Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Kejam...



Santo membawa Reina kembali ke kediamannya. Menarik kasar tangan gadis Jepang itu dengan paksa. Lalu mendorong tubuh mungil itu di ruang tamu, membuat punggung Reina terbentur meja..


Braaak,


"Auuugh Tuan, kau menyakiti ku," ringis Reina menatap takut wajah pria dewasa di hadapannya.


Santo tersenyum lirih. Mendekati wajah gadis Jepang yang sangat menarik perhatiannya, tapi justru kesal karena perbuatannya.


"Jangan pernah menjadi orang yang menjijikan gadis kecil, aku menyukai gadis penurut, bahkan penyayang. Jika kau mengganggu Jessey, akan aku kirim ke neraka," tegas Santo meremas pipi Reina.


Reina semakin ketakutan, tubuh kecilnya menggigil, kemudian Santo menyeretnya ke sofa ruang keluarga.


"Lepaskan Tuan! aku mohon! aku minta maaf," isak Reina di atas sofa.


Santo hanya tersenyum tipis, melepas paksa pakaian Reina menciumi tubuh itu dengan sangat buas.


"Ampun Tuan, lepaskan saya!" isak Reina mencoba melawan tapi apa lacur, tubuh mungil itu di renggut paksa oleh Santo.


Santo seperti orang kesetanan melahap tiap inci tubuh mulus itu hingga dia merasa puas diatasnya.


Reina menangis sejadi jadinya, tidak menyangka akan di perlakuan kasar oleh majikan sendiri. Kehormatan di renggut, tangan gadis itu menggigil saat melihat Santo kembali mendekatinya.


"Ampun Tuan, aku mohon, jangan seperti ini padaku. Kasihanilah aku, aku hanya gadis kampung yang tidak tahu sopan santun. Maafkan aku Tuan, jangan lakukan lagi, aku mohon!" isak Reina.


Bukan Santo namanya. Pria kaku itu tidak pernah merasa kasihan jika orang lain menyakiti orang sekitarnya.


"Ternyata kau masih perawan sayang. Aku sangat menyukainya, setiap hari kau harus melayani aku, hingga aku puas," bisik Santo membuat Reina semakin meraung merasa frustasi.


Santo melakukan lagi dan lagi hingga Reina benar benar tak berdaya.


"Jika kau baik pada semua karyawan ku, aku akan menjaga mu gadis kecil. Ternyata kau sama iblis nya dengan Pisa," bisik Santo di telinga Reina.


"Ampuun Tuan, aku mohon," teriak Reina sekeras kerasnya.


Santo hanya tersenyum tipis mendengar gadis itu dalam kesakitan dan frustasi karena trauma atas perbuatannya.


"Malam ini kau tidur dengan ku," tegas Santo meninggalkan Reina di ruang keluarga dengan tubuh masih telanjang.


Perlahan dia mengambil baju yang berserakan di lantai, merasa bagian ehem terasa perih. Berkali kali Santo menghujam jet pribadi di milik Reina secara paksa.


"Altezza tega, dia menjual ku. Apa salah aku pada mu Za? hingga kau tega menjebak ku seperti ini. Kau bilang majikan mu baik, ternyata dia sangat kejam pada ku," isaknya di bawah guyuran shower kamar mandi


Reina benar benar sakit oleh perlakuan Santo. Dia menangis menyebut nama ibu, ingin mati karena sudah tidak bisa memberikan yang terbaik. Gadis Jepang itu seakan hancur oleh pria yang dia anggap baik ternyata lebih kejam dari ayahnya.


Setelah lelah menangis Reina tertidur di kamarnya, tanpa peduli dengan Santo tengah sibuk dengan kegiatan di luar rumah.


Santo kembali ke kediamannya, mencari keberadaan Reina.


"Dimana gadis itu? apa dia mati bunuh diri di rumah ku?" batin Santo.


Perlahan Santo membuka pintu kamar Reina, melihat gadis sipit itu tengah meringkuk di pinggir ranjang dengan rambut lembab.


Santo meraba kepala Reina, ternyata badannya sangat panas.


"Astaga, dia demam," batin Santo.


Bergegegas dia mengangkat tubuh Reina ke kamarnya, menghubungi dokter pribadi agar datang ke kediamannya.


Dokter Frans segera menyambangi kediaman Santo sesuai perintah.


"Apa dia baik baik saja?" tanya Santo khawatir.


"Hmmmm apa kau menyakiti gadis ini?" tanya Frans dokter pribadi Santo.


"Aaaagh kau tahu aku, membenci wanita kasar," jelas Santo.


Frans hanya tersenyum, memberi multivitamin pada Reina melalui selang infus dan akan di jaga oleh perawat.


"Berhenti bro. Jangan kau sakiti wanita polos. Dia masih sangat belia, karma pasti ada," jelas Frans.


Santo mengangguk, menepuk pelan bahu Frans sahabat lamanya.


Mereka meninggalkan kamar Santo, menghabiskan sebotol sampanye di sana.


"Apakah Bastian menghubungi mu? putrinya Jessey meninggalkan rumah," jelas Frans.


Deg,


Santo tersenyum tipis.


Santo terdiam, tidak mau banyak membahas tentang Bastian. Baginya Bastian adalah motivator kacangan yang di kemas oleh wajah dinginnya.


Mereka hanya mengenang kisah sekolah masa dulu hingga larut, tanpa memikirkan kondisi Reina terbaring lemas di kamarnya.


.


.


.


Berbeda dengan Altezza dan Jessey, mereka justru tengah asyik menghabiskan waktu di salah satu restoran Jepang dengan suasana yang sangat akrab. Alunan music slow menemani makan malam keduanya.


"Kenapa kau tidak memiliki kekasih Za?" tanya Jessey menatap wajah tampan menarik perhatiannya sejak awal.


"Hmmm aku rasa tidak sekarang untuk memikirkan itu. Aku harus fokus pada pekerjaan ku," jelas Altezza.


Jessey mengerti, sesekali dia mencuri tatap wajah pria yang duduk di hadapannya.


"Apakah restoran mu di Santo Stefaano masih ada?" tanya Jessey.


Altezza tersenyum lirih,


"Sudah hangus terbakar," jelasnya tanpa mau membicarakan tentang restoran.


"Oooough Altezza, aku sangat prihatin. Maafkan aku, aku tidak mengetahui tentang kebakaran itu."


Jessey mengatup kedua tangannya, berharap Altezza memaafkannya.


"Sudahlah, aku berusaha melupakannya," jelas Altezza.


"Kita pulang? apa kau sudah kenyang?" tambah Altezza.


Jessey mengangguk, mereka meninggalkan restoran kembali ke apartemen mereka.


Saat tiba di kediamannya, Jessey memberikan kalung salib pada Altezza, agar tidak mengalami mimpi buruk.


"Tidur yang nyenyak, selamat malam Altezza," ucap Jessey berlalu menuju kamar.


Altezza tersenyum menerima perlakuan Jessey sangat baik padanya. Berlalu menuju kamar, membersihkan diri, menggunakan kalung pemberian gadis Italia.


Jika waktu bisa di putar, mungkin Reina lebih memilih tinggal bersama Altezza di apartemen milik Santo, karena Altezza memang pria sopan dan baik.


Reina membuka mata perlahan melihat seisi kamar sangat berbeda. Seorang perawat menghampirinya.


"Anda sudah siuman nona? saya lepas yah selang infusnya," ucap perawat.


Reina hanya terdiam, melihat wanita cantik menyentuh tubuhnya.


"Apa aku sakit?" tanya Reina.


Perawat tersenyum, "istirahat nona, saya permisi."


Perawat berlalu meninggalkan kamar Santo menghampiri Frans yang sudah terlelap. Dia tidak berani membangunkan Frans, memilih lebih dulu meninggalkan kediaman Santo.


Santo melihat dari cctv-nya kegiatan perawat dan Frans, hanya tersenyum lirih.


"Apa aku telah menyakiti gadis itu? bagaimana jika dia berbicara pada Altezza? pasti pria itu akan memusuhi ku," batin Santo.


"Hmmmm apa aku harus?" tambah Santo dalam hati.


Santo masih memikirkan Reina, sesekali memijat pelan pelipisnya. Kepala terasa berat akibat terlalu banyak meminum alkohol membuat Santo terlelap di ruang kerjanya.


Pagi menjelang, Reina terjaga. Merasa tubuhnya sedikit membaik, perlahan dia beranjak meninggalkan kamar Santo menuju kamarnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Santo mengejutkan Reina.


Reina mengangguk, rasa takut sangat menghantuinya.


"Bersihkan dirimu, aku tunggu di ruang makan," tegasnya tanpa ingin di bantah.


Bersambung....👻


Happy reading...🔥🤗


Jangan lupa Like and Vote...😘