Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Salah berucap..



Shirakawa menjadi desa terunik bagi Santo. Sepanjang hari dia sangat menikmati makanan dan suasana disana. Bersama Reina hidupnya kembali bewarna dan kembali muda.


"Hubby, apa kamu senang disini?" tanya Reina saat berjalan bersama mengelilingi desa.


"Aku senang sayang, sangat senang. Aku merasa lebih muda 20 tahun dari usiaku," kekehnya memeluk istri mungilnya.


"Jangan kamu lakukan disini hubby," tolaknya saat tangan Santo sudah mulai liar di tubuhnya.


"Aku senang, kamu sudah sangat nyaman dengan ku sayang," bisik Santo.


"Ya, aku milikmu hubby," kecup Reina pada pipi Santo.


.


Sangat berbeda di kediaman Fuji, Altezza justru tengah sibuk membujuk Jessey yang masih marah karena perasaan cemburu yang memuncak. Bagaimana tidak, saat akan menikmati malam pertama, Altezza malah menyebut nama Praavena. Sakit? tentu sangat sakit bagi Jessey, membuat gadis itu memilih meninggalkan Altezza sendiri di dalam kamar dalam keadaan on fire.


"Jes, maafkan aku," ucap Altezza mengecup bahu Jessey yang tengah duduk di ruang tamu.


"Begitu indahnya kenanganmu bersama Vena, hingga sulit kau melupakan dia Za," isaknya menunduk sendiri.


Altezza memeluk tubuh Jessey dari belakang. Benar benar menikmati aroma wanginya Jessey.


"Biarkan aku sendiri Za,"


Jessey melepaskan pelukan Altezza dan berlalu.


"Jes, Jessey! please jangan pergi," mohon Altezza menahan lengan istrinya.


"Aku sangat memahamimu Za, hingga aku rela terluka oleh sikap mu. Jika kamu jadi aku, bagaimana?" tatap Jessey tajam.


"Aku hanya salah berucap Jes. Bukan berarti aku mengingatnya," tegas Altezza membela diri.


Jessey menarik nafas dalam, menatap kesal ke arah Altezza.


"Salah berucap? saat kau akan menikmati tubuhku kau menyebut nama Vena, Za! apa itu salah berucap? apa aku tidak berhak memilikimu seutuhnya agar kau mengungkapkan namaku, bukan Praavena!"


Air mata Jessey benar benar mengalir deras hingga bahunya bergetar, dia tak mampu membendung rasa kecewanya atas perbuatan Altezza. Baginya sangat menyakitkan, jika akan menikmati masa indah menembus nirwana malah mengucapkan nama wanita lain. Sama saja mengiris halus sanubari seorang gadis.


Altezza tertegun, kembali memeluk tubuh cantik itu. Ada perasaan bersalah, tapi bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Dia benar benar mengingat Praavena saat bersama Jessey.


"Sabarlah Jes, aku akan berusaha melupakannya dan mengingat mu," ucap Altezza memeluk Jessey.


"Sabar? sampai kapan aku harus sabar Za? apa sampai aku mati! baru kau mau membuka hati untuk ku?" isak Jessey di dada Altezza.


Altezza kembali tertegun, menutup mata membuang jauh nama Praavena agar dia bisa membahagiakan Jessey istrinya. Wanita yang benar benar mencintainya tulus hingga mau meninggalkan Bastian dan Amanda demi seorang Altezza.


"Maafkan aku Jes," kecup Altezza pada kening Jessey dengan lembut.


Perlahan Altezza mengangkat dagu milik Jessey mencoba kembali menebus dosanya, dengan mencium lembut bibir yang sangat berbeda dari bibir Praavena.


Jessey berusaha bersahabat dengan perlakuan Altezza, jika memang hanya kesalahan menyebutkan nama lebih baik dia menutup telinganya rapat agar tak mendengar nama Vena di bibir Altezza.


"Hmmmfgh,"


Jessey benar benar menyambut bibir Altezza dengan penuh harap. Selama mereka dekat tak pernah sekalipun Altezza melakukan hal yang tidak baik. Mereka benar benar berteman selayaknya teman saling membutuhkan.


Kening mereka menyatu, "maafkan aku," ucap Altezza menatap lekat mata istrinya.


Jessey tersenyum, "lakukanlah, aku sangat menginginkan mu suamiku," mohonnya penuh harap.


Altezza membawa kembali masuk ke kamar peraduannya, tentu ingin melakukan yang terbaik untuk membahagiakan Jessey Locateli.


Fuji yang mendengar perdebatan anak menantunya hanya bersandar ke dinding menatap langit-langit kamar.


"Kenapa putraku tidak bisa melupakan roh halus itu? sungguh menyakitkan bagi Jessey. Bagaimana ini? apa aku harus bertemu dengan bitsu kuil?" batin Fuji.


"Sabarlah Jes, semoga kau bahagia bersama putraku," tambah Fuji berlalu keluar rumah membiarkan anak menantunya menikmati masa indah kebersamaan mereka.


Saat Fuji tengah asik menata sesuatu di halaman rumah, matanya tertuju pada Reina dan Santo.


"Haaii," senyum Fuji menyambut Reina dan Santo.


"Mana Altezza, Bi?" tanya Reina lembut.


Fuji hanya tersenyum, diangguki mengerti oleh Santo dan Reina.


"Tuan, bisakah kita bicara?" tunduk Fuji meminta waktu pada Santo.


Santo mengangguk, "silahkan bi, saya mendengarkan," jelasnya.


"Maaf, apakah Altezza tidak pernah meminta pendapat pada anda Tuan?" tanya Fuji.


"Pendapat? maksud anda?" tanya Santo menaikkan kedua alisnya.


"Altezza belum sepenuhnya mencintai Jessey, Tuan," jujur Fuji.


Deg,


"Apakah dia masih mengingat Praavena?" tanya Santo.


"Ya Tuan. Itu sangat menyakitkan bagi Jessey. Dia gadis baik, saya mencium sesuatu di sini. Saya mohon jaga Altezza selama di Milan. Jangan biarkan mereka tinggal berdua. Saya takut Altezza akan mengalami hal pahit kembali," jelas Fuji merasa takut.


"Bi, Altezza akan tinggal bersama kami di mansion milik Tuan. Kami tidak ingin mereka kenapa napa," pujuk Reina.


Fuji mengangguk, dia menangis. Merasa takut jika sesuatu menimpa anak menantunya. Jika itu terjadi pasti dia orang pertama yang akan membalaskan dendamnya.


"Tenanglah Nyonya, Altezza dan Jessey adalah tanggung jawabku. Dia akan aman jika bersama ku. Aku jamin itu," senyum Santo meyakinkan Fuji.


Fuji dihantui perasaan takut oleh mimpi buruk yang dia alami beberapa waktu lalu. Hingga mengganggu pikirannya saat Altezza memutuskan menikahi Jessey.


Mereka saling bercerita, saling menguatkan, saling memahami agar kedepannya menjadi lebih baik. Altezza bahagia bersama Jessey. Begitu juga Reina dan Santo. Itulah harapan Fuji.


.


.


Di sudut Kota Roma Italia, di apartemen Bastian Amanda malah sibuk dengan dunia persilatan mereka yang tak kenal lelah. Keduanya seperti haus akan kasih sayang dan perhatian. Apa lagi saat Bastian mendengar jika Altezza dan Jessey telah melaksanakan pemberkatan pernikahan.


"Bagaimana aku harus membawa putri ku kembali?" batin Bastian menatap foto Jessey di meja kamarnya.


Tiba tiba Amanda mengejutkan lamunannya.


"Bas, aku memasakkan spaghetti bolognes untuk mu," kecup Amanda membawa sepiring spaghetti di hadapannya.


"Hmmmm, apa ini untuk kita?" tanya Bastian membawa Amanda ke pangkuannya.


"Ya, ini untukmu Bas," jawab Amanda penuh cinta.


Amanda meletakkan piring yang ada di tangan diatas meja. Melilitkan spaghetti di garpu dengan sangat mesra.


Perlahan Amanda menyuapkan pada Bastian dengan penuh harapan cinta mereka tidak akan berakhir.


"I love you Bas," bisik Amanda pada telinga Bastian.


"I love you too Amanda. Kau sangat pandai membangkitkan gairah hidupku," kecupnya pada gunung sinabung yang berada di hadapannya.


"Hmmmm, apa kau sedang merayuku lagi? dua hari ini kita hanya sibuk di dunia ranjang, aku sangat menyukainya, karena aku merindukannya,"


Amanda mencium cerug leher Bastian pria yang sangat kokoh. Berkali kali dia meninggalkan jejak disana menyatakan bahwa Bastian hanya miliknya. Perasaan yang selama ini terpendam akhirnya berbalas dengan cinta pria bengis itu kembali ke pelukannya secara utuh.


"Aku seperti pengantin baru lagi sayang," gendong Bastian pada Amanda membawanya keperaduan mereka.


Indaaaaahnya....


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️