Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Apartemen...



Altezza dan Jessey justru tengah bersitegang malam itu. Merasa jika Altezza tidak menghargai gadis cantik belia itu. Dia berusaha memasak untuk makan malam bersama tapi Altezza lebih memilik makan di suatu restoran Jepang area apartemen mereka.


"Kenapa kau sangat menyebalkan Za?" tanya Jessey melihat pria Jepang itu menggantungkan jaket hangatnya.


Altezza menaikkan kedua alisnya, merasa aneh atas pertanyaan Jessey.


"Ada apa?" ucapnya tanpa perasaan berdosa.


"Aku memasak makan malam untuk kita kau malah makan di luar? kau tidak menghargai jerih payah ku!" kesal Jessey meninggalkan Altezza terdiam kaku.


Braaak,


Pintu kamar utama tertutup rapat. Altezza tertegun menatap lekat pada pintu yang berwarna putih. Wajah tampan Altezza seketika berubah tampak kebingungan.


Perlahan Altezza mendekati pintu kamar Jessey mengetuk pelan, tapi pria oriental itu mengurungkan niatnya.


Altezza kembali ke meja makan yang kecil hanya 4 kursi, memandang masakan jerih payah Jessey.


"Maafkan aku," batin Altezza mencicipi masakan gadis Italia.


Perlahan Altezza menyantap hidangan di hadapannya, menikmati pasta buatan Jessey.


"Hmmm enak, tapi lebih enak masakan Praavena," batin Altezza.


Walau perutnya masih kenyang Altezza menghabiskan hidangan agar tidak menjadi masalah besok pagi. Perutnya terasa penuh, ada perasaan mual karena keju agak berlebihan.


"Tapi lumayan," kekeh Altezza.


Mata Altezza masih tertuju di pintu kamar Jessey, berharap gadis itu keluar. Dia ingin meminta maaf karena tidak ingin masalah menjadi berlarut larut menghantui pikirannya.


Setelah menyantap habis hidangan, Altezza merapikan sendiri perkakas dapur. Perlahan kembali di depan pintu kamar Jessey.


Tok tok tok,


"Jess... Jessey. Terimakasih, makanannya sudah aku makan dan habis tidak bersisa, jangan marah lagi. Aku pikir kau masak untuk dirimu, sekali lagi maaf," ucap Altezza berlalu menuju kamarnya.


Didalam sana Jessey tengah menikmati salad, sambil menonton televisi. Dia tidak menyangka bahwa Altezza akan memakan masakannya.


"Hmmm,"


Jessey tersenyum sumringah. Melanjutkan tontonannya. Ada perasaan senang, setidaknya dia lega atas ucapan Altezza barusan.


Altezza merasa sesak nafas karena kekenyangan. Matanya enggan terpejam, dia menghampiri lemari milik Barita yang belum di bongkar selama kepergiannya.


Altezza membuka kunci lemari, melihat semua pakaian Barita masih tertata rapi di sana. Altezza tersenyum, memilih beberapa baju kaos yang tidak pernah Barita gunakan.


Betapa terkejutnya Altezza saat melihat foto foto Barita bersama wanita cantik yang berprofesi sama dengannya. Model, salah satu lembar foto Barita, mata Altezza melihat keanggunan Praavena saat memeluk Barita.


"Hmmm mereka ternyata sudah saling mengenal sejak lama," batin Altezza.


"Sangat indah," tambahnya dalam hati.


Altezza merebahkan tubuhnya ke ranjang, menatap penuh kerinduan foto Praavena dan Barita. Meletakkan foto indah itu di dadanya.


"Aku merindukan kalian,"


Altezza memejamkan mata, masuk ke dunia mimpi. Perlahan alam sadar membawa Altezza kembali bertemu Praavena.


Terlihat taman dengan hamparan hijau nan sejuk, menikmati keindahan alam yang terbentang luas menandakan kebahagiaan dan keabadian.


"Ve," sapa Altezza.


"Za, kau kembali untuk ku?" tanya Praavena tanpa bisa menyentuh.


"Kembalilah padaku Ve, aku sangat merindukanmu," bisik Altezza pelan.


"Za, jangan berharap. Aku tidak bisa kembali ke duniamu. Aku sudah bahagia di sini. Pergilah, jangan kembali lagi. Barita akan marah jika kau menemui ku," jelas Praavena.


"Tapi aku tidak mampu kehilangan mu. Aku sangat rapuh, tidak ada wanita seperti mu di dunia ku," isak Altezza bersimpuh di hadapan Praavena.


Tiba tiba Barita menarik tangan Praavena agar menjauh dari Altezza.


"Sudah berapa kali aku katakan Za, jangan pernah kembali dan tinggalkan Italia. Kota itu tidak akan baik untukmu," ucap Barita terdengar lantang.


Barita membawa Praavena menjauh dari Altezza. Pria Jepang itu hanya meratapi kepergian orang yang sangat dia cintai.


"Kenapa kalian jahat padaku! apa salah ku pada kalian! haaaaah," teriak Altezza frustasi.


Altezza terjaga, nafasnya terasa sesak, keringatnya mengalir deras. Perutnya terasa mual,


"Huuuugh,"


Altezza bergegas lari ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya.


"Uuweeek uweeeek uweeeek," usap Altezza di wajah tampannya.


Altezza mencuci mukanya, menatap cermin penuh tanda tanya atas mimpi yang dia alami.


"Kenapa dengan Italia? apakah aku akan mati di sini?" batin Altezza bergegas keluar kamar.


"Kau sudah bangun?" tanya Altezza mengintip ke jendela.


"Ya, kau kenapa Za?" tanya Jessey.


Ada perasaan aneh saat melihat Altezza basah kuyup.


"Kau sakit?" tambah Jessey berusaha menyentuh punggung pria Jepang itu.


"Jangan sentuh, apa kau punya minyak angin atau sejenisnya? aku merasa kurang enak badan," jelasnya.


Bergegegas Jessey mengambil minyak angin ke kamar kemudian menghampiri Altezza.


"Mau aku bantu?" tanya Jessey sedikit khawatir.


"Tidak usah, terimakasih,"


Altezza berlalu memasuki kamarnya, membuka baju memberi minyak angin di tubuh putih bersihnya. Dia memejamkan mata menikmati aromatherapy masuk ke pori porinya. Perlahan dia menghembuskan nafas pelan.


Cekreeek,


Jessey membawa sarapan untuk Altezza, secangkir teh hangat dan beberapa potong sandwich.


"Berbaringlah, aku akan mengusap punggung mu," ucap Jessey.


Altezza tidak menolak, tidak juga melarang, dia membaringkan tubuhnya menikmati sentuhan dari tangan putri Bastian Locateli.


Beberapa menit berlalu, Jessey mengambil sarapan memberikan pada Altezza.


"Kau masuk angin?" tanya Jessey memotong kan sandwich menyuapkan ke mulut Altezza.


"Hmmm,"


Altezza hanya mendehem menikmati suapan dari Jessey.


"Apa kau tidak ke kantor?" tanya Jessey memberikan teh buatannya.


"Ya, sebentar lagi aku akan bersiap siap," jawab Altezza dingin.


Jessey membuka tirai kamar Altezza agar cahaya menyinari kamar berukuran sedang dan menyalakan pemanas. Dia mengusap kepala Altezza dengan punggung tangannya.


"Kau dingin sekali? tubuhmu seperti mayat hidup Za!" jelas Jessey semakin khawatir.


"Hmmm,"


Altezza mengangguk pelan.


"Di punggung mu ada sesuatu, apa itu?" tanya Jessey sedikit penasaran.


"Hmmm aku tidak tahu," jawab Altezza.


"Apakah kau sudah mencoba berobat atau kemana gitu?" tanya Jessey semakin penasaran.


"Sudahlah, jangan di pikirkan," senyum Altezza.


Jessey merasa senang, karena ini kali pertama Altezza tersenyum padanya.


"Aku bersiap dulu yah, kita berangkat bareng saja. Oya, siapa gadis Jepang yang di bawa Tuan Santo kemaren? apakah itu istri mudanya?" tanya Jessey sedikit kepo.


"Bersiaplah, jangan pikirkan yang bukan masalah mu," senyum Altezza kembali mengembang.


"Hmmm,"


Jessey berlalu meninggalkan Altezza, tapi...


"Jessey," panggil Altezza.


Jessey membalikkan tubuhnya,


"Ya,"


"Terimakasih untuk perhatian mu," ucap Altezza.


Jessey hanya mengangguk tak membalas ucapan Altezza. Dalam hatinya ada perasaan bahagia, tapi ada perasaan iba.


"Kenapa dia sangat misterius?" batin Jessey.


Berlalu menuju kamarnya, bergegegas dia membersihkan diri bersiap siap menuju kantor milik Santo.


"Semoga hari ini awal yang baru untuk ku dan karierku," bisik Jessey menatap cermin.


Bersambung....👻


Happy reading...🔥🤗


Jangan lupa Like and Vote...😘