
"KAU... Jessey? apa kau sedang mengikuti ku nona muda?" geram Altezza berlalu membalikkan wajah tampannya dari gadis Kuarga Locateli.
"Za, Altezza, tunggu." Kejar Jessey menghampiri Altezza yang sudah duduk di kursi pesawat.
"Kenapa dia mengikutiku? Apakah mereka belum puas menyakiti aku dan sahabatku?" batin Altezza menggeram melirik Jessey sudah meletakkan bok*ongnya di sebelah Altezza.
"Kamu kenapa menghindar dari aku? apa salah aku sama kamu? kamu bisa berteman dengan Praavena, kenapa tidak dengan ku Za?" tanya Jessey terdengar kesal.
Altezza menarik nafas dalam, mendengus kesal.
"Mau aku jawab jujur atau bohong?" Tanya Altezza.
"Hmmm, jujur dong. Kalau perlu dua duanya." Senyum Jessey.
"Pertama aku nggak mau berurusan dengan Keluarga Locateli karena kalian selalu membuat aku sial. Kedua kamu adalah gadis yang menyebalkan!" jujur Altezza sinis.
Jessey menaikkan alisnya, "aku nggak pernah membuatmu sial? Kita baru beberapa kali bertemu. Sekarang aku bertanya, kenapa kau bisa dekat dengan Praavena kakak tiriku? Apa kau pernah berkencan dengannya?" tanya Jessey ingin tahu.
"Dengar nona! bukan urusanmu. Urus saja yang menjadi urusanmu. Jangan mengurus urusanku." Tegas Altezza melirik benci pada Jessey.
Jessey merasa di permalukan, memilih beranjak pergi meninggalkan Altezza, "kau akan menyesal Altezza. Aku pastikan, suatu hari nanti kau akan mencintai aku." Ucap Jessey menggeram berlalu meninggalkan Altezza.
Deg...
Altezza menggeram, jujur dia tidak membenci Jessey, tapi harus di akui, semenjak dekat dengan Keluarga Locateli hidup Altezza selalu terasa terancam. Bahkan terzolimi. Beberapa bulan lalu Bastian menembaknya, Caroline meminta Gerald membakar resto miliknya, hingga mengakibatkan sahabat dekat celaka akhirnya menutup mata. Dia juga kehilangan Praavena karena perlakuan Keluarga sang motivator yang sombong itu.
Reina sedari tadi mendengar perselisihan antara Altezza dan Jessey perlahan membuka mata sipitnya. Dia mendengar pengumuman bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat di Bandara Milan.
"Hmmm, kita akan sampai di Milan?" tanya Reina menatap Altezza dengan tatapan gembira. Ada perasaan bahagia karena ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di negara pasta itu.
"Ya, bersiaplah. Naikkan bangkunya, pesawat sebentar lagi mendarat." Jelas Altezza.
Reina memperbaiki duduknya, tentu di bantu oleh Altezza.
"Siapa gadis tadi Za? kenapa kau membencinya? jangan terlalu benci. Nanti jadi cinta. Kamu tau hidup ini sangat mudah berbolak balik jika Tuhan mengizinkannya." Sindir Reina mengingatkan Altezza.
Altezza mengangguk, dia mengerti kemana arah pembicaraan Reina. Tapi dia tidak ingin mengingat semua tentang Keluarga Locateli.
"Sudahlah, jangan di bahas." Altezza mengusap manja kepala Reina.
Reina tersenyum, melihat pesawat sudah semakin rendah menuruni awan biru dengan sangat tenang. Pilot pesawat boeing sangat berpengalaman mendaratkan pesawat di bandar udara internasional Malpensa Milan. Reina kembali meremas jemari Altezza dengan sangat kencang, dia tidak melepas genggamannya.
"Maaf jika aku melukaimu." Ucap Reina membuat Altezza tersenyum.
Altezza menggenggam erat tangan Reina agar dia merasa tenang saat pesawat mendarat dengan selamat.
"Aman." Bisik Altezza di cuping Reina.
Reina melirik ke arah Altezza, "iiiighs... suka banget ngegoda aku!" kekeh Reina menepuk lembut lengan Altezza.
Altezza kembali mengacak rambut Reina, "sebentar lagi kita turun, kamu tetap dalam genggamanku. Tuan Santo sepertinya sudah menunggu di luar." Tegas Altezza mengambil beberapa barang mereka yang di letakkan di bagasi atas.
Reina menunggu sesuai perintah Altezza. Lebih kurang 20 menit mereka keluar perlahan. Altezza terus menggenggam jemari Reina menyusuri jalan menuju plang pemeriksaan kedatangan warga negara asing ke negara mereka. Bagian imigrasi mengenal Altezza sedikit terkejut membawa seorang wanita.
"Apakah nona ini istri anda Tuan Altezza?" senyum petugas menatap wajah ayu nan alami milik Reina mencocokkan dengan posspor.
"Hmm, kami baru menikah." Kekeh Altezza pada petugas menggunakan bahasa Italia.
"Maaf Tuan, Istri anda harus di periksa dulu kesehatannya selama 1 jam di ruang khusus. Jika tidak kau harus membayar 100 euro." Bisik petugas.
"Dia sehat Tuan, aku sudah di tunggu oleh Tuan Santo Mareno di luar. Aku tidak ingin beliau menungguku lebih lama." Jelas Altezza mengulurkan uang pecahan berjumlah 100 euro.
Petugas tersenyum sumringah, dia mengetahui Altezza adalah pria Jepang yang humble tidak suka bertele tele apalagi harus berlama lama. Selagi hanya masalah kesehatan tidak masalah membayar mahal, karena Altezza yakin Reina adalah gadis sehat jasmani dan rohani.
Tak berapa lama, tibalah Altezza hampir mendekati Santo. Benar saja, Santo dan Reina saling tatap merasakan adanya chemistry antara mereka berdua.
"Haiii Tuan." Sapa Altezza memeluk Santo sebagai salam kerinduan setelah seminggu tidak bertemu.
"Haii." Sambut Santo melirik ke arah Reina.
Sheeeer.....
Darah gadis Jepang itu mengalir deras saat Santo mengulurkan tangannya untuk pertama kali.
"Haii gadis kecil. Apa kabar mu?" sapa Santo pada Reina membuat Reina gugup salah tingkah.
"Ha haii Tuan." Reina membalas uluran tangan Santo sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.
Santo yang tidak biasa dengan hal seperti itu langsung memeluk Reina.
"Selamat datang di Milan, semoga harimu menyenangkan." Bisik Santo perlahan melepas pelukannya saat melihat Jessey mendekati mereka.
"Haii uncle," sapa Jessey meraih tubuh kekar itu mengecup kedua pipi Santo kemudian melepasnya.
"Sudah?" tanya Santo pada Altezza sesekali melihat Reina juga mengajak Jessey untuk ikut bersama mereka.
Deg...
Altezza menggeram, "ngapain juga bawa gadis menyebalkan ini ikut bersama? dia mau apa sama Tuan Santo?" batin Altezza penuh tanda tanya.
Ingin rasanya dia pergi meninggalkan mereka saat itu juga, menarik tangan Reina tapi tidak mungkin dia lakukan. Bagaimana pun bos selalu benar dalam melakukan apa saja.
"Eheem, sepertinya kita akan menjadi satu team Altezza." Goda Jessey di telinga pria Jepang itu.
Altezza mendengus kesal, menggeram bahkan memasang wajah garang agar Jessey tidak terus menggodanya.
Santo menepuk pundak Altezza pelan,
"Putri Locateli kabur meninggalkan Bastian dan Amanda. Dia butuh pekerjaan. Aku terima dia sebagai pengganti Pisa. Gadismu akan aku jadikan asisten pribadiku untuk mengurus rumah ku." Bisik Santo di angguki mengerti oleh Altezza.
"Berarti saya langsung ke apartemen anda saja Tuan." Jelas Altezza.
"Ya, bawa Jessey sekalian, karena saya nggak tahu meletakkan dia dimana. Tidak mungkin di rumah saya. Tenang saja, pengawal sudah saya siapkan untuk mengawasi apartemen itu." Ucap Santo membuat Altezza menerima pasrah. Kamar apartemen memang ada dua, setidaknya bisa melakukan aktivitas masing masing terlebih dahulu, batin Altezza.
Altezza menjelaskan pada Reina, dia pikir Reina akan menolak tawaran Santo padanya, ternyata Reina menerima dengan senang hati dan tersenyum sumringah.
"Jaga dirimu." Pesan Altezza saat mereka berpisah pada Reina.
Reina mengangguk mengerti, dengan wajah tersipu malu dia melirik Santo berharap ada perhatian lebih dari pria duda tua dan mapan itu.
Jessey mendorong travel bagnya, sementara Altezza melangkah lebih cepat meninggalkan gadis menyebalkan itu. Saat pintu apartemen terbuka, Altezza masih membayangkan wajah Barita sahabat terbaiknya. Dia terduduk di sofa, mengenang kisah bersama sahabat terkasihnya.
"Kamar aku yang mana?" tanya Jessey tanpa memikirkan perasaan Altezza yang tengah gundah.
Altezza menunjuk satu kamar lumayan besar untuk di tempati Jessey.
"Walau benci, aku harus ngalah sama wanita. Bagaimana pun dia wanita. Harus aku hargai." Batin Altezza berlalu memasuki kamar yang berukuran sedang.
Dikamar itulah Barita selama ini tidur, hingga Altezza memutuskan untuk berpisah dengannya memilih tinggal bersama Praavena kala itu. Altezza menarik nafas dalam, "tenanglah Bar! Aku sangat merindukanmu." Batin Altezza.
Bersambung....👻
Happy reading...🔥🤗
Jangan lupa Like and Vote...😘