Narasya And Her Friends

Narasya And Her Friends
6. Yang Kesekian Kali



Saat ini Audrey sedang berkumpul bersama teman-teman yang dari jurusan Akuntansi. Mereka berkumpul di cafe yang tak jauh dari sekolah, cafe itu memang menjadi langganan Audrey ketika kumpul bersama teman-temannya.


"Drey, kenalin dong gue sama temen Lo itu."


Seorang cowok yang cukup tampan mendekati Audrey. Dia juga salah satu murid Trisatya yang berbeda jurusan dengan Audrey, cowok itu berada di jurusan TBSM (Teknik Bisnis Sepeda Motor).


"Oh, jadi Lo ngedeketin gue akhir-akhir ini, karena mau deket sama Rasya?" tanya Audrey dengan nada datar. "Gue gak bakalan ngenalin cowo brengs*k kayak Lo ke Rasya. Mantan Lo aja udah di mana-mana." Audrey menatap sinis cowok itu.


"Drey, gue bakal berubah demi temen Lo. Ayo dong, gue butuh bantuan Lo buat deket sama dia," ucap cowok itu kembali memohon.


"Gak, mending Lo pulang sana. Gue gak bakalan ngijinin Rasya buat deket sama cowok kayak Lo!" ucap Audrey dengan tatapan tidak suka.


"Kurangnya gue apa sih? Gue kaya, ganteng, pinter lagi. Pasti Rasya bakalan klepek-klepek sama gue." Cowok itu menyombongkan dirinya, Audrey merasa ingin muntah mendengarnya.


"Bukannya klepek-klepek, yang ada dia kabur duluan." Audrey tersenyum mengejek. "Kurangnya Lo itu gak baik buat Rasya. Sekarang mending Lo cabut, muak gue liat muka Lo," lanjut Audrey.


Karena merasa sudah tidak ada gunanya membujuk Audrey, cowok itupun pergi. Audrey bernafas lega karena si pengganggu itu sudah tidak ada.


"Lagi?" Salah satu gadis bersuara.


"Lo kalo lagi sama kita, pasti ada aja cowok modelan Bara. Ngedeketin Lo cuman mau kenal sama si Rasya Rasya itu. Dia itu yang pernah Lo post di IG kan?" ucap gadis lainnya.


"Iya," jawab Audrey, lalu menyeruput jus jeruknya.


"Pertama ketos, terus kapten basket, ketua kelas Desain Grafis, terus yang terakhir si playboy itu." Gadis yang duduk di sebelah Audrey menghitung cowok yang sudah mencoba mendekati Rasya. "Anehnya, dari empat cowok ini, belum ada yang ketemu langsung sama dia," lanjutnya.


Audrey tertawa kecil mendengar ucapan temannya. Memang benar, belum ada salah satu dari mereka, yang bertemu Rasya secara langsung.


"Perlu kalian tau, Rasya itu pemalu banget. Dia bakalan lari duluan kalau ada cowok modelan yang Lo sebutin tadi," ucap Audrey sambil menahan senyuman. Dia mengingat di mana saat satu cowo mendekatinya di taman, saat itu Audrey meninggalkannya sebentar membeli minum. Saat Audrey kembali, Narasya langsung berlari ke belakang tubuh Audrey.


"Gue jadi kurang suka sama si Rasya Rasya itu."


"Sama, udah empat cowok ganteng ngedeketin Lo cuman mau kenal sama dia. Lo apa gak sakit hati, Drey?"


"Iya, untung aja dia gak selalu ikut sama Lo. Kalo ikut pasti banyak orang cuman mau manfaatin Lo aja, contohnya kayak empat cowok itu."


"Lo mending gausah deket sama dia lagi, Drey. Daripada Lo cuman dimanfaatin aja. Kalo Lo tetep sama si Rasya Rasya itu, gue yakin Lo susah dapet pacar. Takutnya nanti diembat sama si Rasya semua."


Ekspresi Audrey langsung berubah datar ketika keempat temannya itu membicarakan Narasya. Dia paling tidak suka ada orang menjelek-jelekkan sahabatnya, mereka tidak terlalu mengenal Narasya, mereka hanya mengetahui sebatas nama.


"Jangan ngomong kayak gitu, Rasya bukan orang yang seperti itu," ucap Audrey dingin. "Gue gak suka Lo pada ngata-ngatain Rasya yang enggak-enggak."


Empat gadis itu langsung terdiam. "Lagian bagus kalau kayak gitu, gue bisa liat mana cowo yang bener-bener tulus sama gue, mana cowo yang cuman manfaatin gue aja. Gue harus berterima kasih sama Rasya," ucap Audrey.


"Maaf, Drey. Kami kan cuman wanti-wanti aja, biar nanti gak sakit-sakit amat Lo-nya. Kami takut kalau si Rasya itu malah jadi rasa sakit terbesar Lo nanti," ucap salah satu gadis.


Audrey terdiam sejenak, lalu dia menatap keempat temannya itu. "Gue yakin kalian bakal narik kata-kata kalian tadi, setelah kalian ngeliat Rasya secara langsung," ucap Audrey santai.


"Memangnya siapa Lo sih, Drey? Kayaknya benci banget kalau kami ngejelek-jelekin dia," tanya yang lainnya bingung.


"Dia ... sahabat gue, dan gue gak mau persahabatan kami renggang cuman masalah kayak gitu." Jawaban Audrey membuat keempat gadis itu sedikit terkejut. "Lo orang yang kesekian yang nanyain itu ke gue." Audrey menatap temannya tersenyum.


"Hm, dahlah gue mau pergi. Gue mau ke rumah Rasya, gue duluan."


"Kayaknya Audrey marah deh, kita harus minta maaf besok." Tiga lainnya mengangguki ucapan gadis itu.


.


.


.


"Rasyanya mana, Tan?"


Audrey sudah sampai di rumah Narasya, setelah masuk dia langsung mencari sahabatnya itu. Tapi dia tidak melihat Narasya di ruang tamu, biasanya anak itu akan bermain di ruang tamu.


"Rain sakit, nak," ucap Nata dengan tatapan sendu.


Audrey membulatkan matanya seketika. "Sakit? Kok bisa sakit? RASYA." Audrey ingin segera ke kamar Narasya, tapi Nata langsung menahan tangannya.


"Bentar dulu, setelah pulang sekolah tadi Rain demam. Tante mau nanya sesuatu sama kamu." Nata membawa Audrey untuk duduk di sofa, setelah mereka berdua sudah duduk, Nata menatap Audrey serius.


"Ada kejadian apa di sekolah tadi?" tanya Nata.


"Hm, di sekolah tadi kedatangan murid baru," jawab Audrey. "Oh iya, murid baru itu aktris dan aktor papan atas, Tan," lanjut Audrey.


"Terus apa lagi?" tanya Nata lagi.


Audrey terdiam sejenak, dia sedikit ragu untuk menceritakannya. Lalu Audrey menghela nafas. "Tadi tuh Rasya nangis, Tan. Dia kayak ketakutan gitu," ucap Audrey, lalu di detik itu Nata tertegun.


"Ketakutan?"


"Iya, waktu anak-anak baru itu masuk ke kelas. Audrey juga gak tau penyebab pastinya bagaimana, Rasya gak mau cerita sedikitpun. Terus Rasya ketiduran karena capek nangis," jelas Audrey, Nata mengangguk.


"Berapa orang mereka?" tanya Nata.


"Siapa?"


"Anak-anak baru itu."


"Oh, mereka ada lima orang." Mendengar penjelasan Audrey, Nata menghela nafas lelah.


Nata memegang kedua bahu Audrey. "Dengar Tante, kamu harus bisa jauhkan Rain dari lima anak baru itu. Kamu harus selalu berada di dekat Rain, kamu mau bantu Tante kan? Tante mohon jangan pernah biarin Rain sendirian, apalagi biarin Rain bersama salah satu dari anak-anak baru itu." Nata menatap tepat ke kedua mata Audrey.


Audrey mengangguk. "Tanpa Tante suruh pun, Audrey dengan senang hati melakukannya. Tenang aja, Audrey bakalan sebisa mungkin jaga Rasya," ucap Audrey mantap.


"Jangan pernah tanyakan kenapa Rain bisa seperti itu, biar saja Rain sendiri yang menceritakannya sama kamu," peringat Nata.


Di saat itu juga Audrey merasa semakin tidak beres dan semakin curiga dengan lima anak baru yang baru saja masuk ke kelas mereka. Diantara Narasya dan mereka pasti ada sesuatu.


Bersambung....