Narasya And Her Friends

Narasya And Her Friends
9. Kembali Ke Sekolah



Keesokan harinya Narasya sudah bisa sekolah seperti biasa, walaupun efek demam tinggi itu belum hilang sepenuhnya. Audrey sudah meminta Narasya untuk tidak bersekolah dulu, tapi Narasya tetap kekeh ingin kembali sekolah.


"Kenapa, Sya? Kok gandeng tangan gue terus?" Audrey bingung, pasalnya Narasya benar-benar tidak mau melepaskan gandengannya sedari tadi, Narasya terus menempel pada Audrey dari mulai pintu gerbang, sampai duduk di kelas.


"Lo takut?" tanya Audrey


"Enggak," jawab Narasya dengan suara pelan.


"Terus kenapa dari tadi tangannya gak mau dilepasin?" Audrey menunjukkan tangan mereka berdua yang masing bergandengan, Narasya sontak melepaskan gandengan itu.


"Emang salah?" tanya Narasya.


Audrey menggaruk pipinya yang tidak gatal, memang tidak masalah kalau Narasya menggandeng tangannya sepanjang waktu, tapi menurut Audrey cukup aneh. "Ya enggak sih. Yaudah deh, gue mau ke toilet bentar."


Audrey beranjak dari duduknya, dan ingin segera pergi, tapi Narasya langsung menahan tangan Audrey. Narasya menatap Audrey dengan raut wajah menggemaskan.


"Ikut," ucap Narasya.


"Gak usah, gue sebentar aja kok. Lo di sini aja ya?" ucap Audrey, bukannya mengangguk, Narasya malah menggeleng dan semakin menggenggam erat tangannya.


"Gak mau, mau ikut," ucap Narasya lagi.


Audrey menghela nafas, Adinda yang melihat itu langsung mendekat ke arah mereka berdua. "Rasya kenapa?" tanya Adinda lembut. "Sama gue aja, Audreynya sebentar aja kok." Lalu Adinda melirik Audrey.


"Iya, Sya. Bentar lagi masuk, Lo sama Dinda aja ya?" ucap Audrey sekali lagi meyakinkan Narasya, akhirnya Narasya menuruti perkataan Audrey. Melihat itu Audreypun tersenyum, lalu mengelus-elus kepala Narasya. "Jangan kemana-mana, tetap di kelas, mengerti?" Narasya mengangguk.


Audrey tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Narasya bersama Adinda. Di kelas sudah ramai karena sebentar lagi jam masuk, Adinda mengerutkan keningnya melihat Narasya hanya menunduk sambil memainkan jarinya.


"Kenapa Sya?" Adinda semakin duduk mendekat, Narasya hanya menggelengkan kepalanya.


Adinda menyentuh tangan Narasya, dan tangan itu terasa dingin. Di detik itu juga Adinda sadar kalau Narasya sedang tidak baik-baik saja. Lalu dia menggenggam lembut tangan Narasya.


Tiba-tiba saja Arta berjalan mendekat ke arah Narasya dan Adinda. Adinda dapat melihat kalau mata Narasya menatap kedatangan Arta takut.


"Hai." Arta duduk di depan Narasya. "Boleh kenalan gak?" ucap Arta pada Narasya.


"Pergi," ucap Narasya lirih. Dia sontak memeluk Adinda seperti yang dilakukannya pada Audrey sebelum dia sakit.


"Hei, kenapa?" Arta berubah panik. "Jangan takut, gue gak ngapa-ngapain Lo kok," ucap Arta panik.


"Rasya, gak papa, dia Arta Loh. Dia mau kenalan sama Lo, ayo kenalan dulu." Adinda berusaha meyakinkan Narasya kalau semuanya tidak apa-apa.


"Gak mau, ayo kita pergi, Dinda." Narasya berusaha menyembunyikan wajahnya, tubuhnya semakin bergetar.


"Udah mau masuk, Sya. Mau pergi kemana?" ucap Dinda lembut.


Dengan perlahan Adinda berusaha melepaskan pelukan Narasya, keringat dingin sudah membanjiri tubuh Narasya sedari tadi. "Lihat, Arta gak ngapa-ngapain, kenapa Lo harus takut?" Adinda berusaha meyakinkan Narasya.


Dengan perlahan Narasya menatap Arta dengan takut, dia terlihat meneguk salivanya. Hanya sebentar, lalu Narasya kembali menatap Adinda.


"Gak papa kan? Arta baik kok, dia cuman mau kenalan," ucap Adinda sambil tersenyum menatap Arta.


Manusia di depan mereka ini benar-benar sangat tampan, pantas saja selalu menjadi pemeran utama di setiap film. Mata teduh itu akan menghipnotis setiap kaum hawa yang dipandangnya dan senyuman yang mampu melemahkan jiwa setiap kaum hawa yang melihatnya. Visual Arta benar-benar sempurna, pantas saja dia sangat terkenal, siapapun akan mau menjadi pasangannya hanya dengan sekali kedip.


"Ka-kamu Jangan di sini, ka-kamu pergi aja." Narasya berbicara dengan terbata-bata tanpa memandang Arta.


Arta terkekeh kecil, dia merasa tertarik dengan Narasya. Gadis itu begitu lucu di matanya, Arta sangat menyukai tatapan polos yang Narasya berikan padanya.


"Ra-Rain Narasya," ucap Narasya sepelan mungkin, tapi masih dapat di dengar oleh Arta.


"Oke-"


"Ngapain Lo di situ?"


Ucapan Arta terhenti ketika mendengar suara Audrey yang baru kembali dari toilet. Audrey langsung berjalan mendekati Narasya, sementara Adinda langsung menjauh.


"Jangan deketin temen gue," ucap Audrey sambil menatap tajam Arta.


Arta yang di tatap seperti itu bukannya takut, malah semakin menantang Audrey. "Kenapa gue gak boleh deketin dia? Lo siapanya dia? Sampai ngelarang-larang gue buat deket sama dia," ucap Arta sambil menunjuk Narasya.


Audrey semakin menatap tajam Arta. "Gue sahabatnya, dan gue gak suka Lo deketin sahabat gue!" Audrey menekankan kalimatnya.


Arta tersenyum miring. "Tapi gue mau deket sama sahabat Lo," ucapnya.


"Lo-"


Kring kring.


Ketika Audrey ingin membalas perkataan Arta, suara bel masuk terdengar nyaring. Arta tanpa berkata apa-apa lagi, langsung pergi menuju tempat duduknya. Audrey mengepalkan tangannya kesal.


"Sialan tuh cowo!" batin Audrey.


Audrey beralih menatap Narasya, dia dapat melihat jelas keringat berada di pelipis Narasya. Padahal cuacanya sedang tidak panas, tapi Narasya bisa keringatan seperti itu.


"Sampai keringetan gini, Sya." Audrey mengambil tisu dari dalam tasnya, lalu dia mengelap keringat Narasya dengan lembut.


"Lo gak papa kan?" tanya Audrey.


"Takut." Narasya berbicara dengan menundukkan kepalanya.


Audrey mengelus-elus punggung Narasya. "Ada gue, gak perlu takut lagi," ucap Audrey lembut.


Sekarang Audrey benar-benar paham kalau Narasya benar-benar takut pada Rulan, Myesha, Ivy, Izzy dan Arta. Pasti Narasya mengenal mereka dengan baik, bukan hanya sekedar tau nama.


Ketakutan Narasya tidak seperti biasanya ketika didekati orang asing, yang kali ini dia benar-benar takut sampai bisa membuatnya jatuh sakit. Seperti seseorang ketika phobia terhadap sesuatu, begitu yang Audrey tangkap dari ketakutan Narasya ini.


Padahal kalau dilihat-lihat, Rulan, Myesha, Ivy, Izzy maupun Arta tidak ada satu pun dari mereka yang kelihatan buruk, sehingga menimbulkan rasa takut untuk Narasya. Tidak ada kelakuan mereka yang menurut Audrey buruk, ataupun mengancam Narasya, tapi entah kenapa Narasya bisa bereaksi seperti itu.


"Gue gak tau apa alasan Lo bisa kayak gini, Rasya." Audrey berbicara kepada Narasya, Narasya hanya memalingkan wajahnya. "Mungkin memang gue gak terlalu mengenal Lo," lanjut Audrey.


"Kalau nanti Lo udah siap cerita, cerita aja. Gausah takut buat cerita sama gue, kayak siapa aja." Audrey tersenyum, Narasya menatap polos Audrey lalu mengangguk.


"Lo taukan kalau gue gak suka liat Lo kesakitan? Jadi jangan mendem rasa sakit Lo sendirian, cerita aja."


Narasya merasa sangat bersyukur memiliki seseorang seperti Audrey. Audrey menjaganya dengan baik dan tidak membiarkannya terluka, Narasya benar-benar sangat menyayangi Audrey.


"Kalau suatu saat Udrey minta nyawa aku, aku akan dengan senang hati memberikannya untuk Udrey."


"Dunia tanpa adanya matahari, terasa sangat gelap. Tapi duniaku tanpa Udrey, terasa sangat menakutkan."


Bersambung....