
Narasya sedang berjalan sendirian di koridor sekolah. Iya, dia berjalan sendirian, tidak bersama Audrey, karena Audrey ada urusan dengan kepala sekolah. Tadinya Adinda menawarkan diri untuk menemaninya, tapi Narasya tidak enak kalau harus merepotkan orang lain.
Koridor sepi karena belum waktunya jam istirahat, dia ingin ke toilet untuk buang air kecil. Narasya berjalan perlahan-perlahan sambil memperhatikan jalannya. Kalau dirinya jatuh ataupun terluka, bisa habis diomeli Audrey sepanjang waktu.
Grep.
Tiba-tiba seseorang menariknya dan membawanya ke sebuah kelas yang tidak terpakai. Orang itu mendudukkan Narasya ke sebuah kursi.
"Hmpp." Ketika Narasya ingin berteriak, orang itu sudah lebih dulu membungkam mulut Narasya dengan tangannya.
Degh.
Narasya dapat melihat jelas siapa mereka, mereka tak lain adalah orang-orang yang Narasya hindari, sekarang malah dia duduk di hadapan lima orang itu. Mereka tak lain adalah Arta DKK, orang-orang yang menjadi alasan Narasya ketakutan.
"Hai, kita ketemu lagi," ucap Rulan. Orang yang menarik Narasya tadi tak lain adalah Rulan, dan empat lainnya juga duduk di hadapannya.
Tubuh Narasya sudah bergetar ketakutan sedari tadi, keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Dia takut, Narasya benar-benar takut.
Bagaimana mungkin sekarang dia sendirian bersama kelima orang yang dia takuti? Tidak ada orang lain di sana selain Arta DKK.
"Lepas! Lepasin!" teriak Narasya sambil memberontak, ketika mulutnya sudah tidak dibungkam lagi.
"Shhtt-shhtt, tenang. Hei, tenang," ucap Ivy berusaha lembut. Dirinya bukanlah orang yang bersikap lembut, tapi demi mengetahui sesuatu dari Narasya, dia akan berusaha melakukannya.
"Gak mau, pergi, pergi ... ," ucap Narasya lirih.
"Lo takut banget ya? Kita ada salah apa sama Lo?" ucap Arta dengan tatapan teduhnya. "Lo bukan takut lagi, Lo trauma kan? Bilang aja, kita salah apa, hm?" tanya Arta lembut.
Narasya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak berani mendongakkan kepalanya menatap mereka. "K-kalian gak ada s-salah apa-apa. Bi-biarin a-aku pergi," ucap Narasya dengan terbata-bata.
"Bohong, gue gak terima apa yang Lo bilang tadi, dan alasan Lo kemaren. Gue gak percaya," ucap Myesha. Dia tidak bodoh, gadis di depannya ini pasti pernah mengenal mereka dengan buruk.
Lalu Narasya menangis, dia mulai terisak saking takutnya. Satu yang dia butuhkan saat ini, kehadiran Audrey.
"Eh, jangan nangis. Aduh, gimana nih guys." Izzy panik, kalau sampai pawangnya tau, bisa habis mereka.
"Eh eh, cup cup, jangan nangis dong. Nanti sahabat Lo ngamuk gimana," ucap Izzy lagi semakin panik. "Kita gak ngapa-ngapain Lo kok, udah ya? Jangan nangis," lanjutnya.
Rulan menatap dingin Narasya. "Lo apa-apaan sih, jangan seakan-akan kita nge-bully Lo dong, kita nanya baik-baik loh!" ucap Rulan ketus.
Siapa yang tidak kesal menganggap mereka seakan-akan seorang pembully? Padahal mereka tidak melakukan apapun, dan juga nantinya bisa terjadi salah paham.
Mendengar ucapan ketus Rulan, suara tangisan Narasya semakin kencang. Kelima orang di depan Narasya hanya bisa menghela nafas, bingung bagaimana menenangkannya.
"Lo sih, udah tau dia nangis malah gitu cara ngomongnya, makin nangis kan tuh." Ivy menyalahkan Rulan.
Mereka panik, ibaratkan seperti membuat anak kecil nangis dan takut orang tuanya marah, begitulah keadaan mereka sekarang. Izzy mengacak-ngacak rambutnya saking kesalnya.
Sedangkan di sisi lain, Audrey baru kembali dari ruang kepala sekolah. Yang pertama dicarinya adalah Narasya, tapi Audrey tidak melihat anak itu di segala sudut kelas.
"Loh, Rasya kemana, Din?" tanya Audrey.
"Rasya tadi ke toilet, sampe sekarang gak balik-balik. Tadi gue udah nawarin diri buat nemenin dia, tapi dianya gak mau," ucap Adinda.
Audrey menepuk jidatnya. "Aduh, Din. Ayolah kita susulin dia sekarang, takutnya terjadi apa-apa." Audrey langsung menarik tangan Adinda untuk mencari Narasya, kebetulan guru juga tidak ada di kelas, jadi mereka bisa keluar sesuka hati.
Audrey dan Adinda berlari ke arah toilet yang ada di lantai atas, tapi mereka tidak menemukannya. "Gak ada, Drey. Apa mungkin di bawah?" ucap Adinda.
"Benar juga."
.
.
.
"Hei, sudah ya, jangan nangis lagi." Arta masih berusaha menenangkan Narasya.
"Pergi ...." Narasya berucap lirih.
Arta tak henti-hentinya menatap mata penuh ketakutan itu, ada perasaan asing yang dia rasakan. Arta harap perasaan itu tidak akan semakin jauh, Arta takut, ia tidak ingin memiliki perasaan itu kepada siapapun.
Arta menghapus air mata Narasya dengan ibu jarinya. "Gue gak bakal nyakitin Lo," ucapkan lembut, Narasya menggelengkan kepalanya.
"WOI!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah mereka, dia adalah Audrey dan di sebelah Audrey ada Adinda. Terlihat dari raut wajah Audrey terlihat sangat marah.
Dengan cepat Audrey berjalan ke arah mereka, dan menghempaskan tangan Arta dari wajah Narasya, dan membawa Narasya ke pelukanya. menatap tajam kelima orang itu. "Apa yang kalian lakukan, sialan!" teriak Audrey.
"Kami gak ngelakuin apa-apa, kami cuman mau nanya sama dia," jelas Rulan dengan tenang.
"Tapi dia nangis, anjing! Gak ada otak Lo semua! Udah tau Rasya takut sama Lo, malah makin Lo deketin. Anjing Lo semua!" Kemarahan Audrey sudah sampai ke ubun-ubun, Arta DKK dan Adinda terkejut, baru kali ini mereka melihat Audrey semarah ini.
"Sorry," ucap Myesha.
"Udah, Drey, tenangin dulu itu Rasyanya." Adinda mengelus-elus punggung Audrey.
Audrey beralih menatap lembut Narasya, berbeda dengan tatapannya tadi yang seperti ingin membunuh orang. "Are you okey?" tanya Audrey.
"Mau Bunda, aku mau Bunda ... ," ucap Narasya pelan.
Audrey menghela nafas, dia berusaha tersenyum. "Iya, kita pulang ya. Gue bakal izinin Lo ke guru." Audrey menghapus air mata Narasya. "Udah ya, jangan nangis lagi, kan udah ada gue," lanjut Audrey.
Ajaibnya, tangisan Narasya tadi langsung berhenti. Mereka yang melihat itu menjatuhkan rahang mereka, padahal sedari tadi Arta DKK berusaha menenangkan anak itu, tapi tidak ada yang berhasil.
"Hei, itu tidak adil."
"Makasih."
"Anything for you."
Audrey menatap tajam ke arah Arta DKK sebelum dia keluar meninggalkan kelas itu. "Awas Lo semua! kali ini gue maafin, tapi nggak lain kali," ucapnya dingin.
Setelah kepergian Audrey, keadaan berubah hening. Adinda menatap Arta DKK dengan canggung, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehe, gue pergi ya?" Setelah itu Adinda juga ikut meninggalkan kelas itu.
Rulan menatap dalam kepergian Narasya dan Audrey, entah kenapa dia juga ingin jadi yang terpenting di hidup gadis itu, bukan seseorang yang harus Narasya hindari. Rulan mengepalkan kedua tangannya.
"Hari ini gue pengen jadi seseorang yang juga Lo cari ketika Lo butuh."
Bersambung....