
Reina mengikuti langkah Santo saat tiba di kediamannya. Mata gadis itu membulat saat melihat sisi ruangan mansion yang menakjubkan sehingga membuat nyaman berada di dalamnya. Langkah kaki Reina terhenti saat melihat beberapa koleksi foto cewek seksi menjadi pemandangan luar biasa di sudut ruang tamu. Tatanan artistik yang sangat sempurna memukau mata setiap kali memandang lukisan itu.
"Apakah ini kekasih anda Tuan?" tanya Reina memecah keheningan.
Santo mengehentikan langkah kakinya, membalikkan tubuh kekar mendekati Reina.
"Ini adalah lukisan Cavana. Kekasih hati ku yang telah meninggal dunia karena canser." jelas Santo merangkul tubuh mungil Reina agar segera mengikuti langkahnya memasuki ruangan.
Perlahan Reina mengikuti langkah kaki Santo, mengigit bibirnya. Ada perasaan nyaman atas kebaikan pria tampan yang sudah berumur itu. Wajah lembut, rambut putih tidak menutup ketampanannya. Mata Reina sesekali melirik ke arah Santo.
"Apakah kamu bisa memasak?" tanya Santo kembali menatap ke arah Reina.
Gadis itu mengangguk pelan, sedikit ragu karena dia menyadari bahwa hanya masakan Jepang yang dia mampu. Reina menelan salivanya.
"Saya hanya bisa memasak menu Jepang Tuan." Jujur Reina.
Santo menaikkan kedua alisnya, "hmmm."
"Baiklah, nanti aku ajarkan kamu memasak menu Italy. Karena aku tidak menyukai menu Jepang." Santo mengusap lembut puncak kepala Reina.
"Silahkan naik ke atas, kamar mu ada di sebelah kamar ku. Kamar nomor dua setelah kamar sebelah kanan." Tambah Santo.
Reina tertegun, memberanikan diri menaiki anak tangga sesekali mata keduanya saling tatap.
"Naiklah, bersihkan dirimu. Aku akan membuat makan malam untuk kita." Jelas Santo berlalu menuju dapur.
Reina tiba di lantai dua, menatap keindahan lorong sangat luas. Bahkan lebih luas dari kediamannya di Shirakawa. Jemari Reina menyentuh dinding yang sangat menawan warna cream lembut di balut hiasan dinding lampu kecil tiap sisi pintu kamar. Ada 4 pintu kamar utama. Dua di sisi kiri dan dua di sisi kanan.
"Tadi Tuan bilang kamar kedua sebelah kanan. Berarti ini kamar ku."
Batin Reina membuka pintu kamar, perlahan mendongakan kepala melihat seisi ruangan.
"Wooow..." bisik Reina.
"Ini sangat luar biasa." tambahnya.
Dia melihat kamar yang luas di hiasi ranjang kingsize berwarna biru langit di tutupi sprei waterproof berwarna putih bercorak biru. Meja rias minimalis modern terbaru serasi dengan ranjang tidak begitu jauh. Kamar mandi yang sangat sempurna di hiasi lampu kecil untuk menerangi seisi ruang agar terlihat menarik dan bercahaya.
Cekreeek....
Santo masuk mengejutkan Reina yang masih ternganga melihat setiap sudut ruangan.
"Apa kamu suka kamar ini?" tanya Santo pelan.
Reina menganggukkan kepalanya. Bibir tidak mampu berucap bahkan berkata kata. Hanya rasa syukur yang dia panjatkan di dalam hati.
"Apakah ini tidak berlebihan Tuan?" tanya Reina masih tidak percaya.
Santo memeluk tubuh Reina yang mungil tanpa perasaan canggung. Meletakkan dagu lancip itu di bahunya. Gadis itu mematung.
Reina ingin melepaskan dekapan Santo, tapi tidak mampu menahan tangan Santo yang sudah berani membuatnya semakin ingin traveling menuju langit ke tujuh.
"Maaf Tuan, bisakah melepaskan tangan anda agar saya bisa bernafas?" ucap Reina menelan salivanya.
Santo menjentikkan jari telunjuknya di puncak hidung Reina yang mungil.
"Maaf jika saya lancang. Ayo kita makan, jangan lupa nanti malam kunci pintu kamar kamu. Agar aku tidak khilaf. Karena di rumah sebesar ini kita hanya berdua." Jelas Santo berlalu.
Deg...
Jantung Reina seperti akan berhenti berdetak, "apakah setiap ucapan ku akan menjadi kenyataan? bagaimana dengan Altezza?" bisik Reina kembali meragu.
Perlahan dia menutup matanya, membayangkan wajah kedua orang tua yang sangat dia rindukan. Ibunya telah lama meninggal, ayah bahkan menikah dengan penyanyi di Tokyo.
"Apa aku harus menjadi wanita simpanan pria Italy?" Batin Reina.
Reina meraih tas ransel mengambil baju lebih tebal karena cuaca sangat dingin. Bulan Oktober, sebentar lagi akan musim salju.
"Aku harus segera menghubungi Altezza."
Reina meninggalkan kamar, menuju lantai dasar memasuki ruang makan yang sangat sempurna pengaturan cahaya di tiap tiap ruangan.
"Tuan," panggil Reina dengan suara pelan.
Mencari keberadaan Santo.
Reina mencari Santo di ruang dapur, terlihat pria mapan itu tengah membolak-balik salad buatannya.
"Ehmmm, ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Reina sedikit gugup.
Santo tersenyum, "ambilkan garam dan susun piring di atas meja makan, kita akan dinner bersama."
Reina melakukan semua perintah Santo, dia sangat senang malam ini. Raut wajah sangat bahagia menyelimuti perasaannya. Reina mencari piring tanpa bertanya, dia mengetahui di tiap tiap laci pasti berisikan rak piring atau obat obatan.
"Naaah ketemu piringnya." kekeh Reina pelan.
Gadis kecil itu menata piring di atas meja, meletakkan sendok dan garpu. Sesekali melirik Santo yang tengah asyik menunggu lasagna di depan oven memperhatikan timer.
Tiiing....
Timer berbunyi, Santo bergegas membuka oven mengambil masakannya. Tercium aroma keju mozzarella sangat khas di sisi dapur.
"Kelihatannya sangat lezat." Bisik Reina pelan.
Santo menatap gadis mungil di hadapannya.
"Apakah kau akan menyukai masakan Italia?" tanya Santo.
Reina mengangguk pelan, menanti Santo mendekat padanya.
"Ayoo, kamu cicipi masakan ku!"
Santo merangkul bahu Reina membawa ke ruang makan. Meletakkan lasagna buatannya di atas meja. Tak lupa pria Italia itu menyalakan lilin untuk menemani makan malam yang sangat romantis menurut Reina.
"Duduklah. Apa kepercayaan mu? apa kau seorang Budha seperti Altezza?" tanya Santo menuangkan wine di atas meja.
Reina tertegun, dia tidak pernah meminum wine ataupun sejenisnya. Gadis itu duduk di samping Santo, sesekali melirik kemudian menelan salivanya.
Cheers...
Santo memberikan segelas wine pada Reina sebagai salam perkenalan keduanya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Reina?" tanya Santo mengingatkan.
"Eeehm, aku Budha Tuan, sama seperti Altezza." Tunduknya.
Santo mengangguk, memotong lasagna memindahkan ke piring Reina.
"Silahkan makan, ini tidak begitu pedas. Aku tidak menyukai makanan pedas," jelas Santo.
Reina mengangguk, mencicipi makanan yang ada di hadapannya. Menikmati mozzarella yang lembut saat berada di dalam mulut mungil yang menggemaskan.
"Hmmm, ini sangat lezat Tuan. Apakah kau bisa memasak?" tanya Reina menatap mata elang milik Santo.
"Syukurlah jika kau mengatakan ini lezat. Aku pernah mengikuti sebuah kelas untuk menjadi koki handal semasa muda. Tapi orang tua ku tidak mendukung," jelas Santo.
"Ooogh." Bibir mungil Reina membulat.
"Besok kau akan ikut ke kantor. Jessey akan menjadi secretaris dan tugasmu mempersiapkan semua kebutuhan ku. Dari sarapan pagi hingga malam, aku tidak terbiasa masakan Jepang, Cina atau sejenisnya. Aku lebih menyukai masakan Italia. Jadi mulai malam ini kau harus belajar melalui aplikasi atau buku buku masakan yang ada di rak buku. Sarapan pagi, aku biasa memakan sandwich dan secangkir teh dengan sesendok kecil gula. Kau mengerti?" tanya Santo menatap wajah mulus Reina.
Reina mengangguk.
"Gaji saya bagaimana Tuan?" tanyanya.
"Hmm, ya. Saya akan memberikan gaji 3000 euro di luar makan dan kebutuhanmu. Setiap tanggal 25 aku akan mentransfer ke rekening pribadimu. Besok silahkan membuat account-nya, HRD akan membantumu."
Santo melanjutkan makannya, tanpa ingin di bantah.
"Baik Tuan."'
Reina kembali bahagia tanpa melewatkan kesempatan untuk mendapatkan perhatian dari pria paruh baya itu.
"3000 euro? berapa Yen itu?" batin Reina.
Bersambung....👻
Happy reading...🔥🤗
Jangan lupa Like and Vote...😘