
Caroline dan Gerald memohon pada penguasa semesta alam untuk dapat turun ke dunia nyata membalaskan dendam melalui orang terdekat Santo yaitu Reina. Tentu dengan syarat yang sangat berat, yaitu membawa kembali orang terdekat mereka.
Caroline terhentak mendengar perjanjian itu.
"Oooogh, aku akan menggunakan Bastian, karena dia sangat mempercayai aku," ucapnya kala itu.
Gerald tersenyum tipis mendengar ide dari Caroline.
"Siapa yang akan menjadi korban selanjutnya?" tanya Gerald.
"Hmmmm aku akan datang ke mimpi Bastian," ucapnya sinis.
.
.
Benar saja, Caroline datang melalu mimpi Bastian.
Di malam yang dingin, dia mengusap lembut tubuh Bastian dengan secercah harapan dan kerinduan. Bastian yang merasakan sentuhan berbeda dari tangan lembut Caroline menyambut hangat kedatangan istri keduanya.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Caroline.
"Ya, aku juga sayang," ucap Bastian membalas sentuhan yang sangat berbeda.
Mereka melakukan hubungan itu di alam bawah sadar Bastian, hingga pria berwajah bengis itu mencapai puncaknya setelah 20 menit melakukan hal tergila itu.
"Aku sangat bahagia melihat kau hadir di hidupku," ucap Bastian mengusap lembut tubuh Caroline.
"Hmmmm carikan aku seseorang untuk aku bawa ke alam ku, kau akan terus aku layani setiap malam Bastian," bisik Caroline di cuping kiri Bastian.
"Ya, aku akan membawanya untuk mu sayang," janji Bastian.
Semudah itukah seorang Bastian menyerahkan orang terdekatnya? untuk menjadi tumbal di alam berbeda.
Caroline menghilang dari pelukan Bastian, tentu pria itu memanggil cintanya untuk segera kembali ke pelukannya.
"Caroline, Caroline,"
Bastian terduduk mengusap tubuhnya yang sudah penuh peluh dan basah di bagian bawahnya.
Amanda terjaga, menyalakan lampu kecil yang berada di nakas.
"Kenapa kau memanggil nama Caroline? apa kau mimpi buruk sayang?" tanya Amanda mengusap lembut punggung Bastian.
Nafas Bastian terengah, jantungnya berpacu seperti kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang.
"Bisa ambilkan aku air? aku merasa haus sekali," ucap Bastian pada Amanda.
Bergegas Amanda mengambil minum untuk Bastian di atas meja kamar, memberikan dengan cepat kepada suaminya.
"Apa kau mimpi basah Bas?" tanya Amanda saat melihat celana Bastian di penuhi larva vanazz.
"Ntahlah aku merasakan sesuatu, tapi aku tidak dapat menggapainya," jujur Bastian memberikan gelas kepada Amanda.
Amanda hanya tersenyum lirih, membayangkan suaminya mimpi wenak bersama Caroline yang sudah mati.
"Jam berapa?" tanya Bastian.
"Jam 03.00 dini hari, tidurlah. Bukankah besok kau ada acara di kantor?" tanya Amanda.
"Hmmmm,"
Bastian merebahkan tubuhnya, membayangkan percintaan hangat tanpa mengganti baju dan celananya.
"Bersihkan dirimu, nanti kau masuk angin," ucap Amanda mengingat kan suaminya.
"Ya,"
Bastian turun dari ranjang miliknya, menuju kamar mandi. Di nyalakan kran air panas untuk membersihkan diri.
"Apa maksud Caroline? tumbal apa?" batin Bastian masih belum peka dengan keadaan.
10 menit Bastian melakukan ritualnya di kamar mandi, terasa badan yang lelah kembali segar. Mengenakan baju kaos dan celana pendek, Bastian mengambil laptop melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Di telinganya masih terngiang ucapan Caroline.
"Tumbal, tumbal, siapa yang akan menjadi tumbal? apakah Santo?" batin Bastian.
Pelan dia membuka pemberitaan di Milan, terlihat dengan jelas kabar pernikahan Santo Mareno dan Reina Akiara.
"Aku akan ke Milan menemui Altezza. Berpura-pura baik agar aku tahu siapa Reina Akiara yang sudah resmi di nikahi oleh Santo. Dasar laki-laki binatang. Semua wanita ingin kau miliki. Dulu Cavana, Caroline, Pisa, kini gadis belia kau nikahi untuk menjadi budak nafsumu Santo," garam Bastian membatin.
Benar saja, pikiran Bastian semakin berkecamuk jika mengenang kisah perjodohannya bersama Cavana.
Gadis cantik mempesona, harus menikah dengan Bastian dalam keadaan hamil, hingga pria bengis itu tidak mengetahui anak siapa yang dia kandung hingga sebelum akhir hayatnya Cavana mengakui bahwa Praavena adalah darah daging Santo.
"Begitu teganya Cavana menutupi semua dari ku dan keluarga, hingga akhirnya aku menyia nyiakan Praavena karena sakit hati ku yang teramat dalam," isaknya menangis di depan laptop meja kerjanya.
Amanda terjaga, mendengar isak tangis Bastian.
"Bas! kau kenapa sayang? apa kau sedang sakit?" tanya Amanda berusaha bangkit mendekati Bastian yang masih tertunduk di meja.
Bastian menggeleng, "istirahatlah," ucapnya pelan dengan suara bergetar.
Amanda semakin mendekati Bastian, mengusap lembut punggung gagah suaminya. Menghembus nafas pelan.
"Ada apa dengan mu? apa ada yang mengganggu pikiranmu? ceritalah, jangan kau simpan sendiri duka mu, agar hatimu terasa lebih tenang," ucap Amanda lembut.
Bastian menyeka wajahnya, mengangkat kepala, menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Besok selesai dari kantor aku akan ke Milan menemui Altezza pria Jepang itu. Aku ingin menanyakan siapa istri Santo saat ini, karena dia baru menikahi gadis belia berwajah oriental, Reina Akiara. Aku akan menyuruh pengawal ku mencari data gadis itu," ucap Bastian.
Amanda terkejut dengan ide gila Bastian. Mengalihkan pandangannya ke ara yang berbeda.
"Kenapa kau tidak mencari Jessey? kenapa kau mesti mengurusi urusan Santo? biarlah dia menikah, mau apapun yang dia lakukan, biarlah! kenapa kau terlalu ambil pusing dengan kehidupan Santo. Dia sudah bahagia Bastian, come on! aku tidak setuju. Urus pekerjaan mu di sini. Biarkan Santo dengan duanianya," jelas Amanda.
Braaak,
"Kenapa kau tidak mengerti? dia masih meliput kematian Praavena, kau bayangkan semua televisi membatalkan kontrak kerja mereka dnegan ku. Bagaiman aku harus menghadapi media? semua mencari keberadaan aku. Apa kau tahu, selama ini aku sangat baik di mata masyarakat. Karierku hancur karena pemberitaan ini Amanda," tegas Bastian.
"Oooogh,"
Amanda hanya menggelengkan kepala, tidak memahami isi kepala Bastian.
"Terserah, aku tidak akan ikut campur dengan urusanmu. Saat ini aku hanya ingin mencari keberadaan putriku Jessey. Kau mengerti,"
Amanda berlalu meninggalkan Bastian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari kegalauan hatinya.
"Sungguh menyebalkan, mesti menikah dengan pria egois dan arogan. Motivator, tapi tidak layak di sebut motivator," geram Amanda di bawah guyuran shower.
20 menit Amanda berada di kamar mandi, saat melangkah keluar kamar dia tidak menemukan Bastian di kamar.
"Kemana dia?" batin Amanda.
"Bas, Bastian," panggil Amanda, tapi tidak ada jawaban dari suaminya.
Amanda memakai baju lebih tertutup, karena sudah memasuki musim dingin, bergegas dia menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi, tapi dia tidak menemukan Bastian di tiap ruangan.
"Bastian dimana kau," nada sedikit keras.
"Bastian," panggil Amanda lagi.
Mencari keberadaan suaminya, tapi tidak kunjung iya temui.
"Apakah dia berangkat ke Milan?" batin Amanda menghubungi orang kepercayaannya.
Panggilan telepon tersambung.
"Ya nyonya,"-Pengawal.
"Cari Bastian, dia meninggalkan apartemen ku pagi sekali," tegasnya.
"Baik nyonya,"-Pengawal.
Amanda menutup telfonnya, meletakkan diatas rak dekat ruang keluarga.
Amanda memijat pelan pelipisnya, merasa kepalanya sedikit berdenyut karena harus menghadapi permasalahan setiap hari.
"Kau terlalu egois Bas," bisik Amanda menggeram.
Bersambung....👻
Happy reading...🔥🤗
Jangan lupa Like and Vote...😘