerik risa, membuat risa menjadi risih sendiri. Gadis itu memberanikan diri untuk menegurnya.


" ada apa? Kenapa melihatku seperti itu? " dan hanya dibalas tanpa kata.


Risa akui cowok itu terlihat tampan. Lebih tampan dari ardy. Tubuhnya terlihat bidang berisi dan tegap. Hidungnya runcing dengan mata coklat gelap yang tajam. Dan entah kenapa mata itu seakan ingin menguliti risa hidup hidup. Bibirnya tipis terlihat lembut dan basah menutup rapat hingga risa seperti mendengar bunyi gemeletuk dari gigi didalamnya. Cowok di sebelahnya ini terlihat benar benar manly. Bahkan risa bisa melihat urat urat yang menonjol di sekitar lengannya alias vein. Kulitnya kuning cerah dan bersih menyenangkan untuk dilihat. Jika ditebak, mungkin cowok ini adalah salah satu idola disekolah ini. Dan sudah pasti akan lulus sensor dengan predikat idola jika dia berada di sekolah lama risa. Dia memiliki ketampanan yang mematikan. Hanya saja apakah dia bisu? Tidak ada suara sedikitpun yang dikeluarkannya.


Risa mulai terlihat gelisah dibuatnya. Hingga menyadari ternyata hari sudah mulai petang dan  sudah tidak ada penghuni yang lain di perpustakaan ini.


Dilihatnya jam menunjukkan angka lima. Pantas saja. Sekolah sudah waktunya pulang beberapa jam yang lalu.


Risa segera bergegas membereskan bukunya dan akan beranjak dari tempatnya sebelum menyadari bahwa posisinya sedang terhimpit diantara dinding dan tubuh cowok didepannya.


Risa semakin bingung dengan keadaannya.


" Em bisakah kamu memberi jalan? Aku harus pulang. "


Bukannya menjawab, cowok itu malah semakin mendekati risa hingga membuat risa mundur sampai menyentuh dinding di belakangnya.


Apa yang akan dilakukan cowok itu, batin risa.


Matanya tidak lepas memandang risa dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan risa bisa merasakan deru nafas cowok itu menerpa wajahnya. Itu cukup membuktikan bahwa cowok didepannya memang benar manusia.


Risa semakin was was ketika salah satu tangan cowok itu bergerak mengusap sebelah pelipis kanannya. Sedikit menekan beberapa kali sebelum menurunkan tangannya lagi.


Cowok itu tersenyum tipis. Saking tipisnya hingga tak akan ada yang menyadari jika tidak melihatnya sedekat ini.


" ada noda tinta di pelipismu tadi."


" oh, kamu bisa berbicara." Risa terlihat takjub melihatnya membuat cowok itu tertegun sebentar.


" kamu pikir aku bisu? " cowok itu mengangkat satu alisnya dengan pandangan heran.


" ah maaf. Aku tidak mendengar suaramu dari tadi." Risa jadi salah tingkah dibuatnya.


" Aku harus pulang. Bisa beri jalan? "


Cowok itu menggeser sedikit tubuhnya kesamping hingga cukup untuk akses keluar risa. Yang segera di lewati gadis itu dengan cukup mudah.


" terima kasih." Gumamnya.


" kamu enggak pulang ? " tanyanya lagi ketika melihat cowok itu masih duduk manis ditempatnya sembari memerhatikan risa.


" aku masih Ada urusan disini."


" ah begitu. Kalau begitu Aku pulang dulu. Selamat tinggal." Risa segera meninggalkan tempat itu menuju gerbang.


Dalam perjalanan handphone risa kembali berdering. Panggilan dari ayahnya. Segera gadis itu mengangkatnya.


Halo.


Halo, dek. Kamu dimana. Kata bunda kamu belum pulang sekolah.


Iya yah. Ini risa masih disekolah mau pulang. Tadi risa ke perpustakaan dulu pinjam buku.


Kenapa enggak ngasi kabar sayang. Kasian bunda kuatir nunggu kamu. Ayah perjalanan ke sekolah kamu. Kamu tunggu ayah ya. Kita pulang sama sama.


Iya maaf yah. Lain kali risa ngasi kabar kalau pulang telat. Ayah hati hati di jalan.


Iya sayang.


Tutt.


Panggilan berakhir. Risa menunggu jemputannya di halte seberang dekat sekolah hingga ayahnya datang dan membawanya pulang.


Semua itu tidak luput dari pandangan seseorang yang masih memerhatikannya dari jendela perpustakaan.


.


.


" aku masih Ada urusan disini." Ya, mencari informasi tentangmu.


" ah begitu. Kalau begitu Aku pulang dulu. Selamat tinggal." Risa segera meninggalkan tempat itu menuju gerbang.


Bukan selamat tinggal, sayang. Tapi, sampai jumpa.