Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Disisa terakhir....



Bastian kembali pada polemik kehidupannya yang sangat menyesakkan dada. Dia benar-benar menunggu kepulangan Altezza dan Santo di Italia, tepatnya Milan city. Semua kembali memanas, jantungnya memompa dengan cepat. Saat Bastian membaca satu artikel tentang kebersamaan putrinya dan Altezza. Seperti telah mencoreng nama baiknya selaku motivator terkenal.


"Bas, berhentilah mencari berita Jessey. Dia sudah bahagia. Aku mohon, jangan sakiti putri ku," jelas Amanda.


"Hmmmm, jika aku tidak bisa membawa Jessey kembali, maka pria Jepang itu pun tidak bisa memiliki putriku," tegas Bastian menepis tangan Amanda yang sudah berada di punggungnya.


Motivator itu seperti hilang akal, bahkan kehilangan rasa empati terhadap darah dagingnya sendiri.


Bastian pergi menuju kantor Santo, saat melihat aktivitas berjalan seperti biasa didalam sana.


"Mana putriku? aku akan mempersembahkan putriku untuk kau Caroline," batin Bastian seperti orang kesurupan.


Tentu menjadi ancaman jika di dengar oleh Amanda dan Santo, tapi kali ini Bastian berada disana sendiri tanpa ada Amanda menemani.


.


.


Milan, ruang kantor Santo masih sangat di sibukkan dengan beberapa pekerjaan mereka dan berita yang akan di cetak.


Jessey masih fokus dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Altezza. Mereka hanya di sibukkan dengan laporan dan beberapa berita yang akan deadline begitu juga tentang pemberitaan pernikahannya dengan Altezza.


Altezza menghampiri istrinya, "nanti kita pulang mampir di restoran Jepang yah," ucapnya mengecup lembut kepala Jessey.


"Hmmmm,"


Jessey tersenyum lega melihat perubahan suaminya yang sudah bisa menerima keputusan untuk melupakan Praavena walau tidak seutuhnya.


Altezza sesekali menatap wajah cantik Jessey yang manja. Mengenang saat mereka benar-benar melepas perasaan itu dengan kebahagiaan.


Flashback on...


Malam pertama yang sempat tertunda saat Altezza salah mengucap nama.


"Kali ini aku akan membawa mu kehidupan kita Jes," bisik Altezza saat menutup pintu kamar dengan rapat.


"Hmmmm aku mencintaimu Za,"


Jessey mencium bibir Altezza penuh damba, entah keberanian dari mana bagi wanita berdarah Italia itu untuk memulai, tapi itulah cintanya pada Altezza, dia mampu menomor satukan pria Jepang yang mampu membius hati dan pikirannya saat pertama kali berjumpa.


Altezza membalas ciuman itu membawanya untuk segera menjadi wanita sempurna hingga benar benar melakukannya dengan perasaan cinta di dunia nyata.


Altezza turun ke cerug leher gadis itu membuat tangan pria Jepang berstatus suami Jessey bergerak sangat lincah di atas bukit kenyal yang sangat nyata berada di hadapannya. Daging kecil kemerahan itu sangat mengagumkan saat Altezza menyesapnya penuh perasaan. Jessey benar benar menikmati sentuhan jemari indah itu di tiap inti tubuhnya. Aroma khas maskulin Altezza sangat memberikan perasaan yang berbeda.


"Hmmmmfg,"


Jessey benar benar berharap Altezza terbang bersamanya membelah langit menuju angkasa. Sungguh penantian panjang bagi gadis Italia yang selama ini menanti Altezza untuk dapat dapat menghabiskan waktu bersama seperti malam ini tanpa ada perasaan takut akan kata kehilangan.


Altezza menembus cakrawala menuju nirwana saat penyatuan cinta mereka.


"Sangat sempurna," batin Altezza saat menatap wajah berstatus istri yang benar benar tulus memberikan segalanya seperti malam ini.


Jessey mendesis, bahkan meremas kuat punggung Altezza, seperti ada sesuatu yang terlepas dari punggung kokoh itu. Jarum kecil sebesar kawat yang tertanam sejak lama, hingga tersentuh oleh wanitanya.


"Aaaaagh Za," erang Jessey.


Altezza memompa perlahan membawa wanita Italia terbang bersamanya menjemput impian agar bahagia selamanya.


Keduanya merasakan keindahan di alam yang sama, benar saja...


"Aku mencintaimu Jes," nama itu berubah disudut bibir Altezza.


Jessey tersenyum lega, mendekap tubuh Pria Jepang yang masih berada diatasnya.


Jessey mendekap wajah Altezza tersenyum menatap lekat wajah suaminya, "aku mencintaimu Za," ucap Jessey kembali mel u ma t bibir prianya.


"Maafkan aku," bisik Altezza merebahkan tubuhnya disamping Jessey.


Jessey tersenyum bahagia memeluk erat tubuh prianya yang sudah menjadi belahan jiwanya.


"Jangan tinggalkan aku Za," ucapnya.


Altezza tertegun menatap lekat wajah cantik itu, mengecup lembut bibir yang selalu menantinya.


"Aku tidak akan meninggalkan mu, tetaplah di samping ku," ucapnya meyakinkan.


Mereka menikmati keindahan malam penuh kasih sayang bahkan melakukannya lagi dan lagi tanpa ada perasaan lelah. Jessey benar benar mencintai Altezza, tapi pria itu hanya ingin wanitanya bahagia. Sangat sulit melupakan Praavena, karena baginya roh halus itu yang mampu menggetarkan hati dan jiwanya.


.


.


Bastian masih menunggu di depan kantor Santo dengan segala atribut penyamarannya. Sungguh menyakitkan jika hanya ingin melampiaskan dendam pada orang yang tak bersalah.


Suasana Milan sangat dingin, sore menjelang Altezza dan Jessey keluar dari pintu utama gedung perkantoran Santo berlantai 4. Sedikit ada kekhawatiran.


Santo berkali kali memperingatkan agar segera pulang karena Reina memasak makan malam untuk mereka.


Semenjak Altezza dan Jessey menikah, mereka tinggal bersama di mansion Santo mengisi paviliun yang telah tersedia. Tidak begitu kecil, tapi cukup untuk dua insan yang masih baru dalam membina bahtera rumah tangga. Lebih dari 2 bulan Altezza berada disana tanpa ada alang merintang. Mereka sangat bahagia dengan hidup dan dunia baru mereka.


"Kita ke supermarket yah? aku ingin membeli sesuatu," rangkul Jessel pada lengan Altezza.


Pria itu memeluk Jessey. Mereka menyusuri jalan yang ramai lalu lalang orang mengakhiri masa dinas mereka.


Saat tiba di supermarket, Jessey masih tersenyum mesra menatap wajah tampan suaminya. Sesekali memuji Pria Jepang itu dengan sebutan "Cinta".


"Apa kita akan langsung pulang?" tanya Jessey memeluk manja.


Altezza masih enggan melepas dekapannya saat berada di depan kasir.


Setelah melakukan pembayaran, mereka bergegas menuju mansion Santo, dengan sopir yang sudah menanti di loby supermarket, seketika...


"Hallo Jessey," ucap Bastian dari arah belakang tidak terduga.


Altezza dan Jessey menoleh ke arah yang sama, mencari sumber suara yang sangat akrab di telinganya.


"Papi?"


Jessey menggenggam jemari Altezza tak ingin melepaskannya.


"Ya, apakah kalian meluapakan aku?" tanyanya lagi dengan suara bergetar.


"Tidak Tuan, aku tidak melupakan anda," jelas Altezza.


"Tapi kau mengambil putriku Altezza," teriak Bastian.


"No, Altezza tidak mengambil ku! aku mencintainya Pi," jawab Jessey lantang.


"Ooogh kau tahu dia hanya ingin uangmu Jessey, dia tidak mencintaimu. Dia hanya mengincar kekayaan Locateli, bukan mencintaimu tulus," tegas Bastian.


Altezza merasa harga dirinya terhina, sungguh picik pemikiran Bastian terhadapnya. Hingga tega menuduh Altezza dengan pikiran buruk yang ada di kepalanya.


"Aku tidak pernah berharap apapun dari putrimua Tuan, aku mencintainya," tegas Altezza.


"Simpan rayuanmu! aku membencimu sejak pertama mengetahui bahwa kau yang membuka tabir kepalsuan keluarga ku. Sehingga aku kehilangan Caroline dan Praavena," teriaknya tanpa malu.


Bastian benar benar kehilangan akal sehatnya, sehingga mengeluarkan senjata andalannya untuk menghabisi dua insan yang berada di hadapannya.


"Papi!" teriak Jessey.


Bastian yang tak mampu menahan beban berat pada hatinya, menghimpit perasaan, bahkan relung hati terdalam membuat dia melepaskan senjata api Colt 1911, menghujamkan pada dua insan tersebut, seketika.....


Dor dor dor dor dor......


Semua mata tertuju ke arah mereka, melihat pertumpahan darah didepan supermarket membuat orang orang berteriak mencari perlindungan.


Security, bahkan pengawal dan sopir Santo segera menyelamatkan mereka dalam keadaan panik.


Bastian mematung bahkan senjata terlepas dari tangannya menatap pada tubuh yang rubuh bersimbah darah dengan perasaan frustasi.


"Altezza?"


"Jessey?"


Teriak salah satu karyawan Santo yang berada disana menatap lekat ke arah Bastian penuh kebencian.


"Apakah Altezza? Jessey? atau keduanya?"


______________


Assalamualaikum, selamat malam penggemar karya Author Tya Calysta 'Nature's Other Relationship'.


Terimakasih kalian sudah mendukung karya ku sepenuhnya. Sejak awal cerita ini memang singkat, karena ini hanyalah fantasi modern yang Author ciptakan sesuai pemikiran sendiri. Ada dua chapter terakhir yang akan realis setelah ini sehingga benar benar tamat.


Kisah ini berakhir sedih, mungkin rasa sedih kehilangan di dunia.


Hikmahnya adalah persahabatan, percintaan dan satu hubungan tanpa ada perasaan jujur hanya untuk ambisi, tidak ada yang kekal.


Ujian tiap ujian yang dihadapi Altezza hingga dia menghadapi kehidupan yang berbeda karena memiliki indra keenam membuat dirinya mampu melihat sisi ruang di dunia lain dan sulit menerima kenyataan di kehidupan sebenarnya.


Jika ada kata kata yang salah atau bahkan penulisan artikel yang tidak sesuai, mohon di maafkan.


Terimakasih kepada Noveltoon dan Mangatoon, karena sudah mengizinkan Author Tya Calysta berkarya di sini.


email: fitriahandayaniauthor@gmail.com


FB, Fitria Handayani


Wassalam.


Terimakasih


Fillen danke


Thankyou for reading.