
"Kita ke kantin dulu, gue belum sarapan." Audrey menarik tangan Narasya yang sudah sampai di sekolah. Narasya yang ditarik hanya pasrah mengikuti langkah Audrey.
Narasya tidak menanyakan lagi alasan kenapa Audrey tidak sarapan, itu sudah biasa terjadi. "Pelan-pelan Udrey, kantinnya gak kemana-mana kok," ucap Narasya lembut.
"Buk, mi ayam satu ya? Sama air putih hangatnya satu." Setelah sampai di kantin, Audrey langsung memesan makanannya.
"Lo mau apa Sya?" tanya Audrey pada Narasya, dan Narasya hanya menggeleng kepalanya menandakan dia tidak ingin apapun.
Audrey mencari tempat duduk ketika sudah mendapatkan makanannya. Keadaan kantin sangat lenggang karena masih terlalu pagi, murid-murid masih belum banyak yang datang ke sekolah.
Tak lama kemudian datang lima orang gadis dari jurusan RPL. Mereka mendekati meja Audrey dan Narasya. "Audrey, kita gabung di sini ya?" tanya salah satu gadis itu, Audrey mengangguk.
Mereka juga termasuk teman Audrey yang lumayan dekat kalau Audrey tidak sedang bersama Narasya. Teman Audrey ada di berbagai jurusan, bahkan sampai ke adik kelas juga mengenal Audrey dengan baik.
Narasya semakin mendekatkan dirinya ke arah Audrey. "Udrey," panggil Narasya.
Sepertinya Narasya merasa tidak nyaman karena lima gadis itu duduk di dekatnya. Audrey terkekeh kecil, dia paham situasi kalau sahabatnya itu merasa tidak nyaman. Audrey memeluk Narasya dengan satu tangan untuk menenangkan Narasya.
"Gak papa, mereka baik kok, mereka temen gue," ucap Audrey lembut. Mendengar itu Narasya mengangguk dan sedikit merasa tenang.
"Dia siapa, Drey? Gue kok baru liat?" tanya salah satu gadis berambut pirang.
"Dia sahabat gue, namanya Rain Narasya. Inget ya, Na.Ra.Sya." Audrey menekankan kalimatnya. "Panggil aja Rasya," lanjut Audrey lagi.
Tampaknya lima gadis itu sedikit terkejut, mengetahui fakta kalau seorang Audrey punya sahabat. Mungkin itu memang bukan hal yang luar biasa, tapi ini Audrey, semua orang yang dia kenal hanya dia anggap teman biasa, tapi berbeda dengan gadis di depan mereka ini.
"Loh, ternyata Lo punya sahabat juga. Gue kira gak punya. Lagian kalian sahabat, kenapa kami gak pernah liat nih anak?" Salah satu gadis menunjuk Narasya.
"Iya, secara Lo populer, ada di mana-mana, pastinya juga sahabat Lo ngikut," sambung yang lainnya.
Audrey tersenyum, lalu menatap Narasya dari samping. "Rasya gak suka keramaian, jadi ya gue jarang ajak dia kumpul sama temen-temen gue," jelas Audrey singkat. Mereka yang mendengarnya hanya mengangguk paham. "Tapi dia selalu bareng gue kok, kalian aja yang gak tau," lanjut Audrey.
Kelima gadis itu merasa tidak percaya. Narasya harusnya memanfaatkan kepopuleran Audrey untuk membuat namanya juga ikut naik, tapi Narasya tidak melakukan itu, justru sebaliknya. Mereka bahkan tidak pernah mengenal nama Rain Narasya.
"Pagi Audrey, pagi Rasya." Tiba-tiba saja dari arah belakang, Adinda datang ke meja Audrey dan Narasya.
"Pagi juga, Dinda." Narasya balik menyapa. "Dinda udah sarapan?" tanya Narasya pada Adinda.
Adinda yang merasa gemas, lantas mencubit kedua pipi Narasya. Sepertinya Adinda memiliki hobi baru, yaitu mencubit pipi Narasya. "Aduh, perhatian banget sih. Gue udah sarapan kok tadi," ucap Adinda.
"Sakit." Narasya memegang pipinya yang terasa sakit.
"Din!" Audrey lantas menatap tajam ke arah Adinda.
"Aduh, pawangnya marah. Maaf ya Sya, sakit ya? Uluh uluh." Adinda mengelus lembut pipi Narasya.
"Awas aja Lo kalo bikin Rasya nangis, gue gibeng Lo." Audrey memberikan ancaman.
"Ampun Nyai, gak sampe nangis kok, yakan Rasya?" Adinda menatap Audrey pura-pura takut. Sedangkan Narasya hanya menatap Adinda dengan raut wajah cemberut.
Kelima gadis yang melihat interaksi itu hanya tertawa. Lucu sekali sahabat Audrey ini? Pikir mereka.
"Bener dia sahabat Lo, Drey? Kok gue masih gak percaya," ucap salah satu gadis.
"Di-"
"Memang bener Rasya ini sahabatnya Audrey. Kalau cuman sebatas kenal biasa, kalian pasti gak percaya, tapi itu kenyataanya." Sebelum Audrey menjawab, Adinda memotong lebih dulu. "Kalian pasti makin gak percaya, kalau Audrey itu protective banget loh, sama si Rasya," lanjut Adinda.
"Udah berapa lama Lo kenal Rasya, Drey?" tanya yang lainnya.
"Da-"
"Udah dari SD katanya." Lagi-lagi Adinda memotong ucapan Audrey.
Pletak.
"Nyambung aja Lo, kayak kabel." Karena kesal, Audrey menyentil kening Adinda.
Kelimanya mengangguk paham. "Yaudah, kalau gitu kita kenalan ya, Rasya. Gue Fitri."
"Dita."
"Disya."
"Raya."
Mereka menyebutkan nama panggilan masing-masing. Narasya tersenyum dan mengangguk, lalu berusaha mengingat nama mereka di dalam kepalanya.
"Manis banget senyumannya," ucap Dita gemas. Ingin sekali dia mencubit pipi Narasya, tapi takut diamuk pawangnya.
"Kata orang, senyuman Rasya itu candu."
.
.
.
"Aduh, Udrey lama banget, padahal bentar lagi masuk." Narasya menatap jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh lima menit, yang artinya lima menit lagi masuk.
"Udahlah, aku duluan aja. Nanti kalau terlambat dimarahin guru." Narasya pun pergi meninggalkan toilet lantai dasar menuju kelasnya yang ada di lantai dua.
Narasya sedikit berlari-lari kecil dan tak terlalu memperhatikan sekitar. Dia tidak sadar kalau di depannya ada gadis yang menuju ke arahnya dengan menggunakan earphone.
Brugh.
Narasya pun terjatuh, padahal dirinya yang menabrak gadis itu. Langkah gadis itu terhenti. Dia menatap dingin ke arah Narasya, lalu mengulurkan tangan berniat membantu Narasya berdiri.
Bukannya menerima uluran itu, Narasya malah mundur perlahan dan menatap gadis itu dengan raut wajah takut. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya bingung, padahal dia tidak melakukan apapun kepada Narasya, kenapa Narasya melihatnya seperti melihat hantu?
"Hei, Lo kenapa?" Gadis itu heran.
Padahal banyak sekali orang yang ingin berteman dekat dengannya, tapi Narasya malah ketakutan melihatnya. Ada apa dengan Narasya sebenarnya?
"YA AMPUN RASYA." Audrey berteriak nyaring ketika melihat Narasya yang sudah terduduk di lantai.
"Udrey." Narasya berucap lirih.
"Kan udah gue bilang, tungguin gue. Lihat, sekarang Lo jatuh." Audrey langsung memberikan omelannya pada Narasya.
Lalu di detik berikutnya, Audrey melebarkan matanya melihat mata Narasya mulai mengeluarkan air mata. Audrey sontak membawa Narasya berdiri dan memeluk Narasya guna menenangkan Narasya.
"Lo kenapa? Kok nangis?" tanya Audrey lembut. Audrey dapat merasakan kalau tubuh Narasya bergetar ketakutan.
Lalu tatapan Audrey beralih ke arah gadis yang sedari tadi hanya menatap datar dirinya dan Narasya. Audrey sedikit terkejut, karena dia sangat mengenal gadis di depannya ini.
"Lo? Lo Rulan Pricilla kan?" Audrey menunjuk gadis itu.
Ya, dia adalah Rulan Pricilla. Gadis cantik, pintar, berbakat, dan merupakan salah satu aktris papan atas. Sulit dipercaya kalau Audrey dapat melihat orang ini secara langsung.
"Lo apain temen gue?" Audrey menatap tajam gadis itu. Tidak peduli siapapun orangnya, kalau orang itu menyakiti Narasya, orang itu harus berhadapan dengan Audrey.
"Gue gak apa-apain dia. Dia aja yang nabrak gue terus jatuh," jelas Rulan santai.
"Terus, kenapa dia bisa nangis?" tanya Audrey lagi.
"Dia aja yang tiba-tiba nangis." Rulan masih tetap santai dan dengan ekspresi dinginnya.
"Udah Udrey, a-ayo kita ke kelas," ucap Narasya lirih. Audrey pun hanya menuruti sahabatnya itu, dan mereka berdua berjalan menuju kelas meninggalkan Rulan sendirian di koridor.
Ketika Audrey dan Narasya melewati Rulan, Rulan tak sengaja menatap mata Narasya.
Degh.
"Mata itu?"
Bersambung....