Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Kesakitan ku...




Negara bagian Amerika Serikat paling selatan, Santo dan Reina menempati sebuah villa besar kepulauan di Samudra Pasifik tengah kota itu lah yang di sebut Hawaii yang di anggap sebagai surga dunia di Samudra Pasifik. Dibalik sejuta pesona yang dimilikinya, negara bagian yang mendapat sebutan "Negara Aloha" ini memiliki beberapa fakta unik dan sangat menarik yang sangat sayang dilewatkan untuk berbulan madu bagi pasangan baru menikah.


Untuk reader ketahui bahwa sejak tahun 2015, Hawaii menjadi negara bagian pertama di Amerika Serikat yang melarang penggunaan kantong plastik di semua restoran cepat saji dan layanan lengkap, yang bertujuan untuk mengurangi limbah yang dapat mencemari laut. Meski sebagian besar negara bagian di AS sudah melarang penggunaan wadah busa plastik, namun kecepatan Hawaii dalam menargetkan pelarangan penggunaan kantong plastik pada seluruh restoran cepat saji dan layanan lengkap menjadikannya sebagai negara bagian pertama yang menolak menggunakan kantong plastik.


Hanya sedikit berbagi ilmu pengetahuan, hehehehe....


Next...


Santo dan Reina tengah asyik menikmati sunset di sore hari dengan pikiran mereka masing masing. Tidak ada kemesraan disana, kecuali jika Santo menginginkan hal itu dari Reina.


"Kau malam ini mau makan apa?" tanya Santo memeluk tubuh mungil Reina yang tengah membaca beberapa artikel di handphone jadulnya.


"Hmmmm,"


Reina menatap tangan gagah itu sudah meremas bagian kenyalnya.


"Terserah Tuan saja," ucap Reina menyingkirkan kan tangan Santo.


"Apa kau mau aku ikat seperti beberapa hari lalu?" tegas Santo sedikit mengancam.


"Ti ti tidak Tuan," ucap Reina.


"Bagus, biarkan tangan ku disana, bahkan jika aku melakukan lebih pada mu itu adalah hak ku dan kewajiban mu," bisik Santo di telinga Reina.


"Oooogh Tuhan, kenapa aku jadi seperti ini sekarang? aku tidak sanggup?" batin Reina mengusap sudut matanya yang basah.


Santo seperti orang kelaparan, melakukannya di pinggir pantai tanpa peduli orang lain yang tengah menyaksikan adegan hot kedua pasutri itu.


"Tuan berhenti," isak Reina.


Santo enggan menghentikan perlakuannya, bahkan melakukan lebih ganas lagi hingga membuat Reina semakin trauma.


.


.


Di kota Milan justru Bastian menyambangi kantor Santo, tapi di hadang oleh beberapa pengawal karena memaksa masuk. Tentu Altezza membawa Jessey kembali kekediaman mereka.


"Kenapa Papi ada di kantor kita Za?" tanya Jessey.


"Ntahlah, aku rasa Bastian mengetahui kau bekerja di kantor Tuan Santo," panik Altezza.


"Oooogh,"


Jessey menggandeng tangan Altezza berlari kencang melalui pintu belakang, menghindari Bastian yang ingin melukai mereka.


"Aku yakin ada niat yang buruk akan di lakukan Bastian pada ku," batin Altezza.


Mereka berlari dengan nafas tersengal sampai di apartemen milik Santo. Perlahan Altezza membuka pintu apartemen mereka takut jika ada orang jahat lebih dulu menunggu.


"Aman," ucap Altezza membawa Jessey masuk.


"Za, apakah pemberitaan tentang pernikahan Tuan Santo menarik perhatian Papi?" tanya Jessey sedikit penasaran.


"Hmmmm aku rasa begitu, aku takut jika kita di ancam disini. Bagaimana jika kita minta izin tinggal di kediaman Tuan Santo, toh mereka tidak ada di sana. Hanya di jaga beberapa helder dan pengawal," tambah Jessey lagi.


"Coba kamu bicara, Jes. Saya segan," jelas Altezza.


"Hmmmm baiklah, akan aku telfon sebentar lagi. Apa kau lapar?" tanya Jessey mencari beberapa makanan di lemari dan di kulkas.


"Sedikit, belum terlalu lapar," ucap Altezza.


Jessey membuat beberapa masakan, untuk mereka santap siang itu. Membuat keduanya semakin cepat akrab dan ada perasaan nyaman di hati mereka.


Altezza beranjak memasuki kamar, sementara Jessey masih berada di luar memasak dan menelfon Santo memberi laporan padanya.


Santo menerima panggilan Jessey, saat berada di luar kamar.


📞"Ya Jes," Santo.


📞"Tuan, Papi mencarimu ke kantor," jelas Jessey.


📞"Apa?" kejut Santo.


📞"Ya, pengawal menghadang Papi untuk masuk ke kantor kita Tuan," jelas Jessey.


📞"Baik, bagaimana kalau kalian tinggal di mansion? karena kami kembali agak lama," jelas Santo pada Jessey.


📞"Ya, kirimkan laporan pekerjaan mu ke email saya,"


Santo dan Jessey mengakhiri panggilan telfon mereka.


20 menit kemudian Jessey menghampiri kamar Altezza, mengetuk pelan hingga mendapat izin dari dalam.


"Ya, masuklah," ucap Altezza dari balik kamar.


Cekreeek,


"Za, aku sudah menghubungi Tuan Santo. Dia mengizinkan kita untuk tinggal di mansion miliknya, agar kita aman dari pencarian Papi," jelas Jessey.


"Syukurlah, kapan kita akan pindah?" tanya Altezza.


"Bagaimana kalau besok, kita minta sopir kantor mengantarkan pulang kesana," jelas Jessey.


Altezza mengangguk setuju, mata mereka saling bertemu dan perasaan tenang kembali. Jessey keluar menuju dapur mengambil makanan yang dia masak untuk di makan bersama Altezza di kamar pria Jepang itu.


"Cobain deh masakan aku, agak sedikit pedas,"


Jessey duduk di pinggir kasur menyuapkan ke mulut Altezza.


"Hmmmmm,"


Altezza menahan rasa pedasnya, menikmati rasa manis dan gurih lebih tepatnya seperti spaghetti bolognes.


"Ini pedas saos yah?" tanya Altezza penasaran.


"Bukan, ini lada dan serbuk bubuk pedas yang aku beli kemaren. Kamu suka?" tanya Jessey penasaran.


"Hmmm lumayan enak, suka. Kamu ternyata pintar masak," jelas Altezza senang.


"Sudah bisa nikah belum?" kekeh Jessey menggoda Altezza.


Tentu Altezza terkejut mendengar penuturan gadis di hadapannya. Dia sedikit iseng untuk menggoda Jessey.


"Emang sudah ada calonnya?" tanya Altezza penasaran.


"Hmmmm belum, calonnya masih mengembara," kekeh Jessey lepas.


Mereka saling tertawa dan menggoda sambil menikmati siaran televisi dan memberanikan diri tidur di samping Altezza.


Altezza beringsut agak ketengah memberikan tempat agar Jessey merasa nyaman di dalam kamarnya, setelah meletakkan makanan yang habis mereka santap bersama.


Setidaknya Altezza tidak segarang beberapa waktu lalu, kini pria Jepang itu sudah mulai hangat menerima kehadiran Jessey menemani hari harinya.


"Kalau kita di mansion Tuan, kamu jangan pernah tinggalkan aku sendiri, Za. Aku takut," jelas Jessey.


"Ya, aku akan menemanimu setiap hari asal kamu mau memasakkan aku," goda Altezza pada puncak hidung gadis di sampingnya.


Jessey tersenyum, melanjutkan tontonannya.


"Setidaknya aku nyaman bersama mu Za," batin Jessey.


Mereka hanya sibuk sama pikiran mereka, ketimbang mesti memikirkan Bastian yang tengah mengamuk kesal di kantor Santo.


Bastian mengamuk disana, melawan pengawal yang menghalanginya hingga orang suruhan Amanda menjemputnya.


"Kalian pikir aku anak kemaren sore!" bentaknya pada pengawal Santo.


Pengawal hanya memasang badan tidak bisa berucap, lebih tepatnya menahan langkah pria bengis itu.


"Tuan, Nyonya Amanda sangat khawatir. Mari kita pulang, jangan biarkan kau di masukkan ke penjara karena ulahmu," jelas orang suruhan Amanda.


"Diam kau! tau apa kau tentang Amanda, dasar berengsek!" geram Bastian berlalu meninggalkan kantor milik Santo.


Kepalanya semakin panas, hati dan pikirannya berkecamuk. Ucapan Caroline selalu terngiang di telinganya.


"Aku akan menemukan Santo," tukas Bastian mengepal erat jemarinya.


"Ban*gsat!"


Bersambung....👻


Happy reading...🔥🤗


Jangan lupa Like and Vote...😘