Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Kritis...



"Altezza?"


"Jessey?"


Teriak salah satu karyawan Santo yang berada disana menatap lekat ke arah Bastian penuh kebencian.


Bastian menghujamkan senjata api di tubuh anak menantunya, membuat wajah motivator Italia itu menegang. Polisi segera datang mendekati Bastian yang masih terdiam kaku memandang tubuh Jessey dan Altezza yang sudah bersimbah darah.


Polisi segera mengamankan Bastian, untuk memeriksa kejiwaan motivator yang tampak sedikit linglung bahkan tidak seperti biasanya.


Di sebelah sana tenaga medis segera membantu tubuh yang masih ada nafas walau sedikit membuat orang mengira keduanya sudah meninggal dunia.


Santo dan Reina segera menghubungi sahabat sekaligus dokter terbaik di Milan untuk segera membantu Jessey dan Altezza agar selamat, tapi dari balik pintu rumah sakit, dokter lain mengatakan bahwasanya, Jessey Locateli telah meninggal dunia.


Santo mematung, menatap lekat wajah dokter.


"Ini tidak mungkin, kalian pasti salah! putriku tidak mungkin meninggal," ucap Santo menjerit histeris.


Reina mengusap lembut punggung Santo, "Altezza bagaimana dok?" tanyanya.


"Masih dilakukan tindakan operasi, beliau kritis," jelas dokter berlalu.


Media meliput berita kejadian sang motivator yang membunuh putri kandungnya, demi harta. Tentu menjadi pukulan telak bagi Amanda, karena harus kehilangan putri kesayangannya.


Tidak menunggu lama Amanda menuju Milan. Ada perasaan bersalah karena membiarkan Bastian pergi tanpa pengawasannya ataupun pengawal pribadi.


"Aku akan bercerai dengan mu Bas," batin Amanda selama di perjalanan.


Amanda bertemu dengan Santo dan Reina melihat tubuh sang putri terbaring kaku di hadapannya. Wajah cantik, manja, istri dari seorang pria Jepang kini harus menerima kenyataan meninggal dengan cara tragis di tangan ayah kandung.


"Dimana Bastian, San?" tanya Amanda.


Santo merangkul Reina, "di kantor polisi," ucapnya.


Amanda tersenyum bahagia melihat perubahan Santo setelah menikah dengan gadis kecil yang sepatutnya menjadi anak mereka.


"Ternyata kau lebih baik dari sebelumnya," senyum Amanda sedikit kecewa melihat kebersamaan Santo dan Reina.


"Harus, demi anak anak," jawab Santo.


"Tapi aku sangat mengagumi mu sejak dulu San," jujur Amanda.


"Hmmmm, urus lah Bastian! aku akan mengurus Jessey. Kita akan kremasikan putrimu malam ini," ucap Santo.


"Ya,"


Amanda berlalu meninggalkan rumah sakit menuju kantor polisi untuk segera bertemu dengan Bastian.


.


.


Betapa terkejutnya Amanda, saat melihat kantor polisi tengah panik mendapati Bastian Locateli mati bunuh diri di dalam penjara. Baru 4 jam pria bengis itu berada di penjara sudah melakukan hal gila di luar nalar, dengan menggantung kan lehernya dengan seutas tali.


"Siapa anda Nyonya?" tanya seorang polisi yang tengah sibuk mengevakuasi tubuh Bastian.


"Saya Amanda Locateli, istri dari Bastian Locateli," tegas Amanda melihat kaki Bastian sudah membiru.


Air seni yang keluar dengan sendirinya, lidah menjulur, leher membekas biru, wajah bengis sudah tertutup rapat oleh semua luka yang dia alami membawanya menuju alam yang berbeda.


.


.


Bastian di sambut oleh Caroline, dalam angannya. Jessey di sambut oleh Barita dan Praavena kembali kepelukan Gerald.


Pandangan Altezza pada semua keluarga yang telah kembali dengan caranya, membuat pria Jepang itu melanjutkan hidupnya di dunia nyata atas izin penguasa semesta alam.


"Ve, kenapa kau membawa istriku?" teriak Altezza.


"Bahagia lah Za," ucap Praavena mencium bibir Altezza dengan penuh perasaan.


Membuat pria Jepang itu tersadar dengan sangat cepat dari komanya.


Mata terbuka lebar, nafas memburu sesak, menatap langit langit kamar rumah sakit saat baru membuka mata stelah 2 hari tidak sadarkan diri.


"Mana Praavena?" tanya Altezza membuat Santo dan Reina sedikit tersentak.


"Hubby kenapa dengan Altezza? kenapa dia masih menyebut nama Praavena?" tanya Reina.


"Tenang sayang, dia baru siuman. Ibu Fuji sebentar lagi akan tiba. Kamu tunggu di bawah yah?" jelas Santo.


Santo mendekati Altezza menatap lekat wajah anak angkatnya, ada perasaan iba bahkan sangat sedih.


"Apa kesalahan anak ini? hingga Bastian tega merebut kebahagiaannya," batin Santo.


Semua berubah seketika, kabar kematian Jessey yang mendadak, kematian Bastian Locateli yang tidak terduga dengan cara tragis yaitu bunuh diri, membuat banyak orang membuka tabir kepalsuan sang motivator semasa hidup.


Perselingkuhan yang tidak kunjung berhenti, keabsahan status Praavena Locateli yang ternyata adalah anak biologis Santo Mareno bersama Cavana, di tutup rapat agar semua keluarga tidak mengetahui borok keluarga mereka.


Amanda terlihat shook, saat menghadiri acara kremasi untuk kedua orang yang dia cintai, bagaimana tidak.


Baru kemaren mereka menghabiskan waktu bersama seharian, saling bercinta, bercumbu, bermanja-manja, tanpa ada perasaan akan terjadi seperti ini.


"Apakah ini memang takdir? atau Bastian tidak bisa menikmati hidupnya dengan rasa syukur. Dendam yang menyelimuti kepalanya, sehingga mengorbankan kebahagiaan ku dan diri sendiri. Kenapa kau begitu egois hingga kematian mu Bas?" batin Amanda memandang peti mati Bastian Locateli dan Jessey Locateli.


"Tenanglah Amanda, aku akan menjagamu," ucap Santo menenangkan hati Amanda.


"Terimakasih, setidaknya aku sedikit lega!" senyumnya.


"Datanglah kapan kau mau ke kediaman ku," ucap Santo.


"Hmmmm apa maksudmu? apa kau menginginkan sisa Bastian?" tanya Amanda penasaran.


"Setidaknya aku menyelamatkan mu demi Jessey," ucap Santo meyakinkan.


Amanda mencari keberadaan istrinya Santo, "jangan memberi harapan palsu pada ku, karena kau tahu aku masih sangat menyukaimu," bisik Amanda tanpa ada perasaan sedih atas kehilangan Jessey dan Bastian.


"Hmmmm,"


Santo menjadi salah tingkah, dia hanya membantu Amanda, bukan untuk menikahinya. Reina sangat cantik dan baik, tidak akan mungkin Santo akan berpaling dari Reina. Istri yang sangat menjadi candu Santo. Sementara Amanda hanya sisa Bastian.


"Sepertinya kau salah mengartikan kebaikanku Amanda," ucap Santo tegas.


"Maksudmu," tanya Amanda menaikkan kedua alisnya.


"Aku tidak mungkin menduakan Reina, karena dia sangat baik pada ku dan hanya aku yang pertama baginya. Tidak mungkin kita akan bersama," tegas Santo membuat wajah Amanda terasa vaaanaas....


"Hmmmm maafkan aku," senyum Amanda menjauh dari Santo.


Dia mendekati oven pemanas yang akan membakar peti mati dan tubuh kaku yang berada didalamnya, mengikuti arahan pendeta dengan doa doa yang mereka panjatkan, melepaskan pintu oven tertutup dengan rapat melahap peti orang yang di cintai nya.


"Silahkan di tekan tombolnya Nyonya," ucap seorang mendekat pada Amanda.


Amanda menekan tombol merah menyala bertuliskan ON, menatap dari balik kaca oven bekerja meremukkan tulang tulang mereka agar tidak menjadi roh halus yang berterbangan diluar sana.


.


.


Caroline sangat bahagia menyambut kehadiran Bastian dan Jessey. Suatu persembahan yang sangat luar biasa bagi Caroline kepada sang penguasa. Tidak ada yang tersisa dari keluarga Locateli di Italia. Semua telah pergi. Tinggallah harta benda yang tidak bergerak dan tidak bisa di nikmati oleh siapapun.


Amanda tidak bodoh, dia telah menguasai sebagian harta yang tertinggal, termasuk benih cinta yang tertinggal sebagai penerus keluarga Locateli di rahimnya.


"Oooogh my God,"


_The end_


________


Promosi lagi nih, di sisa terkahir.


Untuk judul 'CEO, Gadis Bersyarat' yang sudah lulus kontrak sama Noveltoon.



Kota mode Prancis terletak di Eropa bagian Barat, terdapat kota kecil sangat indah bernama Loumarin. Di apit istana-istana Renaisans dari abad ke-15 dan berbagai gereja-gereja Katolik dan Protestan, pemandangan Proches Bastides. Beberapa butik, toko roti, restoran menghiasi kota kecil tersebut untuk menjadikan sebagai pusat bisnis agar mempermudah wisatawan untuk menikah dan berkunjung.


Guenhumura nama seorang gadis memiliki makna pekerja keras. Berlaku untuk gadis cantik biasa disapa Guen. Gadis mandiri memiliki tinggi 160 centimeter. Tubuh kurang ideal tidak menyulutkan semangat juang menjadi seorang desainer tangguh di usia 28 tahun.


Dia menyelesaikan Magister disalah satu Universitas ternama di kota mode sebagai designers.


Guen gadis berwajah oriental, imut, berbulu mata lentik, iris mata brown, hidung mancung sempurna, bibir mungil, kulit sehalus bayi walau usia sudah cukup mapan untuk berumah tangga, tapi Guen enggan mewujudkan dalam waktu dekat. Berbagai macam alasan ingin dia raih hingga menarik perhatian salah satu cliennya.


Segala rancangannya memiliki kesan yang unik, semua dia lakukan sendiri tanpa bantuan asisten atau sahabatnya Salsa selalu menemani.


Guen menghabiskan hari di butik miliknya terletak di persimpangan jalan tengah kota, dia beli dari hasil keringat sendiri di usia 19 tahun dengan mencicil di salah satu Bank Swasta.


“Bu, ada Mbak Citra di bawah," ucap asisten rumah tangga tengah membereskan kamar pribadinya.


Guen berpikir sejenak,


“Citra, siapa? aku tidak memiliki janji dengan wanita bernama Citra hari ini. Aku hanya ada janji dengan Tuan Carcas dan calon istrinya. Hmmm apa Citra calon istri Tuan Carcas?” tanya Guen.


“Bisa jadi Bu, saya enggak tahu. Nanti salah, saya yang di omelin," jawab asisten bernama Kasih itu menutup bibirnya.


Guen menepuk geram bahu Kasih.


“Lain kali tanya dulu," gerutu Guen menuju lantai dasar dimana wanita bernama Citra tengah menunggu.


Guen mengambil beberapa perlengkapan, menekan tombol lift menuju lantai dasar. Wajah Guen yang imut membuat dia seperti gadis kecil tengah menghampiri ibunya.


Guen terkesima menatap wajah Citra sangat sempurna, cantik berdiri bak model di hadapannya.


Guen tersenyum, sedikit mendongakkan kepala agar bisa menatap wajah Citra yang sangat sempurna.


“Selamat pagi nona," sapa Guen.


Citra menaikkan kedua alisnya, “Guenhumura?” tanya Citra tersenyum angkuh.


Guen tersenyum, “ya perkenalkan saya Guenhumura.”


Guen mengulurkan tangannya kecilnya pada Citra.


Citra mebungkukkan tubuhnya, memiliki tinggi lebih kurang 180 centimeter.


“Apakah calon suamiku Tuan Carcas datang ke butikmu nona kecil?” tanya Citra menggoda Guen.


Guen tersenyum,


“Duduklah, ini akan menyulitkan mu berbicara dengan ku nona cantik!”


Guen membawa Citra duduk di sofa tidak jauh dari tempat mereka berbincang.


“Hmmmm pantas Tuan Carcas mengagumi hasil kerja anda nona kecil!”


Citra kembali menggoda Guen.


“Aaaagh Tuan Carcas terlalu berlebihan nona. Dia sudah memesan beberapa gaun pengantin untuk acara pemberkatan dan resepsi. Saya rasa gaun ini lebih indah di tubuh anda yang sangat profesional Nona," jelas Guen menunjukkan beberapa desaign yang telah dia rancang khusus untuk Carcas dan calonnya.


“Ck aku tidak menyukai payet ini nona kecil,” rungut Citra menunjuk pada payet yang akan dipasang Guen di seputaran dada.


“Ooogh baik. Akan kita rubah sesuai permintaan anda. Berarti anda calon istri Tuan Carcas?” tanya Guen meyakinkan.


Citra memainkan mimik wajahnya atas ke tidak sukaan pada hubungannya dengan Carcas.


“Kenapa wajahnya begitu?”


Guen kembali menggoda Citra.


“Hmmm kami di jodohkan. Saya tidak menyukai hubungan ini. Makanya kami datang ke butik anda dengan waktu yang berbeda!” rungut Citra.


Guen meletakkan pulpen dan buku di meja.


“Aku turut prihatin," senyum Guen menatap wajah cantik Citra.


“Aku ingin menghindari pernikahan ini, karena aku mencintai pria lain. Aku sudah mengatakan semua pada Carcas. Aku mohon, bantu aku untuk menggagalkan pernikahan kami," mohon Citra menggenggam jemari Guen.


Guen menatap iris mata Citra sangat serius.


“Apa apaan ini? aku tidak mengenal mereka, bahkan mereka ingin membawa ku pada masalah mereka," batin Guen.


“Maksud anda?” tanya Guen menautkan kedua alisnya.


“Hmm Carcas ada diluar, dia ingin bernegosiasi dengan mu," senyum Citra membelai lembut punggung tangan Guen.


Guen menautkan kedua alisnya,


“Jujur aku tidak mengerti nona, maksud anda!” jelas Guen.


Citra tersenyum, menunggu kehadiran Carcas masuk ke butik milik Guen. Jujur perasaan Guen berkecamuk.


“Ada apa ini? kenapa mereka ingin melibatkan aku? aku tidak tertarik dengan dunia mereka," batin Guen.


5 menit kemudian, Carcas hadir dihadapan Guen dan Citra. Pria mapan nan rupawan, berwajah oriental lebih mirip Limin Ho usia berkisar 32 tahun. Hezel mata lebih dark dan sangat tajam saat menatap, jari tangan lebih halus dan lentik. Wangi maskulin sangat khas keluar dari tubuh pria sempurna itu.


“Hai Guen,” sapa Carcas memeluk Guen berjongkok karena tingginya berkisar 185 centimeter.


“Hai apa kabar Tuan?” tanya Guen ramah menatap Citra tersenyum menyambut calon suaminya.


“Bagaimana? apa kau sudah menyelesaikan permintaan ku nona kecil?” goda Carcas.


“Ada beberapa yang harus saya rubah Tuan, Nona Citra tidak menyukai payet di bagian dada. Mungkin akan saya rubah di beberapa bagian saja. Saya juga akan memberi mutiara putih di beberapa titik," senyum Guen menatap kedua pasangan sempurna di hadapannya.


Carcas menggengam jemari Citra.


“Bagaimana honey, apa kamu menyukainya?” tanya Carcas.


“Aku tidak ingin melanjutkan ini beib. Aku akan menikahi Samuel, bukan kamu," jelas Citra dengan wajah malas.


Carcas mendehem, menatap Guen penuh senyuman.


“Bisa kau membantu kami? kau mempersiapkan dua pasang baju pengantin, satu untuk Citra dan Samuel, satu lagi untuk aku dan kamu," senyum Carcas.


Pria tampan itu berucap spontan menatap mata Guen tengah ternganga mendengar penuturan sang pria tampan di hadapannya.


Kedua bola mata Guen membulat.


“Eehm maksud anda?” tanya Guen menatap dua orang gila yang membuatnya shook.


“Ya sepasang gaun pengantin untuk aku dan kamu!” tegas Carcas kembali berucap dengan sangat pede.


Citra tersenyum.


“Good idea beib,” senyum Citra.


Guen semakin tak mengerti, dia memijat pelan pelipisnya.


“Apa maksud dari semua ini? apakah mereka sedang menguji iman ku?” rungut Guen dalam hati.


Carcas berdiri, sengaja membalikkan plank yang terpampang dari open menjadi close mengunci butik milik Guen. Menahan asisten dan Salsa sahabat Guen di lantai dua agar tidak turun ke lantai dasar.


Guen terlonjak kaget saat orang lain semena mena di dalam butik miliknya.


“Apa yang anda lakukan Tuan? apa kalian ingin berbuat jahat pada butikku,” tanya Guen sedikit takut menatap lekat manik milik Carcas.


Carcas kembali duduk di hadapan Guen, Citra duduk di sebelahnya, mengeluarkan beberapa dokumen tentang tagihan butik Guen yang sudah menunggak selama 3 bulan.


Guen menatap lekat dokumen di hadapannya. Dia menelan salivanya, air mata sudah menggenang di pelupuk mata indah Guen. Dia mengusap pelan wajah cantiknya, menatap tenang iris mata Carcas.


“Dari mana anda mendapatkan data saya?” tanya Guen berusaha tenang.


Carcas tersenyum, menyandarkan tubuh ke sofa. Perlahan menarik nafas sambil menatap wanita tangguh nan mandiri sangat menarik perhatian beberapa bulan ini.


To be co n ti nue...


Semoga sukses selalu untuk kita semua...


Jangan lupa Like and Fav