
"Gue baru sadar kalau si Rasya lucu banget."
Dua orang gadis sedang duduk berhadap-hadapan, dengan seorang gadis yang tertidur di samping salah satu dari dua gadis itu. Mereka berdua terlihat mengobrol satu sama lain.
Mereka berdua sedang berada di kelas sebelas TKJ dua. Di dalam kelas juga banyak teman-teman mereka yang lainnya menunggu bel masuk.
"Kemana aja Lo, udah setahun lebih kita jadi teman sekelas, baru nyadar kalau Rasya itu memang lucu?" Gadis yang berbicara ini adalah Audrey Derandra. Dia menatap sinis gadis yang duduk di depannya.
"Hm, sepertinya gue yang gak terlalu memperhatikan sih. Lagian si Rasya punya penjaga galak kayak Lo, gue jadi segen buat deket sama dia." Gadis yang berbicara ini adalah Adinda Triawardani, salah satu dari penghuni kelas sebelas TKJ dua.
"Kalau mau deket ya deket aja sih, gue gak bakal marah. Lagian Rasya pasti seneng kalo punya temen baru, selama ini temennya yang bertahan cuman gue aja," jelas Audrey. "Tapi kalo Lo sampai nyakitin dia, Lo harus berhadapan sama gue," lanjut Audrey.
"Rasya kayaknya kesepian banget, gue jadi pengen deket deh, sama tuh anak," ucap Adinda sambil menatap Narasya yang masih memejamkan mata.
Gadis itu adalah Rain Narasya, dia gadis biasa yang hidupnya hanya berpacu pada aturan dunia yang membosankan. Gadis yang polos dan lucu, yang tidak terlalu mengenal dunia. Memiliki satu orang sahabat yang selalu setia berada di dekatnya.
"Dia itu memang kesepian terkadang, apalagi kalau gue gak main kerumahnya," ucap Audrey.
"Gak main ke rumahnya?" tanya Adinda bingung.
"Iya, kalau di luar gak mungkin gue biarin dia sendirian. Rasya aman kalau cuman di rumah, bareng ortunya ataupun bareng gue. Selain itu pasti ada aja nanti masalahnya." Audrey memberitahu sedikit hal tentang Narasya.
"Apa bener dia gak ada temen lain yang dekat sama dia selain Lo?" Adinda mencoba memastikan.
"Rasya itu susah banget percaya sama orang. Dia kalo ada yang deketin dia pasti lapor sama gue, lucu banget tau kalau dia udah begitu." Audrey berbicara sambil tersenyum geli. "Udrey, tadi ada cowok yang nanyain nama aku." Audrey mencoba menirukan suara Narasya.
"Haha, seriusan? Deket banget tuh anak sama Lo." Adinda terkekeh lucu mendengar Audrey berbicara.
"Ya gimana gak deket, gue kenal Rasya aja dari SD sampe sekarang. Sekalipun gue gak mau jauh-jauh dari Rasya, dia juga gak mau jauh-jauh dari gue. Gue udah kayak bodyguard dia tau gak." Mendengar ucapan Audrey, Adinda pun tertawa.
"Tapi Lo sadar gak sih Drey? Rasya itu kayak punya trauma masa lalu, jelas banget dari sikapnya selama ini." Sedetik kemudian raut wajah Adinda berubah serius.
Audrey tampak berpikir. "Udah lama sih gue nyadar, dari awal gue kenalan sama Rasya. Waktu gue ajak kenalan, Rasya malah kayak ketakutan, dan sampe sekarang Rasya belum cerita apapun ke gue," jelas Audrey.
"Lo gak ada niatan nanya gitu Drey?" tanya Adinda.
"Gak sih, kalo gue nanya hal itu ke dia, takutnya traumanya balik lagi."
Adinda mengangguk mendengar ucapan Audrey, benar juga, pikir Adinda. Walaupun Audrey dan Narasya sudah sangat dekat sampai tidak bisa dipisahkan, tapi Audrey tetap tidak ada hak mencampuri urusan pribadi Narasya.
"Lo protective banget sebagai sahabat bagi Rasya," ucap Adinda.
"Tuh anak memang gak bisa dibiarin sendirian," balas Audrey.
"Memangnya terakhir kali Lo ninggalin dia sendirian, apa yang terjadi?"
Pertanyaan Adinda membuat Audrey diam sesaat. Dia menatap Narasya yang berada di sampingnya, lalu menatap Audrey kembali. "Terakhir kali gue ninggalin Rasya sendirian ...." Audrey menjeda kalimatnya sebentar.
"Rasya diculik, dan saat keluarganya dan polisi nemuin titik lokasi tempat Rasya diculik, mereka nemuin Rasya luka-luka karena berusaha menyelamatkan diri." Penjelasan Audrey membuat Adinda tertegun.
"Waktu itu gue ninggalin Rasya karena ada rapat OSIS. Dulu SMP gue gabung OSIS, dan waktu diadain rapat itu gue suruh Rasya nunggu Bundanya buat jemput di depan gerbang sekolah. Ternyata kata Bunda Rasya, Rasya gak ada nunggu di depan gerbang. Gue panik dong, Ayahnya Rasya langsung hubungin polisi buat cari Rasya." Adinda hanya menampilkan raut wajah serius saat menyimak penjelasan Audrey.
"Benar, dia memang gak bisa dibiarin sendirian." Adinda menatap Narasya.
Kriing.
Bel masuk akhirnya berbunyi, menandakan kegiatan *** akan segera dilaksanakan. Murid-murid sudah siap duduk di bangku masing-masing, begitu juga dengan Adinda.
"Hm, aku udah bangun." Narasya berbicara dengan mata yang masih terpejam.
Audrey terkekeh kecil. "Udah bangun apaan? Itu matanya masih nutup," ucap Audrey gemas.
"Iya iya aku bangun." Akhirnya Narasya menegakkan tubuhnya dan membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Lalu di detik berikutnya guru pun masuk ke dalam kelas.
.
.
.
"Udrey, laper ...."
"Iya bentar ya, bentar lagi catatan gue selesai."
Sejak lima menit yang lalu, Narasya menunggu Audrey menyelesaikan catatannya yang ditulis guru di papan tulis. Narasya sudah menyelesaikannya, tapi Audrey belum.
"Udah selesai, ayok kita ke kantin." Audrey menyimpan pulpen dan bikinnya ke dalam lagi meja, lalu Audrey menarik tangan Narasya untuk menuju ke kantin.
"Eh, gue ikut dong." Adinda berjalan mengikuti Audrey dan Narasya dari belakang.
Sesampainya di kantin, mereka bertiga langsung memesan makanan dan mencari tempat duduk untuk menikmati makanan mereka. Untung saja masih ada tempat untuk mereka duduk di sudut kantin.
"Eh, denger-denger Rulan, Myesha, Ivy, Izzy, dan Arta mau pindah Loh, ke sekolah ini." Adinda memulai percakapan.
Audrey menaikkan alisnya. "Bukannya mereka itu aktris dan aktor?" tanya Audrey memastikan.
"Iya."
"Loh, kirain karena mereka udah terkenal, udah gak sekolah seperti biasa lagi, ternyata masih," lanjut Audrey.
"Memang gitu mereka, pernah diwawancarai kata mereka gak mau sekolah di rumah, maunya normal. Jadi agensi mereka ngasih bodyguard buat jaga-jaga, karena mereka tetep kekeh mau sekolah normal," jelas Adinda, Audrey mengerutkan keningnya.
"Seleb memang sulit ditebak jalan pikirnya, lagian ngapain juga pindah ke sini. Memangnya ada apa dengan sekolah yang lama?" tanya Audrey heran.
"Ya, mana gue tau."
Sementara Narasya hanya diam menyimak percakapan dua gadis itu sambil mengunyah makanannya. Dia tidak terlalu peduli kalau perutnya sedang lapar.
"Udrey, makan. Nanti baksonya dingin," ucap Narasya yang melihat Audrey sedari tadi belum menyentuh makanannya.
"Iya Sya." Akhirnya Audrey pun mulai menyantap semangkuk bakso di hadapannya.
"Eh, hai Rasya." Adinda menyapa Rasya, Rasya pun menatap pada Adinda.
"Hai Dinda," ucap Narasya sambil tersenyum.
"Manis banget senyuman Lo." Adinda yang gemas, lantas mencubit pipi Narasya.
Memang, senyum Naraya dapat menjadi candu untuk orang lain.
Bersambung....