Narasya And Her Friends

Narasya And Her Friends
22. Masa Lalu 3



"Maaf Udrey, aku gak maks-"


"Shuutt."


Ucapan Narasya langsung berhenti karena Audrey meletakkan jari telunjuknya di bibir Narasya. "Gue ngerti kenapa Lo gak mau cerita, it's okey." Audrey menatap lembut mata Narasya.


"Gue udah tau dari mereka," lanjut Audrey, Narasya menundukkan kepalanya sambil memainkan ujung bajunya.


"Hei, gak papa, gue gak marah kok," ucap Audrey lembut.


Narasya menatap mata Audrey. "Makasih, aku takut Udrey marah. Aku gak mau cerita karena takut Udrey khawatir." Narasya memegang kedua pundak Audrey. "Tapi aku udah gak papa kok, Udrey gak perlu khawatir," lanjut Narasya.


Audrey kembali tersenyum, dia menatap kedua mata Narasya lalu dia menangkup kedua pipi Narasya. "Lo mau kan maafin mereka? Lo gak perlu takut lagi, semua yang Lo pikirin gak bakal terjadi." Audrey kembali memeluk Narasya. "Sudah bertahun-tahun lamanya mereka dihantui rasa bersalah, tolong maafin mereka ya? Gak ada lagi yang perlu Lo takutkan," bisik Audrey, lalu dia melepaskan pelukannya.


"Lo harus berdamai dengan masa lalu, Sya. Mereka udah gak seperti yang Lo pikirkan."


"Aku mau, t-tapi aku masih takut," ucap Narasya dengan suara pelan.


"Kan ada gue, nanti gue temenin Lo buat nemuin mereka," ucap Audrey, Narasya pun mengangguk lucu.


Kedua orang tua Narasya terkekeh mendengar interaksi kedua anak itu. Audrey dan Narasya terlihat menggemaskan jika berpelukan, mereka sudah seperti dua bersaudara yang akur.


"Udah ayo masuk dulu, bunda mau masak." Nata mendorong Audrey dan Narasya untuk masuk ke dalam rumah.


"Audrey hari ini nginep aja ya? Kita makan malam sama-sama," ucap Nata pada Audrey.


"Iya Tante, lagian aku males pulang." Audrey mengangguk mengiyakan ucapan Nata. Mereka berempat pun masuk ke dalam rumah.


Audrey menatap Bima yang berjalan di depannya, sedangkan Nata dan Narasya sudah berjalan mendahului Audrey sedari tadi. Audrey berdiri di sebelah Bima.


"Om udah tau kalau aku bakal nemuin mereka?" tanya Audrey.


Bima tersenyum tipis. "Sudah pasti Om tau, karena semua sudah terlihat dari gerak-gerikmu tadi, kalau kau ingin menemui mereka," jelas Bima.


"Tapi belum tentu aku menemui mereka kan? Bisa aja orang lain, dan membahas masalah itu," ucap Audrey bingung.


"Ya, hanya menebak-nebak saja." Bima memang ahli dalam memahami keadaan sekitarnya.


.


.


.


"Pembullyan terakhir kali yang mereka lakukan pada Rain, membuat Rain kritis dan benar-benar hampir merenggut nyawanya."


Bima menceritakan hal yang terjadi pada Narasya waktu itu. Bima dan Audrey melirik Narasya dan Nata yang sedang berkutat di dapur memasak makanan. Tanpa sadar tangan Audrey mengepal kuat.


"Setelah Rain sadar dan membaik, Rain benar-benar menutup dirinya dari orang lain. Dia semakin pendiam dan tidak suka disentuh orang lain, Rain menjadi anak yang tidak bisa bersosialisasi," jelas Bima, lalu dia kembali menatap Audrey. "Bahkan Rain hampir tidak ingin sekolah lagi," lanjut Bima dan mengingat masa-masa di mana Narasya benar-benar sedang hancur.


"Kamu mau sekolah lagi kan, sayang?" Tanya Bima pada Narasya saat itu yang sudah membaik, tapi rasa takut masih saja menghantui anaknya.


Narasya menggelengkan kepalanya dan menatap sendu ayahnya. "Ayah, aku takut. Aku gak mau sekolah lagi, Ayah," ucapnya lirih.


Bima tidak sanggup melihat anaknya yang hancur seperti itu, hatinya juga ikutan hancur. Anaknya yang selalu tersenyum, sekarang hanya menampilkan raut wajah ketakutan.


"Tapi ayah, sekolah itu sangat menakutkan. Aku takut ayah, di sekolah banyak monster," ucap Narasya dengan tubuh yang bergetar.


Pria paruh baya itu membawa putrinya ke pelukannya. Dia mengecup kening putrinya dan mengelus kepala putrinya lembut.


"Sekolah itu gak menakutkan, gak ada yang perlu ditakuti. Sekolah itu menyenangkan, kamu bisa punya banyak teman." Bima berusaha memberikan pengertian pada Narasya


Narasya menggeleng. "Aku mohon Ayah ... aku gak mau sekolah lagi," ucap Narasya semakin lirih.


"Kalau kamu gak sekolah, kamu akan mengalami kesulitan di masa depan."


"Anak Ayah kuat. Rain adalah anak yang paling kuat. Kamu pasti bisa."


Bima memang tidak ingin anaknya mengalami ketakutan lagi, Bima juga ingin kalau anaknya tidak usah sekolah lagi. Bima ingin anaknya punya masa depan yang cerah dengan tetap bersekolah.


"Karena kejadian itu, Om memutuskan buat pindah rumah dan memindahkan sekolah Rain yang jauh dari sekolah lamanya," ucap Bima ketika sudah selesai menceritakan masa lalu putrinya dulu.


"Kenapa Om gak nyekolahin Rasya secara homeschooling?" tanya Audrey.


Bima tersenyum tipis. "Kalau Om nyekolahin Rain secara homeschooling, Rain gak akan pernah ketemu sama kamu," ucap Bima lembut.


Audrey tertegun mendengarnya, benar, kalau begitu Narasya tidak akan pernah bertemu dengannya. Audrey bersyukur bisa bertemu dengan Narasya, Audrey bersyukur bisa mengenal anak dengan senyuman manis itu.


"Aku dan Rasya memang ditakdirkan bertemu." Audrey menganggukkan kepalanya.


"Sebelum mengenal kamu, Rain selalu mendapatkan luka di manapun itu. Setelah mengenal kamu, dia sudah jarang mendapatkan luka-luka itu." Bima memberitahu tentang Narasya.


"Banyak orang yang ingin mencelakai Rain, padahal Rain tidak berbuat apapun yang merugikan mereka, tapi entah kenapa mereka suka sekali membuat Rain menangis dan terluka." Bima merogoh saku celananya, dua mengeluarkan beberapa plester untuk luka. "Dulu Om selalu beli benda ini untuk dia," ucap Bima sambil meletakkan plester itu ke atas meja.


Audrey memandang lamat benda itu, benda yang sama yang dulu pernah Narasya berikan padanya. Plester luka yang menjadi awal kedekatan mereka.


"Semenjak kenal kamu, Om udah jarang beli benda ini untuk Rain. Tapi ... Om selalu mengantonginya kemana-mana, hahaha." Bima terkekeh kecil mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Om sangat berterima kasih sama kamu, karena sudah menjaga Rain dengan sebaik mungkin," ucap Bima lagi.


Audrey sangat terharu mendengarnya, dirinya merasa bangga karena menjadi salah satu orang yang sangat penting di hidup Narasya. Audrey tidak merasa terbebani, dia merasa sangat senang karena bisa menjadi pelindung Narasya.


"Audrey akan jaga Rasya sebaik mungkin, Om tenang aja," ucap Audrey dengan tersenyum.


"Rain itu anak yang sangat rapuh, benar-benar rapuh, baik dari luar maupun dari dalam. Om berharap gak akan ada lagi yang menyakitinya." Bima menampilkan raut wajah sendu. "Jujur saja, melihat Rain terluka, benar-benar sangat menyiksa," lanjutnya.


Bima benar-benar sangat menyayangi Narasya melebihi apapun yang ada di dunia ini. Narasya adalah anak satu-satunya yang harus dia jaga, Bima akan melakukan apapun untuk Narasya.


"Lagi ngomongin apa?" tanya Nata yang datang membawa makanan di tangannya. Narasya juga berjalan di belakang Nata dengan membawa makanan di tangannya.


"Nanti lagi ngobrolnya, ayo makan dulu," ucap Nata sambil menatap makanan di meja.


"Yeay makan, aku udah laper," ucap Narasya senang dan langsung mengambil piring serta mengisinya dengan nasi.


Mereka tertawa menatap Narasya yang berbinar mengambil makanan.


Bersambung....