Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Kenapa aku cemburu..



Reina melihat kedekatan Altezza dan Jessey sangat akrab. Membuat hatinya merasa cemburu. Perlahan Reina mendekati Altezza, menarik lengan pria Jepang itu membawa ke koridor depan tangga.


"Kenapa kau bahagia sekali hari ini? apakah kau tidak merindukan aku?" tanya Reina membuat Altezza sedikit bingung.


"Hmmm maaf, aku tidak mengerti Rei, apa maksudmu?"


Altezza berpangku tangan.


"Kau tadi malam tidur dengan gadis itu?" tanya Reina spontan.


Altezza terlonjak kaget mendengar pertanyaan Reina.


"Kau pikir semudah itu aku tidur dengan wanita? aku bukan pria seperti itu," jelas Altezza.


Reina bernafas lega, kembali menatap kearah Altezza.


"Jangan melakukan itu jika hati mu tidak menyukai gadis pecicilan itu," tegas Reina.


"Hmmm,"


Altezza semakin bingung dengan kalimat yang keluar dari bibir gadis imut itu, sangat menggelitik hatinya.


"Dia bilang tidak menyukai ku, tapi mengintrograsi seperti aku penjahat kelamin," batin Altezza.


"Aku kerja dulu yah, kamu jangan lupa perhatikan semua kebutuhan Tuan Santo," jelas Altezza.


Reina mengangguk mengerti, melihat punggung Altezza berlalu meninggalkannya.


"Kenapa aku cemburu? apakah aku menyukai Altezza?" batin Reina.


Reina kembali keruangan Santo, duduk di sofa membaca beberapa artikel tentang masakan Italia. Tentu menjadi awal yang baru bagi Reina sebagai asisten pribadi Santo dengan gaji fantastis.


Santo sesekali melirik gadis Jepang di hadapannya, melihat keunikan wajah sipit sangat lucu di matanya.


Drrrrt drrrrt...


"Siapa yang menelfon ku tanpa nama?" batin Santo.


Santo menggeser lambang merah, enggan untuk mengangkat panggilan tersebut. Dia melanjutkan perkejaan nya, menanda tangani beberapa artikel akan terbit dini hari.


"Rei," panggil Santo.


Reina menatap ke arah Santo,


"Ya Tuan," jawabnya.


"Panggilkan Jessey, bawa berkas ini ke meja dia," perintah Santo.


Reina bergegas menghampiri Santo menjalankan tugas sesuai perintah majikan.


"Terimakasih Rei," ucap Santo membuat Reina memperlambat langkah kakinya.


Reina menghampiri Jessey tengah fokus mengerjakan tugasnya, sesekali melirik ke arah Altezza.


Ada kekaguman di hati Jessey sejak awal bertemu pria Jepang kaku dan menyebalkan.


"Dia sangat unik, mampu mengalihkan perhatian ku. Ada hubungan apa dia dengan Praavena? kenapa dia enggan bercerita dengan ku?" batin Jessey.


Reina berdiri di samping Jessey sejak beberapa menit lalu.


"Heeeii, Tuan Santo memanggilmu," ucap Reina membuat Jessey sedikit terkejut.


"Hmmm,"


Jessey bergegas menemui Santo di ruangannya, tidak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Tuan panggil saya?" tanya Jessey.


"Ya, duduklah," perintah Santo mengunci pintu ruangan secara otomatis.


Santo memijat pelan pelipisnya, membuka layar handphone menunjukkan sesuatu pada Jessey.


Jessey sedikit kaget melihat nomor Bastian Locateli tertera di layar handphone milik Santo.


"Apakah dia menemukan aku bekerja di perusahaan anda Tuan?" tanya Jessey.


"Sepertinya begitu, kenapa kau pergi meninggalkan rumah? kemudian mencari ku? kita tidak saling mengenal, bahkan semenjak meninggalnya Caroline kita tidak pernah menjalin komunikasi. Ada apa?" tanya Santo santai.


Jessey tertegun, menatap layar handphone sedikit kesal.


"Aku bertentangan dengan Papi, Tuan," jujurnya.


"Dia mengusir ku, setelah menampar ku," tambahnya dengan suara parau.


Santo menautkan kedua alisnya, merasa tidak percaya Bastian seorang motivator hebat dan terkenal di berbagai daerah di Italia, tega menyakiti darah dagingnya sendiri.


"Apa kau sedang menarik perhatian ku?" tanya Santo tidak percaya.


Santo tersenyum, merasa tertarik untuk mengetahui kenapa pria arogan itu menghubunginya.


"Baiklah, silahkan keluar," ucap Santo.


Reina mengangguk, beranjak dari tempat duduknya, kembali ke meja kerja. Seketika Jessey membalikkan tubuh.


"Boleh aku tahu berapa gaji ku Tuan?" tanya Jessey sedikit penasaran.


Santo tersenyum tipis.


"Kau seumuran dengan Praavena, gadis malang itu adalah putri ku, aku akan memberikan gaji sesuai kebutuhan mu. Anggap saja aku ayahmu," jelas Santo.


Jessey mendekat pada Santo, meyakinkan ucapan yang keluar dari pria mapan itu.


"Apa kau seirus dengan ucapan mu?" tanya Jessey.


Santo mengangguk, menghampiri Jessey mengusap lembut kepala gadis kecil itu.


"Terimakasih Tuan," peluk Jessey di tubuh Santo.


"Hmmm lanjutkan pekerjaan mu, jangan pernah hubungi Bastian. Aku akan melindungi mu," janji Santo.


Jessey tersenyum lega kemudian berlalu kembali ke meja kerjanya.


Mata Jessey melihat sinis pada Reina tengah duduk di kursinya.


"Kenapa kau disini? bisakah duduk di tempat lain?" tegas Jessey menatap sinis pada Reina.


"Iiiighs apakah kau sedang merayu Tuan ku?" tuduh Reina pada Jessey.


Wajah cantik Jessey berubah seketika menatap Santo yang sudah berdiri di belakang Reina.


"Apa kau sedang cemburu dengan secretaris ku gadis kecil?" tanya Santo di belakang Reina.


Deg,


Seperti di sambar petir gadis Jepang itu menoleh dengan wajah takut, menatap mani Santo yang sangat memikat hatinya saat ini. Menelan salivanya, belum berani menjawab.


"Ehmmm,"


Reina menggigil, takut jika Santo akan berlaku kasar padanya.


Santo menarik tangan Reina, membawa gadis itu meninggalkan kantor mereka.


Jessey menatap Reina, meletakkan tangannya ke leher memberi arah vertikal.


"Jika nggak tahu, nggak usah nuduh gadis bodoh," geram Jessey dalam hati.


Jessey melanjutkan pekerjaannya, menyelesaikan semua berkas yang akan segera terbit. Mata Jessey tertuju pada kisah Praavena yang masih tayang di media sejak dua minggu lalu.


"Apakah kematian Praavena masih misterius?" batin Jessey sesekali melirik kearah Altezza.


Gadis Itali itu memanggil Altezza, untuk menanyakan berita yang beredar.


"Za sini," panggil Jessey.


Altezza mendekati Jessey, melihat ke arah tunjuk gadis itu.


"Apakah benar berita ini Za?" tanya Jessey menatap Altezza.


Altezza mengangguk, memilih berlalu meninggalkan Jessey. Baginya, itu hanya untuk mengangkat media milik Santo. Rating semakin meningkat karena berita terbaru kematian Praavena terkuak membuat Bastian tidak berani menampakkan wujudnya di depan umum.


"Pantas Papi tidak pernah berpakaian serapi dulu, dia selalu menggunakan masker kacamata hitam dan atiribut penutup wajah lainnya," batin Jessey membayangkan wajah Bastian.


Di sisi lain Altezza tengah mencari kabar keberadaan Bastian dan kenapa Jessey pergi dari rumah. Sungguh memilukan, putri kecilnya pergi tapi tak satu orang pun mau mencari gadis itu, batin Altezza.


Beberapa motivator yang Altezza temuin, hanya Bastian Locateli yang memiliki permasalahan yang rumit. Dari kasus perceraian dengan wanita muda, perselingkuhan dengan Amanda, kematian Cavana hingga perselingkuhan Caroline.


Media kini membuka tabir kepalsuan Keluarga Locateli.


"Kenapa dia tidak berani mencekal seperti dulu? apa dia sudah mengaku tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan?" batin Altezza.


Beberapa televisi memutuskan kontrak secara sepihak dengan Bastian dan meminta ganti rugi di beberapa episode yang belum pernah show.


"Sungguh memilukan, apakah dia akan jatuh miskin setelah televisi mencabut kontrak kerja sama mereka?"


Altezza membatin, kembali melirik ke arah gadis cantik Jessey Locateli.


Bersambung....👻


Happy reading...🔥🤗


Jangan lupa Like and Vote...😘