
Ceklek.
Audrey memasuki kamar dengan dominan warna biru muda. Terlihat Narasya tertidur di kasur dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, Audrey mendekati kasur Narasya.
"T-tolong berhenti ...."
Langkah Audrey terhenti sejenak ketika mendengar suara lirih Narasya dan dibarengi dengan isakan kecil.
"Berhenti ...."
Audrey langsung menggenggam jemari tangan Narasya, perasaan menusuk hinggap di hati Audrey. "Sya?"
"Sakit."
"Jangan lagi."
"Aku mohon berhenti ...."
Nafas Audrey terasa tercekat, jantungnya berdegup kencang. "Hey, Sya? Kenapa? Kamu kenapa Sya?" Audrey mencoba membangunkan Narasya.
"S-sakit."
"Rasya bangun! Apa yang sakit?!" Audrey mulai berteriak karena khawatir.
"B-berhenti ...."
Audrey bergerak memeluk erat Narasya, dia ikut berbaring di samping Narasya. "Gak papa Sya, gak ada apa-apa. Bangun ya? Itu cuman mimpi buruk," bisik Audrey lembut.
"T-takut." Narasya masih saja mengigau dengan keringat yang sudah membasahi tubuhnya. Tubuh Narasya bergetar hebat, menandakan mimpi itu pasti sangat menakutkan.
"It's okey, gue di sini. Audrey ada di sini, Rasya gak perlu takut, Rasya gak sendiri," bisik Audrey sekali lagi.
"Gak ada yang perlu di takutkan, Sya."
Akhirnya Narasya membuka matanya, pandangannya langsung tertuju kepada Audrey yang sedang menatapnya lembut. Tangan Audrey bergerak menghapus jejak air mata Narasya.
"U-Udrey?"
"Ya."
Di detik berikutnya Narasya memeluk Erat Audrey, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Audrey. "Lo mimpi, hm?" tanya Audrey, Narasya pun menganggukkan kepala.
"Udah minum obat?" tanya Audrey lagi.
"Udah, tadi Bunda yang ngasih," jawab Narasya.
"Yaudah, tidur lagi aja. Peluk gue kalau gak mau mimpi lagi kayak tadi, gue bakal nemenin Lo tidur." Audrey mengelus-elus puncak kepala Narasya, lalu tak lama Narasya pun terlelap kembali dengan posisi masih memeluk erat Audrey.
"Gue gak tau trauma apa yang Lo alami, Sya. Tapi gue bakal nunggu Lo cerita semuanya ke gue." Audrey menatap dalam Narasya yang tertidur.
"Kalaupun Lo gak mau cerita, gue bakal cari tau sendiri. Cepat atau lambat gue bakal tau semuanya."
"Gue gak akan pernah ninggalin Lo sendirian, Sya."
.
.
.
"Kamu tuh yang selingkuh!"
Audrey memasuki rumahnya, ah ralat, mansion Derandra. Bukannya kehangatan yang menyambutnya, tapi suara keributan yang berasal dari kedua orang tuanya.
"Kamu selingkuh sama sekretarismu itu kan! Ngaku kamu!" Ibu Audrey kembali berteriak di depan wajah Ayah Audrey, mereka berdua tidak ada habis-habisnya berseteru.
"Mana ada, dia tuh cuman bantu aku!" Ayah Audrey berteriak tak kalah kencang, membuat pusing kepala Audrey seketika.
"Bantu kamu kok sampai cium-cium? Kamu kira aku buta!" teriak ibu Audrey lagi.
"Iya, kamu memang buta! Dan aku gak selingkuh, kamu tuh yang selingkuh! Aku lihat kamu lagi di restoran sama cowo lain!" Ayah Audrey menunjuk-nunjuk ibu Audrey.
"Eh, aku sama dia cuman ngomongin bisnis!"
Dan perdebatan itu pun semakin memanas, bukannya malah berhenti. Audrey sudah melihat pemandangan itu hampir setiap hari. Audrey merasa sedih? Jelas dia merasa sedih, sedih kenapa orang tuanya selalu bertengkar setiap hari.
Mereka hanya bekerja, bekerja dan bekerja, lalu bertengkar seperti itu. Audrey sangat mendambakan keluarga yang harmonis, tapi apa yang dia dapat? Pertengkaran yang selalu terjadi antara ayah dan ibunya, Audrey sudah lelah dengan itu semua.
Audrey menghela nafas, berjalan ke arah kamarnya yang ada di lantai dua, berusaha mengabaikan suara keributan itu. Kepala Audrey rasanya ingin pecah, dia baru saja kembali dari rumah Narasya, melihat sahabatnya terpuruk seperti itu sudah cukup membuat Audrey tersakiti, di tambah lagi dengan pertengkaran kedua orang tuanya.
"Kenapa gak sekalian bacok-bacokan saja mereka? Biar sekalian ke akhirat sana." Sebut saja Audrey anak yang durhaka karena menginginkan kedua orang tuanya mati, karena dia sudah tidak sanggup, lebih baik mereka tiada saja sekalian, pikir Audrey.
Audrey merebahkan tubuhnya di atas kasur, batinnya hari ini terasa porak-poranda, penyebab utamanya sudah pasti Narasya, apalagi ketika mendengar ibu Narasya berbicara tadi. Audrey benar-benar tidak tau apapun tentang masa lalu Narasya sebelum kehadiran dirinya.
Audrey bertemu Narasya waktu kelas lima SD, saat itu Narasya adalah murid baru di sekolahnya, lalu Audreypun mengajaknya berteman. Audrey melihat Narasya begitu lucu, polos, dan selalu terluka. Ada rasa ingin melindungi yang besar di diri Audrey ketika melihat Narasya, sejak itu Audrey benar-benar menjadi malaikat pelindung Narasya di manapun dan kapanpun itu.
Audrey sangat menyayangi sahabatnya itu, dia sudah menganggap Narasya seperti saudaranya sendiri. Audrey juga tidak punya saudara, dia hanya anak tunggal keluarga Derandra, itu sebabnya dia merasa kesepian, lalu bertemu dengan Narasya.
Narasya datang membawa kehangatan untuk Audrey, kehangatan yang tidak pernah Audrey dapatkan dari keluarganya. Dia akan berdiri paling depan untuk melindungi Narasya.
Audrey tidak merasa iri karena Narasya mempunyai keluarga yang harmonis, karena dengan bersama Narasya dia juga bisa merasakan apa itu keluarga. Keluarga Narasya adalah keluarga yang diidam idamkan setiap remaja seperti Audrey.
Audrey memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu. "Andai Lo tau Sya? Betapa sayangnya gue sama Lo. Kalaupun suatu saat nanti Lo nyakitin gue, gue gak masalah kalau yang nyakitin itu elo."
"Tapi gue tau, Lo gak akan pernah nyakitin gue kan Sya?" Audrey berbicara sendiri.
"Gue bersyukur bisa kenal Lo dari awal, mungkin kalau gak ada Lo, udah lama gue mutusin buat bunuh diri. Tapi gue bakal tetap hidup, demi Lo, Sya." Audrey tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Lo satu-satunya orang yang mengulurkan tangan di saat gue terpuruk. Terima kasih karena sudah hadir di hidup gue."
Dulu waktu Audrey belum terlalu mengenal Narasya, kedua orang tuanya sedang bertengkar hebat dan Audrey menjadi korban dari keegoisan kedua orang tuanya. Audrey menangis di taman sendirian tanpa ada seorang pun yang menenangkannya, lalu Narasya datang tanpa diminta, memberikan kekuatan untuk Audrey.
"Kamu kenapa?" tanya Narasya kecil.
Audrey kecil menatap Narasya dengan mata sembab, dia sedikit terkejut kenapa Narasya bisa ada di dekatnya? "Mama Papa aku berantem, terus Papa mukul aku," ucap Audrey lirih.
Audrey menunjukkan tangannya yang sedikit berdarah karena tergores pecahan kaca. Narasya yang melihat itu langsung menarik tangan Audrey.
"Kamu luka," ucap Narasya dengan polosnya. "Aku ada plester, ini buat kamu aja. Aku tempel ya?" Narasya menempel plester itu ke tangan Audrey. "Aku sering luka, jadi bunda ngasih aku ini buat dibawa kemana-mana," ucap Narasya polos.
Audrey terkekeh kecil dan tersenyum. "Makasih."
"Sama-sama."
Lalu tanpa diminta, Narasya memeluk Audrey dari samping. "Aku mungkin gak bisa ngilangin rasa sakit kamu, tapi setidaknya aku mau nemenin kamu kali ini."
"Gak papa, dunia ini memang terkadang tidak adil."
Tanpa Narasya sadari, ucapan sederhananya itu dapat membuat Audrey merasa jauh lebih baik.
Bersambung....