Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Pemberkatan,



Prosesi pemberkatan pernikahan Santo dan Reina berlangsung sangat hikmat. Gereja katedral Milan menjadi saksi hubungan aneh mereka.


Reina mengusap air mata di wajah, sesekali menatap ke arah Altezza dan Jessey yang tersenyum bahagia melihat pernikahan mendadak ini.


"Ada apa dengan Reina? kenapa dia menangis," batin Jessey.


"Bukankah dia sangat menyukai Tuan Santo? hingga dia cemburu pada ku?" tambah Jessey dalam hati.


Jessey menggenggam jemari Altezza, saat keluar dari gereja setelah pemberkatan pernikahan Santo dan Reina.


Tentu menjadi hal yang sangat menyakitkan bagi Reina, melihat Altezza mau menerima genggaman gadis yang sangat menyebalkan beberapa waktu lalu.


Santo mendekati Altezza dan Jessey dengan menggenggam erat tangan Reina.


"Kalian kembali ke kantor, aku akan membawa gadisku berbulan madu," tegas Santo memberikan amplop berisikan uang pada Altezza di hadapan Reina.


Deg,


"Berarti benar Altezza telah menjebakku?" batin Reina semakin berkecamuk.


Perasaannya kini terasa tercabik cabik oleh pikirannya sendiri.


"Apa ini Tuan?" tanya Altezza menatap lekat manik mata Santo.


"Uang, aku akan pergi agak lama. Jika ada apa apa tolong kabari aku. Anggap itu hanya bonus dari saya," tegas Santo tanpa basa basi.


"Baik Tuan, terimakasih," tunduk Altezza mendekati Reina.


"Selamat ya Rei," ucap Altezza.


Plaaak,


Reina tidak kuasa membendung sakit hatinya membuat Altezza, Jessey dan Santo terlonjak kaget.


"Ada apa? kenapa kau menampar ku?" tanya Altezza.


"Aku akan menghubungi ibu mu, karena kau telah menjual ku," sarkas Reina.


Santo meremas tangan Reina sangat kencang membuat gadis itu sedikit meringis menahan sakit.


"Ikut aku," tegas Santo merangkul pinggang Reina.


Altezza dan Jessey tertegun tidak bisa berucap atau berkata apapun. Bagi mereka Santo adalah pria kaku yang dingin dan sangat sulit jatuh cinta.


"Apakah Tuan Santo mencintai Reina?" tanya Jessey sedikit penasaran berbisik pada Altezza.


"Ntahlah, aku merasa aneh pada sikap Reina. Kenapa dia menamparku?" kesal Altezza mengusap wajahnya terasa panas.


Altezza dan Jessey berlalu meninggalkan Gereja melanjutkan kegiatan mereka. Menjalani aktivitas seperti biasa tanpa memikirkan nasib Reina.


Bagi Altezza, Reina sudah mendapatkan apa yang dia mau sesuai harapannya. Pria mapan, berumur bahkan sangat kaya. Yaaah, itu menjadi pilihan dan sudah terjadi.


Altezza kembali menatap wajah Praavena di layar laptop miliknya, saat meliput berita.


"Ve, kembali padaku! aku sangat merindukanmu," rengeknya dalam hati.


Altezza membuka beberapa email yang masuk, terlihat sebuah komentar pedas dari Bastian untuk Santo.


📨"Kau tutup beritamu tentang Almarhum putri ku Praavena bangsat."


Tulisan Bastian.


Membuat bola mata Altezza membulat menatap hujatan pedas tertuju pada Bastian dari pendukung Santo.


"Ini akan menjadi hal yang sangat buruk," batin Altezza menghubungi Santo segera.


Panggilan telepon tersambung..


📞"Ya,"-Santo


📞"Apa anda telah membaca semua berita Tuan?" tanya Altezza.


📞"Hmmm diamkan saja," tegas Santo.


📞"Baik Tuan,"-Altezza.


Altezza meletakkan kembali handphone miliknya di atas meja, tidak sedikitpun dia memikirkan Reina. Di kepalanya saat ini hanya ada Praavena walau sangat berbeda kala dia menatap Jessey.


"Kenapa tidak ada reinkarnasi?" batin Altezza.


Jessey tiba tiba hadir di hadapan Altezza membawa box makan siang. Meletakkan di atas meja menatap ke arah laptop Altezza.


"Apa kau sedang merindukan Praavena?" sapa Jessey mengejutkan lamunan Altezza.


Altezza menutup layar laptopnya menatap lekat wajah Jessey.


"Apa kau mau makan bersama ku?" tanya Jessey mencoba mengalihkan perhatian Altezza.


"Ya, why not," ucap Altezza berdiri membawa box menuju pantry.


Mereka saling bertukar pikiran bercerita tentang kisah pribadi.


Jessey seorang gadis lugu tidak pernah memiliki relationship dengan siapapun membuat Altezza terkekeh mendengar curahan hati gadis itu.


"Apa kau ingin mencari kekasih?" tanya Altezza menatap Jessey.


"Tentu, aku ingin merasakan jatuh cinta seperti Praavena mencintai selingkuhan Caroline," ejeknya mengenang kisah cinta saudara tirinya.


"Hmmmm apakah kau mengenal Gerald atau Caroline?" tanya Altezza penasaran.


"Ya, aku sering melihat mereka menghabiskan waktu di Roma. Caroline menyewakan apartemen di tempat ibu ku tinggal," jujur Jessey.


"Apakah Bastian tidak mengetahui perselingkuhan Caroline istrinya?" tanya Altezza semakin penasaran.


"Papi tidak pernah percaya atas apa yang di sampaikan ibuku Za, dia hanya percaya pada Caroline. Menurutnya janda Santo itu setia padanya. Setelah semua terbongkar dia malu pada ibuku. Sekarang mereka tinggal bersama. Bahkan tidak ingin pulang ke mansion miliknya," jelas Jessey panjang lebar.


Altezza semakin tertegun, mendengar curahan hati Jessey.


"Kenapa kau meninggalkan rumah? ada pertikaian kah?" tanya Altezza.


"Ssssst Papi menamparku Za," jujur Jessey.


"What? bukannya kau putri terbaiknya? kenapa dia tega menyakiti mu?" tanya Altezza.


"Aku menemukan card apartemen Gerald, aku mengambil semua pakaian milik Caroline di sana, Papi merasa aku memfitnah istrinya yang berhati iblis itu. Dia merasa aku terlalu ikut campur dalam urusan cintanya, tanpa memikirkan perasaan ibuku yang terluka," cerita Jessey.


"Ooogh my God, bukankah dia seorang motivator kelas atas? kenapa dia tega menyakiti kalian? apakah Ibu Praavena tahu perselingkuhan Bastian dengan Amanda Ibumu?" tanya Altezza.


"Aku yakin Aunty mengetahui semua sebelum dia menutup mata. Keabsahan Praavena juga terkuak di keluarga. Bahwa hmmmm, sudahlah. Jangan kita fikirkan mereka. Lebih baik kita membicarakan rencana masa depan," jelas Jessey tersenyum lirih.


Altezza tertegun, begitu banyak rahasia yang akan terbuka di media jika Santo dan Bastian bertikai seperti ini.


Jessey menutup box lunch membuang ketempat sampah. Memilih membuat kopi untuk Altezza, walau pria Jepang itu tidak menyukai buatannya dia selalu berusaha memberikan perhatian kecil untuk menarik perhatian Altezza.


"Jujur perlahan aku mencintaimu Za, tapi kau terlalu larut dalam duka mu kehilangan Praavena, bahkan kau enggan membuka hatimu untukku," batin Jessey sesekali melirik ke Altezza.


"Ni kopinya, semoga suka," ucapnya berlalu.


Altezza tersenyum tipis, menerima dengan senang hati secangkir kopi buatan tangan Jessey.


Dia meninggalkan pantry, menuju meja, kembali melanjutkan pekerjaannya.


.


.


.


Di sudut kota Roma tampak Bastian dan Amanda tengah menghabiskan waktu bersama.


"Apa kau sudah menemukan dimana Jessey, Bas?" tanya Amanda masih berpelukan dengan pria bengis yang sangat tidak setia.


"Sulit aku menemukannya. Aku yakin dia bersama Santo, tapi pria bajingan itu tidak mengangkat panggilan telepon ku," jelas Bastian.


"Oooogh kau sangat menyebalkan," kesal Amanda.


"Dia putri kandungmu Bas. Jangan terlalu keras padanya," rungut Amanda.


"Aku tidak ingin dia terlalu mencampuri urusanku. Aku sudah tahu perselingkuhan Caroline dan Gerald, kini mereka sudah bersatu di neraka, bahkan sangat menjijikan. Aku dengar, Santo menghabiskan waktu bersama Caroline sebelum kematiannya. Aku sangat sakit Amanda, kau harus tahu sakit ku," tegas Bastian.


"Apa?" tanya Amanda melepas pelukannya.


"Aku harus tau sakit mu, tanpa kau peduli akan sakit ku Bastian? Ooogh Jesus, kenapa aku mesti jatuh cinta pada pria seperti mu," geram Amanda berlalu meninggalkan Bastian sendiri.


"Amanda, Amanda!" teriak Bastian mengacak rambutnya.


"Aaaaagh," kesal Bastian.


Bersambung....👻


Happy reading...🔥🤗


Jangan lupa Like and Vote...😘