Narasya And Her Friends

Narasya And Her Friends
3. Narasya Masih Kecil



Abaikan saja kata "Lo" yang seharusnya "lo", ya karena keyboard Kim*k ini autocorrect-nya gak bisa dimatiin. Gitu terus, males aku perbaikinya, biar aja lah situ:).




"Bunda Lo jemput?" tanya Audrey ketika dirinya dan Narasya sudah keluar dari kelas. Sudah waktunya pulang sekolah, murid-murid yang lain juga sudah berhamburan meninggalkan kelas masing-masing, begitu juga dengan Audrey dan Narasya.



"Tadi Bunda bilang mau jemput," jawab Narasya.



"Yaudah, gue temenin sampai depan gerbang, ayo." Audrey menarik tangan Narasya untuk pergi.



"Memangnya Udrey mau kemana?" Seakan mengerti, Narasya tau kalau Audrey ada urusan lain tanpa Audrey memberitahu tahu dirinya.



"Gue mau kumpul sama anak-anak RPL, udah janji tadi."



Audrey memang cukup dikenal di SMK Trisatya, bisa dibilang dia adalah mostwanted-nya SMK Trisatya. SMK yang cukup bergengsi di kota mereka tinggal. Semua warga sekolah mengenal Audrey, dia pintar dan berbakat, pernah mengharumkan nama sekolah, dan yang pastinya Audrey cantik.



Audrey memang terkenal, tapi sangat berbeda dengan Narasya. Mungkin hanya anak sebelas TKJ dua yang mengetahui betapa dekatnya Audrey dan Narasya, mereka berdua sangat dekat sampai tidak bisa dipisahkan.



Narasya hanya gadis biasa yang beruntungnya bisa satu sekolah dengan Audrey. Orang tua Narasya tidak kaya tapi tidak miskin juga, membiayai Narasya untuk dapat bersekolah di SMK Trisatya bukanlah hal yang sulit, karena Narasya hanya anak satu-satunya.



Audrey yang populer, sementara Narasya yang bahkan kehadirannya tidak terlalu penting. Siapa sangka orang yang tidak terlalu penting seperti Narasya, menjadi prioritasnya Audrey.



"Oke, Udrey hati-hati ya," ucap Narasya lembut. Audrey tersenyum lalu mengusap-usap kepala Narasya.



"Lo jangan pergi kemana-mana sebelum Bunda Lo dateng. Jangan sampai besok gue ketemu Lo, Lo dapet luka, oke?" Audrey memperingatkan hal itu untuk yang kesekian kalinya.



"Oke." Narasya menganggukkan kepalanya.



"Yaudah, gue pergi dulu ya, bye." Audrey melambaikan tangan ke arah Narasya dan Narasya membalas lambaian itu.



Seperti yang dikatakan Audrey, Narasya hanya duduk di kursi yang ada di bawah pohon untuk menunggu ibunya menjemput. Tak lama kemudian mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan Narasya.



"Bunda?"



"Ayo masuk." Ibu Narasya menurunkan kaca mobil.



Narasya tersenyum lalu dengan cepat berjalan ke arah mobil Ibunya. Dengan aman Narasya sudah duduk manis di dalam mobil, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.



Di sisi lain dua seorang gadis berdiri agak jauh dari tempat Narasya duduk tadi. Mereka berdua memantau Narasya dari kejauhan.



"Udah, udah pulang dengan selamat anak Lo." Seorang gadis berbicara dengan senyuman lucu menatap temannya yang masih memerhatikan sedan hitam itu melaju meninggalkan area sekolah.



Mereka berdua tak lain adalah Audrey dan Adinda. Mereka berdua sedari tadi berdiri memperhatikan Narasya sampai benar-benar pergi meninggalkan area sekolah dengan aman.



"Lagian ngapain juga Lo tunggu, tuh anak gak akan kenapa-napa juga. Kayak bocah aja," ucap Adinda.



"Gue tetep gak tenang sebelum mastiin kalau Rasya bener-bener pulang dengan selamat. Dan ya, dia memang bocah, cuman umurnya aja yang udah enam belas tahun." Audrey menatap Adinda dengan serius, Adinda mengangguk paham.



"Iya iya, udah Lo sana pergi, temen-temen Lo udah nunggu tuh. Besok-besok kalau Lo ada urusan, dan Rasya gak ada yang jagain, minta tolong gue aja," ucap Adinda menawarkan diri.



"Thanks Din."



Akhirnya dua gadis itu juga pergi meninggalkan Area sekolah.


.


.


.



"Rain, ayah pulang."



Narasya yang mendengar suara itu, sontak menoleh ke arah pintu masuk. Di sana, pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Narasya berjalan mendekat ke arahnya. Narasya menghentikan aktivitasnya.



"Ayah?"




"Rain lagi ngerjain PR yang dikasih guru, PRnya banyak," ucap Narasya dengan polosnya.



"Udah makan?"



"Udah, tadi Bunda masak ayam semur." Narasya menyender ke lengan Bima. Bima membawa Narasya ke pangkuannya.



"Enak dong, ayah jadi laper."



"Iih, Ayah. Rain udah besar, pasti berat." Narasya tidak suka kalau Bima memangku dirinya, karena kalau seperti itu, Narasya merasa seperti anak kecil.



"Haha, mau sebesar apapun kamu nanti, kamu tetap putri kecil Ayah." Bima mengecup pipi Narasya. "Coba tebak, Ayah bawa apa?" tanya Bima.



"Apa?" Narasya memiringkan kepalanya membuat Bima semakin gemas.



"Tadaaa." Bima mengeluarkan dua ice cream paddle pop ke hadapan Narasya. Mata Narasya langsung berbinar lucu menerima dua ice cream itu, dia memang sangat menyukai makanan manis.



"Wah, ice cream. Makasih Ayah." Narasya berbalik mengecup pipi Bima.



"CK CK, udah malem kok malah dibeliin ice cream?" Dari arah dapur, ibunya Narasya berjalan ke arah Bima dan Narasya. Ketika sampai di depan mereka berdua, dia berkacak pinggang.



Nata, yang tak lain adalah nama dari ibunya Narasya. Wanita yang masih terlihat muda padahal sudah umur empat puluh tahun. Nata ikut duduk di samping suaminya, dia mengambil dua ice cream yang berada di tangan Narasya.



"Besok aja ya makannya, ini bunda taruh di kulkas," ucap Nata, lalu Nata pergi kembali ke arah dapur.



"Iya Bunda."



Narasya nurut saja karena dia memang anak yang penurut. Narasya tidak pernah membantah perkataan kedua orang tuanya, baginya perkataan mereka adalah mutlak.



"Tadi pulang sama siapa?" tanya Bima, Narasya kembali fokus pada tugasnya.



"Sama Bunda," jawab Narasya.



"Audreynya kemana? Biasanya sama kamu."



"Udrey tadi main sama temennya, Rain disuruh nunggu Bunda dateng di depan gerbang sekolah," jelas Narasya.



Bima tersenyum mendengar jawaban polos itu. Persis seperti anak kecil ketika ditanya dan mereka memberikan jawaban yang seharusnya. Bima tau anaknya tidak pernah berbohong, Narasya adalah anak yang terlalu jujur.



"Sini Ayah bantu kerjain PR."



Begitulah Bima setelah pulang kerja, dia selalu menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya walau sebentar. Dia selalu menanyakan hal-hal seperti itu untuk menjaga keharmonisan keluarga kecilnya.



Beberapa saat kemudian, tugas Narasya pun selesai, Narasya mulai menguap karena sudah mengantuk. "Rain udah ngantuk, Rain ke kamar dulu ya? Makasih ya Ayah, udah bantuin Rain ngerjain PR."



Cup.



Cup.



Narasya mengecup pipi kedua orang tuanya, lalu dia membereskan peralatan sekolah dan berjalan ke arah kamarnya dengan sedikit sempoyongan karena sudah sangat mengantuk. Bima dan Nata melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.



"Aku senang Rain sudah sedikit melupakan masa lalunya, walaupun trauma itu masih tetap ada," ucap Bima sambil memandangi punggung putrinya yang semakin menjauh.



"Trauma itu terlalu besar, selamanya tidak akan pernah hilang. Untung saja Rain masih bisa hidup dengan normal," lanjut Nata.



"Tidak peduli seberapa lamapun itu, aku akan berusaha untuk menyembuhkan trauma anak kita. Memberitahunya kalau dunia ini tidak semenakutkan yang dia kira."



Bersambung....