Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Akan mencoba...



Menurut Altezza, Jessey berhasil di bawa oleh Bastian kembali ke Roma bersama Amanda. Tentu menjadi tantangan baru bagi Altezza merebut Jessey kembali agar bisa melarikan diri dari kediaman Bastian.


Altezza meminta pertolongan pada Santo.


📞"Bukankah kalian hanya berteman?" tanya Santo.


Deg,


Pertanyaan Santo sangat menyayat perasaan Altezza.


📞"Ya, aku hanya berteman dengan Jessey," jawab Altezza menutup telfonnya.


Seketika Altezza menatap wajah Jessey di layar handphone miliknya melalui profil whatsApp, tapi tidak ada tanda tanda nomornya aktif. Altezza mencoba mengirim pesan padanya,


📨"Kamu dimana? apakah baik baik saja?" Altezza.


Matanya masih menatap layar handphone tapi belum ada jawaban yang berarti.


Altezza kembali melanjutkan pekerjaannya di kantor merangkap mengerjakan laporan Jessey.


Mata Altezza di kejutkan oleh kehadiran Santo dan Reina berdiri di hadapannya.


"Tuan," tunduk Altezza menyambut kedatangan Santo yang sudah hampir 3 bulan meninggalkan mereka.


"Hmmmm,"


"Sayang, kamu silahkan ke ruangan ku. Aku mau bicara dengan Altezza," perintah Santo pada Reina.


Reina mengikuti perkataan suaminya, tanpa membantah.


Altezza tertegun melihat Reina tampak anggun dan sangat menarik dari sebelumnya.


"Ikut aku,"


Santo membawa Altezza ke ruang meeting untuk membicarakan sesuatu hal. Saat mereka berada di ruangan itu, dengan sengaja Santo mengunci ruangannya.


"Ada apa Tuan?" tanya Altezza gugup.


"Hmmmm kenapa kau tidak menerima cinta Jessey? dia sudah menceritakan semua padaku, kini dia ada di mansion. Ada apa denganmu? apakah kau mau menunggu Praavena? Altezza, aku ayah Praavena, bukan Bastian. Jangan kau sia siakan hidupmu hanya untuk menunggu wanita yang sudah pergi meninggalkan mu," jelas Santo.


"Apakah Bastian mencari anda untuk membicarakan hal itu Tuan? tapi kenapa dia menghancurkan seluruh ruang apartemen?" tanya Altezza.


"Za, aku di sini membantu mu untuk move on. Jangan seperti ku! aku tidak pernah merasakan jatuh cinta lagi selama hidupku setelah kehilangan Cavana, aku pikir aku pria yang jahat bahkan kejam. Jujur aku baru menyadari, ternyata aku bisa mencintai Reina," jujur Santo.


Altezza tertegun, mengerti maksud Santo.


"Ini tidak mudah Tuan, Bastian tidak akan tinggal diam jika aku menikahi putrinya. Dia justru telah menuduh aku meniduri Jessey. Aku tidak senekad itu Tuan, aku tidak akan melakukan jika tidak ada komitmen diantara kami," jelas Altezza.


"Hmmmm lakukan yang terbaik. Itu saranku. Jessey menunggu mu di rumah," senyum Santo.


"Apakah anda yang menculik Jessey, Tuan?" tanya Altezza penasaran.


"Tidak, pengawal ku yang melakukannya,"


Santo berlalu meninggalkan Altezza sendiri di ruang meeting menuju ruangannya.


Dalam benak Altezza ada perasaan bahagia dengan keselamatan Jessey, tapi untuk seutuhnya bersama gadis itu tentu menjadi masalah baru bagi Altezza.


"Bastian pasti tidak akan tinggal diam," batin Altezza.


"Hmmmmm,"


Altezza berlalu meninggalkan ruang meeting berpapasan dengan Reina.


"Haiii," sapa Altezza.


"Za," jawab Reina menoleh.


"Bagaimana hari mu selama berlibur? Tuan Santo sangat menyayangi mu hingga memberi mu segalanya," jelas Altezza.


Reina mengangguk, menarik nafas panjang.


"Makasih Za, setidaknya aku bahagia saat ini. Bisa menikah dengan Tuan Santo yang ternyata tak kalah romantisnya di banding pria seumuran ku," kekeh Reina.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya,"


Altezza duduk di kursi, kembali mengerjakan tugasnya sebagai wartawan. Dia tersenyum sendiri.


"Aku akan membawa Jessey kembali ke Jepang untuk menikah dan hidup disana. Tuan Santo akan memberikan aku kesempatan untuk bahagia. Benar ucapan Barita, tempatku bukan di Italia, melainkan di Jepang bersama ibu," senyum Altezza mengenang sahabatnya.


"Hmmmm apa kau akan melakukan yang aku sarankan?" tanya Santo serius.


"Setidaknya aku mencoba Tuan, agar aku bahagia seperti mu," jelas Altezza.


"Hmmmm baiklah, silahkan kau temuin Jessey," senyum Santo menepuk pundak Altezza.


Altezza bergegas menuju mansion, berharap semua yang di katakan Jessey beberapa waktu lalu tidak berubah untuknya.


"Aku akan mencoba, demi masa depan ku," batin Altezza.


Saat mobil terparkir di halaman depan, tentu bersama sopir kantor, Altezza bergegas mencari Jessey memasuki mansion.


"Jes, Jessey," teriak Altezza.


"Ya Za. Apa kau mencari ku?" tanya Jessey.


"Hmmmm ya, mau kah kau ikut dengan ku? kita kembali ke Jepang untuk bertemu ibu ku?" tanya Altezza penuh harap.


Jessey menaikkan alisnya.


"Are you kidding me?" tanya Jessey merasa tak percaya.


Altezza memberanikan diri memeluk Jessey.


"Aku kehilanganmu Jes, aku merasakan kesepian, hilang keceriaan. Maaf kan aku karena telah mengecewakan mu. Aku hanya takut dengan Bastian, dia pernah menyakitiku,"


Altezza tidak melepas pelukannya.


"Hmmmm ya, aku tahu. Bisa kau lepas pelukanmu? aku sudah di hadapanmu Za," senyum Jessey.


"Ya, sory. Aku sangat bahagia bertemu dengan mu,"


Altezza menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah Jessey.


"Reina sudah menceritakan padaku tentang hubungan dua alammu dengan Praavena, aku sangat memahaminya, tapi aku adalah wanita di dunia mu Za! kenapa sulit sekali menarik hatimu. Aku menyukaimu dari Santo Stefaano. Dari kau masih di restoran, tapi kamu menghindari aku," kenang Jessey miris.


"Aku bukan menghindari mu, aku menjaga. Agar aku tidak terlalu berharap dengan gadis kaya sepertimu, akan sulit untuk kita bersama Jes," rundung Altezza.


"Za, apa kau fikir aku gadis matre yang akan mencintai pria kaya yang mapan? ibuku wanita biasa yang mencintai pria kaya dengan janji luar biasa. Apa kau tahu betapa murkanya Mami saat aku di tampar oleh Bastian saat aku tidak ingin ikut dengannya? Mami memberikan celah pada ku, agar aku bisa lepas dari cengkraman Papi. Ntahlah, aku sangat mengharapkan Tuan Santo menjadi Papi ku, bukan Bastian," senyum Jessey.


"Ya, kita akan ke Jepang. Aku akan membicarakan pada Tuan Santo," kecup Altezza pada kening Jessey.


"Ehem, apa yang akan kau katakan pada ku, Za?" tanya Santo.


"Aku akan ke Jepang menemui ibuku di Shirakawa Tuan," jelas Altezza menunduk.


"Ya, kita akan berangkat bersama besok siang," senyum Santo memeluk Reina di sampingnya.


"Terimakasih Tuan," tunduk Altezza.


"Ya, setidaknya belajar memulai hidup baru demi masa depanmu," tepuk Santo membawa Reina ke kamar mereka.


Sementara Altezza malah asyik bercanda dengan Jessey di dapur. Menemani gadisnya memasak sesuatu untuk makan malam mereka.


"Jika kau ke Jepang, ibu ku tidak memiliki oven," jelas Altezza.


"Terus?" tanya Altezza.


"Rebus dan kukus," goda Altezza.


"Hmmmm, setidaknya aku sudah mempelajari masakan khas negaramu Altezza," jelas Jessey.


"Ya, kau gadis yang pintar," bisik Altezza ketelinga Jessey.


Altezza memeluk tubuh Jessey dari belakang, berbisik.


"Maafkan aku telah kasar pada mu selama ini. Itu adalah bentuk aku menghindari mu karena aku takut jatuh cinta pada Keluarga Locateli, tapi tidak ada salahnya mencoba. Aku akan belajar mencintai mu setelah kita resmi menikah," ucap Altezza.


"Kenapa kita tidak menikah di sini seperti Tuan Santo menikahi Reina," jelas Jessey.


"Hmmmm, aku ingin menikah di hadapan ibu ku, Jes," bisik Altezza mengecup dalam tengkuk Jessey.


Mereka menikmati kebersamaan yang hangat, mencoba agar lebih baik di dunia nyata dari pada tidak sama sekali.


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️