Nature's Other Relationship

Nature's Other Relationship
Secepat inikah...



Reina melangkahkan kaki menuju ruang makan, terlihat sepiring pasta, sandwich,, secangkir teh dan susu ada di atas meja.


Santo tengah sibuk mengurus beberapa hewan peliharaannya di ruangan khusus. Berbagai macam hewan melata juga iguana ada disana. Pria mapan itu mengetahui kehadiran Reina, bergegegas dia meninggalkan peliharaan menuju ruang makan.


Reina tengah mengambil segelas air putih melalui kran air di dapur mereka.


Tangan Santo memeluk tubuh Reina, menciumi tengkuk belakang gadis itu membuat bulu kuduknya meremang.


"Kita akan menikah hari ini," bisik Santo.


Reina tersedak melepas pelukan Santo menepuk dadanya.


"Uhuuugh uhuuugh,"


Reina masih terbatuk merasa sedikit sesak.


"Apa kau akan menjadikan aku budak na*fsu mu Tuan?" tanya Reina sinis.


Santo melu*mat bibi mungil Reina sedikit lembut.


"Nikmatilah, aku akan berusaha baik pada mu. Seumur hidup ku baru 2 kali aku tidur dengan wanita suci seperti mu. Pertama Cavana, kedua kau Reina," ucap Santo kembali menggigit kecil bibir merah merona.


"Huuuufgh,"


Reina mencoba menikmati walau hati masih terasa perih mengingat kejadian kemarin, setidaknya hari ini gadis kecil itu harus melaksanakan pernikahan tanpa cinta.


Santo mengehentikan ciumannya, mengambil kotak kecil dari kantong celana membuka memperlihatkan cincin mungil nan indah bahkan sangat berkilau.


"Pakailah, mulai saat ini kau milikku. Jangan pernah kau keluar dari rumah ini tanpa izinku. Aku akan memberikan semua kebutuhan mu. Tugasmu hanya mengurus makan dan kebutuhan se*x ku. Kau juga tidak boleh menolak apapun perlakuan ku pada mu nanti. Saat ini kau tidak boleh ke kantor. Setiap pukul 14.00 aku akan pulang ke rumah dan kau harus melayani ku kapan saja dimana saja. Kau mengerti?" tanya Santo menatap lekat wajah Reina yang kembali menangis.


"Hapus air matamu," tegas Santo.


"Duduk di meja makan, layani aku," ucapnya lagi.


Jedeeeer....


Perasaan Reina semakin berkecamuk.


"Bagaimana aku harus bertemu Altezza? kenapa pernikahan tanpa cinta ini yang harus aku terima Tuhan! aku tidak mau seperti ini," batinnya menjerit.


Santo menarik tangan Reina agar duduk di pangkuannya, meraih segelas susu memberikan pada Reina.


"Aku bisa sendiri Tuan," ucap Reina sedikit takut.


"Tetap disini, nikmati semua sentuhan ku," bisik Santo di telinga Reina.


Reina mematung kaku, hatinya kembali teriris.


"Tuan, yang kemarin masih terasa perih. Jangan lakukan itu lagi," ucap Reina berbisik ke telinga Santo saat Santo mulai melakukan aksi bejatnya.


Santo tersenyum tipis, "jangan melawan," tegasnya.


Dia kembali mel*umat bibir manis itu dengan sedikit rakus. Maklumlah semenjak memenjarakan Pisa, Santo tidak pernah melakukannya dengan siapapun. Mendapatkan Reina seperti mendapat durian runtuh hingga menjadi permainan baru bagi Santo, apalagi dengan keluguan gadis itu.


Santo meletakkan tubuh Reina di atas meja makan yang kosong, mengeksplore kembali tubuh mungil itu. Kali ini Reina sedikit menikmati karena tidak sesakit pertama.


Lebih dari 20 menit Santo bermain disana dengan penuh semangat 45, bahkan sesekali meracau.


"Punya mu enak sekali gadis kecil. Mampu memenuhi kebutuhan ku," bisik Santo enggan melepas jet tempur dari landasan pacu.


Reina kembali terisak, ada perasaan perih di bawah sana, setelah di santap tanpa ampun oleh Santo yang tidak ada perasaan padanya.


"Apa kau masih ingin?" usap Santo pada gundukan sequisi itu.


Kembali mencumbu tubuh mungil tanpa kenal lelah.


Reina yang menangis kini kembali menikmati karena terkadang sentuhan itu membuat tubuhnya merasakan sensasi berbeda. Sangat menggila setelah dia berkali kali mencapai pelepasan.


"Ternyata tubuh mu menikmati sentuhan ku gadis kecil," ucap Santo setelah melakukan pelepasannya.


"Apa masih sakit?" tanya Santo membantu tubuh gadis itu kembali berdiri.


"Sedikit Tuan," jujur Reina.


"Kau merasa pu*as? jika tidak kau boleh mengatakan pada ku, aku akan selalu memberikan hingga kau mencapai tujuan mu saat berhubungan dengan ku," tegas Santo.


"Aku saja masih bingung membedakan antara enak dan sakit, rasanya badanku kembali remuk, tapi ada perasaan yang berbeda saat tadi dia menyentuh bagian ehem ku?" batin Reina.


"Bersihkan dirimu, kau bawa kotak yang ada di ruang keluarga, kita akan segera ke gereja," tegas Santo berlalu meninggalkan Reina menuju kamar pribadinya di lantai bawah.


Reina menuruti semua perintah Santo tanpa ada penolakan bahkan tidak bisa melawan.


"Apa salah ku pada mu Tuan? hingga kau melakukan itu dengan sangat kasar. Jika kau melakukannya dengan baik mungkin aku akan memberikannya. Aku ilfiiiiiiil, bagaiman menikahi pria yang belum bisa sepenuhnya kita cintai. Bahkan melihat miliknya saja terasa menyesakkan," gerutu Reina.


Gadis itu meletakkan kotak pemberian Santo di atas ranjang, tanpa melihat isi kotak itu, memilih berlalu menuju kamar mandi melakukan ritual di kamar mandi yang luasnya melebihi kamar mandi di Shirakawa.


10 menit melakukan ritual. Perlahan Reina keluar dan mendapati Santo sudah duduk dengan manis di sofa kamar. Terbalut jas putih dengan dasi kupu kupu, di hiasi bunga mawar merah di dada kirinya, sepatu pantofel putih menghiasi kaki pria Italia nan dingin.


"Tuan?"


"Hmmm,"


"Bisa kah kau keluar? aku mau pasang baju," jelas Reina.


"Pakai saja, tidak usah malu. Beberapa jam lagi kita akan sah menjadi suami istri," tegas Santo.


Reina kembali menelan salivanya, menahan handuk di tubuhnya yang hampir terlepas.


Santo kembali mendekati Reina. menarik handuk sedikit memaksa, memperlihatkan kepribadian gadis kecil itu.


"Tuan,"


Reina ingin menangis, tapi Santo kemudian mendekapnya.


"Kenapa kau mesti malu, bukankah yang kita lakukan tadi kau sangat menikmati? aku mendengar era*ngan mu sehingga kau mencapai tujuan mu tanpa malu. Kenapa kali ini kau malu? apa aku sangat menakutkan mu? jadilah gadis baik, aku tidak akan menyakitimu. Aku menyukaimu Reina," jujur Santo masih memeluk tubuh telanjang itu.


Reina terdiam,


"Kenapa secepat ini dia mengatakan suka? apa benar dia menyukai ku? atau hanya menikahi karena merasa bersalah? aaaagh," geram Reina membatin.


"Bisakah kau melepas pelukanmu Tuan? aku belum menggunakan apapun," jujur Reina membuat Santo tersenyum.


"Kau gadis polos, tapi kenapa kau menyakiti Jessey dengan ucapan mu? kau menyukai ku ternyata Reina. Hingga kau tidak ingin seorang gadis mana pun boleh mendekati ku," batin Santo kembali ke sofa.


Sesekali melirik liar ke arah Reina. Saat melihat gadis kecilnya menggunakan gaun putih nan indah, Santo menyematkan kalung berlian di hiasi permata indah di leher Reina.


"Pakai ini, akan menambah pesona cantik mu," ucap Santo.


Reina tertegun, merasa ada sesuatu yang berharga di leher putihnya, hingga membuat dia sedikit shook.


"Dia kasar, tapi romantis," batin Reina.


Santo menarik tangan Reina menuju lantai dasar, menghubungi seseorang untuk membersihkan rumah. Kembali Santo membawa Reina menuju basemen dan memasuki mobil mewah miliknya.


"Kita mau kemana Tuan?" tanya Reina gugup.


"Altezza dan Jessey sudah menunggu sejak tadi di gereja, kita akan menikah dan bulan madu ke Hawaii."


Santo melajukan mobilnya, menuju gereja keluarga sejak kecil.


Reina semakin kaku saat mendengar nama Altezza di sebut Santo,


"Berarti benar, Altezza telah menjebakku," isaknya dalam hati.


Saat menuruni mobil, mata Reina beradu tatap dengan Altezza. Reina belum mampu untuk berucap karena Santo langsung menggandeng tangannya.


"Ternyata," remeh Jessey melirik tipis pada Reina.


Altezza tertegun, menatap ke arah Reina memancarkan aura kecantikan saat mengenakan gaun putih di balut perhiasan indah.


"Secepat ini kah mereka saling mencintai?" batin Altezza ragu.


Bersambung....👻


Happy reading...🔥🤗


Jangan lupa Like and Vote...😘